
Ralen sudah berada di dalam kamar, tadi Mama mertuanya memintanya untuk istirahat saja tidak usah melakukan apapun meski sebenarnya Ralen masih belum ingin untuk kembali ke dalam kamar karena itu artinya dia akan bertemu dan hanya akan berdua saja dengan pria yang tidak lagi mau bicaranya dengannya.
"Kalau masih sakit gue antar Lo ke dokter," kata Ipul yang sejak tadi diam mulai bersuara sedikit membuat Ralen tersentak kaget karena suara dengan tipe berat itu.
Ralen hanya menggelengkan kepala, artinya dia menolak tawaran dari sang suami karena dia tahu suaminya itu melakukannya dengan terpaksa, entah apa yang tadi dibicarakan oleh suami dan sang mertua yang jelas pasti sikap suaminya itu sedikit berubah karena permintaan dari mertuanya.
Ipul yang sedari tadi memegang tab entah melakukan hal apa hanya mengedikkan bahunya lalu kembali fokus dengan apa yang dia lakukan, sampai satu jam lamanya.
"Lo nggak tidur?" tanya Ipul yang baru saja menyimpan tab di atas meja, sepertinya dia sudah selesai dengan pekerjaannya.
Wanita yang di tanya tak tahu mau menjawab apa, sebenarnya dia ngantuk dan ingin tidur tapi dia tidak mau tidur ketika si pemilik kamar masih belum tidur, tidak tahu pernikahan jenis apa yang sekarang tengah dia jalani yang jelas semenjak kemarin dia terlalu kecewa dengan kata-kata menyesal yang dibicarakan oleh pria yang sekarang tengah menatapnya dengan tatapan tak terbaca.
"Kalau nggak nyaman sama gue bilang aja, gue bisa tidur di sofa," kata Ipul lagi ketika tidak ada pergerakan yang Ralen lakukan.
"Nggak perlu, disini terlihat jelas siapa yang nggak nyaman," celetuk Ralen lalu beranjak menuju sofa, meninggalkan pria yang tadi akan naik ke atas tempat tidur jadi terdiam tak bergerak.
Pria itu melihat pada sang wanita yang menjatuhkan tubuhnya di sofa di pojok sana, hanya duduk dengan tatapan yang tak jelas melihat apa.
"Gue lagi berusaha untuk memperlakukan Lo dengan baik, karena biar bagaimanapun Lo itu istri gue," papar Ipul berdiri di dekat tempat tidur, matanya yang tadi ngantuk mendadak menjadi sangat segar ketika mendapati sikap Ralen yang seperti membalas apa yang sudah dia lakukan sebelumnya, tentu apa yang dia katakan akan membekas dalam ingatan wanita itu tapi setidaknya dia mencoba mengikuti keinginan dari Mamanya.
"Tidak usah bersikap baik atau apapun itu kalau hanya terpaksa, gue tahu Mama yang minta Lo melakukannya," tutur Ralen dengan raut wajah yang tidak bisa menyembunyikan apa yang dia rasakan saat ini.
"Terus kalau memang karena Mama kenapa?" tanya Ipul dengan ekspresi menantang.
Sungguh dia tidak suka ketika Ralen kembali menyebalkan seperti ketika pertama mereka bertemu dulu, tidak bisakah wanita itu memahami dirinya yang sedang berusaha untuk menghargainya sebagai seorang istri meski ini dia lakukan semata-mata hanya karena sang Mama.
Ralen merapatkan bibirnya tak lagi ingin mendebat merasakan gemuruh hatinya sendiri yang tidak paham mengapa harus berada di dalam situasi seperti ini.
Impian semua wanita itu menikah dan memiliki kehidupan yang bahagia setelah pernikahan itu, tapi kenyataannya baru saja menikah malah sudah harus mendapatkan ujian sebesar ini, mengingat penyesalan suaminya yang menjadikan pernikahan ini sebagai alasan atas meninggalnya sang Papa.
Tidak ada respon dari Ralen membuat Ipul meradang, dia kesal karena pertanyaannya tidak di jawab.
Pria itu pun mengambil bantal serta selimut lalu dengan kasar melemparkannya ke arah Ralen dan jatuh tepat di kaki wanita itu.
"Pakai itu biar besok Lo nggak ada alasan buat libur kerja lagi!" kata Ipul tegas.
__ADS_1
Bibir Ralen berkedut ingin menjawab tapi dia menahannya tidak mau berdebat yang nantinya malah akan di dengar oleh sang mertua, dia tidak mau membuat wanita yang sangat baik padanya itu harus mengetahui seperti apa sikap sang anak kepadanya.
Setelah melempar selimut serta bantal Ipul pun langsung naik ke tempat tidur, menjatuhkan tubuhnya lalu membelakangi posisi Ralen berada saat ini.
