Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Bosan Mengurus Suami?


__ADS_3

Sudah lebih dari lima hari dan ibunya tidak pernah lagi menghubungi dirinya, Ralen terdiam merasa kehilangan tapi dia juga takut untuk bertemu dengan ibunya.


Takut kalau ibunya nanti akan kembali meminta suaminya, hingga akhirnya dia membiarkan semuanya berjalan dengan baik menyimpan kerinduannya pada sang ibu.


Dia ini manusia yang memiliki hati, tentu sebagai seorang anak rasa kasih sayang akan tetap ada sekalipun ada sikap orang tuanya yang tidak sesuai.


"Kamu masak apa?" tanya Ipul pada sang istri yang sedang berdiri di depan kompor yang menyala dengan panci tertutup yang ada di atasnya.


"Masak air," sahut Ralen tenang seraya membuka tutup panci menunjukkan air yang masih belum mendidih.


Jawaban Ralen sontak membuat Ipul menjengkit kaget, menurutnya untuk apa repot susah payah memasak air padahal sudah ada dispenser yang langsung akan memberikan air panas hanya tinggal meletakkan gelas saja, otomatis air panas akan keluar.


Istrinya ini sudah berbulan-bulan hidup di rumahnya dan menjadi istri pengusaha tapi kenapa masih saja senang merepotkan diri sendiri.


"Ada ini Jelita." Ipul menepuk dispenser berwarna hitam dengan ukuran yang tinggi.


Ralen dengan polosnya menggeleng, "aku tidak ingin air dari tempat itu, rasanya sedikit aneh aku tidak suka," cetus Ralen dengan raut wajah menolak.


"Aneh bagaimana, yang kamu masak air putih yang ada di dalam sini juga air putih, jadi bedanya di bagian mana?" celetuk Ipul beranggapan pikiran istrinya itu sedikit melenceng, sama-sama air putih tapi malah bisa membedakan rasanya.


"Sepertinya baru hari ini kamu masak air, kemarin-kemarin kalau butuh air panas kamu ambil dari sini juga," sambungnya lagi.


Ipul ingat memang baru hari ini istrinya itu merepotkan air panas, sibuk masak air panas sedangkan sebelumnya saat ingin membuat teh kopi ataupun susu ya dari benda yang dia tunjukkan tadi.


"Ya mana aku tahu, mungkin sekarang ini keinginan anakmu Mas." dan sekarang sang anak yang di jadikan kambing hitam oleh wanita yang seharusnya bersiap untuk pergi ke kampus.


Mata Ipul memutar jengah disertai dengan tarikan napas yang luar biasa panjang juga keras bahkan suaranya terdengar diseantero dapur.


"Sudahlah aku tidak mau berdebat denganmu, masih lagi!" celetuknya, "mana kopi untukku?" dari tadi dia memang menunggu kopi untuk menemani sarapannya dengan roti dioleskan selai sarikaya kesukaannya tapi sang kopi yang dia harapkan belum muncul juga saat menyusul ke dapur malah mendapati istrinya yang tengah merebus air.


"Lah ini, kan lagi di masak." jawab Ralen menunjuk panci.


"Kamu masak air jadi buat siapa? kalau buat kopi ya tinggal pakai air ini saja kan aku yang minum," ketus Ipul menepuk dispenser.


Dia ini jadi bingung tak mengerti, tadi istrinya bilang masak air karena rasa air panas hasil rebusan dengan air di dalam dispenser berbeda, bukankah itu artinya air panas yang dia masak ya untuk istrinya itu, tapi kenapa sekarang saat dia tanyakan kopi malah menunggu air yang di masak?


Dalam sekejap Ralen memamerkan deretan giginya, nyengir tanpa dosa dan rasa bersalah sedikitpun, "masak air buat bikin kopinya Mas Sai, Dede bayi pengen aku masak air katanya."


Ipul menggaruk kepala, rambut yang sudah rapi malah jadi berantakan.


Dia merasa jadi orang tak waras melihat kelakuan istrinya.


Memangnya ada wanita hamil yang tingkahnya jadi aneh seperti istrinya ini?


Sudah dia yang harus mengalami ngidam, terus masih ditambah juga harus meladeni segala tingkah aneh tak jelas dari istrinya, sungguh logikanya seakan tidak jalan dengan baik semenjak menikah dengan Ralen.


