Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Gue Minta Maaf


__ADS_3

Ralen berjalan cepat tapi bukan berniat untuk bekerja, dia ingin bolos hari ini kepalanya serta hatinya terasa sakit hingga dia merasa dalam keadaan seperti ini lebih baik tidak bekerja atau dia hanya akan mengacaukan semua pekerjaan.


Walaupun hanya seorang petugas tenaga kebersihan tapi nyatanya pekerjaan yang tidak dilakukan dengan baik tidak akan bisa berjalan lancar, biarlah untuk hari ini dirinya meliburkan diri biarkan saja jika gajinya di potong.


Dengan tas yang sejak tadi masih berada di punggungnya Ralen gegas menuju lift bahkan sangat terburu ketika mendengar suara pintu ruangan di buka, dia tahu siapa yang akan keluar dari ruangan yang tadi membuatnya teramat sesak.


"Len."


Suara panggilan dari belakangnya tidak Ralen hiraukan dia menekan-nekan tombol lift karyawan yang sepertinya masih sangat sibuk membawa karyawan lainnya mengingat sekarang adalah jam masuk kerja.


Ralen menoleh khawatir ketika pria di belakangnya sudah semakin mendekat membuat diapun tidak punya pilihan untuk berpindah pada tangga darurat.


"Gue bukan hantu!" seru Ipul kesal ketika Ralen buru-buru kabur menghindar darinya, tapi dia juga tidak mau berhenti terus mengikuti bahkan setengah berlari untuk bisa mendekat dengan sang wanita.


"Gue minta maaf," kata Ipul seraya tangannya menyambar tangan Ralen hingga langkah kaki sang wanita terhenti.


Ralen mendengus, minta maaf tidak dari awal kenapa harus saat dirinya sudah sangat muak dan kesal beserta rasa kecewa lainnya, bukankah sebenarnya cukup terlambat?


"Maafin gue," ulang Ipul dengan tangan yang tetap bertengger di lengan sang wanita.


Tapi Ralen bukannya menjawab malah memberontak mencoba melepaskan diri beruntung tangga darurat ini tidak ada yang mendatangi, memang cukup jarang orang yang akan melewati tempat ini kecuali karyawan-karyawan seperti Ralen.


"Lepasin! nanti ada yang lihat Lo bisa malu!" cecar Ralen.


"Kenapa gue harus malu?" Ipul mengernyitkan keningnya lalu berlanjut dengan tatapan yang penuh tanya.


"Gue cuma petugas kebersihan dan Lo anak dari pemilik perusahaan, orang kaya! nggak pantas berduaan apalagi sampai memegang tangan gue!" ucap Ralen.


"Lo ngomong apaan sih, kok jadi bahas gituan?" Ipul malah jadi bingung ketika Ralen malah jadi membahas hal lain.


Membicarakan tentang perbedaan status mereka sebagai karyawan bawah dan juga anak dari pemilik perusahaan, padahal sejak pertama bertemu pun rasanya tak pernah sekalipun Ipul membicarakan tentang perbedaan mereka.

__ADS_1


Ralen membuang wajah mendengar pertanyaan Ipul, dia akui dia memang sangat tak jelas saat ini, hatinya sedang tidak baik-baik saja dan sebagai seorang wanita dia akan selalu membicarakan apa saja meski hal itu tidak ada kaitan apapun pada masalah mereka.


Tadi dia menyalahkan pria di depannya ini yang tidak juga meminta maaf, tapi ketika pria ini meminta maaf dia merasa tidak bisa begitu saja memaafkan.


Memangnya rasa sakit serta kecewa yang dia rasakan beberapa hari ini akibat di gantungkan bisa dengan mudah menghilang begitu saja?


Oh tidak bisa, karena bagi Ralen tidak ada siapapun yang bisa seenaknya pada dirinya termasuk pria yang sejak awal datang dengan menyebalkan kepadanya, pria ngeselin yang akan selalu menjadi ngeselin Dimata Ralen.


"Gue minta maaf Ralen, iya gue salah seharusnya gue langsung kabarin elo langsung temuin Lo biar Lo nggak jadi salam paham sama gue, gue nggak kemana-mana karena gue bakal tanggung jawab sama perbuatan gue, cuma memang butuh waktu dan gue minta Lo ngerti," tutur Ipul menahan egonya dan mulai bersikap lembut agar wanita yang saat ini sangat marah padanya itu menjadi jinak.


Karena dia tahu dari awal pun Ralen begitu galak saat bertemu dengannya, dan ditambah dengan masalah ini Ipul yakin galaknya Ralen itu akan bertambah berkali lipat.


