
"Mama tidak datang menjemput, sepertinya Mama memang benar-benar tidak menyayangi aku lagi, untuk kedua kalinya aku di buang."
Ucapan Daniya menghentikan Arni yang tengah memasukkan pakaian milik Daniya ke dalam tas.
Hari ini Daniya sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah, dia sudah sembuh hanya tinggal pemulihan luka di pergelangan tangannya saja, luka yang dia buat sendiri dan menyusahkan banyak orang terutama wanita yang selalu dengan setia dan cekatan menjaga dirinya setiap hari tanpa lelah tanpa mengeluh karena dia merasa itu memang sudah menjadi kewajibannya.
Daniya anak kandungnya dan sepatutnya memang masih tanggung jawabnya, terlebih lagi dia beranggapan ini adalah waktunya untuk Arni menebus kesalahannya di masa lalu, meski terkadang Daniya masih tampak ketus dan tidak terima dengan yang dia lakukan.
Apalagi setelah kedatangan Ipul beberapa hari yang lalu dengan membawa peringatan demi peringatan untuk mereka membuat emosi Daniya kembali tidak stabil dan terus marah.
"Nasibku memang sangat malang, setelah dibuang oleh orang tua kandung lalu sekarang orang tua angkat pun ikut membuangku, aku seolah sampah yang menjijikkan."
Mulut Daniya tidak henti-hentinya mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang seolah menunjukkan dia adalah manusia yang paling menderita, menunjukkan betapa tidak ada seorang pun yang sayang pada dirinya.
"Daniya.."
Sang ibu menghentikan apa yang tengah dia lakukan sejak tadi, menghampiri anaknya yang duduk di tepi tempat tidur dengan raut wajah yang sulit dimengerti, entah sedih atau marah, ibunya tidak paham karena dia bukanlah seorang yang bisa membaca ekspresi.
Dia hanya seorang ibu yang sejak kemarin terus ditekan oleh anaknya agar mau kembali menekan anaknya yang lain, sungguh dia bingung harus berada di pihak mana, dua-duanya anak dan dua-duanya sangat dia sayangi.
"Kenapa? bukannya memang seperti itu, kenyataannya Daniya memang anak terbuang dan tidak ada satu orang pun yang menyayangi Dani." kata Daniya menatap penuh luka yang memang sengaja dia ciptakan berharap dengan seperti itu ibunya akan terus berada bersamanya mendukung setiap yang apapun yang akan dia lakukan.
"Ibu tidak pernah membuangmu, bukankah ibu sudah mengatakan dengan jelas apa yang terjadi?" Arni menatap sang anak, mempertanyakan masalah yang seharusnya dimengerti dengan mudah oleh anaknya itu.
Daniya sudah dewasa usianya sudah 24 tahun seharusnya sudah cukup matang dalam berpikir, tapi kenapa malah lebih sering berapi-api mengedepankan amarah serta keras kepala.
Sifat keras kepalanya memang sama dengan Ralen, tapi Ralen meskipun keras kepala masih ada sisi mengalahnya, terbukti ketika dia yang harus mengalah setiap saat pada sang adik, mengalah untuk tidak kuliah dan memilih mencari uang sungguh membuat Ayah dan ibunya bangga dengan anak keduanya itu.
Daniya mengangkat kepala melihat wanita yang baru saja bicara, wanita yang memberikan tatapan penuh kasih sayang yang memang bisa dia rasakan, namun hatinya masih tetap berkeras masih sangat marah dan benci karena dia merasa di buang dan akhirnya sekarang dia berpikir untuk memanfaatkan kasih sayang serta rasa bersalah dari wanita itu.
Sungguh Daniya merasa sangat cerdik, pintar bersandiwara untuk bisa mengambil keuntungan, tidak apa saat ini dia terlihat lemah dan tak berdaya asalkan dia bisa bersama dengan Awan.
Awan yang seakan sudah memayungi dirinya dari terik matahari dan dia ingin Awan itu terus berada disisinya.
Mereka sudah berada di dalam taksi.
