
Damar menyaksikan bahkan tubuhnya tersentak kaget saat melihat dan mendengar suara pintu yang di tutup dengan cara di banting hingga menimbulkan suara menggelegar, untunglah pintu hotel itu terbuat dari bahan yang berkualitas jadi siapapun tidak perlu takut pintu itu akan rusak akibat perbuatan seorang istri dari pria yang tadi terlihat tidak berkutik bahkan seperti tidak punya kuasa untuk melawan singa betina yang kembali mengamuk.
Tubuh Ipul masih tidak bisa berdiri dengan tegak sebab tangan istrinya masih berada di telinganya, menjepit menggunakan kedua jari, sungguh telinga pria itu sudah sangat merah dan sebentar lagi mungkin akan terasa kebas karena kuatnya tenaga si wanita yang tersulut emosi.
"Akhir-akhir ini kamu sering sekali marah Jelita," Ipul mengeluarkan pendapatnya tentang sang istri yang menjadi sangat sensitif dan lebih galak dari yang dia kenal dulu.
Ralen menghentikan langkah lalu menatap pria yang baru saja menyuarakan tentang dirinya yang memang gampang sekali marah.
Mata Ipul memelas kala bertatapan dengan Ralen, tampak memohon untuk dilepaskan karena dia merasa telinganya sudah tidak ada, benar-benar kebas.
Iba, akhirnya Ralen pun melepaskan telinga sang suami yang sejak tadi menjadi sasarannya, tadi sebenarnya dia ingin menendang gedung pencakar langit milik suaminya agar tidak berani macam-macam, tapi kalau itu dia lakukan bukankah dia akan rugi sendiri, karena benda itulah yang selalu membuatnya tidak berdaya.
Ipul menggosok-gosok telinganya yang sudah sangat merah akibat perbuatan wanita yang saat ini menatapnya dengan mata yang berkilat.
"Jangan lupakan kesalahanmu Jelita," tutur Ipul membuka jas yang dia pakai lalu melemparnya ke sembarang arah, tidak peduli jas itu mendarat dimana.
Alis Ralen saling bertaut mendengar ucapan sang suami, bisa-bisanya suaminya itu malah mengingatkan kesalahan dirinya saat dia melakukan kesalahan yang hampir meledakkan kepalanya.
"Aku sudah katakan untuk kembali sebelum aku, tapi apa yang kamu lakukan? bahkan kamu berbohong mengatakan sudah kembali tapi nyatanya belum," kali ini sepertinya Ipul memiliki strategi menyerang, countre attack kah?
Pria yang tengah menggulung lengan kemejanya itu sudah sangat siap untuk memberikan jawaban, bantahan juga perlawanan andai kata Ralen kembali menyerang dirinya, tapi sepertinya dugaannya itu salah persiapannya sia-sia sebab yang dia dapatkan sekarang adalah koper miliknya yang tengah di dorong keluar dari kamar ke ruang tengah hotel itu.
"Apa ni sekarang?" bingung Ipul melihat penuh tanya, terlebih ketika Ralen kembali masuk ke dalam kamar lalu membuka lemari dan mengeluarkan kemeja celana jas pakaian dalam serta dasi lalu membawanya keluar, sama seperti yang tadi dilakukan oleh sang istri.
Kepala Ipul menoleh kiri kanan mengikuti pergerakan istrinya dan terhenti ketika sang istri berdiri di hadapannya.
"Kamu tidur di luar!" Ralen mendorong dada suaminya yang membelalakkan mata terkejut dengan perkataan yang baru saja dia dengar.
"Hah? aku tidur di luar? jangan ngelindur Jelita, aku tidak akan bisa tidur tanpa kamu!" lontar Ipul mempertahankan diri agar tidak terdorong keluar kamar.
"Kesalahan kamu lebih besar tapi omongan kamu juga menyebalkan," desis Ralen mendorong dengan sekuat tenaga pria yang ukuran tubuhnya bahkan lebih tinggi darinya.
"Oke oke sayang, aku minta maaf, aku ngalah aku ngaku salah, udah ya aku jangan di suruh tidur di luar," bujuk Ipul mengaku salah ketimbang harus tidur sendirian tanpa bisa melakukan apapun yang sudah menjadi kegemarannya.
Ralen berdecih tidak mau mendengarkan ocehan sang suami yang sekarang bertahan di ambang pintu dengan kaki serta tangan yang melebar melebihi tiang penyanggah pintu agar wanita yang tengah mendorongnya kesulitan.
