Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Jangan Ganggu


__ADS_3

Ralen menuruni tangga dengan wajah yang cemberut, persoalan kemeja masih membekas di dalam pikirannya.


Sepertinya dia memang terlalu sensitif, diapun sadar sifat sensitifnya sudah makin berlebihan tapi tidak tahu kenapa dia kesulitan mengendalikan sifat sensitifnya itu.


"Jangan mengikuti sifat Papamu yang menyebalkan itu," mengelus perutnya berbicara pada bayi yang bahkan mendengar dirinya pun tidak.


"Loh mau jalan-jalan kok malah cemberut begitu?" Mama Riska bertanya bingung.


Tadi pagi menantunya begitu semangat untuk pergi berjalan-jalan bahkan makan dengan sangat cepat tapi kenapa sekarang malah memperlihatkan wajah tidak bersemangat bercampur dengan kesal.


Apa yang terjadi?


Bukankah sejak tadi sang menantu hanya seorang diri di dalam kamar, lalu bertengkar dengan siapa? atau siapa yang sudah membuatnya kesal?


Untuk sementara ini Mama Riska belum terpikirkan kalau anaknya lah yang sudah membuat menantu kesayangannya itu jadi seperti ini.


"Kamu kenapa Ralen?" Mama Riska kembali mengulangi pertanyaan begitu menantunya sudah berada duduk di sampingnya yang memang sudah menunggu sejak tadi.


Keduanya sudah janjian untuk pergi bersama sore ini.


Pergi kemana saja yang diinginkan oleh sang menantu dan dia akan dengan senang hati menemani.


"Mas Sai bawa kemeja yang biasa Ralen pakai Ma," adu Ralen dengan bibirnya yang mengerucut.


Imut lucu dan menggemaskan, andai saat ini ada Ipul mungkin pria itu akan langsung menyergap istrinya itu dengan buas.


Sontak saja Mama Riska langsung kesal, "Ipul itu memang ngeselin! sudah tahu istrinya lagi hamil ada aja ulahnya," sungut Mama Riska.


Mendengar aduan dari sang menantu membuat dia ingin menarik telinga sang anak yang seolah tidak pernah mendengarkan perkataannya, padahal dia sudah ribuan kali mengatakan pada anaknya itu untuk tidak selalu memancing emosi wanita hamil, sebaik mungkin menghindari melakukan kesalahan tapi nyatanya anaknya malah kerap kali membuat ulah.


Terlihat jelas kalau sekarang Mama Riska lebih memihak pada menantunya, sebenarnya yang anak kandung itu Ralen atau Ipul? kenapa Ipul yang selalu saja jadi orang yang salah di mata sang Mama tercinta.


Atau mungkin memang Mama Riska yang sudah bosan mengurus anak laki-lakinya itu dan ingin menggantinya dengan anak perempuan?


Kebetulan Ralen sudah menjadi menantunya jadilah Ipul makin tersingkir setiap detiknya.


Wajah Ralen tampak masih merajuk mengadukan tentang sang suami kepada Mama mertuanya yang sekarang berusaha sebisa mungkin untuk mengembalikan mood nya agar kembali ceria seperti tadi pagi.


"Ayo Ma berangkat sekarang."


Rupanya bujukan dari sang mertua sangat berhasil, terbukti ketika Ralen mulai kembali semangat dan sudah beranjak dari duduknya dan berjalan menuju keluar dari rumah.


Mama Riska tersenyum lebar mengekori menantu yang jika dilihat dari belakang bentuk tubuhnya sudah mulai memperlihatkan perubahan sebagai wanita hamil.


Dari depan memang belum terlihat karena ukuran dada yang lumayan berisi, namun begitu di lihat dari belakang tampak jelas ada yang berubah dari mulai ukuran pinggang serta lingkar ketiak.


Wanita manapun yang berpengalaman tentang wanita hamil tentu akan bisa menyadari kalau Ralen sedang hamil.


"Loh loh loh." Mama Riska keheranan kala Ralen malah sudah berdiri di samping motor.


"Mobilnya kan itu." menunjuk mobil yang sudah siap untuk mengantarkan mereka ke sebuah mall yang menjadi tujuan.


Tadi Mama Riska mengajak Ralen untuk menonton film di bioskop, Mama Riska mengira Ralen tidak akan mau namun malah sangat bersemangat membuat dia tersenyum lebar melihat mood sang menantu berubah dengan cepat.


Tapi sekarang dia kembali di buat bingung ketika Ralen malah berdiri di dekat motor, tanpa perlu diberitahu tentu sudah jelas tujuannya apa.