Taksi online yang akan membawa kedua wanita itu pulang ke rumah, dan sejak masuk lalu mendaratkan bokong pada kursi mobil Daniya sudah merasa risih, duduknya menjadi tidak bisa diam akibat tidak terbiasa dengan mobil yang sudah banyak di duduki oleh orang lain.
Daniya jadi berpikir entah ada berapa banyak kuman yang menempel di tubuhnya saat ini, sungguh membuat dia bergidik ngeri dengan spontan menggaruk kulit tangannya lalu merembet pada bagian tengkuk terus ke anggota tubuhnya yang lain menjadikan dia sekarang malah menggaruk-garuk layaknya monyet.
"Kamu kenapa?" tanya sang ibu yang mendapati anaknya terus menggaruk dengan ekspresi wajah aneh.
"Gatal Bu." dengan cepat menjawab tanpa menghentikan garukan di lengan kirinya.
Dia terbiasa dengan mobil mahal yang dia miliki, sayangnya sekarang mobil itu ada di rumah Mama angkatnya.
"Alergi sepertinya," cakap wanita yang mencoba membantu dengan mengelus kulit tangan sang anak.
"Alergi miskin." ketus Daniya dalam hati.
Setelah ini sepertinya dia akan mengambil mobil di rumah sang Mama, dia tidak akan pernah lagi mau menaiki taksi seperti ini, sangat menyusahkan dirinya sendiri bahkan kulitnya sudah berwarna merah akibat garukan yang tidak kunjung berhenti.
Mobil berwarna hitam itu akhirnya berhenti, tidak lagi melaju.
"Kita sudah sampai, ayo turun," ajak Arni seraya membuka pintu mobil.
"Hah?" mulut Daniya menganga sangat lebar disertai dengan kedua bola mata yang hampir lepas dari tempatnya.
"Kita tinggal disini?" tanya Daniya tak percaya.
"Bukan," ibunya menggeleng, "mana mungkin kita tinggal dipinggir jalan begini," tambah sang ibu sambil menggeleng lalu mengulas senyum.
"Iya maksudnya di rumah itu," koreksi Daniya.
Yang dia maksud memang rumah kontrakan yang berjejer di depan sana, dia juga tidak buta dan bodoh mentang-mentang mereka berhenti di pinggir jalan lalu dia mengira itu adalah tempat tinggal mereka.
Bukankah dia sangat cerdas bahkan terkesan licik.
"Iya, itu kontrakan yang selama ini ibu tempati bersama Ayah dan juga adik-adikmu."
Daniya memutar bola matanya, jengah mendengarkan perkataan ibunya yang terus saja mengingatkan bahwa mereka ini adalah keluarga.
Melihat ibunya sudah turun mau tidak mau Daniya pun harus segera turun dari mobil yang sejak tadi membuatnya gatal, tapi ketika mengetahui dia harus tinggal di rumah kontrakan yang jelas sangat sempit malah membuatnya enggan untuk keluar dari dalam mobil itu.
Ingin rasanya dia kabur, melarikan diri ke rumah Mama angkatnya saja, tapi begitu teringat dengan segala rencananya diapun menyingkirkan pikirannya itu dengan berat hati menapaki tanah meski kakinya terasa sangat berat.
"Ini lebih mirip dengan peternakan ayam." menghina dalam hati dengan kedua mata yang sangat tidak percaya bahwa rumah sekecil itu ditempati oleh satu keluarga dengan empat orang dewasa.
__ADS_1
"Sialan! kalau bukan karena Awan tidak akan pernah aku menginjakkan kaki di tempat kotor seperti ini!" masih terus bersungut menghina meski ibunya tidak mendengar tidak mengetahui rumah kontrakannya tengah dihina oleh anaknya sendiri.
Daniya melangkah belakangan menyusul ibunya yang sudah lebih dulu berada di teras kontrakan dengan satu motor yang terparkir di depannya.
"Sudah sekecil ini masih harus berbagi tempat dengan motor!"
Bug!
Kakinya dengan sengaja menendang ban motor tak bersalah yang dia lewati.
"Daniya ayo masuk."
