Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Nyatanya Kamu Tak Berotak


__ADS_3

"Rupanya sekolah tinggi bukan jaminan seseorang mempunyai otak, bukankah otakmu itu seharusnya direstorasi? atau minimal dicuci agar tidak kotor," cibir Ralen menghina kadar otak yang dimiliki oleh wanita di depannya.


Wanita bernama Daniya Ranita yang juga adalah Kakak kandungnya itu baru saja mengajukan persyaratan gila tak masuk akal padanya dengan embel-embel mau memaafkan keluarganya terutama ibu dan ayahnya.


"Apa Hak mu mengoreksi kapasitas otakku?!" Daniya menyentak tak suka.


Jelas dia akan tidak suka ketika ada orang yang perkataannya seolah mempertanyakan kegunaan otaknya sekalipun dia itu adalah Adiknya, Adik kandungnya tapi mereka ini baru bertemu belum cukup mengenal satu sama lain dan rasanya diapun tidak akan pernah mungkin mau mengenal apalagi mendekatkan diri pada wanita menyebalkan di depannya sekarang.


Bagaimana bisa wanita yang lebih muda darinya memintanya untuk memperbaiki otak dan juga mencucinya, terkesan kurang ajar dan membuatnya kesal.


"Lalu apa Hak mu meminta aku untuk memberikan suamiku padamu? kamu tidak punya hak apapun!" Ralen membentak kencang membuat para pengunjung melihat padanya.


Daniya menyinis lalu tersenyum meremehkan dan dengan tenangnya seolah dia tidak terpancing sama sekali padahal sejak tadi dia tengah berusaha menahan amarah, memainkan bibir gelas dengan jari telunjuknya.


"Aku memberi keuntungan untuk keluarga terutama ibu dan Ayahmu, lalu apa salahnya kamu juga memberi keuntungan untukku, bukankah kita impas? sama-sama menguntungkan?" dengan tak berperasaan berkata mengenai keuntungan sangat pantas apabila Ralen menudingnya tak berotak karena dari setiap perkataannya itulah menggambarkan otaknya yang sudah kabur tak berjejak.


Mata Ralen membelalak tajam, "menguntungkan biji matamu!" sentak Ralen meradang, bagaimana bisa wanita di depannya itu mengatakan tentang keuntungan yang sama sekali tidak dia dapatkan, memangnya istri bodoh dan gila macam apa yang rela memberikan suaminya untuk wanita lain terlebih lagi wanita itu adalah Kakaknya sendiri hanya untuk mendapatkan maaf untuk kedua orang tuanya, bukan dia yang melakukan kesalahan lalu kenapa harus dia yang berkorban? mengorbankan suaminya yang bahkan jauh darinya saja seakan sudah tidak bisa.


Daniya menaikkan sudut bibirnya, "suamimu itu pria terpelajar bahkan otaknya sangat cerdas tapi kenapa harus memiliki istri sepertimu? cara bicara saja tidak dijaga," cibir Daniya, "sangat kampungan, aku rasa Awan akan sangat malu jika membawamu ke acara-acara penting, kamu tahu kan? seorang pengusaha akan punya pertemuan-pertemuan dengan rekan bisnis mereka melihat cara bicaramu yang seperti ini aku tebak dia tidak akan pernah mengajakmu untuk menemaninya," cerocos Daniya membuat panas seluruh tubuh Ralen, atmosfer benar-benar berubah dengan sangat cepat bahkan sejak mereka saling bertatap mata dengan jarak yang jauh.


Ralen ini sudah sangat geram mendengar perkataan demi perkataan yang seperti memang sengaja untuk memancing kemarahannya, mengatakan dia kampungan sungguh sangat keterlaluan ketika mereka ini lahir dari wanita yang sama.


"Berhenti memanggil suamiku Awan!" hardik Ralen tak suka, sejak tadi telinganya terasa panas tiap kali Daniya memanggil suaminya dengan Awan, Awan apa? Awan hitam yang tengah membawa air-air hujan beserta dengan petir nya kah? Awan hitam yang siap menerjang dengan badai hingga melakukan pengrusakan tak karuan?


