
"Keadaan Om gimana Mas?" tanya Zara menyambut kedatangan sang suami dengan pertanyaan.
Sungguh dia sangat khawatir saat mendengar kabar kalau Om Irman, Papa dari Ipul harus masuk rumah sakit karena serangan jantung mendadak, beruntung nyawanya masih bisa tertolong.
"Masih belum sadar," jawab Davi yang memang baru pulang dari rumah sakit menemani Ipul yang sudah dua hari berada di sana.
Pria itu membuka kancing kemejanya lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa sekaligus menarik napas.
"Padahal Om Irman kelihatan sehat tapi kok bisa punya penyakit jantung."
Zara berkata bukan tanpa sebab, karena dia sudah sangat lama mengenal Ipul beserta orang tuanya bahkan sebelum mengenal Davi, dia juga sering main ke rumah Ipul dan tidak ada tanda-tanda kalau Papa dari Ipul mengidap penyakit jantung, sungguh dia merasa tak percaya.
"Kita tidak pernah tahu Za, orang yang sehat sekalipun bisa mendadak meninggal begitu pula orang yang sedang sakit bisa menjadi sembuh jika tuhan sudah berkehendak," jawab Davi memberi pengertian pada sang istri tentang apapun di dunia ini bisa saja terjadi atas kuasa sang maha pemilik semesta.
Zara mengangguk mengerti.
"Kita doakan saja Om Irman segera sadar, Mas nggak tega lihat Ipul terlebih lagi Tante Riska," ucap Davi mengingat apa yang sejak dua hari ini dia lihat.
Tantenya itu terus menangis bahkan sama sekali tidak mau makan, setiap makanan yang di tawarkan selalu di tolak seolah makanan itu adalah musuh baginya.
"Mas mau mandi dulu atau mau langsung makan?" tanya Zara menawarkan pilihan.
"Mandi dulu, gerah banget soalnya," jawab pria yang kini sudah beranjak.
"Ya sudah aku siapin airnya."
Zara mengikuti sang suami yang masuk ke dalam kamar.
Achnaf yang tadinya sudah tidur di dalam boks tidurnya pun terbangun ketika mendengar derap langkah sang Papa di dalam kamar, anak itu menjadi sangat peka, telinganya akan senantiasa mendengar jika ada orang yang datang terlebih lagi itu adalah Papanya.
"Haloo Achnaf, jagoan Papa." langsung menyapa sang anak yang langsung bersuara seperti menjawab sapaan dari Papanya.
Zara mengulas senyum lalu melangkah menuju kamar mandi membiarkan Ayah dan anak itu berbicara meski mungkin tidak saling mengerti.
*******
"Ma."
Ipul yang baru saja datang langsung menemui sang Mama yang selalu berada di samping Papanya.
Riska menoleh pada putranya dengan mata yang sembab juga tampak sekali kelelahan dan kurang tidur, tentunya wanita itu tidak akan bisa tidur setelah apa yang terjadi pada suaminya.
Tiga hari yang lalu di hari Minggu dirinya dan suami begitu bersemangat untuk menemani sang anak melamar seorang gadis.
Tapi kenyataan harus berkata lain, suaminya itu malah terkena serangan jantung dan yang lebih parahnya lagi ialah jatuh di kamar mandi, hingga dirinya kala itu berteriak histeris serta ketakutan yang mengiringi, takut kalau suaminya itu tidak lagi bisa menemani dirinya, takut suaminya itu tidak bisa menyaksikan anak satu-satunya mereka menikah menjadi seorang kepala keluarga dan segala ketakutan yang datang menyergap.
Sebelumnya suaminya itu memang sedang tidak enak badan, mengeluh dadanya sakit tapi saat di paksa untuk memeriksakan diri ke dokter malah dengan kerasa kepalanya menolak.
"Maafin Mama ya nak," katanya ketika Ipul berdiri di sampingnya dengan tatapan mengarah pada pria yang terbaring tak sadar.
"Ini bukan kesalahan Mama." melihat pada wanita yang sejak kemarin meminta maaf.
__ADS_1
Kenapa harus meminta maaf padanya, sedangkan yang saat ini tengah tidak berdaya adalah suaminya, pria yang wanita itu cintai.
"Seharusnya saat kamu sedang bahagia menyusun rencana pernikahan dengan Ralen, seharusnya.."
"Sudahlah Ma, semua yang terjadi memang harus terjadi, bukan kesalahan Papa, bukan kesalahan Mama, juga bukan kesalahan siapapun," sahut Ipul menentang pernyataan Mamanya.
"Tapi Ralen pasti sangat kecewa," katanya Riska memikirkan wanita yang sudah dia setujui untuk menjadi menantunya.
Mengingat Ralen Ipul memijit keningnya, dia belum mengatakan apapun pada wanita itu, tanpa sadar membiarkan wanitanya berkutat dengan segala prasangka buruk tentangnya, dengan segala tuduhan untuknya, padahal inilah kenyataan yang terjadi.