Mata Ralen melotot dengan deru napas kekesalan yang luar biasa, "kamu keluar atau aku tendang?" Ralen mengancam dengan mata yang tertuju pada anggota tubuh yang menjadi kebanggaan suaminya.
Mata Ipul melebar tak percaya apalagi saat istrinya sudah mengangkat lututnya seperti tengah mengambil ancang-ancang untuk membuktikan ucapannya.
Ipul pun refleks menutup asetnya dengan kedua tangan, "jangan begitu sayang, ini kan yang tiap malam membuat kamu tersenyum senang," celetuk Ipul membuat wajah Ralen memerah.
Rasa malu menyeruak tapi emosinya tetap saja memuncak hingga dia tidak mau peduli dengan ucapan suaminya yang memang sengaja mengatakan itu agar dia tidak mengusirnya dari kamar.
Brak!
Ralen menutup pintu begitu berhasil mendorong tubuh suaminya keluar dari kamar.
"Astaghfirullahaladzim," Ipul mengelus dada lalu menggeleng kepala dengan kelopak mata yang tak berkedip sekalipun.
__ADS_1
"Baru mau counter attack malah udah di tackle duluan," ujar Ipul lalu mengacak rambutnya meratapi nasib yang harus tidur sendirian di ruang tengah.
"Dia pikir aku tidak bisa membaca akal bulusnya? sengaja mengungkit tentang keterlambatan padahal dia melakukan hal yang sangat menyebalkan, memangnya dia tidak bisa menepis tangan si Dani-Dani itu apa, malah kayak menikmati banget!" sungut Ralen mengingat apa yang dia lihat tadi.
"Beraninya wanita itu mengatakan menunggu suamiku di Jakarta, sebenarnya wanita itu punya malu atau tidak?! penampilannya saja yang terlihat cerdas tapi otaknya kosong! seenaknya saja menempel pada suami orang!" Ralen mengutuk tanpa henti wanita yang akhirnya dia temui di alam nyata, wanita yang datang di mimpinya berturut-turut ternyata sangat menyebalkan.
****
Malam hari saat langit sudah semakin gelap dan udara terasa begitu sejuk tapi kesejukan itu sepertinya tidak menular pada suasana di dalam rumah mewah dengan lampu-lampu yang menyala menerangi setiap sudut ruangan.
Di dalam rumah itu ada banyak ketegangan yang menjadi momok menakutkan bagi siapapun yang melihat.
Sekarang di ruang tamu rumah besar itu Daniya dan Mama angkatnya tengah berhadapan dengan empat orang yang terus menyorot padanya.
Satu orang sudah sangat Daniya kenal, pria yang dia tinggalkan kini menatapnya datar tak ada lagi tatapan penuh cinta seperti yang dulu pernah dia terima, pria itu adalah Angga yang kemarin malam memintanya untuk datang ke Jakarta mengatakan ada hal penting yang ingin pria itu sampaikan.
Tapi rupanya hal penting menurut Angga, bukanlah hal penting untuk Daniya, bayangkan saja hal penting yang Angga katakan itu adalah menyangkut keluarga kandungnya, dan ya ketiga orang lainnya itu adalah keluarga kandungnya.
Ibu, Ayah serta seorang pemuda usia 14 tahun yang katanya adalah salah salah satu Adiknya.
Salah satu Adiknya sebab tadi wanita yang mengaku sebagai ibu kandungnya mengatakan kalau dia mempunyai dua orang Adik, namun satu adiknya itu tidak ada karena ikut bersama dengan suaminya.
Daniya berdecih sinis mendengar kalau Adiknya malah sudah menikah sedangkan dia malah masih mengejar laki-laki yang bahkan menolak dirinya dengan terang-terangan.
Permintaan maaf yang terus di lontarkan oleh orang tua kandungnya seolah alunan musik menyebalkan yang membuat Daniya tak tahan, dia sangat tidak ingin mendengarkan permintaan maaf dari orang tuanya yang dia yakin hanya ingin membela diri agar dia tidak menyalahkan bahkan membenci mereka.
"Kamu, sebenarnya apa rencana mu?" Daniya menatap Angga dengan sorot tajam dan mata yang memicing curiga.
