
Ipul mengembalikan handphone milik sang Mama yang tadi dia pinjam, bahkan saat dia menghubungi Ralen pun ada Mamanya yang sedang duduk dan mendengarkan kala dia berbicara dengan tegas kepada menantunya itu, memintanya pulang hanya dengan dua kata saja dan tidak ada juga kelembutan dari intonasi sang anak.
"Kalian masih belum baik juga? kamu masih menyalahkan Ralen?" tanya Mama Riska menatap sang anak yang kini duduk seraya menggulung lengan kemeja berwarna hitam.
Ipul tahu dengan jelas kemana maksud pembicaraan sang Mama, tentang dia yang sempat mengatakan penyesalan atas pernikahannya dengan Ralen.
Pria yang terlihat lelah itu pun menggeleng, "Mama kan yang minta Ipul buat tidak menyalahkan Ralen, Ipul sudah berusaha bahkan sebelum pergi ke Batam Ipul sudah berbaikan dengan Ralen," sahut Ipul mengatakan kebenaran tentang dia dan Ralen sebelum berangkat dulu.
"Yakin sudah baikan?" tanya sang Mama dengan ekspresi serius.
"Iya, yakin lah Ma."
"Mama sih sebenarnya percaya kalau kalian itu sudah baikan apalagi saat Ralen panggil kamu itu Mas, Mama senang banget dengernya," kata wanita yang sejak tadi menemani anaknya yang sedang kesal karena tidak mendapati istrinya di rumah, padahal dia baru saja datang setelah seminggu lamanya berada di luar kota menangani perusahaan yang nyatanya masih belum juga terselesaikan.
Ipul memutar bola matanya mendengar laporan sang Mama, dia itu tidak peduli Ralen mau memanggilnya karena yang jelas saat ini dia kesal sekali dengan istrinya itu, masih saja belum membuka blokiran nomornya dan juga tidak ada di rumah saat dia pulang, otak kepalanya itu sudah panas sebenarnya namun dia tidak mungkin meluapkan kekesalannya pada sang Mama bukan?
"Ralen itu keterlaluan Ma," sepertinya Ipul memang sudah benar-benar mau menerima Ralen karena sejak tadi pun terus menyebut nama Ralen, tidak seperti yang lalu terlihat sekali bencinya karena menyebut nama Ralen saja sangat enggan.
Mama Riska menggeleng memberi peringatan pada sang anak untuk tidak menceritakan apa yang sudah Ralen lakukan, bukan tidak mau mendengar hanya saja dia tidak mau anak lelakinya itu terkesan mengadu padanya tentang permasalahan rumah tangga takut dia malah jadi berpihak pada salah satunya saja dan kemungkinan besar pada anaknya?
Riska tidak mau seperti itu, terlebih lagi anaknya lelaki sudah sepatutnya bisa bersikap dewasa dalam menjalani masalah yang terkadang tak jarang akan sering terjadi pada pasangan muda apalagi mereka itu menikah tanpa mengenal lebih dalam masing-masing sifat dan karakter, apalagi dengan keduanya yang sama-sama keras.
"Kamu istirahat sana, jernih kan pikiran dan jangan sampai Mama mendengar kalian bertengkar," pinta Mama Riska dengan sorot mata teduh namun terkesan tidak mau di bantah.
Ipul menarik napas lalu bersiap untuk pergi ke kamarnya.
"Selama kamu tidak ada, Ralen menjaga Mama dengan baik, istrimu itu bahkan mengembalikan nafsu makan Mama yang mendadak hilang saat kepergian Papa," terang Riska yang serentak menghentikan niat Ipul untuk melangkah.
"Kamu jangan galak-galak Pul sama istri, Mama tahu sebelumnya kalian dua orang asing yang dipertemukan hingga akhirnya menikah, memang sama-sama belum bisa mengerti sifat masing-masing tapi setidaknya kamu sebagai pria harus banyak mengalah, sebisa mungkin hindari pertengkaran dan cari tahu apa yang istrimu inginkan, wanita akan juga tidak akan marah tanpa alasan yang jelas," tutur Riska lagi memberikan nasihat agar anaknya itu mau mengalah pada seorang wanita terlebih lagi wanita itu adalah istrinya.
