
"Loh Ipul mana Pa?" tanya sang istri pada suaminya yang sore hari malah pulang sendiri padahal hari ini adalah hari pertama anak mereka aktif di kantor, meskipun anaknya itu membawa mobilnya sendiri tapi setidaknya kendaraan mereka beriringan saat pulang.
Wanita itu melongok pada pintu pagar yang malah sedang di tutup oleh penjaga rumah mereka, bertanda tidak ada lagi mobil yang masuk, lalu kemana anaknya? apa bertemu dengan teman-temannya dahulu?
"Masih di kantor," sahut pria yang sekarang tengah meregangkan dasi yang sejak pagi melingkar di kerah bajunya.
"Loh ngapain? memangnya Papa suruh lembur dia?" mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Ngaco, mana ada lembur orang di kantor aja dia cuma sibuk main-main nggak jelas," jawab Irman yang mendapatkan laporan dari asistennya tentang apa yang dilakukan anaknya itu.
"Main-main?" Riska malah semakin tidak mengerti.
Irman mendesah berat dan panjang lalu duduk di ruang tamu meraih cangkir teh yang memang selalu akan tersedia jika dirinya pulang, tentu sang istrilah yang menyiapkannya.
"Papa mau mandi," kata Irman kemudian.
Pria itu sepertinya enggan membahas tentang anak mereka pada sang istri, karena dia kenal benar bagaimana istrinya itu, bisa-bisa nanti sang istri malah ikutan ke kantor.
Riska mengekori suaminya yang sudah beranjak masuk ke dalam kamar, mulutnya pun mengeluarkan pertanyaan yang diabaikan oleh suaminya.
*****
"Gue mesti ngapain?"
Ralen terlihat bolak-balik di pantry seraya matanya melihat pada jam dinding yang menunjuk angka jam 4 lewat itu artinya ini sudah jam pulang kantor, dan dia sebagai petugas kebersihan akan pulang setengah jam kemudian setelah melakukan tugasnya lebih dulu, yaitu membersihkan kantor atau membuang sampah yang di tinggalkan oleh para karyawan.
Padahal Ralen sudah tahu apa yang harus dia kerjakan saat ini, tapi berhubung pikirannya sedang terkontaminasi oleh perkataan Ipul tadi pagi membuatnya jadi tidak konsentrasi, pikirannya malah di penuhi dengan kata 'jam 5 ke ruangan gue'
"Mbak!" tegur Safiq yang membawa gelas-gelas kotor yang dia ambil dari meja-meja karyawan.
"Hem." untuk sekedar menjawab saja Ralen tampak tidak bersemangat.
"Kerja Mbak kerja, staf kantor udah pada pulang tuh, sampah numpuk, Safiq sih ogah nemenin Mbak lembur ya, abis ini Safiq mau pulang," cerocosnya mengingatkan wanita yang sedari pagi gerak tubuhnya menyiratkan kegelisahan.
"Ish!" hanya desisan yang keluar dari mulut Ralen, kesal tapi tetap saja mengerjakan apa yang dikatakan oleh OB berusia 18tahun itu.
Kakinya menghentak menuju divisi yang dialihkan ke lantai 9 ini, membawa sapu serta kain lap yang tersampir di bahunya.
Wanita itu mulai menyapu setiap sudut meja sekaligus mengelap meja yang tampak sedikit basah, mungkin terkena tumpahan air?
Meja demi meja serta kolong-kolongnya sudah mulai dia bersihkan, tempat sampah pun tak luput dari perhatiannya, mengumpulkan sampah jadi satu dalam kantong besar, lalu kemudian membawa bersamanya setelah dia selesai membersihkan ruangan yang tadinya ramai menjadi sangat sepi pada jam pulang seperti ini.
Sedikit menyeramkan mengingat lantai ini cukup lama dibiarkan kosong.
Ralen bergidik ngeri ketika tiba-tiba saja malah membayangkan tentang hantu yang mungkin sudah menghuni serta menguasai lantai 9.
"Kenapa mendadak jadi merinding begini?" Ralen mengusap tengkuknya sambil berjalan cepat keluar ruangan lalu mengambil langkah seribu menuju pantry hingga bertabrakan dengan Safiq yang akan keluar.
"Aduh! lihat-lihat dong Lo Fiq kalau jalan," omel Ralen yang jatuh terduduk di lantai sedangkan Safiq berhasil menahan tubuhnya dengan berpegangan pada tiang pintu hingga tidak mengalami hal seperti Ralen.
"Lah kan Mbak yang lari-lari kenapa jadi saya yang di salahin," sahut Safiq tak terima.
"Bodo amat, pokoknya Lo yang salah! Lo kan cowok," tuding Ralen sambil bangkit dari lantai yang tadi baru saja membuat bokongnya sakit.
"Lah bisa gitu, gender menjadi penentu siapa yang salah," celetuk Safiq yang tadi berniat untuk membantu Ralen berdiri tapi terlambat sebab wanita itu sudah kadung berdiri sendiri.
"Lo mau kemana?" tanya Ralen saat Safiq sudah memakai tas selempang nya.
"Pulang lah, udah jam lima ini," sahut pria yang memiliki tahu lalat di bawah dagunya.
Mirip aktor Rano Karno, tapi ingat! hanya tahi lalatnya saja sebab wajah bocah bernama Safiq ini jauh berbeda mungkin jika diibaratkan Rano Karno langit sedangkan Safiq adalah jerawat batu, sungguh sangat jauh berbeda.
"Gue juga pulang lah kalau gitu," kata Ralen cepat.
"Tapi tadi anaknya Pak bos minta Mbak ke ruangannya."
Perkataan Safiq bagaikan petir yang menyambar dan dalam sekejap membuat Ralen menghela napas frustasi.
