
"Ayolah, jangan jadi seorang yang munafik." Daniya menatap penuh makna seakan dia tahu isi hati orang yang duduk di depannya.
"Apa maksudmu!?" Angga menghardik dengan tangannya yang memukul meja tidak terima ketika wanita yang bahkan dimatanya sudah sangat buruk itu malah menudingnya munafik, memangnya apa yang dia perbuat?
Daniya berdecih membuang pandangan ke arah lain, "jaga sikapmu Angga, kamu ini seorang dosen sangat tidak pantas bersikap seperti ini di depan umum." Daniya memperingatkan pria yang dari sorot matanya saja sudah terlihat jelas menyimpan kemarahan atas apa yang dia ucapkan.
Angga mendengus lalu membenarkan posisi duduknya yang sempat menjadi tegang karena wanita menyebalkan di depannya yang ini memang sengaja memancing emosinya.
"Dari caramu melihat Adikku saja siapapun bisa tahu kamu menyimpan perasaan untuknya," cetus wanita yang dengan tenangnya menyeruput jus alpukat yang dia pesan.
Mata Angga membola, ingin rasanya mengelak tapi yang dikatakan oleh Daniya itu memang benar adanya, kenyataan yang tidak bisa dia pungkiri dengan alasan apapun.
"Aku rasa setelah apa yang Ralen ketahui, dia tidak akan mungkin menganggap mu," menjeda dengan tubuh yang sedikit mencondong, "KAKAK!" berkata dengan penuh penekanan seolah meminta Daniya untuk sadar diri ketika mulutnya menyebut Ralen sebagai Adiknya.
Daniya tertawa sinis, "aku tidak peduli," Daniya mengedikkan bahu, "benar-benar tidak peduli, mau dianggap atau tidak pun tentu bukan masalah untukku dan kehidupanku." desisnya dengan bibir yang menjadi sangat tajam dengan segala perkataannya yang seperti sebuah silet dan siap menggoreskan luka bagi siapapun yang tersentuh olehnya.
Sudut bibir Angga berkedut mendengar penuturan wanita yang pernah membuatnya begitu bahagia juga wanita yang membuatnya akhirnya menyukai Ralen, tidak dipungkiri dia menyukai Ralen pertama kali bertemu karena melihat kemiripan wajah yang Ralen miliki, akhirnya kini dia merasa menjadi sangat bodoh karena tetap menyangkut-pautkan seorang Daniya yang jahat itu ke dalam sosok wanita idamannya.
"Bukankah kita sudah lama mengenal? jadi baik aku ataupun juga kamu tentu sudah saling mengenal sifat satu sama lain, kan?" kata Daniya lagi memamerkan ekspresi puas ketika melihat lawan bicaranya seperti tidak berkutik.
Angga pun setuju mereka memang sudah saling mengenal dengan baik tapi rasanya dia tidak akan pernah mau mengakuinya, tidak ingin membuat Daniya merasa senang dan menang sampai membuatnya melambung ke atas angin.
"Apa kamu tidak mau memperjuangkan apa yang kamu inginkan?" untuk berulang kalinya Daniya bicara, dia benar-benar menjadi orang yang sangat bicara hari ini.
"Aku bukan seorang pejuang jadi buat apa aku berjuang?" Angga menormalkan sikapnya.
Daniya menyebikkan bibirnya, "sifat mu yang seperti inilah yang membuat aku meninggalkanmu, kamu terlalu membosankan." desis wanita yang selalu tampil dengan sempurna, dia terlalu peduli dengan apa yang menempel di tubuhnya.
__ADS_1
Angga memicingkan mata memberikan tatapan tak suka dengan setiap penuturan yang hampir tiap detik keluar dari mulut wanita di depannya.
"Terlalu naif!" tambahnya, "untuk berjuang bukan harus menjadi pejuang lebih dulu kan? berjuang dalam artian untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan, Angga! kamu ini laki-laki bagiamana bisa hanya pasrah saja tanpa bertindak!"
"Kamu terus mengajakku bertemu sebenarnya apa yang kamu inginkan!?" Angga mulai terlihat tidak senang dan mulai mempertanyakan karena sudah berulang kali Daniya memintanya untuk bertemu membicarakan hal yang makin lama membuatnya muak.
