Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Mencoba Kabur?


__ADS_3

"Mampus gue!"


Mulut Ralen tak sengaja mengumpat kala sepasang mata di depan sana terus memicing padanya lalu seulas senyum tak terbaca terbit dari bibir sang anak bos.


"Kenapa Len?" tanya Ratu.


"Enggak apa-apa."


"Enggak apa-apa tapi kok muka Lo pucat banget, sakit ya? apa terpesona sama si anak bos," goda Ratu saat menangkap tatapan mata Ralen malah terpaut pada sosok di panggung aula.


Ralen mendelik diiringi dengan dengusan napas tak kasat mata.


Mulut tidak menanggapi godaan demi godaan yang Ratu lancarkan untuknya, sebab saat ini kepalanya sedang sangat sibuk bergerilya memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa menghindari si cowok songong yang pada kenyataannya adalah anak dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja.


Mungkin jika hanya anak bos saja Ralen bisa bersikap biasa, tapi nyatanya masalah yang timbul antara mereka membuat kepala Ralen berputar sekian derajat dengan sangat cepat di tambah dia bekerja di lantai yang sama dengan pria itu.


Oh ya Tuhan Ralen harus benar-benar memohon ampun pada sang penguasa semesta karena semalam sudah menambah masalah dengan seenaknya menyuruh anak bosnya itu membantunya membersihkan setiap sudut ruangan di lantai 9.


Ralen menggosok-gosokkan kedua tangannya yang berkeringat kala melirik pada pria di depan sana yang masih saja menatap padanya.


Sungguh di atas kepalanya seperti ada bom yang siap meledak dan membuatnya hancur berkeping-keping bahkan mungkin tak berbentuk.


Diam-diam Ralen menggerakkan kakinya, langkah yang begitu patah-patah hingga temannya sendiri pun tidak menyadari kalau dia sudah menjauh dari aula yang terasa penuh dengan aura mistis, mistis karena sepasang mata yang terus saja menatap padanya di tengah perkenalan resmi itu.


Sadar sudah berada di tempat yang aman Ralen pun segera bersandar pada tembok gedung tinggi itu, memegangi dadanya yang bergemuruh seakan tidak lagi bersahabat dengannya.


"Mimpi mimpi, ini cuma mimpi," lirih Ralen lalu tangannya mencubit kulit lengannya sendiri.


"auuw." meringis kesakitan.


"Bukan mimpi, huaa ibuuuuu," rengeknya lirih menyadari hari ini bukan hanya sekedar mimpi.


Mata Ipul memicing mendapati wanita yang menyusahkan dirinya tadi malam sudah kabur entah kemana.


Pria yang kini memakai setelah pakaian formal itupun tersenyum tipis lalu kembali fokus pada acara perkenalan dirinya itu.


Mulut Ralen sudah tak bisa diam, menggerutu sedemikian rupa bersungut tiada henti mondar-mandir di pantry lantai 8 menunggu sang supervisor guna mengajukan negosiasi yang sudah disepakati.


Ah meski harapannya sangat tipis tapi wanita itu tetap harus berusaha mencobanya lebih dulu bukan?


"Bu," panggil Ralen begitu mendapati sosok wanita yang sedari tadi dia nantikan.


"Lah kamu disini? dari tadi dicariin loh kok di aula nggak ada." heran Bu Dita mendapati anak buahnya malah berada di pantry satu lantai di bawah lantai yang harusnya wanita itu kini berada.


"Tadi kebelet pipis, hehe," sahut Ralen berusaha menunjukkan sikap tenang.


"Dasar, ya sudah sana kembali ke lantai 9, mulai hari ini tugas kamu di sana," ucap sang supervisor mengusir anak buahnya yang banyak sekali bicara.


Namun Ralen justru tidak bergerak satu centi pun dari tempatnya berdiri sejak tadi, layaknya patung penghias pantry dengan wajah yang sedikit kaku dan mulut yang menganga hendak mengutarakan isi hatinya.


"Kenapa masih disini aja Ralen!" sentak Bu Dita gemas dengan tingkah anak baru yang baru bekerja dua Minggu, "itu Safiq aja sudah ada di lantai 9 sekarang Len," tambah Bu Dita.


Mendengar nama Safiq si OB baru yang sebenarnya malah kembali membuat Ralen pusing, rasanya mau pingsan saja jika ingat kalau tadi malam dia sudah memperbudak anak sang pemilik perusahaan.


