Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Jelita Sudah Pulang Belum Ma?


__ADS_3

Saat ini Ralen berada di tepi flyover menatap lalu lintas di bawah sana yang sedang sangat sibuk.


Rasanya dia ingin mengakhiri hidup merasa tak lagi kuat menghadapai hidup yang seolah membolak-balikkan dirinya.


Jujur saja hatinya tidak lagi kuat andai dia diminta untuk bertahan tapi dia juga belum terlalu gelap mata untuk benar-benar mewujudkan keinginannya untuk mengakhiri hidup.


Dia sadar ada bayi kecil yang sekarang menggantungkan hidup padanya.


Bayi kecil yang belum bisa dia lihat seolah sedang berusaha untuk menguatkan dirinya ditengah segala tekanan yang membuat dia menjadi kacau.


Berulang kali Ralen menepis air mata yang selalu keluar tanpa dia mau membasahi bagian bawah matanya dengan tidak tahu diri membuat dia lagi-lagi harus menghilangkan rasa malu karena orang-orang yang melihat bingung padanya.


Mungkin di mata mereka dia seorang wanita menyedihkan yang harus dikasihani dan juga harus terus di lihat agar jangan sampai melakukan bunuh diri dengan cara melompat dari flyover.


Genggaman Ralen pada pembatas besi makin terlihat kuat, mencengkeram hingga buku tangannya memutih bahkan perlahan menjadi sangat pucat.


Wanita itu benar-benar mematikan handphonenya hingga tidak ada satupun yang bisa menghubungi dan memintanya pulang, karena hatinya masih terlalu sakit mengingat apa yang dikatakan oleh suaminya.


"Dia jauh lebih baik." Ralen terus saja mengulang apa yang suaminya katakan yang menjadi penyebab dia semakin hancur.


"Aku dan dia memang tidak sebanding, tanpa diberitahu pun aku cukup sadar diri, kamu menikahi ku karena apa." bibirnya terus bergerak mengatakan apa yang ingin dia katakan.


Masa bodo kalau sekarang dia dianggap gila, karena kenyataanya dia memang hampir gila.


Langit sudah berubah gelap namun Ralen masih belum juga beranjak, dia seperti tidak berniat untuk meninggalkan flyover yang sudah dengan sukarela mendengarkan setiap kalimat yang dia lontarkan.


Orang-orang di samping kiri-kanannya pun masih setia berada di dekatnya, seolah mereka sedang berjaga-jaga agar tidak ada kejadian mengenaskan yang akan muncul di berita elektronik maupun surat kabar.


Ralen berdecih lalu tertawa, mentertawakan dirinya sendiri yang menjadi sangat konyol.


***

__ADS_1


"Jelita sudah pulang belum Ma?" suara Ipul terdengar frustasi kala menanyakan sang istri pada sang Mama.


Ini sudah yang kesekian kalinya Ipul menelepon sang Mama menanyakan apakah istrinya sudah pulang atau belum, namun dia masih juga mendapatkan jawaban yang sama.


"Ralen belum pulang Pul, gimana ini? ini udah malem banget," suara Mamanya terdengar sangat cemas.


Bagaimana tidak cemas ketika menantunya yang dari pagi pergi belum juga kembali sudah begitu pergi dengan mengendarai motor lalu handphonenya sama sekali tidak bisa dihubungi, makin takut saja dia.


Ipul menghela napas berat berdiri dengan sebelah tangan berada di pinggang dan sebelah tangannya lagi kini bergerak mengurut pangkal hidungnya.


Dia sudah melakukan kesalahan yang fatal saat ini dan dia sadar itu.


"Ipul akan minta orang untuk cari Jelita kalau sampai besok dia belum pulang juga," kata Ipul akhirnya.


"Kenapa harus menunggu besok?!" Mama Riska terdengar tidak setuju, menurutnya bukankah jauh lebih baik kalau segera di cari takut terjadi hal yang tidak mereka inginkan, terlebih lagi tadi pun Ipul sempat mengatakan bahwa Ralen sudah mengetahui tentang Hanna sebelum diberitahu.


