Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Pilihan Ada Padamu


__ADS_3

Tangan Ipul meremas benda di tangannya.


"Sedang hamil tapi masih saja bertingkah nakal," gumamnya menatap apa yang terlihat di layar handphone miliknya.


Dia itu sedang bekerja dan ribet dengan banyaknya rapat yang harus dia hadiri tapi masih sempatnya dia membuka handphone miliknya yang memang dia khususkan untuk berhubungan dengan Gerry.


Siapa lagi kalau bukan mahasiswa yang dia tugaskan untuk memata-matai istrinya, melaporkan setiap tingkah atau siapa saja pria yang mendekati sang istri.


Istrinya terbilang wanita yang cantik meski dengan penampilan yang sederhana dan alakadarnya, dan akan bertambah cantik ketika wanita itu berdandan sungguh Ipul bersumpah istrinya bagaikan titisan Dewi yang turun dari khayangan ketika sudah berdandan, kecantikan sempurna yang siapapun tidak akan bisa menandinginya sekalipun Daniya yang memiliki wajah sama dengan sang istri.


"Berani menyentuh istriku seujung kuku, aku pastikan namamu akan terdaftar sebagai pasien di salah satu rumah sakit!" geramnya menatap penuh peringatan pada gambar yang ada di layar.


Mungkin otak pria itu sudah gila hingga mengancam benda tak bernyawa.


Ipul pun sontak melakukan panggilan pada pemuda yang baru saja mengirimkan pesan padanya.


"Awasi terus, kalau kamu sampai melewatkan satu detik saja aku jamin biji mata mu akan hilang sebelah!"


Melakukan pengancaman lalu dengan kasar langsung melempar handphonenya dengan asal hingga terjatuh ke atas karpet, mungkin saja benda itu rusak namun dia menjadi tidak peduli ketika pintu ruangannya di ketuk hingga akhirnya terbuka.


Mulut Gerry menganga dengan sebelah tangan yang refleks menutup sebelah matanya.


"Gila! bisa-bisanya si Ralen punya suami macam mafia-mafia bawah tanah berdarah dingin," gumamnya menahan napas akibat syok mendengar ancaman menakutkan yang baru saja dia dengar tanpa dia tahu kalau Ipul hanyalah sekedar mengancam.

__ADS_1


Ayolah, Ipul tidak akan mungkin segila itu melakukan kejahatan ketika dia yang di bentak oleh Mamanya saja sudah langsung menciut dan nyalinya langsung musnah dalam sekejap mata, jadi akan terdengar tidak masuk akan ketika dia melakukan tindakan seekstrim itu.


Pria itu hanya mengancam dan ancamannya pun sukses membuat Gerry takut untuk berkedip.


Pria itu benar-benar tidak ingin melewatkan satu detik pun dan tidak berkedip agar bisa melihat semua apa yang dilakukan oleh Ralen dan juga dosen mereka saat ini di dalam cafe di sore hari setelah pulang kuliah.


Gerry ini berteman dengan Raffan yang terkenal berandal tapi bisa-bisanya di gertak dengan ancaman omong kosong saja sudah langsung ketar-ketir ketakutan.


Dia berada di sudut cafe yang tak terlihat namun bisa melihat, tidak disadari keberadaannya akan tetapi dia menyadari orang yang sedang dia buntuti sejak dari kampus tadi.


Angga menarik napas panjang dan juga berat, dia merasa senang bisa mendengar cerita dari wanita yang menarik hatinya itu.


Senang karena akhirnya merasa dianggap keberadaannya setelah wanita itu yang biasanya akan menghindar darinya, sungguh ini suatu keajaiban saat Ralen mengajaknya untuk bicara, meski ujung-ujungnya dia tahu apa yang akan wanita itu bicarakan dengannya.


Angga mengangguk samar tentu saja dia tahu, bukankah dia cukup dekat dengan Tante Dayna, jelas apa yang terjadi pasti akan wanita itu katakan padanya.


Dapat Angga lihat dan rasakan bagaimana kemarahan yang tersirat dari wajah dan sorot mata Ralen yang sebenarnya sangat lemah.


"Kamu sangat pucat, tidak perlu membuat otakmu terus memikirkan hal yang tidak penting seperti ini Ralen." Angga berkata tidak suka.


Sangat tidak suka melihat wanita yang mencuri hatinya terus terbebani oleh segala tindakan tak masuk akal yang Daniya lakukan.


"Sebaiknya kamu banyak beristirahat, bila perlu cuti kuliah toh kamu masih semester awal," kata Angga dari sorot matanya terlihat dia yang begitu khawatir, mengkhawatirkan wanita yang bola matanya sudah mengembun dan bergetar.

__ADS_1


"Dia meminta suamiku, bagaimana bisa aku tidak memikirkannya dia juga memanfaatkan ibuku." tidak tahu kenapa Ralen berani menceritakan apa yang terjadi kepada Angga, dia merasa lebih nyaman dan aman berbicara dengan pria yang bahkan suaminya melarang dia untuk bertemu dengannya.


Lalu sekarang dia bukan hanya bertemu tapi juga duduk berhadapan dan saling bicara, mengatakan keresahan hatinya.


Ralen tak kuasa menahan tangis, Angga pria kedua yang dia biarkan melihat tangisannya setelah suaminya.


Sadar dia akan mendapatkan masalah tapi dia juga bingung tidak tahu kenapa dia merasa bercerita dengan Angga menjadi pilihan yang tepat karena dia tahu pria itu mengenal Daniya.


Angga menatap nanar, tak kuasa ingin mengulurkan tangan agar setidaknya bisa mengelus punggung wanita di depannya untuk membantunya menjadi tenang, namun dia sadar dia tidak punya kuasa tidak punya hak untuk melakukan itu.


"Ibu memohon padaku," suara Ralen terdengar sangat sesak, "apa yang bisa aku lakukan? sebagai anak aku tidak terima ibuku melakukan itu bahkan sampai bersujud memohon hanya demi anak pertamanya yang baru saja muncul, apa salah aku menolak keinginan mereka? apa aku akan jadi anak durhaka?" Ralen menambahkan.


Suaranya tercekat tapi dia mampu menyelesaikan apa yang ingin dia katakan dengan baik, tidak tahu kenapa dia yang sedang hamil menjadi sangat mudah menangis, Ralen pun menyadari akan hal itu, emosinya menjadi sering tidak stabil selalu naik turun di setiap saat membuat kesehatannya menjadi sedikit terganggu padahal dia sudah cukup beruntung tidak mengalami gejala ngidam seperti yang biasanya terjadi pada wanita hamil, karena suaminya lah yang mengambil alih ngidamnya itu.


"Pilihan ada di tanganmu, aku tidak bisa memberikan masukan apapun karena yang merasakan itu semua kamu, ambil jalan yang menurutmu benar dan bersiap akan resikonya," ucap Angga memberikan pendapat.


Sungguh dia tidak akan melampaui batasannya sebagai orang luar, meski dia sebenarnya tidak sanggup melihat Ralen menangis akan tetapi dia harus tetap menahan diri.


Mata Gerry terbuka melihat pemandangan di depannya dengan tangan gemetar diapun mulai melakukan panggilan melalui handphone.


"Bahaya ini bahaya," katanya seraya menunggu panggilan tersambung.


Begitu tersambung dan dijawab Gerry pun segera mengatakan apa yang dia lihat, "Istri anda menangis."

__ADS_1


****


__ADS_2