
Benar saja dugaan Ipul, saat ini Ralen sudah berada di kantor melakukan tugasnya yang kemarin sempat dia tinggalkan karena sakit, sungguh sebenarnya pun saat ini dia masih belum sehat benar tapi dia memaksakan diri untuk bekerja sekalipun masih sangat menggigil ketika harus bersentuhan dengan air, cukup menyulitkan karena pekerjaannya kerap kali mengharuskan dia bertemu dan menyentuh air itu.
"Mbak kalau masih sakit mending libur aja lagi," kata Safiq yang mendapati wajah dan gerakan Ralen sangat tidak bersemangat, kemarin pun dia mendengar Ralen tidak bekerja karena sakit, lalu kalau masih sakit kenapa tidak libur lagi saja.
Ralen menghela napas mendengar ucapan Safiq, kenapa malah rekan kerjanya yang lebih perhatian ketimbang suaminya sendiri? bolehkah Ralen berharap kalau yang memberi perhatian itu adalah pria yang menikahinya? biarkan dia jadi tidak tahu diri untuk hari ini saja karena mengharapkan hal yang nyatanya mustahil untuk saat ini.
"Libur mulu bisa-bisa nggak dapat gajian gue," celetuk Ralen masih berusaha untuk menutupi perasaan kecewa yang tengah menimpa dan berkuasa di dalam hatinya.
Sungguh sangat tidak mungkin jika dirinya harus menampakkan kekecewaan yang dia rasakan di depan orang lain ketika orang lain itu tidak tahu menahu tentang apa yang dia hadapi, oh ini adalah beban besar yang tengah bergulat dihatinya, sungguh dia tidak nyaman ketika harus bersikap baik-baik saja padahal hatinya retak seribu.
Safiq mengerutkan kedua alisnya, "ya daripada maksain kerja nanti malah tambah drop gimana?"
"Mending drop sekalian ketimbang keluarga gue nggak makan," celetuk Ralen yang akan selalu menempatkan keluarganya pada
Safiq menghela napas mendengar jawaban Ralen, "terserah Mbak deh," tutur Safiq.
Orang-orang di perusahaan ini sepertinya memang belum tahu tentang kenyataan kalau Ralensi Jelita adalah istri dari pemimpin perusahaan yang baru, tentu Ralen cukup tahu diri untuk tidak berkoar-koar dan menyombongkan diri siapa dirinya di saat hanya seorang Damar lah yang mengetahui pernikahannya dengan sang pimpinan di perusahaan di tambah masalah tentang penyesalan yang sudah dua hari ini membuat Ralen tak henti memikirkannya.
Siapalah dia ini? hanya karyawan biasa dan mungkin karyawan paling rendah di perusahaan itu jadi tidak tutup mulut itu jauh lebih baik daripada malah di bilang manusia halu oleh orang-orang di kantor itu.
Safiq menggeleng tak percaya ketika Ralen benar-benar mengabaikan saran darinya, wanita itu kembali membawa troli yang menyimpan semua perlengkapan bekerjanya untuk mulai menjalani kewajibannya sebagai seorang pekerja.
Langkahnya terlihat sangat berat, beruntung ada troli yang bisa dia jadikan penopang tubuhnya ketika merasakan kakinya mulai kembali lemas layaknya selembar tisu yang tipis.
Tadi dia diminta untuk membersihkan ruang rapat karena nanti jam 9 tempat itu akan digunakan untuk rapat oleh para petinggi perusahaan itu termasuk suaminya.
Mengingat kata suami membuat gerakan Ralen yang sedang mengelap meja jadi terhenti, selalu menjadi melow dalam sekejap, seharusnya dia tidak seperti ini kemana seorang Ralensi Jelita yang galak dan tahan banting dalam setiap menghadapi segala kesulitan hidup, kenapa tanya karena seorang pria yang belum lama dikenal membuatnya seperti ini?
__ADS_1
"Lo nggak boleh kayak gini terus Ralen!"
Brak!
Menggebrak meja seakan meminta dirinya untuk sadar dan tidak usah menjadi wanita lemah karena itu bukan dia yang sebenarnya.
"Memangnya kenapa kalau dia menyesal? memangnya kenapa kalau dia menyalahkan diri Lo atas kepergian Papanya? itu semua hak dia jadi jangan paksa dia buat berlapang dada atas semua yang terjadi, karena Lo juga punya hak untuk membela diri karena memang Lo nggak salah apapun dalam hal itu, biarkan dia dengan segala pemikirannya dan Lo juga bisa melakukan hal yang sama, jangan jadi lemah hanya karena suami seperti dia! jadi Ralen yang biasanya, Lo pasti bisa!"
Sungguh saat ini Ralen sedang berusaha untuk kembali menjadi Ralen yang dulu, jangan hanya karena kesalahan yang tidak dia buat menjadikannya lemah dan tak berdaya.
Kini seolah ada semangat baru yang merasuki jiwanya, wanita itu bahkan mengambil kain lap yang tadi dia lempar dan kembali dia gunakan untuk mengelap meja, dia menjalankan tugasnya dengan hati yang mulai tenang dan dalam sekejap rasa pusing yang mendera pun hilang entah kemana, sepertinya pusing yang dia alami bukan hanya karena terkena air hujan tapi juga karena memikirkan penyesalan yang terlontar dari mulut suaminya.
