Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Malas Merespon


__ADS_3

Ralen begitu terkejut ketika tangannya di tarik menuju pintu ruangan yang masih tertutup, ketika tangan pria itu meraih gagang pintu detik berikutnya Ralen sadar kalau dia akan di bawa masuk ke dalam ruangan kosong itu hingga akhirnya dia berusaha melepaskan cengkeraman yang bukannya terlepas malah semakin kuat melingkari pergelangan tangannya.


Di saat Ralen setengah mati mencoba melepaskan diri tapi Ipul dengan santainya berbicara dengan sang asisten yang sedari tadi melihat keduanya dengan raut wajah yang sulit dimengerti.


"Om, tolong batalkan rapat hari ini," kata Ipul dengan seenaknya padahal rapat ini berhubungan penting tentang pemindahan kepemimpinan, tapi nyatanya bagi dirinya tidak ada yang lebih penting dari menyelesaikan kesalahpahaman yang sudah dia perbuat tanpa sengaja.


Damar terlihat ragu, tapi meski begitu dia akan mengikuti permintaan tuan mudanya lalu menjadwal ulang rapat itu.


Setelah mendapatkan anggukan dari sang asisten Ipul segera membuka pintu di depannya lalu memaksa Ralen untuk masuk ke dalam.


Brak!


Begitu berada di dalam langsung melemparkan paper bag yang tadi Ralen bawa, melemparnya hingga menghantam meja kecil berisi vas bunga yang akhirnya terbalik berguling di atas meja meski tidak membuatnya terpecah belah di lantai.


Ralen menyaksikan itu dengan tatapan tidak percaya, pria yang beberapa hari menghilang bak di telan bumi kini datang bagaikan angin topan yang mengamuk.


Kenapa pria di depannya ini mengamuk? bukankah dia yang telah dibohongi? seharusnya dirinyalah yang mengamuk saat ini bahkan mungkin memukuli pria di depannya ini guna melampiaskan kemarahannya akibat janji palsu yang dia dapatkan, Ralen sungguh tidak mengerti membuat dia menggeleng kepala menunjukkan raut wajah penuh dengan ekspresi sinis.


Ipul menatap wanita yang di dalam bola matanya terlihat sangat tidak suka bertemu dengan dirinya apalagi sampai berduaan seperti ini, sebagai seorang pria yang selama ini tidak pernah melakukan kejahatan pada seorang wanita tentu dia sangat merasa bersalah, tapi mengingat Ralen yang terus-terusan memblokir kontaknya membuat dia kesal terlebih tadi saat bertemu dan dia dengan sengaja menghadang, wanita itu malah melewatinya begitu saja seperti orang yang tidak saling mengenal.


"Ada alasan kenapa gue tidak datang hari itu dan gue akan jelasin," kata Ipul ketika Ralen mengambil jarak dengannya seperti tengah membangun benteng pertahanan agar Ipul tidak bisa mendekat, benteng yang tidak terlihat namun Ipul menyadari ada benteng itu ketika Ralen tidak merespon apa yang dia katakan.


"Gue nggak mau dengar apapun," sahut Ralen dengan kepala yang menggeleng sebagai sebuah penolakan.


Baginya alasan beserta penjelasan itu tidak lagi penting untuknya, yang dia tahu pria di depannya ini tidak menepati janjinya dan itu sudah cukup baginya untuk menyimpulkan bahwa dia adalah seorang pengecut.


Ipul mengeratkan rahangnya mendengar pernyataan Ralen.


Dan ketika Ralen hendak pergi dari ruangan itu Ipul langsung menarik tangannya dan membawanya menuju sofa lalu mendudukkan Ralen di sofa itu sedangkan dia merundukkan badan tingginya dengan tangan di samping kiri kanan sofa menjaga wanita di depannya agar tidak bisa kemana-mana.


"Apa-apaan si Lo?!" suara Ralen meninggi dengan sorot mata marah, tidak suka di perlakukan seperti ini oleh pria yang bahkan sudah membuatnya menjadi wanita tidak berharga.


Ipul tidak menjawab hanya matanya saja sibuk menyelami iris berwarna hitam di depannya yang kini hanya berjarak 15cm, tidak terlalu jauh untuk keduanya saling melihat dan merasakan hembusan napas yang menerpa.


Lalu detik kemudian Ipul melembut mencoba mengalah karena dia sadar wanita di depannya menjadi seperti ini karena dirinya juga.

__ADS_1


"Kenapa blokir nomor gue?" tanyanya yang membuat Ralen berdecih.


"Buat apa simpan nomor Lo? tidak ada hal penting yang mewajibkan gue buat tidak blokir nomor Lo!" jawab Ralen dengan ketus membuat pria di depannya menghela napas.


"Oke itu hak Lo, tapi sekarang dengerin penjelasan gue," pinta Ipul dengan tatapan tak lagi penuh kekesalan seperti saat datang tadi.


Ralen membuang wajah tidak ingin semakin lama menatap wajah yang ada di depannya.


"Lihat gue!" ujar Ipul.


"Lo bisa ngomong tanpa perlu gue lihat Lo." Ralen berkata dengan datar seperti tidak ada yang terjadi meski dalam hatinya ingin berteriak lalu memaki pria yang seenaknya menghilang lalu sesuka hatinya datang.


Untuk kesekian kalinya Ipul mengeratkan rahang ada panas yang seperti membakar hatinya saat ini, tapi dia menghela napas guna mendinginkan rasa panas itu.


