Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Jalan Hidup Hendak Kemana


__ADS_3

"Sejak kedatangan ibu beberapa hari lalu kamu jadi terlihat aneh, Jelita." Ipul mulai terganggu dengan perubahan dari istrinya.


Istrinya yang biasanya bawel banyak bicara dan sering mengomel atau bertingkah tak jelas sudah beberapa hari berlalu menjadi sangat pendiam, tidak banyak bicara bahkan ketika ditanya hanya menjawab seadanya saja.


"Sebenarnya apa yang kalian bicarakan? jangan katakan kalau aku tidak tahu bahwa kalian berdua menangis, apa yang terjadi?" tanya Ipul saat mereka sedang berada di ruang keluarga menikmati acara televisi meski sejak tadi fokus mereka tidak tertuju pada tayangan yang sedang menyala itu.


Sedangkan sang Mama sedang pergi keluar kota mengunjungi saudaranya yang tinggal jauh di sana membuat kini mereka hanya berdua saja di rumah itu, lalu seorang pembantu rumah tangga yang akan datang pada pagi hari lalu pulang saat siang atau sore.


Tentu sebagai seorang suami dia merasakan ada yang telah terjadi, ada sesuatu yang tengah disimpan istrinya itu, sesuatu yang entah kenapa dia tidak boleh tahu.


Memangnya se-rahasia apa? sampai Ralen menyembunyikan masalahnya sendiri.


Ralen mengangkat wajah lalu mencoba memasang senyum di wajahnya, mencoba bersandiwara sebab tidak mau suaminya turut membenci ibunya apabila dia memberitahu tentang apa yang diminta oleh ibunya.


"Senyum palsu tetap saja tidak akan membuatmu mampu menyembunyikan fakta yang sebenarnya!" Ipul menyentak tidak terima ketika Ralen malah mencoba memberikan senyum seolah tidak ada yang terjadi dan beranggapan dia sudah salah paham.


Tentu saja senyum yang Ralen buat menjadi pudar, menghilang dengan cepat tak bersisa namun dia mencoba untuk mengendalikan diri, "tidak ada yang terjadi Mas."


"Aku bukan anak kecil yang bisa dengan mudah kamu bohongi!" menyambar tak terima dengan sikap sang istri.


"Kita suami istri, bukankah masalahmu juga masalahku? yang terjadi denganmu sudah sewajarnya aku harus tahu." cecar Ipul mendesak membuat istrinya terpojok.


"Aku tahu kamu wanita seperti apa, tapi setidaknya saat sudah berumah tangga berbagi masalah dengan suamimu itu tidak ada yang salah," papar pria yang menampilkan gurat wajah tegang.


Dia tahu dengan jelas seperti apa wanita yang dia nikahi itu, wanita galak dan juga tangguh yang hanya akan memendam apa yang dia rasakan seorang diri tidak pernah membaginya pada siapapun dan sifat itu yang kadang membuat Ipul geram marah tak suka karena dia merasa tidak dianggap.


Bersyukur ibunya tidak membicarakan apapun dengan suaminya saat diantarkan pulang, hingga sampai hari ini suaminya tidak tahu apa yang membuatnya menjadi seperti ini.


Ralen menghela napa berat pertanda sesak yang menguras, "ada sedikit masalah dengan ibu dan anak pertamanya itu, tapi Mas Sai tidak perlu khawatir aku bisa menanganinya dengan baik." Ralen tetap saja menyembunyikan fakta dari sang suami benar-benar tidak mau membaginya padahal sejak tadi suaminya itu sudah mencecar dirinya agar mau bicara jujur.


"Mantan pacarmu itu menyebalkan," tutur Ralen dengan senyum mengejek.


Saat ini dia menjadi semakin pintar bersandiwara berbalik menyerang suaminya dengan perkataan yang sama sekali tidak senang di dengar oleh sang suami yang sekarang pun dengan cepat mendengus tak terima.


"Berulang kali sudah aku katakan aku tidak pernah berhubungan dengannya, Jelita Gunawan!" menegaskan dengan kedua mata yang mendelik memberi peringatan agar wanita tercintanya itu untuk tidak lagi menyangkutkan dirinya dengan seroang Daniya apalagi sampai menudingnya sebagai mantan kekasih.