Ipul mengurut pangkal hidungnya, dia pusing sekaligus kesal dalam bersamaan akan tetapi dia tidak mungkin memarahi istrinya itu, mengingat istrinya itu sedang hamil dan sering kali menangis atau marah karena benar-benar sangat sensitif karena efek kehamilan.


"Itu sudah mendidih cepat buatkan kopi, atau aku buat sendiri? sepertinya aku sedang mengidam ingin buat kopi sendiri," ini sindiran yang benar-benar terlihat jelas akan tetapi Ralen tidak peka.


"Ini, anak kita memang pintar." dengan polosnya menggeser cangkir serta tempat menyimpan gula dan kopi ke depan suaminya.


"Ah ya ampun." sontak Ipul mengeluh namun tangannya bergerak untuk membuat kopi yang dia inginkan.


Salahnya sendiri kenapa menyindir wanita hamil yang tidak peka, jadilah sindirannya malah dianggap serius.


Saat suaminya tengah menyeduh kopi Ralen malah sudah duduk di kursi makan, menunggu sang suami dengan wajah yang datar layaknya tidak ada masalah atau apapun yang dia lakukan.


"Bi Sumi belum datang?" tanya Ipul membawa secangkir kopi yang tentu saja sangat panas, mempertanyakan wanita paruh baya yang memang membantu di rumahnya.


"Datang siangan, katanya ada urusan keluarga," sahut Ralen menyodorkan roti dengan selai ke depan sang suami lalu menatap seperti menunggu sesuatu.


"Kenapa?" tanya Ipul dengan roti yang sudah ada di tangannya bersiap untuk menikmati akan tetapi dia malah terusik dengan tatapan sang istri.


"Sepertinya Mas Sai senang sekali makan roti sudah dua hari kan selalu minta sarapan roti dengan selai sarikaya." ucap Ralen yang memang sudah dua hari ini terus diminta untuk menyiapkan sarapan hanya roti selai saja, tidak minta makanan lain termasuk nasi.


Ipul mengedikkan bahu, "mungkin ini juga bawaan bayi di perutmu," sahutnya cepat.


Tentu dia tidak mempermasalahkan apa yang dia makan setiap harinya yang terpenting adalah sekarang dia sudah mulai bisa makan dengan baik bahkan mual muntah pun mulai semakin jarang meski kadang masih sering menyerang tapi dia merasa itu sangat wajar karena dokter pun sudah memberikan penjelasan.


"Mama kapan pulang ya Mas?"

__ADS_1


"Mama baru beberapa hari pergi dan kamu sudah menanyakannya? ckckck," Ipul berdecak, sepertinya roti tidak akan masuk ke dalam mulutnya sebab istrinya itu terus saja mengajaknya bicara.


"Apa Mas tidak merasa sepi? sepi banget loh nggak ada Mama." Ralen dengan iseng malah mengaduk-aduk kopi sang suami kembali menaikkan ampas yang sebenarnya sudah mengendap turun.


Bibir Ipul mencebik, "selama ada kamu aku tidak akan kesepian, kamu merasa sepi atau memang kamu sudah bosan mengurus kebutuhan aku?" menyipitkan sepasang matanya memberikan pertanyakan penuh curiga.


Curiga pada istrinya sendiri yang langsung dengan cepat menggelengkan kepala, membantah tuduhannya.


"Mana ada mengurus suami bosan!" Ralen menatap kesal tak terima.


Ipul tidak menjawab, dia memilih untuk segera menikmati rotinya karena jika dia terus meladeni istrinya itu dia tidak akan sarapan dan akan semakin siang dia pergi ke kantor.


Roti sudah habis masuk sepenuhnya ke dalam perut dan dia berharap tidak akan memuntahkannya lagi lalu setelahnya dia menikmati kopi buatannya sendiri yang sudah di aduk-aduk oleh sang istri.


"Cepat siap-siap," katanya seraya meletakkan cangkir kembali ke atas piring tatakannya.


"Siap-siap buat apa?" Ralen malah bertanya.


"Ke kampus, kamu tidak mau kuliah?"


"Aku lagi malas tidak ingin kemana-mana," menjawab dengan ekspresi tenang.


Ipul menghela napas, sejak tadi sepertinya dia terus saja menghela napas seolah ada beban yang tengah dia tanggung padahal dia itu hanya menghadapi seorang Ralensi Jelita saja.


"Kalau begitu aku berangkat sekarang."


Ralen mengangguk dengan wajah yang menggemaskan membuat Ipul yang bersiap untuk bangun malah menghentikan gerakannya dengan tubuh yang setengah membungkuk.


