Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Gue Belum Setuju!


__ADS_3

Ralen berdiri bimbang di depan pintu antara masuk atau memilih tetap berada di ruang kerja saja, sungguh dia merasa bergidik jika harus kembali masuk ke dalam ruangan dengan tempat tidur berukuran besar itu, terlihat nyaman namu di saat bersamaan pun terlihat menakutkan.


Ruangan inilah yang akhirnya membuat adrenalin nya seakan terus di uji, dag-dig-dug debaran jantungnya sungguh mendominasi membuatnya kini hanya diam mematung menatap pria yang tengah membelakanginya.


Tadi pria itu memanggil dan memintanya masuk tapi sekarang pria itu tampak tengah sibuk sendiri, entah apa yang tengah dia lakukan Ralen tidak melihat dengan jelas, hanya saja punggung pria itu yang bisa Ralen lihat.


Punggung yang terlihat begitu tegap dan lebar mungkin akan terasa sangat nyaman untuk di peluk.


"Ah gila! Lo mikirin apa sih Len!" mengomeli dirinya sendiri yang bisa-bisanya malah memuji betapa proporsional nya bentuk tubuh sang atasan.


"Ngapain masih di situ?" tiba-tiba Ipul menoleh dan melihat Ralen yang masih berdiri di luar ruangan tempatnya berada.


Ralen yang dari tadi melamun dengan pikiran tak jelasnya sedikit tersentak kaget hingga bahunya bergetar.


"Nggak mau masuk," tolaknya sambil menggeleng.


Mendengar itu Ipul pun menggerakkan kakinya melangkah menuju sang wanita yang mengernyit curiga.


"Gue bilang masuk ya masuk," tegas Ipul menarik paksa Ralen untuk masuk.


Dalam sekejap Ralen sudah berada di tengah ruang istirahat itu, "gue bilang nggak mau!" seru Ralen tak suka dan gegas akan keluar tapi tentu Ipul dengan segera mencekal tangan Ralen hingga tubuhnya terhuyung hingga tubuh mereka bertabrakan.


"Cuma di suruh masuk aja susah banget!" desis Ipul yang malah membiarkan tangannya sesuka hati nangkring di pinggang wanita yang tengah terkejut dengan apa yang sedang terjadi.


Ralen menatap pria yang tak lagi berjarak dengannya itu tanpa berkedip, netra nya kini semakin jelas melihat bagaimana wajah Ipul saat dari dekat.


Benar yang dikatakan oleh Antika, seharusnya yang berat untuk menikah adalah Ipul, sebab kenyataannya Ipul anak orang kaya dan yang lebih sempurna adalah wajahnya cukup luar biasa, bukankah Ipul bisa mendapatkan wanita yang lebih sempurna di bandingkan Ralen?


pria di depannya ini bisa mencari istri cantik dan juga kaya, bahkan Ralen yakin dalam pergaulannya Ipul pasti memiliki banyak teman wanita dan juga.. tentu rekan bisnis Ayahnya mempunyai anak perempuan yang bisa di jodohkan dengan Ipul, bukankah menjodohkan anak menjadi hal yang lumrah bagi orang-orang kaya seperti mereka.


Tidak ada suara yang Ralen keluarkan untuk menjawab perkataan Ipul, hanya deru napas wanita itu saja yang menjadi lebih cepat tanpa dia sadari.


Netra nya tetap setia menatap netra sang pria yang kini membalas tatapannya tak kalah dalam hingga entah dengan kesadaran atau tidak kedua tangan besar itu malah meremas pinggang sang wanita lalu bergerak turun dan mengelus bongkahan indah yang tertutup celana kerja yang cukup mengetat.


Mata Ralen membelalak kala merasakan sensasi yang aneh, "me mesum!" serunya gagap lalu mendorong Ipul menjauh.

__ADS_1


Ralen juga sadar dengan kebodohan yang baru saja dia lakukan, kenapa dia bisa terpesona dengan wajah pria yang tak pernah lelah mencari ribut dengannya.


Dan kenyataannya Ipul pun tak sadar dengan perbuatannya sendiri, tubuhnya bahkan terdorong hingga menyentuh tepian tempat tidur, Ipul menjadi sangat canggung dengan kelakuannya sendiri.


