Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Gambar Yang Membuat Gaduh


__ADS_3

Pagi hari pria yang semalaman di buat gelisah karena isi otaknya terus berkelana bangun dari tidur dan sekarang terlihat tengah meregangkan otot-otot di lengan serta tubuhnya, matanya masih sangat berat tapi dia paksakan untuk terbuka sebab satu jam lagi dia masih harus pergi bersama dengan asistennya memperbaiki beberapa kontrak kerja, dan rasanya masalah yang tadinya sangat besar perlahan sudah dia perbaiki dengan sebaik-baiknya bahkan ancaman perusahaan yang akan tutup pun sudah tidak ada lagi, semua berjalan sesuai dengan rencana sehingga tidak ada karyawan yang menjadi korban.


Ipul duduk di atas tempat tidur dengan kedua yang tertekuk dan lutut yang dia jadikan penopang bagi kepalanya, sepertinya dia masih mengumpulkan sebagian nyawanya yang masih belum masuk sebelum dia benar-benar beraktifitas.


Lalu tidak tahu kenapa dia seperti merasa tertarik untuk mengambil handphone yang tadi malam dia matikan, berniat untuk menyalakan benda itu dan memeriksa apakah ada pesan yang masuk atau panggilan yang mungkin saja sangat penting?


Matanya yang masih tampak ngantuk itu menunggu handphone menyala, lalu keningnya mengerut ketik ada pesan yang langsung masuk dan notifnya terbaca.


"Gambar?" gumamnya ketika melihat pesan yang di kirim oleh istrinya.


Tidak perlu menunggu lama diapun lantas membuka pesan gambar yang dikirimkan oleh wanita Jelitanya, mengabaikan pesan dari orang lain yang juga langsung berbaris rapi menunggu giliran untuk di baca.


"Sialan Jelita!" umpat Ipul ketika melihat pesan gambar yang dikirimkan oleh sang Jelita.


Sejak semalam kepalanya sudah dipenuhi dengan pikiran kotor lalu pagi hari saat dia bangun tidur dan itu saat yang tepat saudaranya biasa bangun malah dikirimi gambar sebagian tubuh atas istrinya yang memang sangat menonjol hanya tertutupi oleh kain tipis, bayangkan saja setipis apa kain yang Ralen gunakan untuk menutupi bagian tubuh atasnya sampai benda bulat kecil malah terlihat sangat nyata.


Sungguh membuat pagi hari Ipul menggila sampai dia melempar handphone yang tadi memamerkan bagian tubuh istrinya.


Ipul menarik napas kencang seraya mengusap wajahnya dengan kasar, napasnya terlihat begitu memburu merasakan gejolak yang semakin menjadi di dalam dirinya, gejolak yang sejak tadi malam dia tahan tapi di pagi hari istrinya malah seperti sengaja memancingnya.


Ipul kembali mengambil benda yang teronggok di dekat kakinya lalu membaca pesan yang juga di kirim oleh sang istri.


"Daripada kamu membayangkan tubuh polos ku lebih baik kamu melihatnya."


"Oh astaga Jelita!" Ipul makin menggeram frustasi dengan rambut yang dia acak-acak membuat dia yang baru bangun tidur malah makin tak karuan.


"Kenapa harus di tutup!" omelnya ketika untuk kedua kalinya menatap pesan gambar yang ada di layar handphonenya, sepertinya dia kesal kenapa masih harus menggunakan kain untuk menutupi benda kesukaannya itu.


Ting tong!


Suara bel di pintu hotel membuat Ipul kelabakan sampai handphone yang tadi dia pegang jatuh tak jelas di dekat meja kecil samping tempat tidur.


"Manusia kurang ajar mana yang sekarang datang mengganggu!" oceh Ipul seperti orang gila.


Dia menjadi gila karena kelakuan istrinya yang dengan sengaja menggoda dirinya di pagi hari membuat darahnya naik dengan cepat.


Suara bel belum juga berhenti membuat Ipul bergegas keluar untuk melihat siapa yang datang.


Begitu membuka pintu Ipul langsung menampilkan wajah yang teramat sangar dan horor siapapun akan langsung tahu bahwa dirinya sedang bergelut dengan gejolak emosi yang datang di pagi hari.