Ralen menggeleng, "Ralen lagi ingin naik motor Ma." tidak disangka Ralen mengeluarkan kunci motor dari dalam tas kecil miliknya yang sedari tadi memang sudah berada di bahu.


"Mama yakin Mas Sai mu melarang, tidak membolehkan," tebak Mama Riska yang sontak membuat Ralen mengangguk lesu.


Suaminya memang melarangnya untuk membawa motor, memberikan peringatan yang jelas tidak boleh dilanggar, tapi sekarang pun Ralen sangat ingin mengendari motornya, semenjak dirinya dinyatakan hamil oleh dokter dia sudah tidak diperbolehkan mengendarai motor lagi.


Untuk kuliah suaminya yang bahkan mengantar, pria itu merelakan dirinya untuk bangun lebih pagi di tengah mual pusing yang kerap kali mendera, kadang-kadang pun suaminya juga datang menjemput dirinya, meski lebih sering supir lah yang datang tapi perhatian pria itu sungguh luar biasa meski kadang masih saja mengesalkan, tetap Ralen merasa berterimakasih atas semua perhatian dari suaminya.


Tapi untuk hari ini tolong biarkan Ralen mengendarai motor, dia benar-benar ingin bukan alasan bayi di dalam perutnya melainkan karena dirinya yang sejak dulu terbiasa membawa motor sehari saja tidak membawa motor terasa tidak enak tapi ketika hamil dia terus menahan keinginannya.

__ADS_1


"Mama tanya Mas Sai mu dulu kalau begitu." sudah mengeluarkan handphone dan akan melakukan panggilan akan tetapi tangannya malah di pegang oleh Ralen, di cekal lalu Ralen juga menggelengkan kepala.


"Kan Mas Sai nggak kasih ijin, jadi Mama telepon juga percuma," cicit Ralen, suaranya terdengar sangat pelan seperti dia tengah berbisik.


Mertuanya menghela napas panjang, "jelas tidak boleh kan? itu artinya jangan membantah," tegas Mama Riska yang sebenarnya kasihan melihat wajah memelas dari menantunya tapi dia juga tidak mau melanggar larangan yang sudah di buat oleh sang anak untuk mereka berdua.


Tidak, lebih tepatnya mereka bertiga karena sekarang ada bayi yang tengah tumbuh di dalam rahim sang menantu.


"Ma." Ralen malah dengan sengaja merengek membuat mertuanya kasihan tapi juga takut dengan anaknya dalam waktu bersamaan.


Mama Riska mengatur napas sebelum mengeluarkan nasihat untuk membujuk menantunya agar mengerti.


"Ralen," panggil Mama Riska seraya menatap pada menantu yang dia sayangi layaknya putri sendiri.


Ralen menatap wanita yang meskipun sudah berumur akan tetapi kulit wajahnya masih sangat kencang bahkan tidak ada flek hitam di wajahnya, sangat jauh berbeda dengan wajah ibunya.


Bukan maksud membandingkan hanya saja kenyataannya memang itulah yang terlihat, di masa ini sangat terlihat jelas perbedaan derajat mereka.


"Mas Sai mu itu melarang tentu ada alasan dan sudah pasti alasannya karena dia sangat sayang sama kamu dan juga bayi kalian, tidak mau terjadi apa-apa pada kalian berdua," ucap Mama Riska sambil mendaratkan telapak tangannya pada perut sang menantu yang jika disentuh seperti ini sudah terasa menonjol.


"Jadi nurut ya sama Mama, jujur aja Mama takut kalau sampai Mas Sai mu marah," cetus Mama Riska.


"Nyeremin tahu," sambungnya lagi dengan menunjukkan raut wajah ngeri.


Dia juga tidak mengerti anaknya yang sering kali bertingkah konyol bisa menjadi sangat menakutkan jika sedang marah, memang akan lebih baik mereka menghindar dari membuat masalah kalau tidak mau terkena amukan sang anak.


Dengan berat hati Ralen pun mengangguk, jika sudah begini dia juga tidak akan bisa memaksa sang mertua untuk menuruti apa yang dia mau.


"Nah gitu dong." Mama Riska tersenyum sangat lebar, "kayaknya kita harus berangkat sekarang, takut tiketnya keburu abis," kata sang Mama.


Ralen mengangguk lalu kembali menyimpan kunci motornya ke dalam tas dan berjalan berdampingan dengan mertuanya menuju mobil yang memang sudah menanti mereka.


Sang supir sudah berdiri menunggu sangat siap untuk mengantarkan mereka kemanapun mereka ingin.


"Untunglah tidak di blokir." Ipul menggumam lega mengetahui kontaknya tidak di blokir oleh sang istri seperti yang sudah sering terjadi.


