Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Kebahagiaan Palsu


__ADS_3

"Aw aduh."


"Kenapa Len?" Mama Riska yang duduk di samping Ralen bertanya cemas ketika mendengar menantunya terpekik lalu meringis kesakitan.


"Bibir Ralen kegigit Ma," adu Ralen seraya menarik bibir bawahnya untuk memeriksa luka bekas gigitan oleh giginya sendiri yang tidak sengaja, akan tetapi mereka berada di tempat yang gelap dan hanya ada sinar dari layar besar di depan sana jadi Ralen merasa sia-sia melihat luka yang tidak bisa dia lihat.


Mereka sedang berada di bioskop menonton film dengan tak lupa membeli popcorn untuk mereka nikmati film yang sedang di putar, tapi kejadian tak mengenakkan malah membuat bibir Ralen sakit dan pastinya akan meninggalkan luka, mungkin sebentar lagi bibirnya akan jadi sariawan.


"Pelan-pelan sayang," kata sang mertua seraya memberikan senyum.


Ralen mengangguk lalu kembali fokus pada film yang bercerita tentang pengkhianatan suami terhadap istrinya, membuat Ralen gemas dan terus saja mengomel dalam hatinya memaki sang pria yang berkhianat.


Tidak tahu kenapa mereka malah memilih untuk menonton film seperti itu padahal banyak pilihan film lainnya yang bisa mereka pilih.


Tak terasa film yang menguras emosi dan rasa gemas Ralen akhirnya selesai berakhir dengan kematian sang wanita.


"Akhir yang mengenaskan," dengus Ralen tak suka pada ending film yang malah seolah berpihak pada laki-laki.


Dia kesal dan tak terima kenapa wanita selalu jadi makhluk di rugikan, apa tidak bisa melawan?


Sepanjang keluar dari bioskop mulut Ralen mengoceh yang membuat sang mertua tersenyum melihatnya.


"Kalau Mas Sai macam-macam kamu lawan ya, tidak boleh diam saja seperti wanita di film tadi," kata Mama Riska.


Ralen mengangguk cepat.


Tentu saja dia akan melawan, dia tidak akan tinggal diam ketika dia disakiti apalagi dirugikan dalam segala hal.


Dia tidak suka menjadi orang yang lemah dan ditindas, dia di beri nyawa oleh tuhan tentu untuk berbuat kebaikan juga termasuk untuk membahagiakan dirinya.


Tentu dia tidak mau munafik, sebagai seorang manusia dia juga ingin menjalani hidup yang bahagia, bukan?


"Tapi Mama yakin Mas Sai mu itu tidak akan berbuat aneh di belakangmu," kata Mama Riska lagi seraya menggandeng lengan menantunya.


"Sebaiknya kita cari tempat makan sekarang, perut Mama sudah sangat lapar."


Mama Riska terus saja menarik lengan menantunya untuk mengikuti dirinya mencari tempat makan di dalam mall itu.


Keduanya sudah akan menikmati makanan yang baru saja datang ketika ada dua orang wanita sudah berdiri tak jauh dari mereka.


Ralen yang melihat itu sontak tak bergerak tangannya diam dengan sendok yang sudah berada di tangannya.


"Bu." mulut Ralen bergerak dengan suara yang sangat lirih.


Di sana dia melihat wanita yang sebenarnya sangat dia rindukan, wanita yang dia sayangi namun juga membuat dia marah di saat yang bersamaan.


Wanita yang ingin sekali dia temui tapi juga tidak ingin dia temui karena takut wanita itu akan kembali mengatakan hal yang tidak ingin dia dengar.


Sudah berjalan satu Minggu lebih dan dia merasa hidupnya mulai kembali tenang karena tidak perlu lagi menguras otak dan perasaannya untuk memikirkan ibunya.


Memikirkan permintaan konyol tak masuk akal yang membuat Ralen ingin berontak tapi tidak bisa.


Mama Riska yang mendengar suara lirih Ralen pun mengangkat kepala lalu melihat pada arah yang sekarang tengah Ralen lihat dengan bola mata yang sedikit bergetar.


"Halo Tante."


"Oh hallo." Mama Riska mau tidak mau menjawab sapaan dari wanita yang untuk kedua kalinya dia lihat.


Terlihat jelas kalau dia masih mengingat siapa wanita itu terlebih lagi wanita yang ada disampingnya.


Mama Riska menampilkan sikap tenang yang sangat berlawanan dengan menantunya.


"Apa kabar Bu?" Mama Riska berdiri untuk menyambut kedatangan besannya yang berjalan mendekat.


Mama Riska terlihat luar biasa ramah menyambut dua orang yang dia tahu sebenarnya tidak ingin Ralen lihat, dari ekspresi yang Ralen tunjukkan sekarang bisa terlihat oleh mata siapapun.


Entahlah mertuanya itu yang memang mampu menyembunyikan perasaannya atau memang terlampau baik, Ralen tidak mengerti yang dia lihat sekarang adalah mertuanya tengah berbicara dengan ibu dan Daniya yang bahkan terlihat sekali tengah mencari perhatian.