Ralen masih bertahan dengan posisinya duduk sedari tadi hampir satu jam setengah dan menyerah ketika kedua matanya sudah tidak bisa diajak kompromi, dia ngantuk dan pusing dalam waktu bersamaan namun karena pusing membuatnya tidak bisa tidur sekalipun dia sudah sangat ngantuk.
Pagi hari..
"Kamu nggak ada tanyain istri kamu?" suara Mama Riska memecah keheningan di ruang makan.
Ibu dan anak itu sedang tidak makan, masih belum berselera untuk makan membuat makanan yang terhidang hanya jadi tontonan mereka saja.
Ipul mengedikkan bahu, tadi saat bangun memang dia tidak mendapati Ralen di kamar juga tidak di ruangan manapun hingga akhirnya dia yakin Ralen sudah berangkat kerja, toh pekerjaan wanita itu yang memang mengharuskannya untuk datang lebih pagi ketimbang karyawan lainnya.
"Semalam kamu bilang sama Mama akan berusaha menjadi suami yang baik bagi Ralen, tapi belum juga 24 jam kamu sudah berubah lagi, mau sampai kapan? percuma kamu menyesal karena Papa pun tidak akan pernah kembali lagi, menyalahkan orang lain terlebih itu istrimu sendiri hanya akan menambah rasa bersalahmu nantinya, Mama tidak mau kamu menyesal dikemudian hari bahkan lebih menyesal dari saat ini," tutur Riska dengan tatapan nanar, bola matanya bergetar ingin menangis tapi rasanya tidak mungkin karena jika dia menangis di depan sang anak, hanya akan menambah pikiran nantinya.
"Ipul udah berusaha baik semalam, tapi dia yang menolak, dia itu keras kepala.."
Ipul mengusap wajahnya lalu menarik napas.
"Kalian satu kantor tidak bisa berangkat bersama? bukankah itu jauh lebih baik ketimbang harus membiarkan istrimu turun naik kendaraan umum."
"Dia punya kendaraan Ma, dia biasa naik motor sendiri." masih membela diri.
__ADS_1
"Tidak mulai hari ini, karena Ralen memberikan motornya pada adiknya."
"Ipul akan belikan dia motor kalau begitu, biar dia tidak turun naik kendaraan umum," kata Ipul akhirnya memilih solusi ketimbang pusing berdebat dengan wanita yang dia sayangi.
"Bukan itu yang Mama mau," jelas Riska membuat Ipul mengernyit merasa serba salah.
Sebenarnya apa yang Mamanya itu inginkan darinya, semalam dia berusaha menuruti permintaan sang Mama untuk memperhatikan Ralen, tapi yang diperhatikan malah menolak mungkin sudah terlanjur kecewa dan sakit hati dengannya.
"Ipul mesti gimana sih Ma? Ipul itu bingung nggak ngerti mau Mama apa, saat ini Ipul benar-benar belum bisa menerima apa yang sudah terjadi, Ipul belum siap dengan kepergian Papa, Ipul belum siap kalau harus menanggung semuanya sendiri, tentang salah satu perusahaan Papa yang bermasalah pun harus Ipul yang bertanggung jawab sekarang Ma, jadi Ipul mohon sama Mama jangan tekan Ipul terus, biarkan Ipul menjadi lebih baik sendiri tanpa tekanan dari siapapun termasuk Mama, kalau Mama juga terus tekan Ipul harus ini dan itu, harus baik sama Ralen sedangkan Ipul sendiri merasa belum bisa, biar Mama paksa kayak apapun tetap tidak akan bisa Ma, jadi Ipul mohon banget sama Mama biarin semuanya begini sampai Ipul benar-benar menerima kepergian Papa dan semua masalah tentang perusahaan selesai," papar Ipul panjang lebar tentang apa yang dia hadapi saat ini.
Masalah perusahaan yang berusaha dia tutupi terpaksa dia ungkapkan kepada sang Mama, agar wanita itu mau sedikit mengerti bahwa ada banyak beban yang harus dia tanggung membuat dia tidak bisa bersikap santai seperti dulu.
Riska terpaku mendengar penuturan dari anaknya dan rasa bersalah pun menghampiri dirinya, tidak pernah menyangka kalau anaknya itu menyimpan masalah yang tidak mudah, bukan hanya karena kepergian Irman tapi juga karena anak perusahaan mereka yang sedang bermasalah.
"Ipul berangkat Ma," pamit Ipul setelah menjelaskan apa yang terjadi, ketika sang Mama hanya menatap kepergiannya saja tanpa suara.
Masa ini benar-benar sedikit sulit untuknya, belum lama berada di perusahaan namun sudah harus menghadapi masalah lain di tambah lagi tentang wanita yang dia nikahi yang dia perlakukan tidak baik.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*\*