Mulut Ralen menganga, terpukau dengan nama belakang yang disematkan oleh suaminya.


Gunawan, itu adalah nama belakang suaminya menyadarkan dirinya bahwa dia adalah nyonya Gunawan yang sudah sangat kokoh di berada disisi serta dalam hati sang Gunawan, takdir indah yang tak pernah dia mimpikan dan kini membuat Ralen tersenyum malu seraya menubruk dada suaminya dan menyembunyikan wajah yang sudah semerah Cherry.


"Malu, hm?" Ipul bertanya meledek berusaha untuk menjauhkan wajah sang istri dari dadanya agar dia bisa melihat dengan jelas wajah malu yang tengah menyelimuti istrinya itu.


"Namaku sudah tersemat dalam namamu jadi berhenti membicarakan wanita lain siapapun itu sebab meskipun kamu menyebalkan.."


"Kamu ini ingin romantis kenapa harus mengataiku dulu!" Ralen mengomel tak terima.

__ADS_1


Suaminya ternyata jauh lebih menyebalkan dari yang dia bayangkan, jika ingin merayu mengatakan hal-hal romantis kenapa mesti ada embel-embel seperti itu.


Ipul memicing lalu menunjukkan ekspresi yang mencibir, "ingat tidak saat pertama kali kita bertemu kamu melakukan apa?" sepertinya ingin membahas pertemuan pertama mereka.


Ralen mengedikkan bahu, dia tidak mau ingat lagi karena saat pertemuan mereka itu memang memberi kesan tapi juga mengesalkan jadi dia berpikir ingin melupakannya saja, dia malu jika harus mengingatnya terus.


"Saat itu kami berteriak seperti sambil menggedor-gedor kaca mobilku, lalu marah-marah seperti orang kesurupan." Ipul bercerita mengingatkan sang istri.


Ralen mengerucutkan bibirnya terlihat menggemaskan seperti anak kecil diusianya yang ke 20tahun.


"Siapa suruh kamu nyerempet orang tapi nggak mau berhenti buat tanggung jawab."


"Aku tanggung jawab buktinya sekarang kamu jadi istri aku, kurang tanggung jawab apa lagi?" serobot Ipul malah membicarakan hal lain.


Entahlah Ralen tidak mengerti mereka ini sebenarnya sedang membahas pertemuan pertama mereka atau membahas tentang kebablasan mereka dulu, yang jelas Ralen menjadi lega sebab suaminya jadi lupa dan tidak lagi menanyakan tentang apa yang dia dan ibunya bicarakan tempo hari.


Jujur Ralen tidak mau membuat suaminya jadi tidak suka terhadap ibunya karena biar bagaimanapun ibunya itu tetaplah seorang ibu yang sudah melahirkannya dan harus dia hormati seperti apapun perbuatannya, selama dia merasa masih sanggup untuk menghadapinya sendiri dia tidak akan mau mengadu pada suaminya meski apa yang dibicarakan ibunya itu menyangkut sang suami.


"Kamu sangat bertanggung jawab Mas Sai, sangat-sangat bertanggung jawab," tutur Ralen menenggelamkan kepalanya pada lekukan lengan pria yang duduk di sampingnya.


Ipul tersenyum puas mendengar pengakuan dari istrinya, tidak tahu kenapa malam ini mereka bisa bicara dengan tenang meski awalnya sedikit ada bentakan namun tidak berlanjut karena Ipul yang terlena dengan kemanjaan yang tengah ditunjukkan oleh istrinya.


"Mas Sai sepertinya sudah sangat mencintai aku," dengan percaya dirinya Ralen berkata seraya mengangkat wajah menatap penuh kagum pada sang suami yang membalas tatapannya dengan sedikit tidak percaya.


Pria itu balik membanggakan diri di depan sang wanita yang sungguh sangat menggoda dengan tangannya yang sudah mulai tidak bisa diam.


Mereka ini pasangan muda yang masih sangat menggebu-gebu di setiap saat akan tetapi sudah harus belajar untuk menahan hasrat karena ada janin yang sedang tumbuh dan harus mereka jaga.


