Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Seorang Yang Jauh


__ADS_3

Seorang pria dengan penampilan santai namun tetap terlihat rapi tengah berjalan tegap di lorong gedung kampus tempatnya mengajar, dia yang bernama Angga Wirasprata akan selalu tersenyum sopan kala ada mahasiswa atau mahasiswi yang menyapanya tampak terlihat dengan jelas kalau dia adalah salah satu sosok yang cukup dikagumi di kampus itu, tidak hanya rupa tapi sifat ramah dan baik hatinya akan selalu menjadi kebahagiaan bagi para penghuni kampus di tengah kota besar itu.


Dia yang pernah gagal menikah karena sang kekasih yang pergi entah kemana menjadikan dia menutup hatinya, dia berharap wanita itu akan datang kembali karena nyatanya hatinya tidak pernah bisa lupa sosok bernama Daniya Ranita sang pujaan hati tercinta.


Daniya tiba-tiba pergi di saat mereka sudah merencanakan pernikahan indah untuk mengokohkan jalinan cinta mereka, tapi yang sekarang menginjak usia 25 tahun itu pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun, tanpa memberitahu apa kesalahan yang sudah dia perbuat hingga akhirnya ditinggalkan dalam posisi masih sangat mencinta, kecewa sedih juga marah bercampur menjadi satu tapi tidak bisa berbuat apa-apa sebab keluarga Daniya seolah menyalahkan dirinya.


Tadinya nama dan wajah Daniya akan selalu terukir dalam hati serta ingatannya meski kecewa masih meraja, namun semenjak perjumpaannya dengan seorang gadis di pesta yang dia datangi sungguh membuyarkan keinginannya untuk tetap menyimpan Daniya di dalam hati, dia mulai berpaling dari Daniya pada gadis yang dia tahu bernama Ralen.


Tapi sayang gadis itu memblokir dirinya tanpa dia tahu kenapa mendadak nomornya di blokir, apa dia terlalu agresif? karena selalu mengirim pesan atau bahkan mencoba menelepon.


"Selamat pagi Pak dosen," sapa dua orang mahasiswi ketika berpapasan dengannya.


"Selamat pagi juga," sahutnya dengan tambahan senyum menawan yang akan selalu menjadi madu pemikat bagi wanita yang melihatnya.


"Aaahh mleyot gue!" seru salah satu dari gadis itu sedangkan yang satunya lagi mengelus dada bagian kirinya untuk menetralkan jantung yang berdebar tak karuan.


"Makin lama makin ganteng aja sih tuh dosen," celetuk gadis berbaju hitam dengan celana jeans yang melekat di tubuh bawahnya.


"Dan makin susah buat di gapai, padahal gue mati-matian caper tapi tuh dosen nengok juga nggak, jangan kan nengok ngelirik pakai ujung mata pun kaga!" seru gadis yang satunya dengan bibir yang mengerucut, teringat bagaimana dia yang sudah berusaha keras untuk bisa dekat dengan sang dosen tapi tak ada sambutan sama sekali.


"Jangankan kita, si Raisya aja yang katanya anak hukum tercantik Dan terdemplon nggak ada tuh di tengok sampai akhirnya tuh anak sekarang ngejar-ngejar Raffan," cetus gadis baju merah.


"Ya kalau Raisya mah kan dari dulu emang doyan tebar pesona sama cowok mana aja, termasuk si biang rusuh Raffan."


"Iya tapi sekarang ini dia tuh makin gencar deketin Raffan, apalagi pas tahu Fara sama Raffan tuh udah putus."


Obrolan kedua gadis itu makin menjadi dari yang awalnya membicarakan sang dosen sekarang malah merambat pada orang lain dan keduanya makin asyik dengan topik pembicaraan yang tak karuan itu, larut dalam gosip yang menghangatkan pagi hari yang sedikit mendung.


"Jadi benaran putus? gue pikir cuma gosip siangan, jadi yang katanya Raffan udah nikah tuh gimana?"


"Yang katanya nikah sama cewek lebih tua ya?"


"He em."


"Ini kampus tempat orang belajar bukan tempat gosip!"


Obrolan dua gadis itu terhenti dalam sekejap ketika mahasiswa bernama Gerry tiba-tiba berdiri di depan mereka, entah sejak kapan munculnya.


"Kayak setan Lo ah, tahu-tahu nongol," kata gadis berbaju hitam dengan nada sengit.

