Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Belum Juga Pulang


__ADS_3

Sesuai dengan yang sudah dia katakan kepada sang ibu, siang ini Daniya keluar rumah membawa mobilnya.


"Sialan tuh ayam, masa mobil gue dijadiin tempat buat buang kotoran," Daniya mengomel sambil melakukan kendaraannya.


Tadi saat keluar rumah dia mendapati mobil yang dia parkir di halaman depan kontrakan malah dipenuhi oleh ayam yang sedang asiknya berkumpul seperti sedang melakukan gosip yang biasa dilakukan oleh sekumpulan ibu-ibu yang kekurangan kerjaan, dia dengan galaknya mengayunkan sapu lidi untuk mengusir ayam-ayam itu hingga berkaburan kesana-kemari tunggang langgang seperti di kejar monster dan meninggalkan kotoran yang sangat menjijikkan, banyak dan menimbulkan bau.


"Kalau kayak gini mesti cuci dulu, dasar ayam kurang kerjaan! awas aja Lo bakalan gue makan sampai isi perut Lo!" kembali memaki dengan kedua tangan yang mencengkeram kemudi mobil melajukan mobilnya ke sebuah tempat pencucian mobil.


Daniya menunggu mobilnya yang sedang di cuci sambil memainkan handphone, dia tidak mengetahui kalau sekarang ini mobilnya tengah jadi bahan tertawaan petugas pencuci mobil.


"Nih kayaknya yang punya ternak ayam dah," kata salah satu petugas yang tengah menyemprotkan air.


"Bukan peternak, tapi kayaknya yang punya mobil doyan tidur di kandang ayam, jadi ya begini ini," obrolan panjang yang membuat mereka tertawa masih terus berlanjut sampai akhirnya mobil itu sudah kembali bersih bahkan lebih mengkilap tanpa noda sedikitpun.


Daniya sudah kembali berada di jalanan dan kali ini dia menuju kantor milik temannya, teman semasa kuliahnya dulu.


"Hallo Dani." sang teman menyambut kedatangan Daniya di lobby kantornya, sungguh seperti yang datang adalah tamu penting sampai-sampai dia harus turun dari ruangannya yang berada di lantai 6 gedung itu.


"Sangat luar biasa baik dan kamu bisa lihat aku seperti apa sekarang kan?" Daniya tersenyum lebar menyambut pelukan hangat sang teman yang biasa dia panggil Maira.


Ya, Aira Sandra teman kuliahnya yang tahu benar tentang hubungan dia dengan Angga dulu, karena setelah lulus kuliah pun dia masih tetap berhubungan baik dengan Maira, bahkan mereka kerap kali pergi bersama untuk sekedar ke cafe atau tempat hiburan malam.


Dan sekarang tentunya dia akan kembali memiliki teman bercerita setelah kepergian Agatha yang kembali ke Inggris.


Keduanya pun langsung pergi menuju ruangan Maira.


"Aku itu tidak habis pikir kok bisa kamu dan Angga putus padahal yang aku lihat kalian itu saling mencintai bahkan kamu juga mengatakan sudah siap menikah dengannya dan kalian juga telah merencanakan pernikahan lalu.." melanjutkan pembicaraan setelah berada di dalam ruangan.


"Aku jenuh, dia itu membosankan dan kamu tahu aku adalah wanita yang menyenangi tantangan," sela Daniya cepat.


"Alasan mu ini mengada-ada tidak sih? aneh banget kamu ini Dani, semua wanita itu mendambakan pria yang seperti Angga itu, lembut pengertian penuh kasih sayang bahkan dia sangat mencintai kamu dan aku bisa melihat itu dari caranya menatap kamu," tutur Maira menggelengkan kepala.


Daniya mengedikkan bahu, "aku berbeda dengan wanita kebanyakan, aku lebih suka pria yang sedikit galak, pemarah dan pencemburu bukan yang tenang seperti Angga itu, sungguh tidak ada tantangan sama sekali buatku," terang wanita yang kini menyeruput minuman yang baru saja diantarkan oleh pegawai dari sang teman.


Maira menggeleng-gelengkan kepala mengucap kata, "aneh." yang membuat Daniya malah tertawa.


"Sebaiknya tidak usah membahasnya lagi deh, aku rasanya malah jadi suntuk," protes Daniya menjatuhkan punggungnya pada sofa yang dia duduki.


