
"Mama duluan ya," kata Mama Riska menyelesaikan makan malam.
Ini adalah makan malam yang kemalaman lihat saja sudah jam berapa sekarang ini? jarum pendek menunjuk angka antara sembilan dan sepuluh sedangkan jarum panjangnya berada di angka tiga, bukankah itu artinya ini sudah jam setengah sepuluh malam dan mereka baru makan malam.
Ralen menatap kepergian sang mertua yang perlahan menghilang di balik pintu kamar yang kembali tertutup rapat, menyisakan dia dan pria yang masih dengan asyik menikmati makanan bahkan hanya menoleh sekilas lalu saja ketika Mamanya berkata, lalu sesudahnya kembali fokus pada makanan di atas piring.
Sepeninggal nya Mama Riska ruang makan itu berubah menjadi hening tanpa suara yang sekarang hanya dipergunakan untuk mengunyah saja, denting sendok yang beradu piring jadi sangat mendominasi.
Dalam kondisi ini Ralen malah bingung harus bagaimana, bertemu kembali setelah satu Minggu tak jumpa menjadikannya kembali canggung terlebih lagi sebelumnya mereka sempat bertengkar karena sang pria yang tidak peka dan si wanita yang selalu main blokir ketika ada masalah.
"Mau tambah lagi nggak?" Ralen mencoba bersuara memberikan tawaran karena melihat nasi di piring suaminya hanya tinggal sedikit.
"Nggak," sahut Ipul di sela kunyahan nya, singkat dan sangat jelas membuat Ralen kembali bingung harus mencari bahan pembicaraan agar suasana tidak begitu asing.
Bukankah sangat aneh ketika sepasang suami istri bersikap seolah orang asing yang tidak saling mengenal, malah terkesan seperti sedang makan di sebuah restoran.
Ralen menatap pria di depannya yang masih saja bersikap cuek dan juga galak padanya, padahal sedari tadi dia sudah berusaha untuk berbuat baik, dari mulai menawarkan mandi, makan juga membuatkan minum tapi semua tanggapan yang pria itu berikan masih saja sama, memangnya tidak bisa apa berkata lebih lembut sedikit? mereka kan suami istri yah meskipun mungkin di hati mereka memang masih penuh tanda tanya tentang setelah lama bersama akan muncul yang namanya cinta?
Tak tahu! Ralen bingung, untuk menghadapi pria bernama Saipul Gunawan saja rasanya sudah kesulitan, lalu harus memikirkan perasaan yang entah kapan datangnya, dia tidak mungkin berharap karena bisa saja Tuhan menghendaki hal yang lain untuk mereka.
Kembali tidak ada suara yang Ralen keluarkan dari mulutnya, sekarang yang dia ingin adalah cepat menyelesaikan makannya lalu pergi tidur.
Begitu makanan di atas piringnya habis Ralen menghembuskan napas lega, tingkahnya itu seperti orang yang sedang uji nyali saja, padahal hanya makan dengan suaminya.
Wanita yang mencepol rambutnya itu beranjak dari duduknya mengambil piring lalu membawanya untuk langsung dia cuci, membiarkan pria galak itu makan sendiri.
Selesai mencuci piring Ralen mengelap tangannya baru akan memutar tubuhnya namun gerakannya terhenti ketika ada tangan yang memegang piring terulur melewati kiri kanan tubuhnya membuat dia membeku terlebih lagi ketika tubuh belakangnya bersentuhan dengan tubuh orang yang sekarang dengan sengaja makin mendekat merapatkan tubuh padanya.
"Suaminya belom selesai udah mau di tinggal aja," tutur pria dengan suara yang berat dan terkesan seksi menggoda.
Ralen memejamkan matanya merasakan suara yang begitu dekat juga ada hembusan napas hangat yang dengan sengaja ditiupkan pada telinga.
Dalam situasi ini Ralen memohon pada jantungnya untuk bekerja sama ketika merasakan debaran jantung yang seperti tidak terkendali.
__ADS_1
"Mau ngapain?" tanya Ipul ketika Ralen mencoba untuk mengambil piring dari tangannya.
"Mau di cuci kan?" suara Ralen terdengar sangat pelan seperti tercekat di tenggorokan, sungguh dia benar-benar sedang sangat berusaha untuk tidak salah tingkah, bersikap tenang tapi tubuhnya malah terasa dingin dan semakin terasa aneh kala kulit lehernya diterpa oleh napas hangat dari pria yang masih dengan posisi yang sama, di belakang tubuhnya dengan tangan terulur yang akan terlihat seperti sedang memeluknya.
"Aku bisa cuci sendiri," kata Ipul lalu mengambil spons cuci piring yang tadi Ralen pakai.
Ralen ingin pingsan kala pria di belakangnya mulai bergerak menyabuni piring dengan begitu tenang mengabaikan dirinya yang malah menahan napas agar tubuhnya tidak bergerak.
Wajah Ipul makin mendekati bagian lehernya saat mencuci piring dan dengan sengaja menyentuhkan bibirnya di kulit leher Ralen membuat Ralen tak kuasa untuk memejamkan mata.
"Napas Len," peringat Ipul menyadari istrinya tengah menahan napas.
Sontak saja Ralen yang tengah memejamkan mata langsung tersadar lalu mengambil napas berulang kali, dan kembali bernapas dengan normal setelah kebodohan yang dia lakukan barusan, memangnya dia mau mati dengan menahan napasnya sendiri.