Ipul mengangguk lalu berpamitan pada sang Mama untuk beristirahat di dalam kamar, perjalanan panjang serta masalah perusahaan sungguh membuat pusing dan melelahkan otaknya di tambah dengan Ralen yang memblokir dan tidak ada di rumah saat dia kembali.
Mama Riska baru saja selesai mencuci piring ketika mendengar suara motor masuk ke dalam garasi, itu pasti menantunya yang baru saja pulang.
"Kamu blokir nomor suamimu Len?"
Baru saja masuk tapi Ralen sudah di todong pertanyaan dari sang mertua, mau tidak mau dia mengangguk samar mengiyakan pertanyaan itu.
"Lain kali kalau bertengkar dengan suami jangan blokir ya Len, tidak baik," kata Mama Riska.
Tidak adil rasanya jika dia hanya menasehati salah satunya, akan lebih baik dan sangat baik kalau memberikan nasehat pada keduanya terasa lebih imbang dan tidak terkesan menghakimi di posisinya yang seorang mertua dari menantu wanita.
Ralen mengangguk tanpa menyahut, memangnya harus melakukan apa? terlalu sangat tidak baik jika dia menjawab setiap perkataan dari mertuanya.
"Mas mu di atas, temui sana," terang Mama Riska lalu mengelus punggung Ralen dan mengatakan hal agar Ralen tenang.
"Tidak apa-apa, namanya juga pasangan muda bertengkar hal yang wajar asal jangan sampai larut terbawa emosi, Mama harap kalian sama-sama menikah satu kali seumur hidup," tutur Mama Riska mengantar menantunya sampai ke anak tangga, lalu membiarkannya melangkah menapaki undakan demi undakan sampai berada di undakan paling atas.
"Satu kali seumur hidup." Ralen menggumam mengulangi perkataan Mama mertuanya.
__ADS_1
Yah siapapun orangnya pasti menginginkan pernikahan hanya sekali, tapi kalau Tuhan menghendaki yang berbeda manusia bisa apa? tidak bisa memaksa harus bertahan dengan pernikahan yang tidak membuat nyaman karena terlalu seringnya berkonflik dengan pasangan.
Wanita yang masih mengenakan seragam kerjanya itu berdiam diri di depan pintu kamar yang tertutup rapat, mengatur napasnya agar lebih normal, tidak dipungkiri dia merasa sedikit sesak, napasnya terasa berat ketika tahu dia sedang berada dalam masalah.
Dari nada bicara suaminya saat meneleponnya saja sudah bisa dipastikan kalau pria itu tengah menyimpan marah terhadapnya, sepertinya Ralen memang harus menyalahkan dirinya sendiri yang lupa kalau hari ini suaminya kembali dari luar kota.
Sebenarnya dia ini akan bertemu dengan suami atau pergi kemedan perang? kenapa harus mempersiapkan diri dulu.
Ralen mulai mengangkat tangannya guna menjangkau gagang pintu dengan gerakan yang begitu lambat, dia bahkan terjengkit kaget ketika mendengar suara batuk dari dalam kamar sampai tangannya pun refleks membuka pintu.
Ipul yang sedang duduk bersandar di sofa lantas menoleh melihat siapa yang membuka pintu, begitu mendapati wajah istrinya dia pun menghela napas berat lalu mengurut pangkal hidungnya.
"Sudah puas?" sindirnya ketika Ralen melangkah masuk.
"Nggak baca pesan dari Mama," kata Ralen menyimpan tas di samping meja rias.
"Sebelum pergi Lo tanya berapa hari dan gue udah jawab seminggu, seminggu Ralen!" Ipul menegakkan tubuhnya menatap wanita yang menggigit bibirnya bingung mesti menjawab apa, karena memang dia yang salah telah melupakan kapan suaminya kembali.
"Lo bukan cuma blokir gue karena masalah sepele bahkan Lo sendiri lupa kapan gue pulang, istri macam apa yang suami pulang tapi dia malah kelayapan di mall!" tuding Ipul.