"Aku baru saja mengatakan bahwa kamu ini naif dan sekarang kamu makin memperlihatkannya," Daniya mengejek.
Jelas-jelas pembahasannya sejak awal adalah tentang Ralen tapi bagaimana bisa Angga tidak mengerti atau hanya pura-pura tidak mengerti saja?
"Kita bisa saling menguntungkan, Angga, jadi sedikit saja pergunakan kepintaran yang kamu miliki," cetus Daniya tidak lagi bisa mengkondisikan raut wajahnya.
Wanita itu sepertinya mulai lelah memberi penjelasan, dia bukanlah seorang dosen yang harus menjelaskan kepada mahasiswanya yang tidak mengerti.
Kali ini gantikan Angga yang melemparkan senyum sinis mendengar pernyataan wanita dihadapannya yang sama sekali tidak dia harapkan tapi terus-menerus muncul di depan matanya membicarakan hal yang baginya sama sekali tidak menarik.
"Aku tegaskan padamu Daniya, aku tidak tertarik dengan segala keuntungan yang kamu bicarakan sejak tadi, sangat tidak tertarik karena aku bukan manusia jahat yang akan melakukan hal-hal kotor hanya untuk mendapatkan seseorang!" dengan sangat tegas Angga berkata juga dengan penekanan yang luar biasa dia tekankan kepada wanita yang mungkin dalam hati tengah mengumpat memaki dirinya.
"Terlalu baik hanya akan membuat kamu tidak mendapatkan apa-apa," ketus Daniya menggelengkan kepalanya.
"Apa peduli mu!"
"Sangat peduli karena andai kamu tidak mendapatkannya Ralen itu artinya aku juga tidak bisa bersama Awan!" cetus Daniya menekan meja dengan telunjuk yang lentik disertai dengan kukunya yang panjang.
Daniya tetap berusaha untuk memprovokasi pria di depannya yang memang sangat berpendirian, mempunyai sikap yang tidak mudah untuk dipengaruhi apalagi oleh wanita yang memang sempat menorehkan luka, bukan mau terus mengingat juga dendam hanya saja dia tidak akan bisa begitu saja lupa akan apa yang sudah Daniya lakukan terhadapnya.
"Begitu kah?" meskipun bertanya namun raut wajah Angga terkesan tanpa minat.
__ADS_1
"Angga!" Daniya menyentak emosi atas sikap Angga yang seolah begitu meremehkan dirinya.
"Jaga sikapmu Daniya, kamu ini wanita terpelajar tidak pantas bertindak seperti orang yang kurang pendidikan, bahkan aku rasa mungkin orang yang kurang pendidikan pun akan lebih sopan daripada dirimu." kali ini Angga membalikkan apa yang sempat Daniya katakan untuknya, secara tidak langsung menyindir sekaligus mengingatkan bahwasanya apapun bisa saja terjadi.
Angga tersenyum mengejek mendapati Daniya yang menatapnya dengan sangat kejam, dia tidak pernah membuat kesalahan dengan wanita itu tapi kenapa tatapan wanita itu seakan dirinya adalah penjahatnya.
"Kamu tahu kisah hidupku kan?"
"Lalu? berharap aku iba lalu mau membantu?" Angga memicing lalu pria itu berdecih.
"Jangan terlalu manipulatif, berperilaku seolah kamu sangat lemah dan membutuhkan dukungan, sedangkan hatimu aku sangat paham benar seperti apa." Angga menjabarkan apa yang dia rasakan, tentang sikap seorang Daniya Ranita yang memang perilakunya tidak sesuai dengan kenyataan dirinya.
"Aku hanya ingin mengambil milikku yang selama ini direbut," ketus Daniya tak peduli bahwa kini dia menjadi pusat perhatian di tempat itu.
"Kalau begitu lakukan apa yang kamu inginkan tapi jangan pernah melibatkan ku!" Angga berkata tegas sambil mendorong kursi dengan kakinya agar dia bisa berdiri.
"Aku sudah tidak punya waktu untuk meladeni wanita sepertimu!" kata Angga lagi lalu berjalan meninggalkan Daniya yang mengadu gigi-giginya hingga saling berbunyi.
"Brengsek kamu Angga!" memaki kala pria yang dia maki sudah semakin menjauh dengan derap langkahnya yang tidak lagi terdengar.
__ADS_1
****