Papanya serangan jantung dan masih belum sadar, handphonenya pun rusak akibat terinjak oleh dirinya sendiri saat tengah mengangkat sang Papa dari kamar mandi dan diapun sampai saat ini baru satu kali datang ke kantor padahal sekarang urusan kantor berada di tangannya, dan mulai saat ini diapun akan mengisi ruangan sang Papa yang berada di lantai 4.
Damar juga mengatakan kalau barang-barangnya sudah di pindahkan, tak ketinggalan dengan sekretaris berdandanan tebal.
"Kamu sudah bicara dengan Ralen?" tanya Riska yang langsung mendapat gelengan kepala dari sang anak.
"Kenapa? dia pasti saat ini bingung kenapa kita tidak datang."
"Ah iya, handphone kamu rusak kan? Damar belum membelikan?"
"Hari ini, sekalian Om Damar salin data-data dari handphone lama Ipul," sahut Ipul yang tampak lelah.
"Ini, pakai handphone Mama, kamu harus berbicara dengan Ralen, kasihan dia," ujar Riska menyodorkan handphone miliknya.
"Tidak usah Ma, Ipul akan bicara langsung dengannya, lagian.." menjeda perkataan membuat sang Mama menunggu dengan raut wajah bertanya.
"Ipul tidak ingat nomornya," katanya seraya sedikit mengulas senyum terpaksa.
Bagaimana mau ingat kalau mengenal Ralen saja belum lama tapi sudah di hadapkan dengan pernikahan yang berawal dari salah paham tapi kini salah paham itu malah menjadi nyata.
Mamanya tidak mengetahui hal ini, Ipul sangat yakin Mamanya itu akan sangat kecewa terhadapnya, anak yang selalu menjadi kebanggaannya malah tega merusak seorang wanita bahkan ketika wanita itu tidak berdaya akibat minuman yang tak sengaja di minum.
__ADS_1
"Dasar!" memukul lengan Ipul.
"Ma."
"Hm," menjawab namun tangannya sibuk merapikan selimut yang menutupi sebagian tubuh sang suami.
"Bagaimana kalau Ipul sudah.." ragu untuk melanjutkan perkataannya.
"Sudah apa?" Riska melihat pada anaknya.
Ipul mengatur napasnya terlebih dulu, "bagaimana kalau yang Mama dan Papa lihat saat di ruangan itu benar-benar sudah terjadi sesuatu antara Ipul dan Ralen."
"Maksud kamu apa sih?" Riska malah jadi bingung anaknya itu sedang membicarakan tentang apa.
"Bagaimana kalau Ipul sudah berbuat tidak baik kepada Ralen, Ipul sudah tidurin Ralen."
Sebenarnya ini adalah sebuah pengakuan tapi seorang Riska yang sangat mengenal dan percaya pada anaknya hanya tersenyum meski awalnya tampak terkejut, namun meyakinkan diri kalau anaknya itu tidak akan mungkin merusak seorang wanita.
Riska memegang kedua bahu sang anak, menatapnya dengan dalam lalu berkata, "Mama sangat mengenal anak Mama, sangat percaya kalau anak Mama tidak akan pernah melakukan hal di luar batas, Mama pun yakin kamu tidak akan mengecewakan Mama apalagi Papa.
Riska mengubah arah pandangan matanya, melihat pada sang suami, "lihat Papamu yang sedang berusaha untuk bertahan jadi jangan membicarakan hal yang tidak pernah terjadi, jangan membicarakan sesuatu yang akan membuat kami kecewa." sejenak hening saat Ipul juga sedang melihat apa yang Riska lihat sekarang.
"Jangan mengatakan yang tidak-tidak, lebih baik sekarang kamu istirahat, besok kamu harus masuk kantor karena Damar bilang akan ada rapat pemegang saham mengenai pengalihan kepemimpinan," kata Riska merapikan rambut anaknya yang berantakan, terlihat jelas kalau anaknya itu tidak sempat menyisir rambut.
Ipul membeku dengan penuturan wanita di depannya, wanita yang biasanya tampil ceria dan yang kerap kali mengomeli dirinya kini seperti tidak ada, membuat Ipul akan merasa bersalah jika menambahnya lagi dengan kenyataan yang sudah dia perbuat hingga akhirnya dia memutuskan untuk tidak mengatakan mengenai dia dan Ralen, mengenai apa yang sudah dia lakukan pada wanita itu.
__ADS_1
Dan yang perlu dia lakukan sekarang adalah menemui Ralen, berbicara dengannya memberikan pengertian agar mau bersabar menunggu sampai Papanya kembali sehat, meyakinkannya kalau dia bukan laki-laki pengecut yang akan lari setelah melakukan kejahatan.
********