"Melihatmu menggemaskan begini malah membuat aku ingin tetap berada di rumah, apa aku juga tidak usah datang ke kantor saja?" tanyanya dengan raut wajah antara serius dan main-main.


Mata Ralen berbinar, "Mas beneran mau di rumah aja?" tidak tahu kenapa Ralen malah menunjukkan ekspresi senang.


"Sepertinya begitu," kata Ipul sambil menggerakkan kepala.


Kelopak mata Ralen mengerjap berulang kali, "kalau begitu kita bisa.."


Mata Ipul memicing, dia mulai menebak apa yang ada di dalam kepala istrinya sekarang ini, apalagi saat istrinya mengedip-ngedipkan mata dengan sangat centil bukankah ada maksud tersembunyi di baliknya?


Ralen menyandarkan tubuhnya, kecewa dengan sang suami padahal dia sudah mulai memikirkan kesenangan yang akan dia dapatkan apabila suaminya tidak pergi ke kantor hari ini.


"Kemarin dan semalam aku minta tidak di kasih," mengeluh dengan suara pelan tapi tetap sengaja mengatakannya di depan sang suami karena memang ingin pria itu mendengar keluhannya.


Bayangkan saja, kemarin dan semalam dia sangat ingin tapi suaminya malah mengomel panjang lebar membahas tentang kehamilan yang masih usia muda dan kata dokter tidak boleh sering-sering melakukannya, katanya harus bisa menahan tapi dia yang tidak tahan.


Sungguh hormon testosteron nya jadi sangat tinggi bahkan melebihi suaminya sendiri, dia sendiri saja merasa aneh karena tiap kali melihat suaminya malah ingin sekali di sentuh dan melakukan itu.


"Karena dokter sudah memperingatkan kita Jelita, kamu sudah sering mengeluh perutmu kram tiba-tiba, aku tidak mau mengambil resiko!" Ipul berkata tegas, menegaskan pada wanita yang sedang merengek padanya.


Ipul mengelus pipi sang istri, "sebaiknya kamu melakukan kesibukan agar tidak selalu memikirkan gerakan mematikan ku."


Mata Ralen membelalak lagi sedangkan suaminya malah tersenyum menggoda, sungguh sekarang kedua pipinya berubah menjadi merah dia yang dulu polos memang sudah berubah menjadi liar tak terkendali terlebih lagi semenjak dia hamil, oh tuhan dia benar-benar kesulitan mengatur keinginannya untuk merasakan sentuhan dan sensasi yang ditimbulkan akibat sentuhan demi sentuhan yang suaminya berikan.


"Tidak bisa Mas Sai." Ralen merengek manja seraya memegangi tangan sang suami menahannya agar tidak pergi.


Ipul mengelus rambut lalu mengecup puncak kepala wanita yang sedang merengek tak jelas menginginkan hal mesum di pagi hari.


Pria itu berjongkok lalu mengecup perut yang masih rata berulangkali, "kamu harus kuat karena Papa tidak ingin melihat Mamamu terus dan selalu merengek seperti ini," berbicara di depan perut seolah bayi di dalam kandungan bisa mendengar.


"Mas.."


Ipul mendongak lalu menatap kedua mata istrinya, "sabar ya," katanya.


Hanya itu saja padahal yang diinginkan oleh sang istri bukanlah kata sabar, istrinya itu ingin yang lain.


Salahkan dirinya sendiri yang memancing wanita hamil dengan hormon testosteron tinggi, dan sekarang dia tidak mau mengambil resiko hingga memilih mengabaikan keinginan istrinya itu.


"Aaahh Mas Sai." suara Ralen terdengar menyedihkan saat suaminya sudah berdiri dan tentunya akan beranjak pergi.


****


"Lihat saja kulitku sudah merah semua!" Daniya menunjukkan kulit lengannya yang timbul bentol-bentol merah kepada Agatha.

__ADS_1


Sekarang dia sedang berada di apartemen yang disewa oleh sang teman.


Bukannya iba tapi Agatha malah mentertawakan apa yang menimpa Daniya.


"Kan kamu sudah aku bilang pulang saja ke rumah Mama Dayna, walaupun Mama Dayna marah padamu tapi aku yakin dia tidak akan tega melihat kamu hidup menderita," celetuk Agatha, "kamu ini menyusahkan dirimu sendiri," tambahnya lagi.