"Gue memang brengsek gue bajingan, gua laki-laki jahat yang udah memanfaatkan diri Lo saat Lo lagi tidak sadar, tapi gue juga bukan seorang pengecut yang akan lari begitu saja setelah gue merugikan orang lain, apalagi seorang wanita!" Ipul berkata tegas dan penuh penekanan seperti meyakinkan pada wanita di depannya agar tidak meremehkan dirinya, meremehkan pertanggung jawaban yang sebelumnya sudah dia janjikan.


Ralen menaikkan sudut bibirnya mendengar penyataan sang pria, dan dari sudut inipun pria itu bisa menangkap dengan jelas ekspresi yang Ralen tunjukkan.


Untuk sesaat Ipul memperhatikan Ralen sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya, "pagi itu gue Mama dan Papa tengah bersiap untuk datang ke rumah Lo, dan Lo tahu? Mama bahkan sangat antusias," terang Ipul bercerita.


Antusias memiliki seorang menantu yang bahkan jauh di bawah mereka? Ralen rasanya tidak mau percaya tapi saat pertama kali dia melihat orang tua Ipul wajah mereka terlihat begitu tulus, tidak ada wajah jahat ataupun licik sama sekali.


"Tapi apa yang terjadi selanjutnya?" Ipul menyela ucapannya menunggu seperti apa tanggapan dari Ralen, namun nyatanya Ralen tetap diam membisu meski sekarang tidak ada lagi raut wajah sinis yang sejak tadi wanita itu munculkan.


"Papa terkena serangan jantung dan jatuh di kamar mandi," aku Ipul membuat Ralen yang tadi berpaling tidak mau melihatnya pun beralih melihat ke dalam matanya.


Mencari sebuah kebohongan yang rasanya sulit untuk ditemukan, tidak mungkin pria itu membawa-bawa orang tuanya hanya untuk menyelamatkan dirinya dari kemarahan Ralen bukan? tidak mungkin pria di depannya itu tega mengatakan itu hanya untuk di percaya.


"Menurut Lo apa yang harus gue lakukan? tetap memaksa Mama gue datang ke rumah Lo di saat Papa gue dalam keadaan kritis bahkan sampai sekarang masih koma, sebagai seorang anak apa Lo tega lihat orang tua Lo yang lagi sedih tapi Lo masih memaksakan kehendak hanya untuk memenuhi janji yang pastinya masih bisa gue tepati, gue nggak bakal ingkar sama janji gue!" tegas Ipul.



"Gue nggak bisa egois dengan memikirkan perasaan orang lain tapi gue nyakitin keluarga gue sendiri, gue nggak bisa kayak gitu."


__ADS_1


Mata Ralen memanas mendengar semua itu ingin menangis tapi dia tahan, memang benar dia hanya orang lain tapi bisakah pria di depannya ini tidak mengatakan hal itu dengan begitu jelas di depannya, seolah dia memang tidak penting padahal semua ini terjadi karena perbuatan sang pria, pria itu dalam keadaan sadar saat menidurinya tapi sekarang malah seperti menyalahkan dirinya.



"Lo bisa hubungin gue, Lo bisa telepon gue kalau itu memang yang terjadi, gue bukan perempuan jahat yang akan memaksa Lo untuk menikahi gue saat keluarga Lo dapat musibah!" ucap Ralen dengan sekuat tenaga menahan sesak yang memonopoli dadanya.



"Handphone gue rusak! jatuh saat gue bawa Papa ke rumah sakit, tapi saat gue hubungin Lo, Lo blokir gue! nggak cukup blokir satu kali aja? jangan kayak ABG yang saat ada masalah sama orang Lo blokir nomor tuh orang!" cecar Ipul tidak terima berulang kali Ralen memblokir nomornya.



Dikatakan seperti ABG membuat Ralen sakit lagi, dia memang seperti ini saat sudah tidak suka dengan seseorang jangankan melihatnya menyimpan nomornya saja tidak mau, dan itu yang dia rasakan saat Ipul mengingkari janjinya.



"Kalau emang Lo niat buat jelasin sama gue, Lo bisa temuin gue, gue kerja di kantor Lo bahkan Lo tahu rumah gue. kenapa Lo nggak temuin gue? tapi Lo malah mengosongkan ruangan ini seolah Lo udah nggak berada di kantor ini lagi, perempuan mana yang nggak bakal kecewa dan sakit hati?!" seru Ralen yang rasanya ingin mengamuk pada pria yang tengah membungkuk di depannya.



Ipul memejamkan mata disertai dengan deruan napas yang memanas, "perusahaan ini butuh pemimpin dan Papa belum sadar maka dari itu gue yang akan menggantikan Papa, itu artinya sekarang gue pindah ke ruangan Papa di lantai 5."


Penjelasan yang Ipul berikan rupanya memang tidak cukup untuk membuat Ralen begitu saja meluruhkan kemarahannya terlebih lagi pria di depannya ini tidak juga meminta maaf padanya.


"Gue janji setelah Papa sembuh gue akan bawa mereka ke rumah Lo."



Ralen menggelengkan kepalanya, "Lo bahkan nggak minta maaf sama sekali sama gue, dan sekarang Lo seenaknya ngomong kayak gini?" Ralen tersenyum sinis, "Lo pikir gue nggak punya perasaan?!" menyentak lalu mendorong Ipul menjauh darinya.


Ipul sungguh di buat terkejut terlebih lagi Ralen yang langsung pergi begitu saja membuat dirinya menyadari kebodohannya, seharusnya tadi dia memang meminta maaf lebih dulu tapi konyolnya dia malah terbawa emosi kala Ralen mengabaikan dirinya.


Pria itu membeku di tempatnya masih menata pintu kala sosok Ralen sudah tidak terlihat, ada rasa sesal yang menghimpit mendengar ucapan sang wanita tentang kata maaf yang tidak terucap dari bibirnya.


*********

__ADS_1


__ADS_2