
Ralen sudah bersiap di pagi hari dan ini adalah saat-saat mereka akan meninggalkan kota yang selama satu minggu ini memberikan cerita lain dalam hidup Ralen.
Cerita tentang dia yang bertemu dengan wanita masa lalu suaminya, meski mereka itu tidak pernah menjalin hubungan tapi dia sebagai wanita tetap saja merasa cemburu ketika tahu ada wanita lain yang hadir dalam hidup suaminya bahkan mereka sempat saling menyukai.
Hanya sempat, karena sekarang suaminya sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadap wanita bernama Daniya itu, dan dia harus percaya terlebih lagi setelah suami songongnya itu sudah berulang kali menjelaskan tentang perasaannya sekarang terhadap Daniya.
Tapi dia tetap harus mewaspadai Daniya yang dari sorot dan gerak tubuhnya saja sudah bisa Ralen mengerti kalau wanita itu masih menyimpan perasaan terhadap suaminya, terus terang saja Ralen tidak suka dan sangat kesal apalagi saat melihat wajah wanita itu malah mirip dengannya, makin dongkol sajalah hatinya yang sudah gundah gulana dilanda cemburu.
"Tidak bisakah kamu lebih tenang, jelita? sejak tadi aku lihat kamu ini mondar-mandir di depan mataku membuat pusing," protes Ipul yang masih saja bergelut dengan selimut dan bantal di atas tempat tidur, padahal ini sudah pukul 7 pagi dan rencananya mereka akan kembali ke Jakarta pada pukul setengah 10, tapi lihatlah sekarang apa yang dilakukan oleh pria itu? dia masih betah bersembunyi di balik selimut yang menutupi tubuh setengah polosnya.
Pria itu masih ingin menikmati tidur dan sungguh sangat bermalas-malasan untuk bergerak tapi istrinya yang membuat suara-suara berisik akibat membuka tutup pintu lemari untuk mengemasi pakaian mereka memaksa dia untuk membuka mata yang akhirnya disuguhkan pemandangan yang membuat dia mengurut pelipisnya.
Istrinya itu bergerak terus tak bisa diam melakukan apa saja yang membuat suaminya itu terganggu ketika mata ngantuk nya dibuka.
"Kita kan mau pulang ke Jakarta Mas," sahut Ralen dengan kegiatannya yang tak berhenti.
"Lalu?" Ipul bertanya datar sambil berusaha mengumpulkan nyawa meski sebenarnya tidak mau.
"Ya harus rapihkan semua barang-barang." Ralen menjawab pertanyaan suaminya dengan santai.
"Kenapa tidak kamu lakukan itu kemarin atau tadi malam? kan pagi ini kamu bisa santai karena kita hanya tinggal berangkat saja," oceh pria yang sekarang sudah menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur.
Mendengar apa yang suaminya katakan dalam sekejap mata Ralen menghentikan apa yang sejak tadi dia lakukan, wanita itu memutar kepala serta tubuhnya yang membelakangi sang suami lalu memberikan tatapan yang begitu nyalang dan membunuh, seakan sudah sangat siap untuk bertempur dan membunuh lawannya yang membuat dia tersulut.
"Kenapa melotot begitu?" suara Ipul menjadi tidak tenang, dari mata istrinya dia itu seakan bisa melihat pancaran kemarahan yang menggunung, jelas sudah bahwa apa yang dia katakan tadi adalah kesalahan yang tidak disengaja, dia lupa apa yang sudah dia lakukan tadi malam kepada istrinya itu hingga membuat pagi ini Ralen harus bangun sangat pagi untuk merapikan semua barang mereka.
"Pertanyaan kamu itu seolah kamu tidak pernah melakukan apapun padaku tadi malam!" oceh Ralen mulai mengeluarkan kedongkolan dalam dirinya.
Tadi malam suaminya itu menyerang dia tanpa henti, dia itu sudah meminta untuk berhenti agar bisa mempersiapkan untuk kembali ke Jakarta, tapi sang suami dengan tidak berperikemanusiaan malah tidak mendengarkan dirinya, masih saja asik dengan kegiatannya yang membuat Ralen tidak bisa bergerak kemanapun.
Ipul menggaruk kepalanya, dia baru sadar perbuatannya tadi malam itu membuat Ralen tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk bergeser dari tempat tidurnya saja wanita itu tidak bisa, Ipul benar-benar tidak membiarkan Ralen menjauh dari dirinya.
Salahkan saja Daniya yang terus mengganggu dirinya, nomornya di blokir malah menghubungi lewat media sosial, dari media sosial di blokir eh masih juga keras kepala menghubungi lewat telegram, sampai Ipul hilang akal, berulang kali memblokir tapi wanita itu kembali menghubungi melalui nomor baru, membuat Ipul itu jadi emosi dan frustasi.