"Kamu ini luar biasa Dani, ckckck." entah ini pujian atau sindiran tentang sifat temannya.


Daniya tidak menggubris pada suara sang teman, dia menikmati ruangan yang terasa sangat menyejukkan sangat jauh berbeda dengan rumah kontrakan yang dia tinggali sekarang.


Rumah? memangnya tempat sekecil itu masih bisa di sebut rumah? Daniya mendecih dalam hati teringat pada ruangan yang lebarnya mungkin tidak lebih dari empat meter, dan kamar yang selalu saja pengap membuat dia rasanya selalu hampir akan mati karena kekurangan oksigen, meski ada jendela namun tetap saja tidak membuatnya puas.


Dia terbiasa dengan kekayaan dan hidup mewah malah harus menderita seperti sekarang.

__ADS_1


Jangan salahkan siapapun karena dia sendiri lah yang membuat hidupnya seperti itu, andai dia menjadi orang baik saja tentu dia tidak perlu menghadapi kehidupan yang begitu.


Dia hanya tinggal memberi maaf pada kedua orang tua kandungnya yang menerima dengan baik kedua adiknya tentu masalah tidak akan jadi rumit begini.


Semuanya menjadi rumit dan menyusahkan karena ulahnya sendiri yang malah dengan jahatnya menginginkan suami sang adik.


Dia ini gila namun tidak mau di sebut gila.


"Aku harus memeriksa laporan dulu, tunggu sebentar tidak keberatan?" tanya Maira yang memang masih menghadapi tumpukan pekerjaan yang ada di atas meja kerjanya.


Daniya mengangguk perlahan lalu setelahnya berbicara, "bagaimana kalau nanti malam kita pergi ke klub?!" tidak tahu ini pertanyaan usul atau ajakan yang jelas Daniya mengatakannya dengan wajah yang penuh harap.


Berharap sang teman mau pergi bersamanya, menemani dirinya pergi ke tempat hiburan malam karena sungguh dia bosan sekali kalau harus pulang ke rumah kontrakan yang sempit itu, sesak dan panas!


Maira menghentikan tangannya yang tengah bergerak membuka lembaran map di atas meja, "tidak masalah, asal kamu mentraktirku," cakap Maira sambil terkekeh.


"Aku tidak salah dengar? kamu minta traktir pada seorang pengangguran sepertiku? yang benar saja Amara." Daniya mencebikkan bibirnya.


"Kamu pengangguran tapi uangmu sangat banyak Dani, aku tahu itu dan kamu tidak bisa menipuku," papar Maira memasang wajah memaksa.


"Aku hanya anak angkat dan kamu tahu itu," tutur Daniya.


"Ya, aku sangat tahu dan tidak akan lupa tapi kamu juga harus ingat kalau semua harta orang tua angkat mu itu sudah diwariskan untukmu dan itu mutlak! tidak bisa di ganggu gugat," pembahasan mereka sekarang malah tentang harta dan warisan yang memang menjadi milik Daniya.


Tentu saja karena meskipun dia anak angkat namun Papa dan Mamanya benar-benar menjadikanya seolah putri kandung yang selalu dilimpahi dengan kasih sayang serta kemewahan, dia memang sangat beruntung namun entah kenapa semua keberuntungan yang dia miliki seolah tidaklah cukup.


Tidak akan jadi masalah baginya, karena apa yang dikatakan oleh Maira memang benar.


"Aku dengar-dengar kamu sudah bertemu dengan.."


"Jangan bahas tentang mereka kalau masih mau aku traktir!" kata Daniya memperingatkan.


Dia ingin mendapat hiburan dengan pergi keluar dari rumah tapi temannya malah ingin membahas tentang orang tua kandungnya, bukankah itu sangat menyebalkan?


Maira mengerti, diapun mengangkat tangan lalu membuat lingkaran dengan ibu jari dan telunjuknya.


"Seperti itu jauh lebih baik," kata Daniya dengan wajah datar.


Kedua wanita itu sekarang sudah berada di tempat hiburan malam, duduk berdua di dekat meja seorang bartender yang dengan sigap meracik minuman, menyesap minuman sambil menikmati alunan musik yang terdengar bising namun anehnya banyak orang yang malam makin larut dan menggoyangkan tubuh meski tidak harus berdiri.


"Malam ini aku menginap di rumahmu aku tidak mungkin pulang ke kontrakan karena aku pasti akan mendapat ceramah dari adik kurang ajar ku."


