Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Ternyata Kamu Sangat Kaya


__ADS_3

"Taruhan apa?"


Dua orang yang sedang berbicara lantas menoleh pada pintu yang sudah terbuka entah sejak kapan keduanya tidak menyadari hal itu.


Ralen berdiri dengan wajah yang penuh tanya sebenarnya dia tidak berniat untuk mencuri dengar tapi pintu yang tidak tertutup rapat membuat suara dari dalam ruangan terdengar olehnya yang memang terbangun dari tidur dan mencari suaminya yang tidak ada di sebelahnya padahal tadi dia merasa kalau suaminya pun ikut tidur bersamanya.


Wanita yang setengah mengantuk itupun keluar dari kamar untuk mencari tahu keberadaan suaminya begitu melewati satu ruangan yang dia tahu itu adalah ruang kerja almarhum mertuanya dengan pintu yang tak rapat dia berhenti hendak membuka tapi kemudian tertahan ketika mendengar ada suara dua orang yang tengah berbicara.


Suara milik dua orang yang dia kenal dan tengah membicarakan tentang taruhan yang tidak pernah dia ketahui.


"Siapa yang taruhan?" Ralen mengulang kembalikan pertanyaannya dengan wajah yang sekarang berubah menjadi lugu, polos tanda dia yang tidak mengerti apapun.


"Mama sih!" gerutu Ipul dengan bibir yang bergerak samar lalu melirik pada sang Mama.


"Ipul itu taruhan sama Davi, Len," bukannya tutup mulut malah makin gacor berbicara memberitahu Ralen membuat kedua bola mata Ipul mendelik tak percaya.


"Mas taruhan? taruhan apa?" Ralen beralih menatap suaminya yang tengah menggaruk kepala.


"Taruhan mobil! dan suamimu itu kalah," Mama Riska makin nyerocos tanpa henti.


Mata Ralen yang tadinya masih sayu pun berubah menjadi lebar, menampakkan keterkejutan yang luar biasa, "lalu mobilnya?" tetap bertanya pada suami dan pandangannya sedari tadi pun tidak berubah meski yang terus menjawab pertanyaan darinya adalah sang mertua.


"Ya mobil di ambil dong sama yang menang," kata Mama Riska seraya terkekeh geli.


"Mama bisa diam nggak sih?!" Ipul mulai gemas dengan mulut sang Mama yang tak bisa diam sejak tadi, terus saja memberikan jawaban padahal bukan dia yang ditanya.


Mama Riska menggeleng lalu mengedikkan bahu, mulutnya sudah kehilangan rem jadi tidak bisa berhenti mendadak harus di atur lebih dulu.


"Ngeselin!" sungut Ipul.


"Memang taruhan apa?" tanya Ralen masih berdiri di dekat pintu.


"Nah kamu jawab deh tuh, Mama mau beresin bekas makan dulu," ujar wanita yang gegas beranjak dari duduknya melenggang pergi meninggalkan Ipul yang keki dengan tingkahnya.


"Aku dan Bang Davi bertaruh kalau aku sampai bucin sama kamu dia berhak ambil mobil aku! puas kamu!?" Ipul berkata sangat kencang memberitahu wanita yang sedari tadi menunjukkan ekspresi tak jelas.


"Oh."


Ipul menganga mendapat tanggapan yang hanya oh saja dari mulut istrinya yang sekarang berbentuk bulat, hanya itukah?

__ADS_1


"Oh?" Ipul mencontoh apa yang Ralen lakukan dengan wajahnya tak percaya.


"Ternyata kamu sangat kaya ya Mas Sai," tutur Ralen lalu berjalan menjauh dari pintu masih dengan wajah yang sama dengan sebelumnya.


Pria yang masih tak bergerak dari duduknya malah melongo mendapati tanggapan yang tidak masuk akal, istrinya itu malah membahas kekayannya, apa wanita itu lupa kalau dia menikah dengan seorang pengusaha muda yang memiliki beberapa perusahaan, yah meski itu adalah warisan tapi tetap saja semua itu mutlak kepunyaannya kan?


"Dia malah ngomongin kekayaan? telinga gue nggak jadi tuli karena sering di jewer oleh dua wanita di rumah ini kan?" berbicara sendiri mencari jawaban atas kebingungan yang dia rasakan manakala Ralen sudah tidak terlihat.


Pria itu bahkan menepuk-nepuk kedua telinganya membuka lalu menutupnya bergantian dengan telapak tangan untuk memastikan pendengarannya.


"Telinga gue Normal, berarti dia emang benar ngomongin kekayaan, dia nggak marah di jadiin bahan taruhan?" mengoceh sendirian dengan alis yang saling menaut.


"Jelita," memanggil sang istri yang sudah tak terlihat, berjalan mencari si wanita yang menurutnya itu mungkin akan marah padanya mengamuk besar-besaran karena tidak terima.