Ralen mengernyit guratan wajahnya menampakkan kalau dia bingung, bagaimana suaminya itu bisa tahu kalau dia pergi ke mall? apa Mama mertuanya? tapi seingatnya dia hanya mengatakan akan pergi menemui orang tuanya lalu ke tempat kerja Tika, mertuanya kan tidak tahu kalau Tika bekerja di sebuah supermarket mall.
Ralen malah jadi pusing sendiri memikirkan kenapa suaminya itu tahu bahwa dia kelayapan di mall, apa suaminya ini bisa mencium bau mall di tubuhnya? pemikiran Ralen yang bodoh itu membuat dia mengendus-endus pakaiannya.
Melihat tingkah laku Ralen membuat Ipul mengurut ujung alisnya, sungguh dia tidak pernah menyangka akan memiliki istri wanita yang kelakuannya terkadang aneh dan tak masuk akal, padahal dulu mantan kekasihnya begitu anggun dan selalu tenang.
"Kita cerai aja yuk?" sepertinya Ralen lupa apa yang tadi dikatakan oleh Mama mertuanya, sampai-sampai mulutnya itu melontarkan kata cerai yang sekarang membuat Ipul menatapnya lebih tajam dari yang tadi.
"Lo nggak ngaku salah tapi malah ngajak cerai? Lo mabok?" semprot Ipul beranjak dari duduknya lalu mengunci pintu.
Ralen menggeleng dengan bibir yang terkatup rapat tidak tahu kenapa dia ingin melontarkan perkataan seperti itu, tidak ingin tapi hatinya begitu berhasrat untuk mengakhiri saja pernikahan antara dua orang keras kepala.
"Gue cuma mikir mau sampai kapan kita kayak gini, bukankah akan lebih baik kalau pisah?" Ralen menatap pria yang sudah berdiri di depannya.
Dada sang pria naik turun menandakan tarikan napas yang terburu-buru.
"Ayo kita bilang sama Mama!" kata Ipul menarik tangan Ralen dengan paksa untuk mengikutinya menuju pintu yang tadi dia kunci.
Mendengar kata Mama membuat Ralen menahan tubuhnya berusaha melawan tarikan dari sang suami, baru sadar kalau dia melakukan kesalahan tidak mungkin dia mengecewakan wanita yang baik dengannya bukan?
Ipul menghentikan langkah ketika sampai di depan pintu, menatap pada wanita yang tadi begitu yakin untuk cerai dan dalam sekejap menjadi sangat ragu.
__ADS_1
"Kenapa? Lo mau kayak gitu kan?" bertanya pada sang wanita yang perlahan menggeleng.
"Gue mau mandi, Lo udah mandi belum? Lo udah makan? mau mandi atau makan dulu?"
Ipul mengernyit bingung dengan lontaran pertanyaan dari wanita yang beberapa menit lalu mengajaknya bercerai, tapi sekarang malah mengajukan banyak pertanyaan.
Tangan Ipul pun refleks menyentuh kening Ralen, memastikan kondisi sang istri.
"Kepala Lo nggak panas," celetuk Ipul.
"iiish." Ralen menyingkirkan tangan sang suami dari keningnya.
"Mau mandi duluan apa nggak?" tanya Ralen mulai menunjukkan sikap yang wajar sebagai seorang istri.
Ipul memicingkan mata menelisik apa yang sebenarnya terjadi, kenapa istrinya bisa berubah begitu cepat? apa salah makan?
"Ya udah gue mandi duluan kalau gitu," cetus Ralen lalu melepaskan diri dari pegangan sang suami.
Wanita itu meninggalkan suaminya yang sungguh tidak mengerti dengan sikapnya, terasa sangat aneh baginya.
"kamu jangan galak-galak." Ipul kembali teringat pada perkataan sang Mama.
"Memangnya gue galak?" bertanya pada diri sendiri, tidak sadar bahwa pertama kali bertemu Ralen pun dia begitu galak pada wanita itu, bahkan sampai hari inipun masih saja galak.
******
__ADS_1