Mencuci satu piring satu sendok dan satu garpu saja menjadi sangat lama, Ralen tidak tahu harus bagaimana untuk meminta Ipul segera menyelesaikan apa yang dia lakukan itu, mulutnya jadi terkunci rapat menunggu saat-saat mencuci piring yang seperti adegan drama Korea itu selesai.
Berlama-lama dalam posisi seperti ini sangat tidak baik untuk kesehatan jantungnya dan dia harus mencari cara ketimbang dia mati muda akibat serangan jantung karena ulah pria di belakangnya yang masih terus menyentuh kulit leher Ralen dengan bibirnya.
"Jadi mau tidur aja? oke kita selesaikan piringnya," sahut Ipul dengan suara sarat akan godaan.
Apalagi yang pria itu pikirkan sekarang, sepertinya Ralen salah strategi dengan mengatakan tidur pada seorang pria apalagi suami yang sudah satu Minggu tidak bertemu bukankah itu artinya memberikan peluang pada sang suami untuk melakukan hal lebih dari sekedar mengecup leher?
Ralen menggigit bibirnya dan hatinya menyalahkan dirinya tentang kebodohan yang dia lakukan saat ini matanya bergerak mengikuti tangan sang suami yang tengah membilas piring serta dua alat makan lainnya dengan air yang mengalir.
Sadar tidak sadar kini Ralen menurunkan tubuhnya berniat untuk meloloskan diri tapi kaki sang suami nyatanya lebih gesit dengan cepat menjepit kedua kakinya hingga tidak bisa bergerak, terus menahannya sampai selesai mencuci alat makan terakhir.
"Selesai, ayo tidur," ajak Ipul dengan wajah yang riang sangat berbeda dengan yang tadi pada saat Ralen baru pulang.
Ipul memegang tangan Ralen lalu mengajaknya untuk naik ke lantai atas tempat kamar mereka berada.
Terus menggenggam tangan sang istri bahkan sampai mereka sudah ada di dalam kamar sekalipun dan sekarang berdiri berhadapan di depan pintu yang sudah dia tutup dan tidak lupa menguncinya.
"Kamu ini kalau ada masalah jangan selalu blokir," ujar Ipul dengan tangan yang bergerak menyingkirkan anak rambut di kening Ralen.
__ADS_1
Ralen memicing dengan tingkah suaminya yang mendadak jadi lembut, bukankah itu artinya pria itu sedang menginginkan sesuatu? setelah kejadian di kantor beberapa waktu lalu saat suaminya itu akan pergi juga melakukan hal yang serupa, jelas Ralen sudah langsung mengerti.
Sudah seminggu bukan? tentu seorang pria yang sudah pernah merasakan hal yang intim tidak akan bisa untuk menahannya dalam waktu lama apalagi sekarang ada seorang wanita yang halal untuk dia tiduri.
Akal-akalan kucing garong memang ada saja jika sudah menginginkan sesuatu.
"Gue mau tidur," kata Ralen dengan gugup menghindar dari suami yang sekarang menatap dirinya yang kebingungan bahkan sampai bolak-balik tak jelas tidak tahu mau kemana, padahal tadi mengatakan mau tidur tapi kenapa tidak langsung naik ke atas tempat tidur, atau mungkin ke kamar mandi untuk mencuci kaki?
"Tadi baru nawarin mandi, makan sama minum, masih ada yang kurang kayaknya," tutur Ipul mengetuk-ngetuk dagunya sendiri seraya melihat tingkah tak jelas Ralen.
"A apa lagi memangnya?" tanya Ralen berdiri di tepian tempat tidur mengambil jarak dengan pria yang menampilkan senyum tak biasa.
Bukannya menjawab Ipul malah menaikturunkan sebelah alisnya seperti memberi kode yang tidak mau Ralen mengerti.
Sungguh Ralen ingin menjadi manusia bodoh saja agar tidak mengerti kode-kode mesum yang tengah di berikan oleh pria yang menikahinya itu.
"Kelamaan!" seru Ipul lalu berjalan cepat menuju Ralen yang kulit mukanya sudah pucat.
Wanita itu ingin kabur, lari kemana saja menyelamatkan dirinya dari terkaman buaya darat yang sifatnya kadang berubah-ubah sama seperti dirinya.
Ok! keduanya ini memang pasangan yang sangat cocok, keras kepala dan segala tingkah tak jelas yang mereka miliki.
Ralen yang memilih untuk lari menghindar malah jadi terpojok ke sudut ruangan di tepat di sebelah tempat tidur, dia sudah tidak bisa kemana-mana lagi ketika Ipul berdiri di depannya dengan senyuman yang malah terlihat menakutkan, semakin menakutkan lagi saat kedua tangan kekar itu mengungkungnya hingga benar-benar tidak bisa lari kemanapun.
"Harus ada pijatan yang lembut untuk tubuh suamimu yang lelah ini Ralensi Jelita atau kamu yang ingin aku pijat? mengingat tadi kamu habis berjalan-jalan di mall!" desis Ipul terdengar begitu menyindir.
Brak!
Menghempaskan tubuh istrinya ke atas tempat tidur dengan kasur yang sangat empuk dan sejak tadi sangat menggoda untuk dia jadikan tempat memadu kasih bersama istri yang dia tinggal seminggu lamanya.
Ralen memejamkan mata kala pria di depannya tengah membuka kaos hingga memperlihatkan perutnya yang berbentuk kotak tersusun, sungguh saat ini tubuh Ralen membeku tak berdaya dia tahu setelah ini akan ada hal yang lebih dari ini akan terjadi.
******
__ADS_1