Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Mata Gue Mengawasi


__ADS_3

"Dompet?"


Astaga Ralen baru ingat bahwa dompet pria songong itu ada padanya dan bahkan dia sudah memakai sebagian uang yang ada di dalamnya, sejenak Ralen merasa sangat bodoh seharusnya tadi dia langsung saja kabur begitu melihat pria yang juga berteduh dengannya dari terjangan hujan yang sialnya bukan mereda malah semakin deras disertai angin.


"Iya dompet! apalagi memangnya?! jangan bilang kalau Lo nggak nemuin dompet gue?" desis Ipul dengan tatapan menuduh melihat setiap inci dari wanita yang masih saja duduk tak juga bergeming.


"O iya dompet ya hehe." dan dengan tampang bodohnya Ralen malah cengengesan bak manusia tanpa dosa merasa menjadi wanita polos.


Ck


Ipul berdecak melihat tingkah wanita yang sejak pertemuan pertama sukses menguras emosinya, entah dia yang memang sedang emosi saat bertemu dengan Ralen hingga Ralen menjadi pelampiasannya menyalurkan emosi atau memang Ipul yang sangat tidak menyukai wanita di depannya itu.


"Jangan berpikir kalau gue lupa," kata Ipul lagi dengan senyum yang terlihat bagaikan sebuah seringaian.


Dari tingkah Ralen Ipul bisa menangkap dengan jelas kalau dompetnya ada pada wanita yang tengah berlagak bodoh ini, meskipun kaya dan sebenarnya dompet beserta isinya itu tidak berarti apa-apa bagi Ipul tapi selayaknya manusia dia mengharapkan itikad baik dari wanita di depannya sekarang.


Ralen masih bingung harus mengatakan apa, sebab dompet itu memang ada pada dirinya tapi kan.. kemarin dia memakai uang di dalam dompet yang memang milik pria itu dengan dalih meminjam dan akan dia ganti jika dia sudah punya uang, tapi belum juga 24 jam dia meminjam eh sang pemilik uang malah sudah muncul dan menagih dompetnya seperti seorang rentenir.


"Mana?"


"Padahal dirinya sendiri yang teledor tapi tingkahnya seolah gue copet," gerutu Ralen.


"Kalo mau ngedumel jangan di depan orangnya."


Dan kini Ralen di buat berdebar bukan karena suara menuntut dari pria di depannya, bukan! karena pria yang tidak dia kenal itu mengatakan dengan suara yang datar dan biasa saja bahkan terkesan tenang tidak seperti yang tadi.


Tapi... yang membuat Ralen sedikit cemas adalah gerakan pria itu yang seperti berusaha untuk mendekat? iya mendekat padanya yang sontak berdiri dari bangku halte yang sejak tadi seperti menempel pada bokongnya.


"Lo.. lo mau ngapain?" lihatlah sekarang wajah Ralen yang biasanya sangat berani dan terkesan galak kini malah berubah menjadi pucat dalam seketika.


"Mau dompet gue lah," sahut Ipul dengan tenang seraya terus mendekat pada wanita yang pelan-pelan mencoba menggeser tubuhnya tapi sayangnya kedua kakinya malah terantuk kaku bangku halte yang berbahan besi.


"Stop! berhenti!" seru Ralen ketika pria di depannya agar berhenti.

__ADS_1


"Takut? dua kali bertemu dan dua kali juga Lo sangat galak bahkan luar biasa.. buu as!" dengus Ipul, "tapi untuk yang ketiga kalinya ini kenapa Lo terlihat seperti wanita yang lemah dan butuh perlindungan, apa Lo memang wanita yang sama dengan yang marah-marah sama gue karena motor Lo tidur di emperan got? gue ragu kalau Lo orang yang sama," sambung Ipul dengan senyum mengejek serta menyebalkan.


"Gue bilang berhenti ya berhenti!" kesal Ralen seraya mendorong tubuh Ipul agar menjauh tapi nyatanya keinginan Ralen tidak akan mudah untuk dituruti oleh ipul. terbukti ketika pria itu malah makin merangsek hingga jarak antara mereka hanya tinggal satu jengkal saja.


"Kalau Lo nggak menjauh gue bakal teriak, gue bakal teriak bahwa elo melakukan pelecehan terhadap gue!" ancam Ralen sudah merasa terjepit, semoga saja ancamannya itu membuat pria di hadapannya ini takut dan berhenti menakutinya.


Meskipun tomboy dan terlihat galak nyatanya Ralen adalah seorang wanita dan sudah menjadi bagian dari takdir jika ada rasa takut yang terselip di dalam dirinya terlebih ketika hanya berdua saja dengan pria asing dengan segala tingkah mencurigakan di tempat se sepi ini, oh tuhan kenapa Ralen memilih berteduh di jalan yang sepi seperti ini!


"Mau berharap bantuan dari siapa Lo kalau daerah sini aja sepi," ejek Ipul.


Kepala Ralen pun bergerak memutar kiri dan kanan serta depan belakang dan.. ya memang benar tempat ini benar-benar sepi! tapi seorang Ralen tetap harus mencari cara agar bisa lari dari keadaan yang bisa saja menjadi semakin memburuk nantinya.


"Teriak coba sekarang."