"Sorry," katanya seraya menggaruk ujung alisnya salah tingkah.


Ralen tak menjawab karena kini dia menyibukkan diri menormalkan detak jantung serta aliran darahnya yang mengalir cepat, tak di pungkiri kalau tadi diapun larut dengan sentuhan yang Ipul berikan, seandainya saja kesadarannya tidak segera kembali mungkin saat ini..


Ralen menggelengkan kepalanya berusaha menyingkirkan segala pikiran tak jelasnya.


"Ma mau nga ngapain suruh gue kesini?" dengan sekuat tenaga menormalkan dirinya agar bisa bertanya meski yang keluar dari mulutnya tetap saja perkataan yang terputus-putus.


"Coba itu, Mama yang suruh," ucap Ipul menunjuk sebuah gaun yang sejak tadi tergeletak di tempat tidur.


Rupanya tadi dia sedang mengeluarkan gaun berwarna pastel itu dari dalam paper bag dengan brand terkenal.


Mata Ralen pun menuju pada tempat yang Ipul tunjuk, melihat gaun yang warnanya begitu kalem dan tidak mencolok, namun Ralen tahu gaun itu akan sangat indah jika sudah di pakai.


"Buat apa?" Ralen sudah bisa bertanya dengan normal tidak lagi gagap seperti tadi, itu tandanya dia sudah bisa mengendalikan dirinya.


"Hah?"


Ralen yang tadinya akan menuju gaun sontak menghentikan langkahnya, dia menatap penuh pertanyaan pada pria yang barusan berkata.


"Kenapa harus Hah sih? kan tinggal jawab iya terus ambil tuh baju," sungut Ipul tak suka dengan ekspresi yang Ralen tunjukkan.


Ekspresi kaget seolah baru saja mendengar hal yang menakutkan atau tidak diharapkan, bahkan Ralen pun kini cemberut.


"Kalau gue nggak mau gimana?!" tantang Ralen.


Sungguh dia tidak mau pergi ke acara-acara yang akan di datangi oleh orang-orang dari kalangan atas sadar diri kalau dia orang miskin bahkan hanya seorang petugas kebersihan.


"Harus mau, nggak mau ya gue paksa!" tegas Ipul mengultimatum Ralen.


Sedangkan Ralen saat ini rasanya ingin kabur saja dari ruangan dan juga dari pria di depannya ini, sungguh dia tidak mau pergi ke acara yang nantinya akan membuatnya minder dengan kondisi hidupnya.

__ADS_1


Ipul gegas memasukkan gaun itu ke dalam paper bag lalu memberikannya pada Ralen.



"Keluar sana, nanti malam jam 7 gue jemput," ujar Ipul lalu mendorong tubuh Ralen yang pasrah saja sampai ke pintu.



"Hari Minggu gue sama Mama juga bakal Dateng ke rumah," kata Ipul lagi membuat Ralen yang bersiap melangkah pun tertahan, wanita itu menoleh dan memberikan tatapan pertanyaan.



"Bicarain soal pernikahan," kata Ipul ringan.



Sedangkan Ralen hampir mati jantungan mendengarnya, dia belum memberikan jawaban setuju atau tidak tapi Ipul dan Mamanya malah mau datang ke rumahnya membicarakan pernikahan.



"Gue belum setuju!"



Tapi Ipul nampak tak peduli, dia pun kembali mendorong Ralen melewati ruang kerjanya dan sampai ke pintu keluar lalu mendorongnya pelan dan menutup pintu.



Sekretaris bernama Sarah itupun menatap tajam sekaligus menelisik penampilan Ralen yang padahal tidak berbeda pada saat dia datang tadi, lalu matanya berhenti pada paper bag yang Ralen bawa.


Tadi Sarah ingat betul ketika masuk Ralen tidak membawa apa-apa, lalu kenapa saat keluar malah membawa tentengan yang dia tahu di dalamnya ada barang yang memiliki harga mahal.


Ralen membalas tatapan itu sesaat lalu dengan tak acuh segera melenggang pergi dengan bibir yang mencibir tak senang dengan sekretaris yang lagaknya malah kelihatan songong.


__ADS_1


\*\*\*\*\*\*\*\*


__ADS_2