Pria sialan yang sudah menidurinya lalu seenaknya menyesali pernikahan yang baru saja terjadi.
Ralen menyelesaikan tugasnya dengan baik sebelum ruang rapat itu menjadi ramai karena sudah ada beberapa orang yang datang ke ruangan itu untuk mengecek apakah ruangan itu sudah siap atau belum.
Baru saja Ralen akan menjauh dari ruang rapat sudah ada suara yang meminta bantuan darinya, siapa lagi kalau bukan si OB bernama Safiq yang baru berusia 18 tahun.
Pria itu tampak kesulitan mendorong meja besi dengan roda yang diatasnya bertumpuk makanan ringan serta minuman untuk mereka yang rapat nantinya.
Ralen menghela napas tapi kemudian membantu si OB bawel itu kembali masuk ke ruang rapat, di dalam sana Ralen dan Safiq mulai sibuk mengatur makanan serta minuman botol pada setiap meja di masing-masing kursi.
"Udah kan?" kata Ralen ketika selesai meletakkan minuman pada meja terakhir.
"Udah Mbak, makasih ya," ucap Safiq seraya memamerkan senyum tanda sangat berterimakasih atas bantuan dari Ralen, padahal tadi dirinya meminta Ralen untuk tidak bekerja tapi nyatanya dirinya jugalah yang membutuhkan tenaga Ralen untuk membantunya sebab tidak ada OB lain yang bisa dia mintai tolong, semuanya di buat sibuk dengan kegiatan mereka.
Ralen mengangguk lalu melenggang pergi keluar dari ruangan rapat, dia menyusuri lorong menjauh berjalan dengan trolinya lalu sesekali menunduk hormat kala berpapasan dengan para peserta rapat yang sepertinya sudah mulai berdatangan.
__ADS_1
Sampai ketika langkahnya mendadak begitu berat ketika di kejauhan matanya menangkap seraut wajah yang tadi pagi masih terlelap dalam tidurnya saat Ralen berangkat bekerja, pria itu berjalan dengan derap langkah yang begitu tegas lalu wajahnya pun terlihat lurus ke depan disertai dengan tatapan tajam entah pada siapa karena saat ini Ralen sudah bergerak ke pinggir untuk memberi jalan pada pria yang bahkan menoleh pada dirinya pun tidak, jangan tanyakan pria itu akan mengajaknya bicara karena itu tidak akan terjadi tepat saat pria itu melewatinya begitu saja dan tubuhnya menghilang di balik ruang rapat yang tadi sudah di bersihkan oleh Ralen.
Ralen hendak melanjutkan langkah ketika kali ini berpapasan dengan asisten dari pria yang tadi melewatinya bersikap layaknya orang asing, ah tidak mereka memang orang asing yang dipertemukan oleh takdir.
Damar mengangguk sopan ketika melihat wanita yang dinikahi oleh tuan mudanya, bahkan asistennya saja jauh lebih baik ketimbang pria yang menjadi suaminya itu.
Ralen pun membalas anggukan itu dengan sedikit memberikan senyum untuk sang asisten yang kemudian tergesa berlalu memasuki ruangan yang tadi atasannya masuki.
Rapat sudah berjalan satu jam dan saat ini Ralen tengah beristirahat setelah mengosongkan tempat sampah lalu membersihkannya.
Di jam seperti ini Ralen sudah lebih santai hingga di bisa menggunakan handphonenya yang sejak tadi dia simpan di dalam tas di loker,
"Mbak mau dibikinin kopi nggak?" tawar Safiq pada Ralen yang sedang duduk di lantai pantry seraya meluruskan kedua kakinya yang sedikit pegal karena harus bolak-balik membawa sampah lewat tangga darurat.
"Nggak usah, gue nggak suka kopi," sahut Ralen seraya menggelengkan kepala dengan matanya yang tetap fokus pada layar handphone.
Safiq mengedikkan bahunya lalu mulai sibuk membuat kopi untuk dirinya sendiri, di usia yang masih cukup muda ini dia sudah kecanduan dengan kopi, bahkan sehari tanpa kopi saja membuat dia malas untuk ngapa-ngapain.
Ralen masih begitu santai dan tenang memandangi layar handphonenya sampai akhirnya ada sebuah notif pesan yang muncul di layar pada benda yang sedang dia mainkan itu membuat gerakan jarinya terhenti.
Sebenarnya dia tidak ingin membuka pesan itu tapi jarinya malah tak sengaja bergerak membuka pesan yang baru masuk itu.
'Tunggu gue di ruangan'
Sebaris pesan itu sebenarnya sudah terbaca tanpa perlu membuka pesan tapi nyatanya jarinya bertindak tidak karuan.
Mau apa? ruangan yang mana? ruangan di lantai ini atau di lantai 5? Ralen bingung sendiri memikirkan pria itu mau apa memintanya untuk menunggu, belum lagi bingung ruangan mana yang pria itu maksud.
__ADS_1
*******