Dan sekarang Mama Riska sangat yakin kalau Ralen sedang marah juga cemburu karena suaminya bertemu dengan wanita yang menjadi masa lalu sang suami.


"Kamu kok kayak nggak peduli banget sama istri kamu Pul?" Mama Riska bertanya tak mengerti, bingung dengan jalan pikiran anaknya itu.


Suami lain saat istrinya belum pulang sampai malam mungkin akan panik dan langsung berusaha untuk mencari, tapi anaknya ini sungguh di luar nalar, logikanya tuh membuat orang terperangah dengan jalan pikirannya yang kadang menyebalkan.


"Bukan Ipul tidak peduli Ma, Ipul sangat peduli hanya saja Jelita mungkin memang butuh waktu untuk sendiri, jadi biarkan saja dia tenang dulu andai besok dia tidak pulang juga Ipul akan langsung suruh orang untuk cari Jelita," beber Ipul.


Sungguh dia sangat peduli, akan sangat konyol jika dia dikatakan tidak peduli pada Istrinya sendiri sedangkan dia tahu istrinya itu pergi dalam keadaan hamil, hanya saja pertengkaran dia tadi siang dan pembicaraan Ralen membuat dia berpikir kalau saat ini istrinya itu memang butuh ketenangan, butuh waktu untuk menyembuhkan sakit hati karena perkataannya yang sungguh demi tuhan Ipul tidak pernah mau dengan sengaja membandingkan istrinya dengan wanita lain, terlebih lagi itu adalah mantan kekasihnya.


"Kenapa kamu tidak pulang sekarang?! kenapa masih saja mengandalkan orang lain untuk mencari istrimu Ipul! Mama nggak habis pikir sama kamu, sebenarnya isi otak kamu itu apa?!" Mama Riska mencecar memarahi sang putra.


"Ma.." suara Ipul menjadi lebih berat.


Dia lelah jika harus terus berdebat sampai akhirnya pun memutuskan untuk menyelesaikan pembicaraan dengan sang Mama.

__ADS_1


"Ipul tutup ya Ma, Ipul mau telepon temen kampusnya Jelita," kata Ipul yang langsung mematikan telepon.


Mengakhiri pembicaraan dengan sang Mama yang bahkan masih ingin bicara, masih ingin memarahi dirinya dan memaki dirinya sampai puas.


"Lihat saja kamu ya Pul!" Mama Riska mengancam lalu meremas handphone dalam genggamannya.


"Tidak ada Pak, hari ini saya tidak melihat Ralen di kampus sepertinya memang tidak kuliah."



"Kalau kamu melihat istri saya segera hubungi saya," kata Ipul langsung mematikan sambungan telepon.


Ipul menjatuhkan tubuhnya di sofa kamar hotel, menarik napas yang sangat berat seakan dia dihimpit oleh dua batu besar di atas dadanya.


Nomor istrinya benar-benar tidak bisa dihubungi setelah berulang kali dia coba.



Dari raut wajahnya tampak jelas penyesalan yang tak terkira, andai saja dia bisa mengontrol emosinya tentu hal seperti ini tidak akan terjadi.


Yang harus dia pahami adalah istrinya itu cemburu hingga mengatakan hal yang tidak jelas tentang Hanna, istrinya tidak mengenal Hanna dan diapun tidak pernah bercerita tentang wanita mana saja yang pernah ada di hatinya dulu.


Seharusnya dia cukup diam mendengarkan apa yang ingin dikatakan oleh istrinya, membiarkan wanita itu mengeluarkan unek-unek di dalam hatinya baru setelahnya dia meminta maaf.


Bukankah itu jauh lebih baik? ketimbang dia harus balik marah bahkan sampai membentak dan mengatakan perkataan yang tidak benar.


Mengatakan bahwa wanita lain jauh lebih baik dari istrinya sendiri adalah kesalahan yang cukup fatal dan sulit diterima oleh wanita manapun.


Dan sekarang dia tidak akan bisa tidur dengan tenang karena pastinya akan terus dihantui rasa bersalah terhadap sang istri.


****

__ADS_1


__ADS_2