
Langit masih nampak gelap dengan bulan serta bintang yang menjadi penghias malam dengan semilir angin yang mengoyak menembus satu kamar di gedung bertingkat dengan jendela yang sengaja di biarkan terbuka sedikit, seolah ingin mengobati sesak yang mengelilingi.
Seorang pria dengan tubuh atas terekspos dan hanya mengenakan celana panjang hitam dengan ikat pinggang yang belum terpasang, duduk di tepi tempat tidur menunduk lalu membungkus kepalanya dengan kedua tangan.
Sedang di atas lantai dekat kakinya berserakan kemeja serta gaun serta pakaian dalam wanita, tubuh tegap itu bergerak naik turun menghembuskan napas teramat berat, menyesali apa yang sudah dia perbuat.
Dia menjadi seorang bajingan, laki-laki brengsek hanya dalam satu malam.
Sedang di belakangnya tangisan lirih memilukan terdengar jelas di gendang telinga, seorang wanita yang tengah duduk memeluk tubuh yang ditutupi oleh selimut putih.
Sudah lebih dari satu jam Ralen menangis tak berdaya akibat apa yang sudah terjadi, sebuah kesalahan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Tadi dia memang minta untuk tidak di antar pulang karena takut oleh orang tuanya jika pulang dalam keadaan mabuk, akan tetapi dia tidak pernah meminta untuk di bawa ke hotel lalu..
"Aaaaaahhhhh," Ralen berteriak memukul-mukul tempat tidur.
Mendengar itu Ipul pun bergegas menghampirinya langsung mendekapnya penuh penyesalan, rasa bersalah jelas mendominasi tapi tetap tidak bisa membuat mereka mengembalikan keadaan seperti semula, semua sudah terjadi dan dirinyalah orang yang paling bersalah saat ini.
Ralen tetap menangis dengan pilu bahkan suaranya hampir habis, terlihat jelas betapa malang nasibnya kali ini, ditiduri oleh pria yang belum menjadi suaminya bahkan kini yang ada dalam pikiran Ralen pria yang baru menidurinya itu akan menolak untuk bertanggung jawab.
Bukankah apa saja bisa terjadi? pikirannya pun mulai bercabang ke segala penjuru.
"Gue akan tanggung jawab," tutur Ipul mengulang lagi perkataan yang hampir puluhan kali dia katakan malam ini, bahkan setelah dia menuntaskan bisikan setan yang tidak bisa dia tolak, bahkan tadi saat mereka masih berada di dalam mobil Ipul sudah tidak bisa mengendalikan diri, seluruh bagian tubuh Ralen sudah tersentuh olehnya yang makin membuatnya kehilangan kesadaran kala Ralen menunjukkan raut wajah menggoda efek dari minuman yang sudah wanita itu minum.
"Bohong!" seru Ralen tak percaya.
Yang ada di dalam kepalanya saat ini adalah pria yang sudah merenggut kesuciannya itu akan kabur dan menghindar darinya karena mungkin inilah yang sebenarnya pria itu inginkan.
Ipul mendekap erat tubuh yang senantiasa bergetar itu lalu matanya menatap pada noda merah yang ada di selimut yang berwarna putih menjadikannya begitu nyata.
Selimut yang tadi menjadi alas mereka melakukannya, membuat tatapannya terpejam mengingat betapa dia dengan kasarnya mendorong Ralen lalu menindihnya bahkan ketika wanita itu mencoba menyelamatkan diri sampai akhirnya malah pasrah dengan perbuatanya.
"Orang tua gue akan datang hari Minggu, kita menikah secepatnya," ucap pria yang tak kuasa melepaskan dekapan.
Masih mendekap sampai dia merasakan wanita di dalam dekapannya itu perlahan menjadi sedikit tenang meski sesenggukan masih terasa jelas, Ipul pun mengurai dekapannya lalu tangan yang tadi dengan kurang ajarnya bermain di tubuh Ralen terangkat guna menghapus air mata yang membanjiri wajah wanita yang mulai malam ini bukan lagi seorang perawan karena perbuatannya.