Urusan tentang uang belum selesai malah menambah masalah, rupa mu sungguh melas Ralen.


"Aku boleh tuker.."

__ADS_1


"Nggak boleh! balik ke lantai 9 sekarang juga atau saya laporkan kamu pada Pak Amaris!"


Langsung memberikan penolakan padahal Ralen pun belum menyelesaikan perkataannya, dan masih harus di tambah dengan ancaman akan melaporkan dirinya pada Amaris sang HRD yang meksipun berwajah lumayan tapi cukup galak.


"Bu.." Ralen seperti anak kecil yang merengek tapi tetap saja apa yang dia lakukan itu tidak membuat sang supervisor menjadi iba, wanita itu malah mendorong tubuhnya agar segera enyah dari hadapannya.


Setelah Ralen pergi mulut supervisor itu terus mengoceh sendirian, "anak bos yang request mana bisa di tukar-tukar seenaknya," katanya seraya mengambil gelas lalu mengisinya dari air yang ada di dalam dispenser.


"Tamat sudah riwayat gue," cerocos Ralen saat berada di dalam lift dengan kedua matanya yang menatap langit-langit dan kedua kakinya yang bergerak tak jelas seperti tengah mengisyaratkan kalau saat ini dia tengah sangat tegang dan cemas akan apa yang akan dia hadapi di lantai 9.


Ting


"Selamat datang di lantai keramat," kata Ralen ketika lift terbuka.


Sepertinya wanita ini menjadi tidak waras karena kelakuannya sendiri, lihat saja sejak tadi dia terus mengoceh mengucapkan apa saja saat hanya sendirian, menjadi gila karena tidak pernah mengira kalau hal seperti ini akan terjadi padanya.


"Apa judul novel yang tepat? 'semalam aku memperbudak anak Bos'? atau 'aku memakai uangnya anak Bos' atau mungkin anak bos ku sangka OB?" Ralen dengan gilanya malah membuat judul novel.


Wanita itu berjalan lunglai tanpa semangat menuju tempat penyimpanan alat yang menopangnya dalam melakukan tugasnya.


Tidak ada semangat yang terlihat di wajahnya seperti hari-hari kemarin.


"Pagi Mbak Ralen," sapa Safiq begitu melihat Ralen muncul.


"Haduuuh."


Bukannya menjawab sapaan pemuda berusia 18 tahun dan baru lulus SMA itu, Ralen malah seperti orang yang frustasi.


Frustasi karena begitu melihat Safiq untuk sekian kalinya dia ingat kejadian tadi malam, rasanya jika sudah berhubungan dengan OB baru di lantai 9 membuat dia ingin pingsan.


Ralen yang sudah berhasil melewati ruang yang di tempati oleh Ipul malah kembali memundurkan langkahnya, lalu di balik tembok kepalanya menyembul sedikit ketika melihat ada dua orang pria dan wanita yang sedang berbincang.


Yang pria Ralen kenal, dia bernama Damar asisten dari sang pemilik perusahaan sedangkan yang wanita Ralen hanya kenal wajahnya saja sedangkan namanya dia belum tahu.


"Itu bukannya yang di divisi Humas ya? siapa tuh namanya?"


"Mbak Mega."


Ralen yang niatnya hanya berbicara serta bertanya pada dirinya sendiri malah di buat kaget dengan suara yang muncul di belakangnya, tubuhnya bahkan terlonjak hingga hampir saja membentur tembok.


"Mbak Ralen gimana sih, kerja duluan Mbak tapi malah nggak kenal sama orang-orang yang kerja disini," ejek Safiq.


"Berisik!" omel Ralen lalu melenggang begitu saja.


"Gue lagi stres." Ralen bersungut-sungut sendiri menuju ruang rapat.


Di dalam ruangannya Ipul duduk bersandar di kursi kerja yang mulai saat ini akan menghabiskan waktu bersamanya di perusahaan itu.


"Jadi kita akan mulai mengerjakan apa?" tanya Ipul sambil memainkan bolpoin di atas meja dengan tubuhnya yang bergerak menggoyang kursi yang di bagian bawahnya menggunakan roda.


Damar yang memang di perintahkan oleh atasannya untuk menjadi asisten sang anak pun segera beralih pada lemari berkas di sudut ruangan, membuka pintu kaca lalu mengeluarkan setumpuk berkas dan membawanya menuju pria muda yang mulai hari ini akan selalu dia dampingi saat berada di kantor.