"Pertemuan masih setengah jam lagi, jadi biarkan Ipul bersiap dulu Om!" langsung nyerocos pada asistennya yang tanpa mengatakan pun dia sudah tahu tujuan sang asisten itu datang, apalagi kalau bukan untuk mengingatkan dirinya tentang pertemuan di pagi hari ini.


Damar mengangguk dengan mulut yang terkunci rapat, tidak mengatakan apapun padahal kedatangannya tadi bukan hanya untuk mengingatkan pertemuan yang harus mereka lakukan pagi hari ini, tapi ada hal lain yang ingin dia beritahukan akan tetapi begitu melihat ekspresi wajah dari atasan mudanya itu dia memilih untuk tidak mengatakan apapun, biar saja tuan mudanya itu tahu sendiri nanti.


Ipul kembali masuk ke dalam kamarnya dengan mulut yang menggerutu, mengambil kembali handphonenya lalu menghubungi wanita yang di pagi hari sudah membuatnya tidak karuan.


"Sedang apa kamu cepat jawab!?" omelnya ketika orang yang dia hubungi tak kunjung menjawab telepon darinya.


Berkali-kali dia mencoba tapi hasilnya sama membuat dia makin murka dengan melempar handphonenya sendiri, untungnya benda itu mendarat di atas sofa, jika tidak kemungkinan besar benda itu rusak tak jelas di atas lantai kamar hotel.


"Lihat saja kamu Jelita, akan aku terjang habis-habisan nanti!" ancamnya dengan rahang yang mengetat.


Pria itu lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, selain itu dia ingin mengguyur kepalanya dengan air dingin untuk sedikit saja meringankan rasa panas yang datang menyerang.



Sedikit, iya hanya sedikit karena dia sendiri pun tidak yakin setelah mandi suhu tubuhnya yang panas akan kembali normal apa tidak ketika keinginannya belum juga tersalurkan.



Selesai mandi dan bersiap sehingga pria itu kini sudah rapi mengenakan pakaian formalnya, dia kembali mengambil handphone yang tadi dilemparkan, memeriksanya kalau saja wanita yang dia hubungi menghubunginya balik.


__ADS_1


Tapi nyatanya hanya geraman yang terdengar saat melihat tidak ada telepon dari Jelitanya.



Tanpa pikir panjang diapun kembali menghubungi nomor telepon istrinya namun masih tetap saja mendapatkan hasil yang sama, tidak ada jawaban bahkan beberapa menit kemudian nomor itu malah tidak aktif, membuatnya jengkel bukan kepalang.



"Mama!" berseru ketika akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi sang Mama.



"Apa? kenapa Saipul Gunawan?!" suara Mamanya terdengar keras tak mau kalah dengan sang anak yang tumben sekali pagi-pagi sudah menghubungi, biasanya anaknya itu baru akan menelepon dirinya ketika selesai bekerja atau ketika akan tidur, itupun hanya untuk menanyakan apa yang Ralen lakukan.



"Jelita sedang apa?"



"Jelita? siapa Jelita? owh istrimu?" bertanya sendiri tapi dia juga yang menjawabnya.



"Iya, wanita judes yang Ipul jadikan istri," lontar Ipul seraya berjalan mondar-mandir di dalam kamar hotel tidak peduli kalau sekarang Damar sedang menunggunya di luar.



"Pergi ke kampus," jawab Mama Riska cepat.



"Dari jam berapa? kenapa Ipul telepon dia tidak jawab, terus sekarang handphonenya malah tidak aktif," cecar Ipul terhadap sang Mama.




Mama Riska memutar bola matanya terlihat sekali kalau dia sedang memikirkan jawaban yang paling tepat untuk dia berikan kepada sang anak yang sangat sulit sekali percaya kepada orang termasuk dirinya.



"Ma! jam berapa Ralen berangkat ke kampus?" Ipul mengulangi pertanyaannya dan kali ini dengan suara yang sedikit meninggi, bukan bermaksud membentak tapi dia yang memang tidak sabar menunggu jawaban.



"Ya seperti biasanya Pul, kamu kan pasti tahu jam berapa istrimu itu berangkat kuliahnya," papar Mama Riska setenang mungkin.



"Sudah ah Mama mau mandi sekarang, gerah," kata Riska lalu gegas mengakhiri pembicaraan mematikan telepon sebelum dia kembali di berondong pertanyaan oleh anaknya.