__ADS_1
"Kita pulang sekarang ya, Ayah sama Ibu Lo pasti sudah khawatir," katanya sambil kali ini menyingkirkan anak rambut serta merapikan rambut Ralen yang berantakan.
Ralen mengangguk, menjadi lebih tenang mulai menaruh keyakinan pada ucapan pria di depannya, hari minggu cuma tinggal dua hari dan itu tidak lama, apalagi beberapa hari yang lalu dia juga mendengar sendiri kalau orang tua sang pria memang ingin mereka menikah akibat kesalahpahaman.
Tapi nyatanya setelah hari ini kesalahpahaman itu justru menjadi kenyataan, mereka sudah tidur dan berbagi peluh lupa diri kalau mereka sudah melakukan kesalahan besar.
"Ke kamar mandi dulu," kata Ipul yang diangguki oleh Ralen.
Wanita itu dengan sudah payah mencoba bangun tapi rasa nyeri di bagian bawah tubuhnya malah membuat dia meringis tertahan.
"Mau gue gendong?" tawar Ipul.
"Nggak perlu, gue bisa sendiri," tolak Ralen membenarkan selimut yang melorot.
Selimut itu kini satu-satunya yang melindungi tubuh polosnya dari tatapan mata Ipul yang rasanya percuma karena pria itupun sudah melihat semua tubuhnya bahkan merasakannya.
Ipul memunguti semua pakaian milik Ralen lalu memberikannya, Ipul bisa melihat tangan Ralen yang bergetar saat menerima pakaian yang dia ulurkan, setelahnya wanita itu berjalan pelan ke kamar mandi, sangat hati-hati mungkin rasa sakit di bagian bawahnya semakin terasa kala wanita itu berjalan.
Saat pintu kamar mandi tertutup Ipul menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan berat, tidak pernah dia terpikirkan akan melakukan tindakan sebejat ini terhadap wanita, menodainya hanya karena bisikan nafsu, bukankah seharusnya dia bisa menahan diri?
Suara pintu yang terbuka membuat Ipul yang sedang berdiri di dekat jendela menoleh, berjalan mendekati Ralen yang akan keluar dengan gaun yang sudah kembali Ralen pakai.
Mata Ipul melihat pada bagian atas dada Ralen yang terlihat akibat bentuk kerah gaun berbentuk v, ada tanda merah yang tadi dia buat dan sangat terlihat jelas, siapapun akan melihat tanda itu adalah yang bahkan tidak hanya satu melainkan tiga dengan jarak yang berdekatan.
"Sebentar," kata Ipul.
__ADS_1
Pria itu lalu beralih pada jas yang ada di tepi ranjang, membawanya kepada Ralen.
"Pakai ini." langsung saja memakaikan jas pada tubuh Ralen agar tanda merah tidak lagi terlihat.
Ralen hanya dia membiarkan Ipul memakaikan jas pada tubuhnya, wajahnya terlihat menegang kala tatapan mata Ipul menatap dalam kedua bola matanya yang sudah kembali bergetar.
Dia masih ingin kembali menangis, menangis di depan pria yang sudah merenggut miliknya yang berharga, ini terlalu menyedihkan bahkan selama ini dia tidak pernah menangis di depan orang tuanya sendiri memilih menyembunyikan apa yang dia rasakan.
"Puasin nangisnya," pinta Ipul menarik Ralen ke dalam pelukannya.
Dan benar saja, Ralen langsung menangis menumpahkan semua air mata yang seperti tak lelah untuk membasahi wajahnya.
Tubuhnya kembali bergetar di dalam pelukan sang pria yang mengelusnya dan membiarkan kemejanya basah oleh air mata yang Ralen curahkan.
Ini kesalahannya sudah sepatutnya dia melakukan ini, sebagai pria dia akan mempertanggung jawabkan apa yang sudah dia lakukan meski dalam hati masih mempertanyakan perasaannya terhadap Ralen.
Murni cinta atau sekedar bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*