Suara dari seorang pria yang memang sudah dia kenal sebagai Ayahnya menginterupsi Daniya yang sedang memikirkan bagaimana nasibnya, apakah dia sanggup tinggal di rumah kontrakan yang hanya memiliki satu kamar saja?
Apakah dia bisa tidur dengan nyenyak tanpa ada AC yang memberikan udara sejuk?
Daniya masuk ke dalam ruang tamu tanpa membuka alas kakinya.
"Nggak mau buka sandal?!" Arda yang memang sudah pulang sekolah mengeluarkan entah pertanyaan atau sindiran ketika mendapati sepasang sandal yang masih menempel di kaki sang Kakak.
Kakak?
Arda bahkan berulang kali menyesali dirinya yang harus terlahir menjadi adik dari wanita angkuh bernama Daniya.
"Maaf." di bibir meminta maaf sedangkan dalam hati Daniya mengumpat, memaki Arda dengan segala sumpah serapah.
"Tidak apa-apa tidak usah di lepas." sang Ayah yang memang hanya bisa duduk melihat turut bicara memaklumi Daniya yang pasti belum terbiasa.
Dia sudah mendengar dari istrinya kalau Daniya akan tinggal bersama mereka, istrinya dengan jelas mengatakan bahwa Dayna mengembalikan Daniya kepada mereka.
Samsul senang sekaligus ragu, apakah Daniya akan bisa hidup dengan mereka mengingat selama ini hidup Daniya selalu tercukupi.
Rumah besar dengan segala fasilitas tentu sangat berbanding jauh dengan kehidupan mereka yang bahkan rumah ini saja mungkin hanya sebesar dapur mereka atau mungkin malah hanya sebesar toilet?
Arda mendengus, baru datang saja sudah diperlakukan seperti tuan putri.
"Tidak boleh begitu Ayah, sandal itukan di pakai di luar sudah jelas akan kotor mana bisa di pakai di dalam rumah, memangnya Ayah mau tidur di tempat yang kotor?!" omel Arda.
Terlihat jelas dia sangat tidak menyukai Daniya, apalagi sampai tinggal bersama, dia sangat ingat bagaimana perlakukan Daniya pada mereka tapi sayangnya orang tuanya malah seolah lupa, tidak ingat bagaimanapun menyakitkannya setiap perkataan yang keluar dari mulut Daniya.
Lalu sekarang kedua orang tuanya itu dengan senangnya menerima kedatangan Daniya.
"Tidak apa Ayah, Dani akan buka sandalnya," Daniya menyela mencoba melerai adu mulut yang mungkin akan berlanjut karena dirinya.
Mendengar itu Arda melenggang masuk ke dalam kamar sedangkan Daniya menuju pintu lalu membuka sandal dan meninggalkannya di sana.
"Dasar adik kurang ajar." tentu saja memaki dalam hati.
Daniya kembali masuk dan duduk di ruang tamu bersama dengan sang Ayah, sedangkan ibunya kini sudah berada di dalam kamar dan berbicara dengan Arda.
"Nanti kamu tidur sama ibu dan Ayah di depan Ya Ar."
Dahi Arda mengerut, "nggak ah Arda mau di kamar ini." tolak Arda.
Dia sudah tahu pasti kamar ini ingin diberikan ibunya untuk Daniya, wanita menyebalkan yang sejak datang tadi sudah memancing kekesalan.
"Kalau kamu disini terus Kakakmu tidur dimana?"
"Ya Kakak Arda tidur di rumah suaminya lah, pusing amat orang suaminya kaya."
"Bukan Ralen, Ar."
Saat diajak bicara tentang Kakak Arda selalu saja tertuju pada Ralen, sungguh dia benar-benar tidak menganggap Daniya.
Arda tidak ingin menimpali lagi, malas karena dia sadar dia harus tetap mengalah dan memberikan kamar yang dulu ditempati oleh Ralen kepada Daniya.
"Arda mau nginep di rumah temen," kata Arda tanpa di tanya.
Pemuda itu pergi membawa motor, dia menjadi tidak betah berada di rumah, tidak rela berbagi oksigen dengan Kakak pertamanya.
