Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Semua Tidak Menginginkan..


__ADS_3

Ralen hancur dengan tangisan yang makin mengacaukan suasana hatinya yang sudah tidak akan pernah kembali baik-baik saja.


Dia tidak pernah membayangkan menikah lalu hamil tapi kemudian anaknya malah harus pergi sebelum bisa melihat dunia.


Wanita mana yang tidak sedih?


Jelas dia menjadi orang pertama yang akan bersedih dan terpuruk atas keguguran yang dia alami, yakinlah tidak ada yang lebih sedih melebihi sedih yang dia rasakan.


Berulang kali Mama Riska mencoba untuk menenangkan namun berulang kali juga Ralen malah makin histeris, menangis sampai suaranya menjadi serak bahkan mungkin jika dia masih menangis suaranya akan menghilang.


"Ralen tidak pernah mau keguguran Ma, Ralen juga sayang sama anak Ralen tapi kenapa dia malah menuduh Ralen sengaja menggugurkannya," ucap Ralen dengan suara yang samar dan hampir tak terdengar.


Wanita itu tidak terima bahkan menyebut suaminya dengan 'dia'


"Mama tahu itu Len," timpal Mama Riska terus memeluk sang menantu yang sangat terpuruk.


Sungguh kehilangan anak akan sangat mengguncang seorang ibu apalagi masih harus di tambah dengan tuduhan suaminya sendiri.


"Apa semua orang tidak menginginkan Ralen?" tanya Ralen di tengah Isak tangisnya.


Mama Riska menggeleng cepat, membantah apa yang ditanyakan oleh menantunya.


"Jangan berkata seperti itu Ralen," saat ini Mama Riska rasanya ingin ikut menangis, tapi kalau dia melakukan itu tentunya Ralen malah akan semakin bersedih dan menangis tanpa henti.


"Ibu kandung Ralen tidak peduli pada perasaan Ralen, lalu sekarang suami Ralen pun menyalahkan Ralen, mereka dua orang yang harusnya menjadi tempat mengadu untuk Ralen malah seperti tidak menginginkan Ralen." suaranya menjadi semakin serak dan air mata yang tak terkendali, makin deras layaknya air terjun di pegunungan.


"Suamimu hanya sedang marah Len, marah pada keadaan karena anak yang dia inginkan malah pergi." mencoba untuk membuat Ralen tidak makin membenci anaknya yang dia akui memang sangat keterlaluan, hanya saja dia tahu dengan baik bagaimana anaknya.


Meski galak tapi ada banyak kasih sayang yang Ipul punya untuk sang menantu, kasih sayang diiringi cinta di saat mereka tidak pernah berhubungan sebelumnya, sungguh itu adalah kisah yang luar biasa.


Ralen masih tetap setia dengan tangisan sedangkan di dalam kamarnya Ipul tengah duduk di sofa memegangi kepala, bukan hanya memegang tapi melainkan meremas kepalanya sendiri seolah dia ingin menghancurkan kepala yang seolah terasa sangat sakit karena semua yang dia ketahui.


Dia tidak pernah membayangkan takdir hidupnya menjadi seperti ini, dulu saat dia masih sangat muda dia bahkan tidak pernah berpikir akan mengalami kesedihan yang seperti terus saja datang dalam hidupnya.


Gerakan tangannya terhenti ketika telinganya menangkap suara getar yang berasal dari atas tempat tidur yang tadi diduduki oleh sang istri.


Pria itu beranjak dengan rasa penasaran yang tinggi, di otaknya kini mulai bergelayut macam-macam kecurigaan tentang diri istrinya, sungguh dia masih sulit percaya tentang perkataan sang istri.


Dia ragu mengingat sebelumnya dia pernah mengatakan hal yang menyakitkan dengan membandingkan istrinya dengan wanita lain, dan itulah yang membuat dia ragu.


Tangannya terulur mengambil benda yang tadi bergetar dan layar yang tadi menyala barusan mati, jarinya pun kembali menekan tombol agar layar kembali menyala.


Dia langsung membuka layar yang terkunci dengan memasukkan kata sandi, sungguh Ralen bahkan memberikannya akses untuk membuka handphonenya, wanita itu benar-benar sangat percaya padanya tapi entah kenapa dia malah sulit percaya pada wanita yang dia nikahi.