Yang dia maksud adalah Arda, tentu saja sebab Arda tidak akan membuang kesempatan untuk berceramah panjang lebar padanya.


"Tidak masalah," sahut Maira santai.

__ADS_1


Di tengah riuhnya musik tiba-tiba saja Daniya menghentikan gerakan tubuhnya, menatap tak percaya pada apa yang dia lihat.


"Tunggu dulu, aku sepertinya mengenal wajah itu." Daniya berkata sambil mempertajam penglihatannya.


Maira mengikuti kemana tatapan Daniya sekarang, melihat pada seorang pelayan wanita yang berpakaian ketat yang tengah mengambil pesanan yang sudah dibuat oleh bartender.


Kalau sudah seperti ini Daniya bingung harus marah atau tidak? sebab wanita yang dia lihat ini adalah wanita yang sama seperti yang dia lihat dari foto yang dikirimkan oleh seorang temannya.


Ingin marah tapi nyatanya wanita itu mungkin yang akan membantunya untuk bisa memisahkan Awan dengan Ralen, setidaknya hal itulah yang sekarang ada di dalam pikirannya.


"Bagus! wanita malam seperti ini paling hanya di jadikan hiburan saja setelah puas akan di buang ke tempat sampah," katanya yang akhirnya tersenyum sinis menganggap wanita yang sekarang sudah pergi mengantarkan pesanan pada tamu di tempat itu bukanlah saingan yang harus dia takutkan.


"Sepertinya kamu memang sangat bermanfaat untukku."


"Kamu ngomong apa?" tanya Maira bingung melihat mulut Daniya yang bergerak serta samar-samar dia mendengar Daniya berbicara.


Daniya mengedikkan bahu lalu mengangkat gelas mengajak Maira bersulang seperti tengah merayakan kemenangan.


****


Tidak dapat di duga oleh Ipul kalau waktu ternyata sudah berlalu dengan begitu cepat, dia yang berada di jalanan untuk mencari istrinya tidak juga dapat menemukannya.


Semua tempat yang dia rasa akan didatangi oleh sang istri juga telah dia datangi namun hasilnya nihil, istrinya yang sedang hamil tidak juga dia temui sampai sekarang langit sudah benar-benar menjadi sangat gelap dan jalanan perlahan mulai sepi.


Tidak banyak kendaraan yang berada di jalanan pada jam yang sudah menunjuk di angka dua pagi.


"Jelita.." suara Ipul menderu perlahan, kecemasan melingkupi dengan amat jelas dari sepasang netranya yang sudah lelah.


Pria itu bersungguh-sungguh mencari istrinya tapi istrinya seolah bersembunyi di bawah tanah membuat dia tidak bisa menemukannya jika tidak menggalinya.


"Oh ya tuhan.." meremas kepala dan menarik rambutnya sendiri.


Frustasi tergambar jelas di wajahnya, Ralen tidak kunjung ketemu sedangkan di rumah sejak tadi Mamanya terus mengirimkan pesan menanyakan bagaimana menantunya, sudah ketemu atau belum.


Dia berhenti di tepi jalan tidak mungkin dia pulang ke rumah jika Ralen belum bersamanya, ancaman sang Mama benar-benar membuatnya tidak akan bisa pulang.


Ini artinya sudah hari ketiga sejak Ralen meninggalkan rumah di pagi hari dengan membawa motornya.


Sudah tiga hari dan dia juga masih tidak bisa menghubungi wanita itu.


"Kalau memang kamu marah dan ingin menenangkan diri setidaknya aktifkan handphone mu Jelita, agar aku bisa mengetahui kamu ada dimana." tutur Ipul saat untuknya sekian kalinya dia mencoba menghubungi kontak sang istri, akan tetapi yang dia dapatkan adalah nomor itu tidak masih juga tidak aktif.


"Aku salah, aku sangat salah sama kamu," katanya terus berulang menyesali apa yang sudah dia lakukan, perkataannya memang sangat menyakiti sang istri dan dia juga sangat keterlaluan.


Dokter sudah berulang kali mengingatkan dirinya untuk tidak membuat sang istri stres atau berpikiran yang berat.

__ADS_1


Sekarang bukan hanya pikiran berat yang harus diderita oleh Ralen, tapi juga sakit hati dan kecewa atas perbuatannya.


****


__ADS_2