"Kerja lagi yuk, udah jam kerja ini," ajak Ipul ketika mendapati Ralen tidak lagi memberontak, dirinya pun membujuk wanita yang ingin bolos kerja itu.


"Gue males kerja!" ketus Ralen menolak.


"Nanti gue pecat gimana?"


Ini sebuah gertakan kah? bisa-bisanya menggertak seperti ini di saat dia baru saja bisa membuat Ralen untuk mau mendengarkan perkataannya.


Ipul menoleh kiri kanan memastikan tempat itu memang tidak akan ada siapapun.


"Jangan macam-macam!" tegas Ralen ketika Ipul malah sedikit menundukkan kepalanya lalu semakin memangkas jarak mereka hingga akhirnya napas pria itu kini menerpa wajahnya.


Ralen baru akan membuka mulut guna mengeluarkan protesannya dengan sikap pria yang masih membuat hatinya dongkol itu akan tetapi yang keluar hanya suara-suara tak jelas karena bibirnya sudah keburu di bungkam oleh pria di depannya.


Ralen memukul-mukul pria yang tengah menciumnya saat ini dari kencang sampai akhirnya melemah dan tidak ada lagi perlawanan karena yang ada sekarang hanyalah dua orang yang saling menempel di tangga darurat yang sepi namun masih ada kemungkinan akan di datangi oleh orang.


Otak Ralen kini malah terprovokasi oleh tindakan Ipul, memprovokasinya untuk memejamkan mata dan pasrah dengan apa yang sedang dilakukan terhadapnya.


Di ujung tangga darurat dengan pintunya yang tertutup itu keduanya masih terus menempel beberapa menit, andai tidak kekurangan oksigen mungkin kegiatan intim itu tidak akan terhenti.

__ADS_1


Keduanya langsung mengambil napas mengisi kembali paru-paru mereka dengan oksigen yang tadi seperti menghilang.


Wajah Ralen memerah setelah Ipul menjauhkan wajah, membuat Ralen tertunduk seraya menggigit bibirnya yang terasa basah dan sedikit kebas akibat perbuatan sang pria yang sekarang menatapnya dengan tatapan tak terbaca.


Deringan dari dalam saku celana Ralen membuat keduanya beralih pada benda di dalam sana yang akhirnya Ralen ambil guna melihat siapa yang sekarang menghubunginya.


Ipul juga tidak mau kalah, dia ikut melihat ke layar handphone yang sudah berada di tangan Ralen, melihatnya dengan mata yang melebar.


"Siapa Angga?" tanya Ipul sambil memberikan tatapan mata yang sedikit tajam.


Ralen menggeleng lalu buru-buru memasukkan handphone yang sudah tidak lagi berbunyi itu ke dalam sakunya.


"Siapaa?" sepertinya Ipul adalah tipe pria yang akan sangat penasaran apabila pertanyaannya belum terjawab apalagi Ralen hanya memberikan gelengan saja.


"Gue izin libur," kata Ralen.


"Mau ngapain libur?" tanya Ipul seolah tidak mau membiarkan Ralen untuk libur.


Ipul kembali memegang tangan Ralen sepertinya dia tidak akan membiarkan Ralen untuk pergi kemanapun terlebih lagi barusan ada seseorang yang menghubunginya.


"Males kerja," sahut Ralen, karena nyatanya inilah yang dia rasakan sekarang.


Dia sedang tidak ingin bekerja tidak ada sangkut pautnya dengan pria yang menghubunginya, pria yang sempat berkenalan dengannya saat Ipul membawanya ke pesta ulang tahun anak rekan bisnis dari Papanya.



Entah kenapa saat itu Ralen memberitahukan nomornya pada sang pria saat di pinta mungkin dia memang sedang kurang kerjaan hingga melakukan hal random seperti itu, bahkan terkesan sangat gila karena dia melakukan hal itu ketika dia datang bersama dengan Ipul, atau mungkin kesal karena dia di tinggal sendirian.


Ipul memicingkan mata lalu membolehkan Ralen tidak bekerja hari ini, "jangan pergi ke tempat tidak jelas dengan orang yang juga tidak jelas," pesan Ipul dengan wajah yang terlihat tegas.


Ralen memutar bola matanya, belum menikah saja hidupnya sudah di sabotase seperti ini lalu bagaimana jika sudah menikah nantinya? apa dia akan di kurung? atau akan diawasi 24 jam penuh?

__ADS_1


Ralen menghela napas lalu membuangnya dengan kasar.


********


__ADS_2