Tangannya sontak mengepal membaca sebaris pesan yang kini terpampang di layar, matanya memanas dengan sangat cepat seolah ada api kecil yang mendadak besar akibat siraman bensin, mengobarkan api yang langsung seakan membakar dirinya.


Langkahnya pun bergerak cepat keluar dari kamar, tujuannya saat ini adalah istrinya, wanita yang tengah berada di kamar sang Mama serta wanita yang harus menjelaskan bagaimana bisa wanita itu kembali berhubungan dengan Angga sedangkan dia sudah dengan jelas melarang bahkan tidak segan meminta orang untuk mengawasi istrinya.


"Ralen!" suaranya menggema mengusik ketenangan dua wanita yang ada di dalam kamar.


"Ralen baru saja tidur, apa-apaan kamu ini?!" Mama Riska berdiri menghalangi sang anak yang berniat menerobos masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Untunglah Mama Riska bisa bergerak cepat hingga dia lebih dulu berada di pintu sebelum anaknya itu mencapai pintu.


"Mama tidak usah ikut campur, ini urusan Ipul dan istri Ipul." sekarang dia mulai menggunakan kuasanya sebagai seorang suami untuk membuat sang Mama tidak bisa lagi melarangnya.


Mama Riska menggeleng tak percaya mendengar perkataan sang anak.


"Tapi Ralen sedang istirahat Pul, lagipula kalian tidak bisa bicara dalam keadaan emosi seperti ini, jadi biarkan malam ini Ralen tidur sama Mama ya, besok kamu bisa bicara dengannya." Mama Riska mencoba membujuk, berharap anaknya menurut namun yang terjadi malah sebaliknya.


Ipul menggeleng, menolak tidak terima saran yang Mamanya katakan, menurutnya apa yang ingin dia tanyakan dan ketahui harus dia lakukan sekarang tidak ada nanti apalagi sampai harus menunggu besok.


Kepalanya sudah tidak akan bisa kembali dingin dan tenang saat apa yang baru saja dia lihat di handphone istrinya.


"Ralen!" kembali memanggil sang istri meski dia tetap tidak bisa masuk karena sang Mama yang berdiri menghalangi.


Sungguh dia tidak akan bertindak kasar terhadap wanita yang telah melahirkannya, wanita yang sangat dia hormati dan sayangi.


Napas Ipul benar-benar sangat cepat dan memburu, seolah dia tengah memburu mangsanya yang bisa dia santap untuk hidangan makan malam.


"Yang dia katakan benar Ma, jadi kalau dia mau membunuh Ralen pun tidak masalah, Ralen ini istrinya."


Ralen yang tadi tidur kini malah sudah berada di depan kedua orang yang tengah saling berdebat, membuat sang Mama sontak menatap terkejut padanya ketika mendengar apa yang dia katakan.


"Ralen.." Mama Riska terpekik tidak suka dengan yang Ralen katakan.


"Bicara di kamar saja," kata Ralen yang mengabaikan sang Mama mertua.


Mertuanya itu berusaha untuk mencegah dirinya akan tetapi dia malah dengan tenangnya melangkah melewati dua orang yang saling berhadapan.


Sungguh dia tidak suka mengetahui bahwa dirinyalah yang terkesan menjadi masalah antar ibu dan anak.


"Jangan berbuat kasar atau Mama tidak akan pernah menganggap kamu anak!" Mama Riska mengancam dengan telunjuk yang terangkat jelas itu bukan ancaman yang main-main.


Ipul tidak menjawab hanya tatapan yang tadi berapi kini sedikit melembut.


Pria itu mengikuti Ralen yang sudah berada di tangga paling atas lalu menghilang di balik pintu kamar.


"Jelaskan padaku ini apa?!" saat masuk ke dalam kamar langsung memberikan pertanyaan seraya melempar handphone milik Ralen yang memang dia bawa.


Ralen mengambil handphone yang ada di atas tempat tidur dan langsung bisa melihat apa yang suaminya tanyakan.


Ralen memberikan senyum yang tidak dimengerti oleh Ipul, senyum miris yang terkesan menyiratkan kekecewaan yang tengah menimpa padanya.


"Dia hanya menanyakan keadaanku apa itu salah?" Ralen berkata dengan nada yang menyindir.


"Salah! karena yang dia tanyakan adalah wanita bersuami!" sentak Ipul tidak terima dengan jawaban yang Ralen berikan.