__ADS_1


"Elo berdua biang setan," balas Gerry lalu dengan tanpa bersalah melenggang pergi dari hadapan dua gadis yang menyorotnya dengan tajam laksana busur panah yang siap untuk meluncur menembus punggung belakangnya.


********


Di sudut kota besar di negara bagian Inggris dua orang wanita berjalan keluar dari gedung perkantoran tempatnya bekerja, keduanya tampak jelas sedang saling berbincang sambil berjalan menuju halte bis tak jauh dari gedung.


Dua wanita dari negara yang berbeda begitu nyambung saat berbicara, satu wanita dengan rambut pirang mencirikan kalau dia adalah warga negara Inggris dengan kulit putih dan ada bintik-bintik di wajahnya, sedangkan wanita yang satunya berambut hitam panjang memiliki warna kulit yang meskipun putih tapi siapapun tetap saja bisa dengan mudah mengenali kalau dia adalah warga negara Asia tepatnya Indonesia.



"Bagaimana kabar Awan?" tanya wanita bule yang sering di panggil dengan Agatha pada temannya yang berjalan di sebelah kanannya.



Wanita yang di tanya menghela napas dalam sebelum membuka mulut untuk memberikan jawaban, "semenjak dia kembali ke Indonesia aku tidak mendapat kabar apapun," sahut wanita berambut hitam.



"Kamu tidak mencoba untuk menghubunginya lebih dulu?"




Agatha berdecak lalu tersenyum mengejek, "kamu ini sudah tinggal lama di Inggris Daniya, di negara ini banyak wanita yang akan lebih dulu menghubungi prianya bahkan banyak juga yang menyatakan perasaannya pada para pria daripada menunggu si pria yang menyatakan," papar Agatha seraya duduk di bangku halte dan memangku tas.



"Tapi aku tidak ada hubungan apapun dengannya, kami hanya dekat."



"Sangat dekat dan aku tahu itu!" sambar wanita berhidung mancung.



"Dekat sebagai teman, tidak lebih," jelas wanita bernama Daniya yang menyiratkan kekecewaan mendalam sebab sampai terakhir bertemu pun pria yang dia sukai tidak pernah menyatakan perasaan suka terhadapnya lalu malah menghilang kembali ke negara yang sangat dia hindari.


__ADS_1


"Tapi aku bisa melihat kalau kalian saling menyukai, ckckck aku tidak habis pikir denganmu Daniya," ungkap Agatha apa yang dia rasakan selama ini.



Daniya menunduk menatap tas yang ada di pangkuannya dengan jarinya yang meremas benda itu, tidak lagi bisa menjawab sebab kenyatannya dia memang menyukai pria yang tak sengaja bertemu dengannya di sebuah tempat hiburan di kota bagian Inggris.



Keduanya berkenalan di tempat itu dan karena berasal dari negara yang sama mereka pun langsung nyambung saat mengobrol, membicarakan apa saja tentang negara yang menjadi tempat kelahirannya, hingga akhirnya diketahui bahwa Daniya sudah lebih dulu tinggal di Inggris sedangkan pria bernama Awan itu baru sekitar satu tahunan saat mereka berkenalan.



Semakin lama keduanya menjadi sangat akrab kerap kali pergi bersama dan memperkenalkan teman masing-masing, di saat itu juga entah siapa yang lebih dulu benih-benih suka perlahan muncul tapi keduanya sama-sama tidak mengutarakan apa yang mereka rasakan, hingga hubungan keduanya pun malah membingungkan teman-teman mereka.



"Aku berencana liburan ke Indonesia apa kamu mau ikut?" tanya Agatha yang dalam sedetik membuat Daniya mengangkat wajah dan menampakkan ekspresi terkejut.



Agatha mendekatkan bibir pada telinga Daniya lalu berbisik, "aku berkenalan dengan pria Indonesia dan dia memintaku untuk datang," akunya dengan iringan senyum setelah berbicara.



"Ikut saja, sekalian temui Awan mu itu," kata Agatha lagi terlihat kalau nantinya dia akan memaksanya andai Daniya menolak.



"Bis nya sudah datang," ucap Daniya menunjuk pada kendaraan besar yang tengah menuju halte tempat mereka berada.



Keduanya berdiri menunggu kedatangan bis lalu gegas masuk begitu pintunya terbuka.



"Aku tahu kamu sedang mengalihkan pembicaraan, tapi aku tetap akan memaksamu untuk ikut denganku ke Indonesia!" papar Agatha dengan jelas dan penuh penekanan.


*******

__ADS_1


__ADS_2