Sejak tadi dia terus saja memeriksa handphonenya, mengecek nomor istrinya untuk mengetahui apakah dirinya di blokir atau tidak, kebiasaan Ralen yang ketika bertengkar akan memblokir kontak sudah sangat dia hafal, hingga dia berulang kali mengecek namun ternyata kali ini Ralen tidak melakukan hal itu.


Tidak melakukan kebiasaan yang menyebalkan saat mereka bertengkar atau ketika wanita itu ngambek seperti sekarang ini.


Setelah menyelesaikan rapat dadakan dengan dua orang personil lapangan Ipul lantas gegas menghubungi sang istri, ingin berbicara.



Pria itu menunggu lama dan mulai tak sabar ketika panggilan teleponnya tak juga di jawab oleh istrinya.



"Tidak di blokir tapi telepon tidak mau di jawab, bukankah lebih baik di blokir sekalian!" sentaknya kesal.


Menurutnya lebih baik di blokir sekalian karena dia tidak akan bisa menghubungi sama sekali ketimbang tidak di blokir tapi teleponnya malah di abaikan, itu malah jauh menyebalkan untuknya.


Sampai akhirnya Ipul memutuskan untuk menghubungi sang Mama yang dia tahu tengah bersama istrinya.


Pasti, karena tadi pun Mamanya sempat mengirim pesan padanya kalau mereka akan pergi menonton.


"Wanita-wanita yang kurang kerjaan," katanya bersungut karena lagi-lagi harus menunggu sebelum panggilannya di jawab oleh sang Mama.



"Jelita sama Mama kan?" langsung menyerang dengan pertanyaan bahkan tidak perlu menyuarakan basa-basi tak penting karena yang dia hubungi juga Mamanya sendiri yang sangat mengenal benar kelakuannya.



"Mama lagi nonton sama Jelita, jadi jangan ganggu."

__ADS_1


"Ma..."


Tut Tut Tut.


Bahkan Ipul tidak dibiarkan untuk menyelesaikan apa yang ingin dia katakan, Mamanya tidak memberi kesempatan dirinya untuk bicara, langsung tanpa basa-basi mematikan sambungan telepon.



Sungguh Ipul baru saja membuka mulut dan sepertinya hanya napas saja yang baru dia keluarkan.



"Astaga! dua wanita kalau sudah bergabung kenapa sangat mengesalkan!" oceh pria yang mengendurkan dasinya.



Dia merasa dasi terlalu kencang melingkar di lehernya membuat dia kesulitan bernapas.



Pria itu konyol, menyalahkan dasi padahal memang dirinya saja yang selalu emosi, sepertinya dia itu sangat kelebihan darah.



Apa tidak lebih baik kalau dia mendonorkan saja darahnya itu? sepertinya itu lebih bermanfaat ketimbang harus menimbunnya, karena sepertinya pria itu memiliki darah tinggi yang sudah melebihi ambang batas karena ketika ada senggolan sedikit saja sudah langsung tersulut dan meledak.



"Mari tuan muda kita kembali ke hotel."



Sang asisten masuk dan langsung mengajak tuan mudanya untuk kembali ke hotel tempat mereka menginap selama berada di Surabaya.


Sebenarnya di tiap kota dimana anak perusahaannya berdiri akan selalu ada rumah yang bisa dia tinggali akan tetapi tidak tahu kenapa pria itu malah lebih senang tinggal di hotel.


Mungkin agar bisa cuci mata, bukankah di hotel akan banyak sekali wanita?



Tapi sepertinya pikiran itu tidak perlu lagi dipikirkan karena seorang Saipul Gunawan tidak akan berani cuci mata apalagi sampai melihat wanita lain yang tidak dia kenal.



Tidak dia kenal?


Bukankah itu artinya dia masih akan melirik pada wanita yang sudah dia kenal? hm?


"Mas."



Langkah kaki Ipul yang baru saja akan masuk ke dalam hotel sontak terhenti ketika telinganya mendengar panggilan dari suara yang sangat tidak asing baginya.



Suara yang akan selalu mengingatkan apa yang sudah dia perbuat dulu, hingga ingatannya pun terlempar pada beberapa tahun lalu saat dia baru saja masuk ke kantor sang Papa dan memegang salah satu perusahaan pria yang sudah tenang ditempat lain, tempat yang abadi.



Ipul memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang sedang berdiri di belakangnya dan bola mata Ipul tidak lagi mengerjap dengan mulut yang bergerak menyebutkan satu nama yang membuatnya merasa bersalah.


Pria itu tercenung mematung tak bergerak sama sekali dengan jantungnya yang entah kenapa berdebar lebih cepat, dia merasa jantungnya itu ingin pergi meninggalkan dirinya.


\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2