Dia tidak buta huruf, dia bisa membaca pesan yang di kirimkan oleh Angga, yang dia tanyakan bagaimana bisa pria itu mengirim pesan pada istrinya sedangkan dia sudah memblokir nomor pria itu dari handphone sang istri.


Itu artinya istrinya membuka blokirannya kan? itu yang kini dipermasalahkan oleh Ipul.


"Kalau tidak ada dia mungkin sekarang aku sudah mati bersama anakku," tutur Ralen lirih.

__ADS_1


Saat seperti ini seharusnya dia mengeluh pada suaminya mengadukan apa yang dia rasakan, berbagi kesedihan karena kehilangan calon anak pertama mereka.


Tapi dia tidak bisa melakukan itu karena sejak tadi suaminya terus saja bersuara kencang memarahi dirinya, sungguh dia tidak mengerti kenapa dia harus menjalani ini semua, kenapa tuhan memilihnya untuk mendapatkan cobaan yang seperti ini.


Ipul mengerutkan kening menatap penuh tanya.


"Aku di tabrak seseorang dan orang itu pergi begitu saja tanpa peduli bagaimana keadaanku!" seru Ralen berteriak kencang.


Dia sudah tidak tahan, dia ingin mengatakan dan meluapkan semua yang dia derita.


Jantung Ipul berdebar kencang dengan kepala yang menggeleng lemah seakan tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Lihat ini!" Ralen membuka pakaian serta celana tidur yang dia pakai menunjukkan lebam serta luka terbuka yang ada di tubuhnya, luka yang diakibatkan karena dia yang terseret oleh motornya sendiri setelah di tabrak dengan kencang dari arah belakang.


Ralen mencoba menepis air mata yang tidak tahu dirinya terus saja meleleh keluar.


"Aku luka dan kamu masih terus menyalahkan aku? kamu masih tidak percaya padaku, apa aku harus mati dulu baru kamu akan percaya?" Ralen tertawa tapi juga menangis dalam waktu bersamaan sedangkan pria yang berdiri tak jauh darinya menatap semua luka yang ada di tubuhnya tanpa berkedip.


Tadi Ipul hanya melihat luka pada siku sang istri, tidak menyadari ada banyak luka di tubuh sang istri.


Sungguh dia ini suami macam apa?


"Sayang.." bibir Ipul bergetar tak percaya dengan semua yang dia lihat, dalam sekejap rasa bersalah seolah menghantam tubuhnya membuat dia merasa jadi orang yang paling berdosa setelah semua yang dia katakan.


"Tapi suamiku malah berduaan dengan wanita lain, apa dosa yang sudah aku lakukan sampai aku mengalami ini semua?" Ralen terus bicara meluapkan apa yang sejak tadi ingin dia luapkan.


Ipul bergerak mendekat akan tetapi Ralen menghindar, dia kecewa sakit hati dan hancur di waktu yang sama.


"Aku tidak melakukan apapun Jelita, maafkan aku," tutur Ipul lemah berusaha menggapai sang istri tapi istrinya terus menjauh.


Ralen tersenyum miris.


"Aku berjuang untuk anak kita tapi kamu malah berduaan dengan wanita lain," berhenti sejenak menarik napas, "mantan tunangan mu kan? wanita yang jauh lebih baik dari aku, hm?" saat mengatakan itu sungguh hati Ralen berdenyut tapi berusaha untuk melengkungkan senyum di kedua bibirnya.


Ipul bergerak mendekat lalu memeluk wanita yang berusaha berontak.



"Semua tidak menginginkan aku, bagaimana kalau aku mati saja?!" kata Ralen sambil mencoba melepaskan tangan yang mendekap pinggangnya.



"Aku menginginkan kamu Jelita, aku menginginkan kamu jadi jangan mengatakan apapun lagi, aku minta maaf aku sudah sangat menyakiti kamu, maaf." suara Ipul begitu berat dan sesak.


Melihat tubuh istrinya yang luka sungguh membuat dia sadar atas apa yang dia lakukan, dia memang orang yang patut di salahkan atas apa yang menimpa istrinya.


Ralen terisak keras, wajahnya sudah banjir oleh air mata sedangkan tubuhnya berada di dalam dekapan sang suami.


Suami yang terus menuturkan kata maaf.


****

__ADS_1


__ADS_2