Mencari perhatian dari Mama mertuanya?

__ADS_1


Sudut bibir Ralen berkedut tak terima ketika Daniya yang sok akrab malah merangkul dan memeluk tubuh mertuanya.


Wanita itu sudah merebut ibunya, lalu sekarang berniat untuk merebut mertuanya juga?


"Wanita gila!" batin Ralen mengutuk lalu menatap sinis pada Daniya yang tengah tersenyum menjijikkan kepadanya.


Ralen tahu itu adalah senyum mengejek karena merasa berhasil mendekati Mama Riska, Mama dari pria yang digilai oleh Daniya.


"Sayang, kamu tidak keberatan kan kalau ibu dan Kakakmu bergabung bersama kita?"


Pertanyaan Mama Riska membuat Ralen terhenyak dari keterdiamannya.


Rupanya yang dibicarakan oleh mertuanya kepada ibunya adalah ajakan untuk bergabung dan sekarang sang mertua meminta persetujuan darinya.


Ralen melengkungkan bibirnya yang terkatup rapat lalu menggerakan kepalanya.


Dia mengangguk sebagai persetujuan dari apa yang dikatakan oleh sang mertua.


Sebenarnya andai Ralen menolak pun tentu Mama Riska tidak akan memaksa karena sebenarnya pun dia juga hanya berbasa-basi saja pada besannya.


Tentunya Dia tidak akan terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan terhadap Daniya, kan? apalagi di depan sang besan.


Daniya terlihat muak dan tak senang mendengar panggilan sayang yang dilontarkan Mama Riska terhadap Ralen.


Dia merasa seharusnya dialah yang berada di posisi Ralen saat ini, menjadi kesayangan seorang mertua yang dari wajahnya saja sudah Daniya simpulkan bahwa Riska adalah sosok mertua idaman semua menantu.


Detik ini juga kebenciannya untuk Ralen pun bertambah lagi.


"Bu." Ralen mencoba untuk menyapa sang ibu yang tersenyum kaku padanya.


Kenapa seperti ini?


Ralen bingung sebenarnya apa kesalahan yang dia perbuat hingga ibu kandungnya sendiri bersikap dingin padanya, tidak menyapa dan hanya memberikan senyum yang terkesan dipaksakan.


Jika tidak mau senyum tidak perlu senyum!


Daniya sudah benar-benar banyak meracuni ibunya, membuat ibunya bahkan enggan untuk menjawab panggilan darinya.


"Ah iyakah? mungkin karena terlalu senang karena sebentar lagi akan ada cucu," sahut Mama Riska tersenyum lebar.


Sedangkan Daniya mengepalkan kedua tangannya di balik meja, kesal karena dia harus diingatkan tentang kehamilan Ralen dan itu adalah anak dari pria yang dia suka.


Sialan memang!


"Bukan hanya senang, tapi sepertinya aura kehamilan juga ikut terserap ke tubuh Tante, bukan begitu Jelita?"


Mama Riska kembali bicara dan kali ini tidak lupa untuk melibatkan menantu tersayangnya.


Ralen mengangguk cepat tak peduli pada tatapan ibunya yang seolah ingin menguliti dirinya.


Ibunya itu seperti berubah menjadi musuh baginya, dan Ralen benci akan itu.


"Wanita hamil memang selalu memiliki aura yang luar biasa, bagaikan magnet yang akan terus menarik untuk mendekat dan memberikan pujiannya." Mama Riska lagi-lagi berbicara dan bicaranya ini semakin berlebihan membuat Ralen tertawa dalam hati.


Mama mertuanya seolah sedang menunjukkan pada Daniya dan ibunya kalau dia menjadi kesayangan sang mertua, sungguh itu menjadikan Ralen puas dan senang karena Mama mertuanya tanpa di minta langsung menjadi benteng pelindung untuknya.


"Oh iya Awan bagaimana kabarnya Tante? sudah lama kami tidak bertemu." Daniya dengan lihainya malah mengalihkan pembicaraan menanyakan pria beristri yang berulang kali sudah menegaskan mereka tidak pernah ada hubungan.


"Awan? siapa Awan?" Mama Riska mengerutkan kening menunjukkan wajah bodoh yang tidak mengenal siapa yang sedang ditanyakan oleh Daniya, meski dia tahu siapa yang dimaksud oleh wanita yang duduk di sampingnya sekarang.


Daniya menelan ludah yang seolah membatu, "Anak tante, saat di Inggris semua orang yang mengenalnya memanggil Awan," papar wanita yang membiarkan rambutnya tergerai.


Rambut dengan potongan yang sama seperti menantunya, entah siapa yang mengikuti siapa.


Mama Riska mencebikkan bibirnya, "gaya banget pake Awan segala, padahal lebih bagus Ipul ya Len," untuk kedua kalinya meminta pendapat sang menantu.