Langkah kakinya menjadi lebih cepat ketika di kamar tidak mendapati wanita yang dia cari.


"Jelitaa, hei ngambek kamu?!" teriaknya sambil menuruni tangga.


"Ngapain sih kamu teriak begitu? udah kayak Tarzan tahu nggak!" omel sang Mama saat berpapasan dengan anaknya di ujung tangga paling bawah.


"Mama lihat Jelita?" bertanya tanpa merespon apa yang Mamanya ucapkan.


Mama Riska menatap nyinyir, "yang kamu cariin lagi asik makan," adunya seraya menggerakkan dagu menunjuk tempat dimana wanita yang sedang anaknya itu cari berada.


Mama Riska mengangguk mengiyakan karena kenyataannya memang seperti itu, menantunya tiba-tiba datang ke dapur saat dia baru akan merapikan meja makan, sang menantu lantas mengambil piring lalu makan, Riska pun di buat bingung bukankah sebelum melanjutkan tidur tadi menantunya itu sudah makan bersama mereka?


"Perasaan tadi sebelum tidur udah makan deh," Ipul menggaruk kepala bingung.


"Ya iya kan bareng sama kita juga," timpal sang Mama, "yaudah biarin aja uang kamu juga banyak nggak bakal habis cuma karena istri kamu makan terus, ketimbang habis buat taruhan, hihi." Mama Riska malah cekikikan lalu melenggang pergi begitu saja setelah membuat mata anaknya melotot.


"Taruhan terus yang di bahas!" gerutu Ipul merasa tersindir.


Ipul pun menggerakkan kakinya menyusul sang istri dari ruang makan dan benar saja apa yang dikatakan oleh Mamanya tadi, dia yang baru saja sampai di ambang pintu menghentikan langkah guna memperhatikan punggung sang istri yang duduk membelakangi pintu.


Tangan wanita itu terlihat bergerak mengangkat sendok berisi makanan lalu menyuapkannya ke dalam mulut.


"Ini bocah kenapa jadi makan mulu?" gumamnya heran.


Dia ingat saat berada di Batam pun Ralen sering sekali makan, kadang sehari bisa berkali-kali belum lagi cemilan yang seperti tidak ada hentinya masuk ke dalam mulut, sebenarnya tidak mengapa tapi kan dulu saat awal menikah Ralen itu makan saja hanya sedikit sehari cukup dua kali saja saat pagi dan sore atau malam hari.

__ADS_1


"Mas Sai."


Suara Ralen membuat Ipul sontak melangkah mendekat lalu duduk di samping wanita yang sedang mengunyah begitu lahap.


"Kamu laper banget?" Ipul bertanya apa yang dia pikirkan.


Ralen mengangguk, "nggak tahu bangun tidur pengen makan."


"Kan tadi sebelum tidur udah makan," mengingatkan sang istri.


"Hah? iya emang?" Ralen menghentikan gerakannya melihat pada sang suami yang juga tengah melihat padanya dengan sorot mata yang entah menyiratkan apa.


"Kok dia malah jadi pikun?" batin Ipul ketika mendapati wajah Ralen yang mengisyaratkan bahwa wanita itu memang lupa.


"Kalau tadi aku sudah makan terus memangnya kenapa kalau aku makan lagi? kamu keberatan? tidak suka? padahal kamu itu kaya uang kamu banyak taruhan saja pakai mobil, masa aku makan berkali-kali aja kamu keberatan!" celetuk Ralen.



Ipul terjangkit mendengar istrinya mengoceh, dia kan hanya bertanya dan mengingatkan lagian siapa juga yang keberatan istrinya mau makan berapa kali ya terserah kenapa malah jadi ngomel.



"Aku cuma tanya doang Jelita, mana ada aku keberatan istri makan, aku cari uang ya buat kamu, mau makan sampai perut kamu meledak pun ya terserah uangku juga nggak akan habis cuma buat makan kamu doang," balas Ipul.



"Jadi kamu mau perut aku meledak? dasar suami nggak punya pikiran, jahat banget mulutnya!" sentak Ralen.



"Astaga, bukan itu maksudnya, kamu nih makin hari kenapa jadi sensitif banget sih?!" tak percaya, dari awal dia tahu istrinya memang galak tapi rasanya tidak sampai begini juga, apa-apa dijadikan masalah.


Aneh serta tidak jelas, membingungkan tadinya dia kira Ralen akan marah karena masalah taruhan eh tahunya malah marah karena makanan.


"Udah lah aku udah kenyang, Mas Sai tuh ngeselin!" Ralen beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan sang suami yang melongo menatap kepergiannya dengan setengah berlari.



"Apaan siiiihhh." Ipul mengacak rambutnya sendiri dengan gemas lalu mengusap wajahnya begitu kasar dan urakan melakukan berulang kali sampai wajahnya jadi terlihat kusut memikirkan sikap istrinya yang jadi aneh.

__ADS_1



\*\*\*\*


__ADS_2