"Mempelajari dan memahami semua proyek yang sudah berjalan maupun yang masih dalam tahap diskusi," meletakkan berkas di atas meja lalu membuka salah satunya.


"Sepertinya untuk hari pertama, ini terlalu berat," tutur Ipul.


Damar mengernyit bingung, bukankah tadi tuan mudanya itu sendiri yang menanyakan tentang harus mengerjakan apa, lalu kenapa sekarang malah seperti menolak? kalau memang sudah punya bayangan sendiri mau melakukan sesuatu ya sudah lakukan saja, tidak perlu bertanya yang hanya sekedar basa-basi saja.

__ADS_1


"Saya ingin berkeliling area lantai 9 ini saja," kata Ipul menginterupsi keheranan yang menerpa sang asisten senior di depannya.


Pria berusia 25 tahun itu beranjak dari duduknya berjalan menuju pintu tapi kemudian berhenti setelah pintu terbuka dan menoleh pada pria yang tetap berdiri di tempatnya tidak bergerak sedikitpun, "kalau Om mau ikut silahkan, tidak mau ikut juga silahkan," pungkas Ipul lalu melanjutkan langkah.


Damar tidak tahu ini perintah, pertanyaan atau pernyataan? baru hari pertama dan dia sudah di buat pusing oleh anak dari atasannya.


"Sepertinya harus sedia Paracetamol di kantong," gumamnya lalu mengambil keputusan untuk mengikuti tuan mudanya yang sudah lebih dulu pergi.


Tujuan Ipul saat ini adalah pantry.


"Dimana?" tanyanya begitu memasuki pantry yang hanya ada satu orang saja di dalamnya.


Safiq langsung menoleh begitu mendengar suara yang mendadak terdengar.


"Maaf tuan?"


Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba saja malah membuat Safiq dan Damar saling tatap, bingung apa dan siapa yang sedang di cari oleh sang anak bos calon pemimpin perusahaan.


"Kebersihan, petugas kebersihan satu-satunya di lantai ini, mana dia?"


Menjelaskan dengan sangat jelas, jika tidak mengerti juga sepertinya Ipul cukup banyak waktu untuk membuat pantry yang sudah tertata rapi itu kembali berantakan seperti tadi malam.


"Sepertinya membersihkan toilet atau ruang rapat," sahut Safiq memberikan dua opsi kemana Ralen saat ini.


"Ruang rapat atau toilet?!" tanya Ipul tak senang dengan jawaban yang bercabang.


Safiq menjengkit lalu wajahnya terlihat sedang berpikir, "ruang rapat Tuan," jawabnya setelah yakin.


"Ok, lanjutkan pekerjaan mu," katanya lalu menjentikkan jari dan pergi begitu saja.


Damar tentu saja setia mengikuti layaknya anak ayam yang takut kehilangan induknya menyusuri lorong guna mencapai tujuan sang Tuan muda.


Ralen yang kebetulan akan menutup pintu setelah selesai membersihkan ruang rapat pun mendengar langkah-langkah kaki yang mendekat, wanita itu memasang telinganya baik-baik agar bisa mendengar suara dua orang yang sedang berbicara.


"Gawat!" serunya panik begitu di belokan melihat dua orang yang sedang mengarah padanya.


Dengan cepat dia mencoba kabur dari tempatnya berada sebelum dua orang yang tengah saling mengobrol itu melihatnya.


Ralen tidak bisa berlari karena akan menimbulkan suara, tapi langkah kakinya dia buat secepat mungkin mencari tempat yang aman, wanita itu terlihat begitu repot sebab harus membawa peralatan bekerjanya, meski begitu dia sukses menghindar dari Ipul yang tidak sadar akan keberadaannya tadi.


Damar segera membuka ruang rapat dan tidak mendapati siapapun.


"Tidak ada siapa-siapa Tuan," lapor sang asisten membuka pintu lebih lebar membiarkan Tuan mudanya melihat sendiri.


Setelah mendapati ruangan itu memang kosong Ipul pun segera beranjak, tujuannya kali ini adalah toilet.


Langkah pria itu cepat sampai tak lama berubah menjadi lambat ketika mendengar suara kasak-kusuk di dekat meja tinggi di pojokan dekat jendela.


Ssssstttttt.


Memberi kode pada Damar untuk tidak bersuara.


Kedua pria itu mendapati alat yang di bawa oleh petugas kebersihan tersimpan di dekat pintu tak jauh dari mereka berdiri sekarang.


"Oh, mencoba kabur?"


*******

__ADS_1


__ADS_2