Ipul menatap geram pada handphone, meremas benda itu dengan tangannya hingga punggung tangannya memutih.



Bisa di bayangkan dia yang tidak akan bisa berkonsentrasi ketika melakukan pertemuan dengan rekan bisnisnya, istrinya yang tidak memberinya kabar setelah mengirimkan gambar yang memancing hasratnya membuat dia terus saja menggeleng kepala guna mengumpulkan kesadaran.


****


Daniya menatap gedung bertingkat di kamar hotel yang dia tempati, kedua matanya bengkak akibat menangis semalaman teringat apa yang Ipul katakan padanya.

__ADS_1


Tentang pernikahan yang pria itu akui sungguh membuatnya sakit hati dan kecewa, wajah pria itu begitu meyakinkan saat mengatakan tentang statusnya sekarang, dia ingin sepenuh hatinya tidak percaya tapi tetap saja hatinya begitu terganggu.


Daniya memutar kembali ingatannya pada kenangan manis antara dia dan Awan, tersenyum sambil menyentuh bibirnya seperti sedang merasakan kembali ketika bibir mereka bertemu, matanya sampai terpejam menghayati apa yang ada dalam ingatannya.


Benda yang ada di samping Daniya berdering dengan sangat keras mengundang perhatiannya.



"Mama," katanya ketika melihat nama si pemanggil di layar handphone yang menyala.



Lalu tanpa berpikir lagi diapun segera menjawab panggilan dari wanita yang selama ini dia anggap sebagai orang tua kandungnya, sekalipun dia sudah tahu siapa dia sebenarnya namun perasaannya tetap saja tidak berubah terhadap wanita yang sudah merawatnya dari dia bayi.



Wanita bernama Dayna itu tetaplah wanita yang akan dia panggil Mama, tidak ada wanita lain sekalipun nantinya dia akan bertemu dengan orang tua kandungnya.



"Halo Ma," sapa Daniya menempelkan handphone ke telinga.



"Kamu sedang apa Daniya, kapan kamu akan ke Jakarta? Mama sudah sangat merindukan kamu," sambutan yang sangat baik dari seorang Dayna membuat Daniya terharu.



Wanita itu meskipun bukan orang tua kandungnya tapi memperlakukan dia dengan sangat baik, kasih sayang yang wanita itu berikan tidak pernah main-main, selalu saja tulus dengan memberikan apapun yang dia miliki, bahkan di saat orang tua kandungnya entah berada dimana.



Sungguh dalam hatinya Daniya selalu berkata bahwa dia tidak akan pernah mau mengenal mereka yang sudah membuangnya.



"Ma, Dani akan ke Jakarta setelah urusan Dani selesai," tutur Daniya seraya mengibaskan rambutnya.



"Urusan apa? urusan tentang pria bernama Awan?" tebak wanita yang sekarang tengah duduk di dekat kolam ikan seraya memberikan makan ikan-ikan yang langsung berebut hingga mencipratkan air kepermukaan.



Daniya terdiam membisu tidak mengiyakan apalagi membantah sebab apa yang dikatakan oleh Mamanya itu benar, urusannya saat ini adalah seorang Awan yang sangat jelas sudah menolaknya.



"Angga sudah menemukan keluarga kandungmu, apa kamu tidak ingin bertemu mereka?"



Ucapan Dayna membuat Daniya tersentak kaget sekaligus bingung.


Angga? mantan kekasihnya yang dia tinggalkan begitu saja menemukan keluarga kandungnya? menemukan atau pria itu memang sengaja mencari mereka? pria itu mau apa, lalu kenapa harus mencari mereka?


Masalah perasaannya belum juga selesai, itu baginya sekalipun bagi Ipul tidak ada masalah apapun antara mereka terlebih lagi masalah perasaan yang sudah sejak lama tak ada, lalu sekarang harus ada fakta tentang keluarganya yang Angga ketahui.


"Aku kembali ke negara ini untuk pria yang aku sukai, bukan untuk keluarga yang sudah membuang ku!"


Daniya berseru melempar handphone yang tadi masih terhubung dengan Dayna hingga benda itu hancur berkeping menghantam tembok.


*****

__ADS_1


__ADS_2