Dia bersumpah dia tidak pernah ingin mengetahui keluarga kandungnya bahkan sampai harus bertemu seperti ini, dia tidak suka dan tidak mau karena itu hanya akan membuatnya teringat betapa kejamnya mereka yang sudah membuang dirinya, memberikan dirinya pada orang lain meskipun dia hidup berkecukupan dan orang tua angkatnya memperlakukan dia dengan baik dan penuh kasih sayang, tapi tetap saja dia adalah anak yang di buang, atau mungkin dulu dia memang tidak pernah diinginkan?
Angga menatap datar wanita yang dulu pernah sangat dia cintai, tapi sekarang rasa itu sama sekali sudah tidak ada menguap tak terlihat, terhanyut bagaikan air.
"Aku hanya membantu kamu saja, bukankah saat menikah kamu membutuhkan wali? dan wali itu harus Ayah kandung mu," papar Angga.
Daniya mengerutkan kening, kenapa pria di depannya ini membicarakan tentang pernikahan? apa pria itu masih ingin menikah dengannya?
"Aku tidak ingin menikah denganmu," balas Daniya, yakin kalau jawabannya itu akan membuat Angga tertohok dan menyesal karena sudah mempertemukan dia dengan keluarga kandung yang tidak dia inginkan.
Angga tersenyum tipis menganggap apa yang dikatakan Daniya adalah sebuah lelucon, memangnya siapa yang mau menikah dengan wanita yang sudah meninggalkan luka? mungkin hanya lelaki bodoh saja yang mau masuk ke lubang sama untuk kedua kalinya.
"Bukankah kamu sedang berencana untuk menikah dengan pria yang baru saja kamu temui?" ekspresi Angga sarat akan makna, ada sesuatu yang jelas Angga ketahui tentang Daniya dan siapa pria yang sedang Daniya kejar sekarang ini.
Deg!
Jantung Daniya berdebar lalu raut wajahnya menggambarkan kebingungan tentang apa yang sekarang Angga ketahui tentangnya, tapi kebingungannya itu tidak bertahan lama karena beberapa detik kemudian Daniya kembali menampilkan wajah yang tenang, anggun serta elegan seperti biasanya.
"Rupanya kamu memata-matai? kamu beralih jadi detektif kah sekarang?" senyum mengejek pun Daniya tampilkan membuat Angga mengepalkan tangan.
__ADS_1
Dua orang itu terus saja berdebat dengan cara yang tenang, tidak ada keributan hanya ada perang kata antara mereka mengabaikan empat orang yang sekarang menonton dan mendengarkan apa yang mereka katakan.
"Aku rasa setelah ini kamu tidak akan pernah bisa hidup dengan tenang," Angga membalas ucapan Daniya.
Apa ini? Angga menabuh genderang perang kah? ingin berperang dengan mantan kekasihnya? apa yang dia ketahui lagi sebenarnya?
"Kak Daniya."
Di tengah perang kata Daniya dan Angga ada suara yang memanggilnya, mengusik pendengarannya yang merasa sangat asing dengan panggilan Kakak.
Daniya menatap pada pemuda 14 tahun yang dia tahu bernama Arda, pemuda yang duduk di bangku SMP itu melihat dirinya dengan tatapan tak percaya.
"Wajah Kakak mirip sekali dengan Kak Ralen, hanya saja Kak Ralen memiliki tahi lalat di atas bibirnya, kalian seperti kembar benar-benar mirip," cetus Arda yang sejak tadi memang terus melihat pada Daniya, wanita yang katanya adalah Kakak pertamanya yang sejak tadi tidak menyapa dirinya.
Daniya tidak merespon dengan ucapan hanya kedua matanya saja yang memandang tidak suka orang tua serta Adiknya itu, sangat tidak suka.
"Daniya.."
"Jangan mengatakan apapun!" sela Daniya kepada wanita yang hendak berbicara dengannya, mungkin ingin memberikan penjelasan tak penting yang sampai kapanpun tidak mau dia dengar.
"Daniya, mereka keluarga kandungmu," Dayna yang sejak tadi berada di samping Daniya pun mulai angkat suara, mengelus lengan wanita yang dari bayi dia rawat.
"Keluarga Dani hanya Mama, tidak ada yang lain apalagi mereka," desis Daniya menatap tidak suka orang tua serta Adiknya.
"Ini sudah larut malam sebaiknya kalian semua pergi dari sini, saya dan Mama saya mau istirahat," ketus Daniya mengusir tamu tidak di undang yang memang tidak pernah dia harapkan datang menemuinya.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*