"Iya, aku sudah sangat jatuh cinta dan tidak ingin Mas Sai berpaling."


Tidak disangka Ralen dengan mudahnya mengakui apa yang dia rasakan, dengan mudahnya berkata dia sudah jatuh cinta dengan suara yang terdengar tenang namun menghanyutkan.


Ralen tidak tahu jalan hidup hendak membawanya kemana yang jelas saat ini dia tidak mau melepaskan apa yang sudah menjadi miliknya, tidak mau berbagi apalagi sampai memberikannya pada orang lain.


"Wow!" Ipul seakan sangat terpukau dengan pengakuan yang tidak pernah dia sangka sebelumnya akan keluar dari mulut istrinya dengan sangat lancar.


"Bagian mana yang membuatmu jatuh cinta?" tanya Ipul dengan alis yang naik turun.


Mendengar pengakuan Ralen membuatnya ingin menggoda wanita yang selama sembilan bulan akan terus membawa anaknya kemanapun wanita itu pergi.


"Ketampanan wajahku atau kebaikan yang aku miliki?" mulai mengajukan pertanyaan narsis membuat Ralen mendengus lalu menatap sinis.


Dalam sekejap dia merasa sudah salah karena mengaku jatuh cinta, dia sudah tahu watak suaminya seperti apa seharusnya dia tidak terus terang karena hanya akan membuat suaminya kepedean, dan lihat saja sekarang pria tercintanya itu mengedip penuh godaan dan terlihat sangat centil.


"Mana yang membuatmu jatuh cinta?" bertanya lagi sambil menggerakkan wajahnya kesamping kiri dan kanan.

__ADS_1


Ralen menarik bahu suaminya memintanya sedikit merunduk agar dia bisa membisiki telinganya, "goyangan Mas Sai yang membuat aku jatuh cinta."


Setelah mengatakan itu Ralen langsung berlari, kabur menuju kamar mereka meninggalkan suaminya yang terbengong dengan mulut terbuka lebar tak percaya dengan yang barusan dia dengar.


"Goyangan? jadi aku harus bergoyang setiap saat agar cintanya tidak luntur, begitu?" tidak tahu pikiran macam apa yang sekarang ada di dalam kepala Saipul hingga bisa-bisanya mengatakan hal konyol luar biasa.


"Jelita!" teriaknya sambil mematikan televisi yang memang tidak sekalipun dia tonton sejak memulai pembicaraan dengan isterinya.


"Jelaskan apa maksudmu?" tanyanya melangkah lebar menyusul sang istri yang sudah berada di dalam kamar.


"Hei Jelita!" serunya lagi dengan intonasi yang lebih tinggi.


"Memangnya goyangan seperti apa yang kamu mak.."


Pria yang sudah akan masuk ke dalam kamar itu tidak meneruskan perkataannya ketika sepasang matanya menangkap sang istri berdiri di tengah kamar seraya menatap handphone yang layarnya masih menyala.



Ralen berdiri membeku tidak menyadari kedatangan suaminya, dia hanya terpaku pada pesan di layar handphone yang baru saja dia terima, pesan yang ingin dia abaikan tapi nyatanya tetap saja membuatnya terganggu hingga panggilan serta kedatangan suaminya pun tidak dia sadari.



Dunianya menjadi hanya fokus pada kalimat-kalimat di layar handphone yang baru saja dia baca padahal pesan itu sudah dari setengah jam yang lalu, itu artinya sudah terlewat cukup lama.



Sejenak dunia berhenti berputar untuk Ralen, membekukan dirinya sendiri seolah dia tidak memiliki nyawa yang mampu mengembalikan dirinya agar dunia kembali berputar.



Sungguh dia tidak ingin peduli tapi kemudian rasa kemanusiaannya malah tergerak, salahkan saja dia yang terlalu baik hingga akhirnya peduli.



"Kamu kenapa, sayang?" Ipul mendekat dan mencaritahu.



Panggilan sayang yang benar-benar membuat Ralen tidak akan rela siapapun mengambil suaminya.



"Tolong antar aku ke rumah sakit Mas."


****

__ADS_1


__ADS_2