Ipul lagi-lagi memberikan tantangan yang jelas itu akan membuat wanita yang dari deru napasnya saja sudah mengisyaratkan bahwa wanita itu cemas sekaligus takut akan intimidasi yang tengah dia lakukan membuat Ipul merasa puas karena berhasil menekan wanita menyebalkan di depannya itu.


Namun belum juga Ralen membuka mulutnya untuk berteriak wajah maju membuat Ralen refleks memundurkan kepalanya.


"Saat Lo teriak dan belum ada satu orang pun yang datang kemungkinan tuduhan pelecehan yang Lo rencanakan tadi akan jadi kenyataan." tersenyum miring seolah apa yang dia katakan bukanlah sekedar bualan.


Ipul kembali menegakkan tubuhnya setelah tadi sedikit membungkuk untuk mensejajarkan tubuhnya pada wanita yang kulit wajahnya tampak semakin pucat, yakin bukan hanya karena dinginnya hujan tapi juga karena ancaman yang baru saja dia katakan.


Astaga, bukankah ini terlihat sangat konyol? rasanya sedari masih duduk di bangku sekolah dia tidak pernah melakukan tindakan tak jelas seperti ini terlebih lagi mengancam pada seorang wanita yang tidak dia kenal, tapi kenyataannya malam ini di tengah hujan yang masih dengan setia turun deras Ipul sudah melakukannya bahkan mulutnya begitu lancar saat mengatakannya.


"Jadi mau Lo apa?" tanya Ralen menormalkan tarikan napasnya serta mengembalikan debar jantungnya yang sepertinya tadi berhenti untuk sesaat.


Ck


Ipul berdecak kesal karena wanita di depannya masih saja bertanya maunya apa, jelas-jelas sejak tadi dia meminta dompetnya.


"Dompet," kata Ipul seraya bersedekap.


"Be besok, besok gue balikin," sahut Ralen dengan kegugupan yang luar biasa.

__ADS_1


"Besok? apa gue harus percaya? dari tadi aja Lo ngeles terus, bagaimana kalau Lo malah kabur," cemooh Ipul yang rasanya tidak percaya pada wanita yang telah memainkan kadar emosinya.


"Janji, beneran gue nggak kabur lagian dompet Lo juga nggak gue bawa," sahut Ralen cepat memberikan keyakinan.


Ipul tak menjawab tapi pria itu mengeluarkan handphone dari dalam saku celananya.


"Nomor Lo," katanya seraya menyerahkan benda persegi itu pada sang wanita memintanya untuk mengetikkan nomor yang bisa dia hubungi berjaga-jaga kalau sampai wanita itu membohonginya.


Tangan Ralen gegas mengambil handphone lalu mengetikkan deretan angka di dalam layar dan kembali memberikannya pada sang pria yang sukses mengintimidasinya.


Ipul menekan layar melakukan panggilan dan langsung berhenti saat terdengar deringan dari dalam saku jaket yang Ralen kenakan.


Ralen mengeluarkan handphonenya dan menatap deretan nomor baru di panggilan tak terjawab.


"Besok gue tunggu di sini, jangan coba-coba kabur atau gue akan mencari Lo sampai ke dasar lautan sekalipun!" ancam Ipul lalu bergerak menjauh memperhatikan hujan yang tampaknya hanya menyisakan rintikan kecil saja.


Ipul bersiap untuk kembali ke rumah, setau gerakan yang Ipul lakukan tak luput dari perhatian Ralen, mulai dari menyingkirkan air yang ada di atas jok motor lalu mendudukinya sampai memaki helm yang menutupi sebagian wajahnya.


Dan sebelum pergi Ipul memainkan kedua jarinya di depan matanya sendiri lalu menunjuk pada Ralen yang berdiri terpaku seolah mengatakan bahwa "mata gue akan selalu mengawasi elo!"


Setelah melakukan hal itu Ipul pun berlalu dengan motornya meninggalkan gaungan dari motor sport di tengah gerimis serta kelamnya malam.


Merasa sudah tidak ada lagi ancaman Ralen pun menjatuhkan bokongnya kembali duduk, "astaga Ralen, kenapa Lo bisa berurusan sama orang menyeramkan seperti itu sih?!" mengeluhkan dirinya sendiri.


"Terus gimana caranya gue bisa dapat uang buat ganti uang tuh orang!"


"Gue matiin aja handphonenya." tangannya sudah bersiap untuk mematikan handphonenya, tapi sesaat kemudian kembali menggumam, "tapi tadi.." teringat pada ancaman Ipul sebelum pria itu pergi hingga dia membatalkan niatnya menonaktifkan handphone.


Wanita itu mondar-mandir di dalam halte menggaruk kepalanya berulang kali menunjukkan betapa dia kembali di buat pusing.


"Dia kelihatannya bukan orang susah, tapi kenapa perhitungan banget sih! tuh dompet kan udah berbulan-bulan bisa-bisanya dia masih inget!" sungut Ralen.


Sudah hampir setengah jam dia tak berhenti bergerak bahkan hujan pun sudah mereda tapi wanita ini masih saja tidak juga pergi seolah lupa bahwa dia harus kembali mencari uang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

__ADS_1


*******


__ADS_2