Daniya malah sangat senang pada saat Ralen marah, "Awan itu panggilan kesayangan kami saat di Inggris, kalian tidak pernah tahu kan apa saja yang sudah kami lakukan di negara itu?!" desis Daniya bagaikan seekor ular beracun yang seharusnya sejak tadi dihindari agar tidak terkena patokannya.


"Dasar benar-benar wanita gila tak berotak!" kata Ralen tajam.


"Hei, aku ini Kakakmu mana sopan santun mu terhadap Kakak kandungmu sendiri? apa ibu dan ayah tidak pernah mengajarimu sopan santun?"

__ADS_1


"Aku tidak menganggap mu Kakak sialan!" salak Ralen kejam, "mana ada seorang Kakak yang meminta suami Adiknya sendiri sebagai persyaratan? nyatanya kamu memang tidak memiliki otak!" tambah Ralen lagi dengan deru napas yang menggebu lalu beranjak berdiri.


Dia sudah tidak tahan berhadapan dengan wanita gila seperti Daniya ini, tidak tahan karena emosinya akan terus naik dan dia tidak mau terkena penyakit darah tinggi apabila berlama-lama mendengarkan ocehan-ocehan tak masuk akal.


Daniya memandangi kepergian Ralen dengan senyum yang mengembang, senang karena berhasil mempermainkan emosi Adiknya itu.


"Kita lihat saja, apa kamu masih akan keras kepala dan buas serta menyeramkan seperti ini jika ibumu sudah turun tangan." bergumam seraya melipat tangan di depan dada.


****


"Kamu kenapa? kok wajahnya di tekuk begitu? aku kelamaan rapatnya?" bertanya seraya melihat pada arloji yang melingkar dipergelangan tangannya ketika baru saja masuk ruangan namun dia sudah disuguhi wajah cemberut dan kusut dari istrinya.


"Enggak ah, malah ini lebih cepat satu menit," katanya lagi.


"Satu menit pun di hitung!" dengus Ralen membuang wajah ke arah lain.


Entahlah sekarang dia malah menjadi kesal dengan suaminya itu, perkataan dari Daniya nyatanya mempengaruhi dia hingga segala pikiran negatif pun bercokol di dalam kepala.


Ipul menautkan kedua alis ketidakmengertian tergambar jelas pada raut wajahnya, "kenapa?" bertanya sambil menaikkan dagu.


"Kamu sudah melakukan apa saja dengan Daniya?" merasa tidak perlu lagi menyebut wanita itu sebagai Kakak setelah yang terjadi hari ini.



Pertanyaan tentang Daniya yang begitu mendadak membuat Ipul bertanya-tanya tak mengerti ekspresi wajahnya pun menggambarkan hal yang sama dengan hatinya.



"Kenapa tiba-tiba tanyain itu?" bukan menjawab malah balik bertanya.

__ADS_1



"Kamu sudah melakukan apa saja dengan Daniya?! aku sedang bertanya kenapa kamu malah bertanya lagi!" sentak Ralen kencang, untung saja dia berada di ruangan suaminya yang hanya ada mereka berdua saja.



Ipul menggaruk ujung alisnya membuat Ralen malah jadi semakin geram padanya.



"Ngapain?!" tanyanya dengan intonasi tetap sama, tinggi dengan kegeraman yang melanda.



Ipul makin bergerak gelisah, dia tahu ketika dia menjawab jujur istrinya itu akan marah lalu tidak menjawab pun tetap saja istrinya marah juga, jadi menurutnya lebih baik menjawab saja karena perlakuan Ralen akan sama.



Mata Ralen sudah menatap tak sabar, sarat akan emosi yang mencoba untuk dia tahan menunggu suaminya memberikan jawaban untuk pertanyaan yang dia ajukan, namun suaminya malah seolah bertingkah memperlama membuang waktu hanya untuk memberi jawaban saja yang seharusnya bisa pria itu berikan dengan mudah.



Ipul membuang napas panjang lalu menariknya lagi, melakukan berulang kali untuk menormalkan debat jantungnya, baru ditatap seperti ini saja dia sudah jadi seorang pria yang takut dengan istri.



"Apa?!" Ralen mulai tak sabar hingga memaksa.


__ADS_1


"Seperti yang sering kita lakukan."


****


__ADS_2