
Dua orang yang sudah menyelesaikan kegiatan intim di ruangan itu kini masih saling berpelukan di balik selimut dengan tidak ada lagi yang melapisi tubuh keduanya.
Tatapan sang pria masih sama seperti saat mereka menggapai puncak bersama, begitu dalam seperti ada sesuatu yang tengah berkutat di dalam kepalanya entah apa namun yang jelas tatapan mata itu membuat Ralen harus memalingkan wajah menyembunyikan warna merah yang menghiasi pipinya.
Sungguh Ralen merasakan pipinya bersemu merah saat ini di tambah membayangkan apa yang tadi baru saja mereka selesaikan.
"Kamu mau berhenti kerja aja nggak sih?" tanya Ipul tiba-tiba tanpa Ralen mengerti apa maksudnya.
Kenapa pria itu mendadak mengatakan hal yang bahkan tidak pernah Ralen pikirkan sebelumnya.
Berhenti bekerja? lalu bagaimana caranya dia harus memenuhi semua kebutuhan orang tuanya? sekalipun dia sudah menikah rasanya dia tidak akan pernah mau meminta suaminya untuk menanggung semua kebutuhan orang tua serta Adiknya yang masih bersekolah, sangat tidak mungkin sebab Ralen bukanlah wanita yang akan bergantung pada orang lain lebih-lebih suaminya sendiri untuk urusan keluarganya, baginya keluarganya itu tanggung jawab dia, dan dirinya baru tanggung jawab suaminya.
"Kenapa aku harus berhenti kerja? kamu risih lihat aku ada disini?" sepertinya Ralen malah beranggapan lain, dia berpikir kalau suaminya itu risih karena memiliki istri yang hanya petugas kebersihan di perusahaan milik sang suami, bukankah sebelum menikah pekerjaan dia memang sudah begini dan pria itupun tahu.
Ipul menggeleng cepat tidak mau istrinya salah tanggap, meski dia memang menyebalkan beberapa hari ini tapi rasanya dia tidak tega ketika harus melihat istrinya masih saja bekerja sedangkan suaminya adalah seorang pemilik perusahaan.
"Kayaknya aku kepikiran mau kuliahin kamu, mau nggak?" pertanyaan Ipul selanjutnya membuat Ralen terkaget bahkan sampai terduduk dengan cepat sampai selimut yang dia pakai merosot turun memamerkan sebagian tubuh atasnya yang tidak mengenakan apapun.
Astaga, ini masih jam kerja dan dua orang ini malah terlihat begitu santai dan tenang seolah sangat menikmati hidup sebelum perpisahan nanti sore.
"Kuliah?" tanya Ralen masih tak peduli dengan kulit tubuh yang terekspos.
"Iya." Ipul mengangguk seraya menaikkan kembali selimut untuk menutupi tubuh sang istri.
"Mau kuliah?"
Ralen mengangguk lambat.
"Berhenti kerja tapi," tambah Ipul lagi.
Tawaran yang menggiurkan, bukankah sejak dulu dia sangat ingin kuliah? kuliah salah satu impiannya yang dia pikir sampai kapanpun hanya akan menjadi impian tanpa pernah terwujud, tapi sekarang pria yang menikahinya sedang menawarkan hal itu tapi dengan syarat berhenti bekerja.
Sebenarnya dia sangat ingin langsung mengiyakan tawaran dari suaminya tapi rasanya dia juga tidak mungkin berhenti dari kerja, memangnya dia mau dapat uang dari mana untuk kebutuhan orang tuanya?
__ADS_1
"Mau kuliah tidak?" tanya Ipul lagi seraya duduk di samping Ralen lalu jarinya menjalar di kulit bahu sang istri yang mengintip di balik selimut yang Ralen dekap.
"Mau, tapi.."
"Mikirin biaya?"
Ralen mengangguk samar serta bibirnya hendak mengatakan sesuatu namun tertahan karena pria yang jarinya tidak bisa diam itu kembali berkata, "semuanya aku yang tanggung, soal keluarga kamu juga nggak perlu mikirin."
"Maksudnya?" tanya Ralen bingung, tidak terlalu bingung sebenarnya hanya dia ingin mendengar lebih jelas apa yang Ipul sampaikan, dia bukan wanita bodoh yang tidak mengerti apapun.
"Aku yang tanggung semua keperluan mereka, masalah pendidikan Ardan juga kamu tidak perlu pusing lagi, aku yang ambil alih semua," papar Ipul membuat Ralen tak bisa berkedip, kelopak matanya seakan mendadak kaku tak bisa bergerak.
Apa yang harus dia lakukan sekarang? langsung setuju saja? tapi prinsipnya bagaimana? bukankah dia tidak mau merepotkan orang lain termasuk suaminya untuk kebutuhan orang tua serta Adiknya?
"Kamu pikirkan saja dulu, tapi satu yang aku minta.." Ipul menggantung ucapannya membuat Ralen menatap tak menunggu apa yang ingin dia ucapkan.
