
Haaaaaa..
Mulut Ipul menganga lebar mendengar mulut Ralen yang sangat lancar berkata.
Tidak salah dengar kah dirinya? wanita ngeselin itu mengatakan kalau dirinya adalah OB baru? beneran begitu?
Ipul pun di buat melihat kondisi dirinya sendiri, menatapi tubuhnya dari atas sampai ujung kaki seolah melihat penampilannya memang ada yang salah saat ini.
"OB?" Ipul mengulang yang tadi Ralen katakan.
Ralen mengangguk cepat dengan kelopak mata yang mengerjap, "iya Lo OB baru kan? OB yang bakal kerja bareng sama gue disini, haha." Ralen tertawa meremehkan.
"Oh iya gue OB, hahaha." dan dengan konyolnya Ipul malah menimpali kegilaan wanita di depannya ini.
Mendengar suara tawa yang begitu mencurigakan membuat Ralen terdiam, matanya lalu menelisik penampilan pria yang dia anggap sebagai OB baru itu.
"Lo beneran OB?" mendadak malah jadi ragu sendiri setelah menyadari kalau tampilan pria di depannya ini terlalu keren untuk sekedar menjadi seorang OB.
Terlebih lagi beberapa waktu yang lalu dia sempat mendapati ada banyak uang mata asing di dalam dompet pria itu.
"Yah, tadi Lo bilang gue OB, masa sekarang malah tanya," kata Ipul dramatis.
"Lihat penampilan Lo gue jadi ragu, dan lagi.."
Ralen mendekat mengendus-endus tubuh pria di depannya itu seperti tengah mengenali bau yang menyeruak di hidungnya sejak tadi, jelas ini bukan bau parfum murahan.
"Apaan sih Lo!" sentak Ipul mendorong kepala Ralen untuk menjauh darinya, "kayak anjing pelacak tahu nggak Lo!" omelnya mendapati tingkah konyol wanita yang akhirnya dia ketahui namanya melalui berkas lamaran yang dikirimkan oleh HRD muda beristri semingguan yang lalu.
"Parfum Lo ini parfum mahal!" Ralen bergerak mundur lalu seperti tengah bersiaga kalau-kalau pria di depannya ini melakukan tindakan di luar nalar.
"Ya jelas parfum mahal lah, gue kan tadinya sopir pemilik perusahaan ini, tentunya parfum gue juga import hasil oleh-oleh dari Bos gue," ucap Ipul menunjukkan wajah tanpa ekspresi.
Tenang, santai serta damai seolah yang dia katakan adalah kebenaran.
"Sopir? udah jadi sopir kok malah mau jadi OB juga?" tanya Ralen mengerutkan keningnya, "kayaknya gaji sopir juga lebih besar lagian kerjaannya juga lebih santai nggak capek karena harus bolak-balik turun naik lift."
Ipul menyembunyikan senyumnya kala mendapati wanita di depannya itu mudah sekali percaya dengan apa yang dia katakan.
"Suka-suka gue dong, mau jadi sopir kek, mau jadi OB kek atau jadi tukang gerecokin elo juga nggak masalah, gue bisa menyesuaikan dimana gue berada dan gue inginkan," beber Ipul.
"Ngapain gerecokin gue?!" sungut Ralen tak suka kenapa malah dirinya harus di bawa-bawa.
__ADS_1
"Karena Lo blokir nomor gue!"
Deg!
Astaga!
Ralen sepertinya lupa kalau Antika memblokir nomor pria di depannya ini, pria yang sekarang menatapnya dengan tatapan memicing serta mengintimidasi.
"Jelasin coba, kenapa Lo blokir nomor gue? nggak pake ngelak dengan alasan apapun itu karena gue nggak bakal percaya," celetuk Ipul sambil menggerakkan alisnya naik turun.
"Gue nggak blokir nomor Lo!"
"Nggak percaya gue, terus handphone Lo punya jempol sendiri gitu buat ngeblok gue?! ha ha, lucu!" kata Ipul tertawa nyinyir sarat akan ledekan atas pengakuan Ralen.
"Ya terserah lo mau percaya atau nggak, yang jelas gue emang nggak blok nomor Lo," aku Ralen.
"Kalau kabur berarti emang Lo bener blokir gue!" kata Ipul menjegal langkah Ralen yang hendak kabur.
"Ish, apaan sih, gue mesti selesaikan kerjaan gue, Lo nih ya dari pada gangguin gue mending bantuin gue beresin nih pantry karena besok ini lantai sudah akan ditempati oleh anak bos!"
Ipul memundurkan kakinya selangkah, lihatlah wanita bernama Ralen ini sekarang semakin berani memintanya untuk membantu tugas yang harus wanita itu selesaikan.
Astaga sepertinya Ipul lupa bahwa wanita yang dia hadapi ini tidak hanya galak tapi juga sedikit polos, atau mungkin lebih tepatnya bodoh.