Lalu untuk melupakan emosi dan frustasi melanda diapun berpikiran untuk mencari solusi sampai akhirnya di dalam kepalanya itu muncul sebuah gagasan luar biasa yang tidak hanya mampu membuat dia lupa akan emosinya tapi juga sekalian menyalurkan hasrat membuat ketegangan yang menghimpit, akhirnya diapun mengerjai istrinya yang tadinya menolak tapi akhirnya pasrah ketika sudah dia sentuh.
Luar biasa memang, dia kesal pada orang lain tapi mencari istrinya untuk bisa menghilangkan rasa kesalnya itu.
"Sorry," kata Ipul tidak mau mengatakan hal lain lagi, sebab dialah orang yang sudah membuat istrinya jadi sangat ribet padahal masih pagi.
__ADS_1
Ralen mendengus sebal lalu bibirnya berkedut sebenarnya masih ingin mengomeli suaminya dan mengeluarkan semua unek-unek di hatinya, tapi akhirnya dia memilih untuk kembali memasukkan pakaian ke dalam koper.
"Lebih baik kamu itu mandi sana Mas!" pinta Ralen dengan sentakan yang mengartikan itu adalah sebuah perintah yang harus di turuti oleh pria yang ada di atas tempat tidur sana.
"Nanti saja," menolak karena masih sangat malas menggerakan tubuhnya yang semalam dia paksa bekerja keras padahal sebelumnya harus bekerja luar biasa keras ketika harus meladeni istrinya yang mabuk.
Pria itu benar-benar sudah menguras tenaganya sendiri, melupakan kalau dia itu adalah manusia yang butuh istirahat cukup untuk menjalani kehidupan.
Ralen merengut gemas dengan penolakan suaminya yang memang selalu saja ngeselin.
"Maas," Ralen mulai mengeluarkan suara antara kesal tapi juga merengek agar suaminya itu menurut.
"Panggil Mas Sai dulu." Sekarang dia malah memberikan syarat yang terdengar gampang, tapi akan sangat sulit dalam kondisi Ralen yang sedang kesal.
"Kenapa harus ada syarat, aku hanya minta Mas itu mandi!" sentak Ralen menolak.
"Berbeda, sekarang ini aku sedang kesal dengan kamu Mas," jelas Ralen.
"Ya sudah kalau begitu aku tidak akan mau mandi," katanya seraya menenggelamkan tubuhnya ke dalam selimut.
Mata Ralen membelalak lalu dadanya naik turun melihat tingkah suaminya yang menyebalkan, tidak mau mengalah pada istrinya sendiri.
Emosinya memuncak tapi Ralen tidak boleh terpancing, dia tahu suaminya itu memang sangat senang jika dia kesal.
Wanita itupun akhirnya mengatur napas perlahan agar kekesalannya yang memuncak menjadi turun kembali dan terkendali.
__ADS_1
"Mas Sai," kata Ralen dengan nada yang di buat sangat manja menekan kekesalan yang tersimpan.
Di dalam selimut Ipul tersenyum menang karena akhirnya istrinya itu mengalah padanya, meski dia tahu itu terpaksa tapi tetap saja apa yang dia inginkan terpenuhi kan? suami ngeselin memang dia ini.
"Ayo mandi cepat Mas Sai," kata Ralen lagi sambil menutup koper yang sudah terisi penuh.
"Dari tadi begini kan selesai," ucap Ipul seraya menurunkan selimutnya lalu mengumbar senyum puas tidak peduli raut wajah istrinya itu terlihat sangat di buat-buat.
"Ya sudah cepat mandi sekarang," cetus Ralen menatap sang suami yang bergerak sangat lamban, dia tak sabar rasanya ingin sekali menariknya agar cepat masuk ke dalam kamar mandi.
"Cium dulu."
"Kamu ini makin ngeselin ya, diturutin sekali malah keterusan!" omel Ralen mendelik tajam.
Ipul mengangkat tangan, tentu dia tidak berani berbuat lebih dari tadi, dia itu hanya sedang mengetes hokinya siapa tahu Ralen memberikan ciuman untuknya, eh ternyata Ralen malah mengomel.
"Bercanda doang kok," katanya lalu berjalan begitu santai memamerkan bagian tubuhnya yang terbuka dengan tanda-tanda merah yang masih akan terlihat dengan jelas bahkan mungkin malah bertambah beberapa karena aktifitas tadi malam.
Ralen terus melihat punggung suaminya sampai pria itu menghilang di balik pintu yang kembali ditutup, lalu menjatuhkan bokongnya di lantai dan duduk berselonjoran mengurut kedua kakinya yang terasa sangat pegal karena sejak pagi mondar-mandir dan juga efek semalaman yang harus menekuk dan berganti posisi sesuai apa yang suaminya inginkan.
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1