"Ipul dan Mas Sai, panggilan itu jauh lebih enak di dengar," sahut Ralen menimpali.


Mulut Mama Riska menganga, "ah benar, Mas Sai bahkan lebih keren dari panggilan manapun, apalagi yang memanggil adalah istri tercinta," celoteh Mama Riska tanpa henti.

__ADS_1


Jika sudah bicara dan ada yang menimpali sungguh mulutnya menjadi sangat gacor luar biasa seperti burung yang siap untuk ikut perlombaan.


Mama Riska tertawa serta Daniya yang membalas dengan senyum palsu.


Ralen melirik pada ibunya yang tengah melihat pada Daniya, tatapan penuh kasih sayang yang seperti ikut terluka ketika anaknya tak bisa mengatakan apapun.


"Ibu mau bicara sama kamu."


Ralen mengernyit tak mengerti ketika ibunya sudah menatap padanya lalu mengeluarkan suara.


Bicara? apalagi yang mau dibicarakan oleh ibunya?


****


Dua anak manusia yang sudah saling mengenal pun duduk berhadapan.


Sungguh Ipul tidak pernah menyangka kalau dia akan kembali dipertemukan dengan mantan tunangannya, Hanna.


Mantan kekasih yang dia kecewakan dan terluka karena apa yang dia lakukan.


Tapi bukankah Hanna sudah bahagia dengan pernikahannya? bahkan yang dia tahu wanita itu sudah tinggal di Bandung bersama dengan suami dan juga anaknya, tapi kenapa sekarang berada di Surabaya?


"Bagaimana kabarmu, Hanna?" Ipul bertanya canggung, sungguh dia merasa lidahnya kelu memanggil nama mantan kekasihnya yang sejak tadi hanya diam menunduk.


Tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh wanita di depannya, yang Ipul tahu ada luka memar di bagian ceruk leher wanita itu.


Mendapat pertanyaan itu malah membuat Hanna mengigit bibirnya dengan kuat menahan perasaan sakit serta kecewa yang dia terima.


Dia datang untuk menyusul mantan suaminya yang telah menyebabkan anaknya meninggal, berniat untuk meluapkan semua kemarahan akan tetapi dia yang malah mendapatkan pukulan.


Dia seorang wanita dan jelas tenaganya sangat tidak sebanding dengan pria itu.


"Hanna?"


Suara Ipul kembali terdengar membuat tubuh Hanna bergetar, suara pria yang bahkan tidak pernah marah apalagi bersikap kasar padanya membuat dia ingin menangis.


Menangis kenapa bukan pria inilah yang menjadi suaminya.


Menangis mengingat kisah mereka yang berakhir tragis padahal dia sudah mencoba menerima semua yang pernah terjadi tapi nyatanya takdir tuhan malah memisahkan mereka.


"Aku tidak baik-baik saja, aku menikah dengan pria yang salah."


Ipul tersentak mendengar penuturan wanita di depannya, suara yang bergetar juga tubuh yang naik turun menandakan wanita itu tengah menangis.


"Bukankah kamu sangat bahagia.." Ipul tidak meneruskan perkataannya saat wanita di depannya mengangkat kepala, menatap padanya dengan kedua netra yang bergetar disertai dengan air mata yang sudah menggenang.


Hanna menatap tanpa bicara hanya lelehan air mata yang terus saja keluar menyuarakan isi hatinya.


Dia memang selalu membagikan kebahagiaan rumah tangganya di akun mendia sosial, memperlihatkan pada semua orang kalau dia bahagia.


Tapi nyatanya itu hanya sebuah kepalsuan, rumah tangganya tidak berjalan mulus tidak berjalan bahagia seperti yang orang-orang lihat.


Di awal pernikahan saja dia sudah mengetahui bahwa suaminya kerap kali tidur dengan wanita lain di belakangnya, sungguh sangat menyakitkan batin.


Dia ingin mengadu tapi dia harus mengadu kemana, dia tidak punya siapa-siapa bahkan berbicara dengan mertuanya pun tidak bisa karena malah dia yang akan disalahkan.


Hanna mencoba menerima takdirnya, mencoba bertahan sampai akhirnya suaminya yang lama tidak pulang malah menggugat cerai dirinya lalu membawa anaknya pergi.


Hanna tidak bisa berbuat apa-apa ketika sang mantan suami malah membawa anaknya pergi ke kota lain membuat dia tidak bisa lagi bertemu.


Yang Hanna bisa lakukan hanya berdoa semoga saja mantan suaminya merawat anaknya dengan baik, akan tetapi harapan dan kenyataannya malah berbeda jauh, dia mendengar anaknya meninggal jatuh dari balkon lantai dua rumah mertuanya.


Hati Ipul ikut teriris, entah kenapa dia juga merasakan sakit sama seperti yang Hanna rasakan.



Mungkinkah karena hubungannya dengan Hanna yang cukup lama atau masih ada sisa-sisa rasa bersalah yang terus tersemat di dalam hatinya?


__ADS_1


\*\*\*\*


__ADS_2