Daniya berada di dalam kamar duduk ditepian tempat tidur, benar-benar berada di tepian karena dia tidak membayangkan akan seperti apa kulitnya jika harus bersentuhan dengan kasur yang sudah sangat usang itu.
__ADS_1
"Gimana caranya gue tidur?!" bergidik ngeri dengan ekspresi wajah aneh memandangi setiap sudut kamar kecil yang mulai hari ini akan menjadi tempatnya tinggal.
Dan lagi-lagi dia menguatkan diri untuk tetap bertahan.
Padahal uang yang ada di tabungannya sudah lebih dari cukup untuk membeli rumah, akan tetapi dia tidak mau membeli rumah karena dia tidak akan rela rumahnya juga ditempati oleh ibu dan Ayahnya juga Arda.
Dia hanya sedang bersandiwara, menampilkan bahwa dia mau hidup susah agar ibunya makin percaya dan mau membantunya.
Tentu saja bantuan untuk mendapatkan Awan.
Rasanya sangat bosan mendengar dia terus saja mengatakan tentang Awan, mendambakan pria yang sudah menjadi suami Adiknya.
Sebenarnya sangat memalukan namun Daniya tidak peduli itu, rasa malu sudah tidak ada dalam dirinya, dia hempas dengan sangat jauh karena yang dia perlukan bukan rasa malu melainkan Awan!
Daniya memindai setiap apapun yang ada di dalam kamar sampai sepasang matanya berhenti pada meja kayu di dekat jendela.
Wanita itu beranjak bangun lalu melangkah menghampiri meja lalu mengulurkan tangan meraih bingkai foto dimana Ralen dan Arda berfoto berdua, keduanya memamerkan senyuman yang tentu saja siapapun akan mengetahui bahwa itu adalah senyum kebahagiaan yang tidak terkira.
"Meski miskin tapi kalian terlihat sangat senang," mengambil bingkai, "kalian memang lebih pantas hidup miskin!" sambungnya lagi dengan perkataan pedas sambil menunjuk kaca bingkai dengan telunjuknya.
Puas menghina dia kembali meletakkan bingkai foto itu ke tempatnya tapi kali ini dia sengaja membaliknya, tidak mau melihat wajah ceria dua orang Adiknya terutama Ralen.
"Makan dulu Daniya, setelah itu minum obat, kamu belum minum obat soalnya."
Tiba-tiba ibunya masuk dengan membawa sepiring makanan yang membuat Daniya mual, dia merasa jijik melihat makanan yang harus dia makan, ingin menolak rasanya tidak mungkin hingga akhirnya dia terpaksa mengangguk tak berdaya.
Baru juga dua suapan tapi Daniya sudah merasa tidak tahan hingga dia menggelengkan kepala menolak suapan ketiga yang akan ibunya berikan.
"Daniya sudah kenyang Bu," katanya beralasan.
Sungguh dia tidak akan sanggup jika harus menghabiskan makanan yang dia tidak kenali, padahal itu adalah tempe bacem dengan tumis labu siam.
Sang ibu tersenyum tipis, dia tahu anaknya itu tidak akan bisa makan makanan yang sama dengannya, hingga dia bertekad mulai besok akan memasak makanan yang enak-enak untuk sang anak.
"Minum dulu," Arni memberikan segelas air putih yang langsung disambut oleh Daniya.
Daniya minum sampai habis air putih yang lagi-lagi terasa aneh, berbeda dengan air yang biasa dia minum namun dia tetap menghabiskannya guna memasukkan makanan yang seolah macet di tenggorokan.
Selesai memberikan obat pada Daniya, Arni pun meninggalkan putrinya itu sendiri di dalam kamar sedangkan dia sibuk di dapur mencuci piring serta gelas.
Di dalam kamar Daniya memegangi perut yang seperti tidak terima dia memakan makanan yang tidak pernah dia makan, wajahnya pun meringis lalu berusaha untuk mengontrol dirinya sendiri.
__ADS_1
"Sabar Dani, sabar."
****