"Gue bantuin tapi ada syaratnya." Ipul malah mengajukan penawaran yang membuat Ralen mengerjap menunjukkan wajah melongo.
"Ini juga kan besok bakal Lo tempati, kerjaan Lo disini juga sama gue! apa susahnya Lo bantuin gue pakai syarat segala, bakal gue aduin Lo ke bos besok! liatin aja," Ralen tak begitu saja setuju, dia malah dengan beraninya mengancam yang membuat Ipul membuang wajahnya seraya menahan tawa.
"Nih cewek bener-bener dah," batin Ipul malah jadi geli sendiri.
"Ngapain malah senyam-senyum?" cerocos mulut bawel Ralen mendapati senyum yang begitu samar di wajah pria tinggi dengan warna kulit tidak putih tapi juga tidak hitam, bersih dan menjadikannya terlihat sangat macho.
Ralen menggelengkan kepalanya, bisa-bisanya dia memuji pria ngeselin yang berulang kali membuat masalah dengannya, berawal dari motornya yang di serempet lalu tanpa permisi sudah membegal motornya dan urusan uang dalam dompet yang masih belum selesai.
"Senyum pun harus laporan dulu? gila lo!" celetuk Ipul tak segan mengatai sang wanita yang sekarang berlagak seperti senior tanpa tahu siapa yang sekarang di anggap sebagai OB baru itu.
"Cepetan bantuin ah, kan gara-gara elo juga kerjaan gue yang harusnya sudah selesai jadi belum," paksa wanita yang memakai seragam berwarna biru gelap itu.
"Kan tadi gue ngajuin syarat tapi Lo malah ngomel, gue sih terserah elo kalau setuju ya gue bantu tapi kalau nggak setuju ya gue lebih baik pulang, ngapain gue disini toh baru besok gue mulai kerja," kata Ipul tenang juga datar namun ekspresi wajahnya memperlihatkan betapa dia puas dengan ucapannya barusan.
Ck
__ADS_1
Ralen berdecak lalu mendengus mengeluarkan napas yang terasa panas.
"Padahal sesama pekerja dan besok pun juga akan kerja apa salahnya sih saling bantu, sekarang sama besok kan sama aja," gerutu wanita dengan ikatan rambutnya yang akan kerap bergoyang kala dia menggerakkan kepala atau bagaian tubuhnya yang lain.
"Gue dengar loh," celetuk Ipul seraya berjalan ke arah wastafel lalu memeriksa kerannya apakah air sudah mengalir atau belum.
Air pun mengalir membasahi telapak tangannya mengalirkan rasa yang dingin hingga membuatnya sedikit bergidik merasakannya.
"Ya udah apa syaratnya?"
Akhirnya mau tak mau dia setuju, ini sudah hampir jam 8 malam lewat dan pekerjaannya belum juga selesai, mau selesai jam berapa kalau dia bekerja sendirian.
Yah, meski sebenarnya penyebab kerjaannya belum selesai adalah pria ngeselin ini yang tiba-tiba datang lalu membuatnya tidak lagi fokus bekerja karena segala omongannya yang ngeselin, jadi tidak ada salahnya jika dia meminta bantuan si OB baru, begitu pikiran yang ada di dalam kepala Ralen.
"Buka blokiran nomor gue."
"Hah, cuma itu doang? astaga itu kan bisa kapan aja toh besok juga kita bakal ketemu lagi," protes Ralen merasa syarat yang di minta terlalu menyebalkan.
Hanya untuk membuka blokiran nomor saja? ya benar saja.
Ipul membungkukkan sedikit tubuhnya lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Ralen, "gue nggak yakin besok Lo nggak bakal kabur-kaburan saat kita ketemu lagi," bisiknya membuat kerutan di kening sang wanita, "cepat buka blokiran!" katanya lagi seraya menegakkan tubuhnya.
Mau tak mau Ralen pun merogoh saku celana kerjanya guna mendapatkan benda yang menjadi masalah sejak tadi, dalam hati dia terus menerus menyalahkan Antika sebagai tersangka.
"Tuh udah," ucap Ralen seraya menunjukkan layar handphonenya.
Ipul mencebik membaca dua baris kata yang dialamatkan untuknya 'cowok songong'
"Tuh yang itu masih banyak debunya!" seru Ralen pada pria yang tengah mengelap lemari penyimpanan.
"Astaga! bisa-bisanya gue bersihin ruangan gue sendiri," batin Ipul saat sejak tadi dia terus saja di beri perintah oleh Ralen untuk mengelap debu-debu yang masih melekat di setiap sudut ruangan yang akan dia tempati besok.
Ipul yang merasa lelah pun memilih untuk bersandar di tepian meja kerja lalu memperhatikan wanita yang sedang sangat fokus pada meja kaca di antara sofa.
Wanita itu benar-benar sangat fokus hingga tidak menyadari ada sepasang mata yang tengah memperhatikannya dengan pandangan yang pria itupun tidak tahu artinya.
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1