"Kamu yang menyemangati aku untuk berjuang agar bisa mendapatkan Awan," dengus Daniya.


"Tapi bukan perjuangan dengan cara menyiksa dirimu sendiri Dani."


Agatha menggeleng tak menyangka dengan jalan pikiran dari temannya, bukankah masih sangat banyak cara yang lebih baik daripada yang Daniya lakukan sekarang?


Daniya mengoleskan minyak zaitun pada kulitnya yang merah dan bentol dan berharap gatalnya juga akan reda.


Sungguh dia gatal bahkan sejak tadi dia tidak hentinya bergerak untuk menggaruk.


"Banyak yang bisa kamu lakukan," tukas Agatha tenang.


"Tapi untuk saat ini hanya dengan cara beginilah aku bisa mendapatkan Awan, terlebih dulu aku harus mengambil hati ibu dan Ayahku dan juga si bocah laki-laki tak sopan bernama Arda itu!"


Untuk mengambil hati orang tuanya dia tidak akan kesulitan tapi untuk seorang Arda, sungguh dia merasa kesal karena Adiknya itu seolah menjaga jarak dengannya, terus bersikap ketus juga sinis terhadapnya.


Jelas mereka tidak akan bisa dengan cepat akur selayaknya saudara dan itu sangat menyebalkan, dia tidak ingin akur dengan Arda hanya saja dia membutuhkan adiknya itu untuk ikut berada di belakangnya dan memberikan dukungan.


Dukungan untuk melakukan hal gila agar bisa merebut suami dari Adiknya sendiri.


"Kapan kamu akan kembali ke Inggris?" tanya Daniya mengalihkan topik pembicaraan.


Saat datang menjenguknya ke rumah sakit Agatha memang sudah mengatakan padanya kalau temannya itu akan kembali ke Inggris namun kapan akan berangkat Agatha belum memberitahunya.


"Lusa."


"Hah!" Agatha terkejut mendengarnya.


"Lusa? kamu sudah gila? itu sangat cepat!" Daniya tidak senang dan protes.


Dia ini masih sangat membutuhkan sang teman, setidaknya temannya itulah satu-satunya orang yang bisa dia ajak bicara mengenai Awan tanpa harus berpura-pura menjadi wanita lemah.


Jika Agatha kembali ke Inggris lalu bagaimana dengan dirinya? karena Agatha yang sangat mengenal dirinya hingga dia tidak akan segan menceritakan apa yang dia rasa tanpa perlu menutupi.


Agatha beranjak dari sofa melenggang ke dapur mengambil sebotol air dari dalam kulkas lalu menenggaknya sambil berdiri, wanita itu terlihat sangat haus mungkin berbicara dan mendengar Daniya membuat kerongkongannya kering dan harus dibasahi.


"Aku harus kembali bekerja Dani, uangku sudah hampir habis untuk membiayai pria kere yang terus saja memoroti aku setiap bertemu," ujar Agatha dengan wajah kesal.


Kenyataannya pria yang membuatnya datang ke negara ini hanya seorang pria kere dan juga matre yang memanfaatkan dirinya, dia kesal dan marah bahkan pertemuan terakhir dia dengan rela menonjok wajah pria itu untuk melampiaskan kekesalannya karena pria itu masih saja meminta uang darinya.


"Aku ini bukan kamu, dan tidak akan bisa seperti kamu Dani, kamu meskipun tidak bekerja uang akan tetap masuk ke rekeningmu, siapa lagi kalau bukan Mama Dayna yang mengirimnya." Agatha menyimpan kembali botol yang masih terisi setengahnya.



Daniya terdiam, dia akui Mamanya memang sangat baik bahkan saat sedang marah dan kecewa terhadapnya pun masih terus mengirimkan uang dan itu dilakukan oleh sang Mama kemarin, juga saat dia mengambil mobil di rumah Mamanya masih dengan senyum ketika dirinya datang.



Ada rasa ingin pulang ke rumah sang Mama angkat akan tetapi dia harus menahan diri, tidak boleh melakukan itu sebelum Awan menjadi miliknya.



Mata Daniya mengikuti kemana Agatha melangkah dan beranjak bangun ketika melihat temannya kini sibuk memasukkan pakaian ke dalam koper.



"Aku akan segera datang ke inggris," kata Daniya membantu temannya membereskan barang-barang yang akan ikut di bawa kembali ke Inggris.



Agatha mengangguk, selalu hubungi aku."



\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2