"Aku titip Mama, kamu tolong jagain Mama jangan biarin Mama kecapean, bisa?" Ipul menatap penuh tanya pada wanita yang nyatanya sudah memberinya kesenangan untuk yang ketiga kalinya, kesenangan yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata hingga dia harus melupakan bahwa dia pernah menyatakan menyesal sudah menikah dengannya.
Tidak ada penyesalan hanya saja saat itu dia tengah sangat bersedih hingga mengeluarkan pernyataan yang begitu menyakitkan.
"Terimakasih, aku percaya sama kamu, kamu juga jaga diri jangan hujan-hujanan lagi nanti sakit," kata Ipul lembut dan penuh perhatian.
Sungguh Ralen menganggap hari ini adalah hari keberuntungan baginya, padahal tadi dia sudah sangat mempersiapkan diri untuk mengimbangi segala sikap buruk Ipul terhadapnya tapi nyatanya semua itu tidak berguna karena suaminya tidak melakukan hal buruk apapun melainkan memberikan hal yang sangat manis, membuat dia tidak akan bisa melupakan saat-saat ini.
"Berapa lama?" tanya Ralen.
"Mungkin satu Minggu, aku harus benar-benar memperbaiki kesalahan prosedur dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab," jelas Ipul tentang berapa lama dia harus berada di Batam.
"Kenapa?" tanya Ipul seraya menggerakan dagunya begitu melihat ekspresi lain dari wajah sang istri.
"Tidak." Ralen menggelengkan kepalanya tak memberikan jawaban, sebenarnya hatinya sedikit gundah rasanya dia tidak rela barunya saja merasakan kehangatan dari suaminya tapi malah sudah di tinggal, apa ada jaminan kalau setelah urusannya selesai dan suaminya kembali pria itu akan tetap hangat dan manis kepadanya?
Memikirkan hal seperti ini malah membuat Ralen takut sendiri, takut suaminya kembali menjadi suaminya ketus dan dingin terhadapnya.
__ADS_1
Sebenarnya Ipul masih ingin berlama-lama dengan Ralen tapi suara deringan handphone dari kantong celana yang teronggok di tepian tempat tidur membuatnya sadar kalau mereka berada di lingkungan kantor yang mengharuskan mereka untuk kembali berkegiatan.
Ipul beranjak menarik celananya lalu mengeluarkan handphone dan menjawab panggilan dari sang asisten yang berada di luar ruangan, untunglah Ipul sempat mengunci pintunya kalau tidak asistennya itupun bisa saja masuk dan memergoki dia sedang berasyik Masyuk dengan istrinya.
"Saya akan kembali ke ruangan sebentar lagi, Om tunggu di sana saja," kata Ipul pada asistennya yang meminta dia untuk segera ke ruangan karena ada pekerjaan yang harus di selesaikan.
"Aku harus kembali ke ruangan," ujar Ipul kepada Ralen yang mengangguk.
"Aku juga kan masih harus kerja," timpal Ralen lalu memunguti pakaiannya.
Keduanya sedang memakai pakaian setelah membersihkan diri dari jejak pertempuran yang tadi terjadi.
"Sekretaris kamu ikut?" entah kenapa Ralen jadi mengingat sekretaris dengan wajah penuh dengan riasan.
"Kenapa memangnya?" Ipul yang sedang mengancingkan kemejanya malah balik bertanya.
"Dia ikut, dia yang atur jadwal aku," akhirnya memberikan jawaban yang membuat Ralen menarik napas.
"Om Damar juga ikut, nanti di sana juga kan banyak orang nggak mungkin juga aku berduaan sama Sarah," papar Ipul membaca gelagat tak nyaman dari istrinya.
Sedikit banyak dia tahu bagaimana perasaan seorang istri ketika suaminya harus pergi ke luar kota bersama dengan wanita.
Ralen mengulas senyum, ada rasa lega yang dia rasakan ketika suaminya itu memberikan penjelasan padanya, bukankah artinya sang suami peka dengan perasaannya?
Keduanya keluar dari ruangan istirahat beriringan dengan tangan sang pria yang terus mengelus pinggang sang wanita.
"Ini, jangan naik angkutan umum lagi," Ipul memberikan kunci motor yang tadi di tolak oleh Ralen, tapi sekarang wanita itu menurut dan mengambil kunci motor yang dia berikan.
"Aku langsung berangkat jadi nggak sempat pulang ke rumah."
"Terus pakaiannya gimana?" bingung Ralen, suaminya mengatakan tidak sempat pulang ke rumah sedangkan dia akan pergi satu Minggu lamanya, apa tidak membawa baju ganti?
"Tadi Om Damar sudah ambil ke rumah, Mama yang siapkan," jelas Ipul seraya membuka pintu ruangan yang tadi dia kunci.
__ADS_1
"Keluar duluan," pintanya kepada Ralen, padahal Ralen masih ingin bicara tapi mereka sudah harus berpisah dan Ralen pasrah melangkah melewati pintu sedangkan suaminya masih berada di dalam ruangan dengan pintu yang terbuka seraya memperhatikannya.
Ipul baru keluar setelah Ralen dan trolinya tidak lagi terlihat, dia melangkah masuk ke dalam lift yang dengan cepat membawanya menuju lantai 5.