"Gue pikir cuma bohongan," gerutu Ralen tak menyangka kalau Ipul ternyata memang serius pada perkataannya tadi pagi.
__ADS_1
"Udah sana Mbak, dari pada kena SP mendingan datengin dah," kata Safiq yang malah menakut-nakuti.
Tidak tahukah bocah itu kalau saat ini Ralen benar-benar di buat pusing dengan si anak pemilik perusahaan.
******
Seorang wanita terlihat tengah mondar-mandir di depan ruangan yang pintunya tertutup.
Wanita itu adalah Ralensi Jelita, sepertinya kegiatannya hari ini lebih banyak diisi dengan mondar-mandir bolak-balik memikirkan bagaimana caranya bisa menghindari pria di dalam ruangan sana yang mungkin sedang menunggunya dengan tak sabar.
Tak sabar? memangnya dia mau melakukan apa?
Ralen mengambil napas lalu mengeluarkannya melakukan hal itu berulang kali guna memenangkan dirinya sendiri sambil mengumpulkan keberanian untuk membuka pintu yang tidak di kunci.
"Sama-sama manusia nggak usah takut, kalau dia macam-macam laporin Bapaknya," cetus Ralen dengan tangan yang menggapai gagang pintu yang terbuat dari besi itu.
"Permisi Pak," katanya ketika pintu baru terbuka sedikit.
"Lama banget!"
Baru saja menongolkan kepala malah sudah mendapat protes karena dia yang memang sengaja berlama-lama, hingga baru datang di saat jarum di jam menunjuk angka setengah enam.
"Kerjaan saya baru selesai Pak."
Ralen pun masuk namun wajahnya menunjukkan betapa syok nya dia begitu melihat ruangan itu yang begitu berantakan, banyak kertas yang berhamburan di sekitar meja bahkan sampai ada yang di depan pintu ruang istirahat.
"Bapak habis ngapain?" tanya Ralen dengan wajah masih melongo tak percaya dengan penglihatannya sendiri.
Pria yang di tanya hanya mencebikkan bibirnya.
"Tolong beresin," katanya.
Meski memakai kata tolong tapi Ralen tetap saja di buat kesal, ini sudah jam pulang dan dia malah harus membersihkan ruangan yang sepertinya di buat berantakan dengan sengaja.
"Pak.."
"Apa?!" sepertinya sudah mulai nyaman dengan panggilan Bapak hingga tidak lagi protes atau memang malas untuk mengingatkan wanita keras kepala serta bawel itu.
"Yang benar saja, ini sudah waktunya saya pulang."
"Terus kenapa?" tanya Ipul seraya duduk di atas meja dengan begitu tenangnya.
"Saya tidak mau beresin, kan Bapak yang berantakin," tolak wanita yang memang tidak membawa peralatan kebersihannya.
__ADS_1
"Tapi petugas kebersihan disini kan elo, ya lo juga dong yang beresin," pungkas Ipul tak mau mengalah.
"Hutang Lo lunas," kata Ipul cepat sebelum Ralen membuka mulut.
Tawaran yang diberikan terang saja membuat Ralen tergoda, hutangnya lunas? kapan lagi dia mendapat kesempatan seperti ini jika bukan hari ini kan? mumpung otak anak bos sedikit geser.
Kerjakan permintaannya sekarang dan urusannya dengan pria yang akhirnya dia ketahui namanya itu melalui plat nama di atas meja selesai hari ini juga, dan kedepannya dia akan bekerja dengan tenang tanpa harus bermain petak umpet lagi seperti yang dia lakukan pagi ini.
"Deal," kata Ralen dengan wajah yang tak lagi pucat seperti tadi.
Tawaran ini adalah semangat baru baginya, hutangnya yang ratusan ribu itu akan lunas tanpa dia harus mengeluarkan uang, membayangkan gajinya utuh sungguh sangat menyenangkan.
Ipul mengedikkan bahunya, "deal," jawabnya tanda kesepakatan.
Dengan gesit Ralen keluar ruangan menganbil sapu serta kain pel dan tak lupa seember air lalu segera kembali untuk mengumpulkan kertas yang berhamburan, memakan waktu hampir setengah jam sampai akhirnya dia mengusap keringat yang membasahi keningnya setelah selesai menyapu.
"Ruang istirahat gue juga berantakan." dengan santainya Ipul mengatakan itu kala Ralen baru akan keluar setelah selesai mengepel lantai.
"Hah?" mulut Ralen terbuka menunjukkan tampang bodohnya.
"Tempat istirahat gue sekalian," kata Ipul memperjelas.
"Kalau nggak di rapihin perjanjian batal, artinya Lo.."
"Iya-iya nggak sudah diterusin," sambar Ralen sudah tahu Ipul mau mengatakan apa.
Ipul tersenyum seraya menaikkan alisnya mengejek wanita yang mendengus sinis padanya.
Saat Ralen sudah berada di dalam ruang yang nasibnya tidak jauh berbeda dari ruangan di depan tadi wajah kembali di buat melongo tak percaya.
"Ini manusia abis tidur apa main kuda lumping sih, berantakan begini!" sungut Ralen mendapati selimut serta seprei yang berhamburan di lantai.
"Niat banget ngerjain gue," katanya lagi lalu terdiam ketika pintu mendadak terbuka.
"Kerjain cepat, gue mau pulang," perintah Ipul berjalan masuk dengan pintu yang tertutup sendiri dengan bunyi klik yang tidak disadari oleh keduanya.
Ralen tak menjawab, namun hatinya kini malah di penuhi dengan segala sumpah serapah yang tak terhingga untuk pria bernama Saipul Gunawan itu yang dengan tengilnya berdiri memperhatikan dia layaknya seorang mandor.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1