Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Tanggung Jawab!


__ADS_3

"Gue udah tidurin cewek."


"Hah!" mata Zara membulat bahkan seperti hampir saja lepas dari sarangnya.


"Maksudnya apa?!" tanya Zara dengan suara yang menyiratkan kebingungan namun juga ketidakpercayaan pada apa yang barusan terlontar dari mulut teman sekaligus Adik sepupu dari suaminya.


"Gue.."


"Lo gila! jangan bercanda!" pekik Zara tak mau percaya tapi dari wajah yang Ipul tunjukkan pada detik berikutnya membuat dia harus percaya.


Plak


Plak


Plak


Dengan entengnya melayangkan pukulan pada tubuh Ipul yang meringis dan terpaksa harus menginjak rem dengan cepat, dia sedang mengendarai mobil mereka bisa celaka jika dia nekat tetap melajukan mobilnya di saat Zara tengah memukuli dirinya bahkan sekarang Zara dengan buas menarik telinganya sampai Ipul memiringkan kepalanya.


"Katakan sama gue, bagaimana bisa Lo kayak gitu Saipul!?" sentak wanita yang sepertinya akan semakin kesal apabila mendengar pengakuan Ipul selanjutnya.


"Mabok.." jawab Ipul belum selesai namun Zara sudah memotongnya.


"Lo mabok? sejak kapan Lo mabok!" hardik Zara.


Mobil sekarang sudah berhenti di tepi jalan yang hampir dekat dengan rumah sakit, namun sepertinya Zara tidak akan meminta Ipul untuk segera kembali ke rumah sakit meskipun sedari tadi suaminya sudah mengirim pesan kalau Achnaf sudah rewel dan susu formula yang tadi Zara siapkan pun sudah habis, tapi anaknya itu masih saja menangis.


"Bukan gue tapi dia yang mabok, Lo tahu gue kalaupun mabok nggak mungkin sampai lepas kendali."


"Heh gila! ngaku masih bisa terkendali saat mabok tapi yang tak wajarnya Lo malah hilang kendali dalam keadaan sadar, Lo ini otaknya kemana sih Pul, malah Lo ambil kesempatan saat orang lagi nggak sadar!" cerocos Zara memaki mengomel serta menunjukkan wajah yang sangat marah terhadap temannya itu.


"Gue bilangin Abang Lo!" ancam Zara melepaskan kedua tangannya yang sedari tadi tak henti memukuli tubuh Ipul dengan kemurkaan yang tidak bisa di tahan.


"Tadi Lo udah janji nggak bakal bilang Za, please bakal abis gue sama suami Lo," mohon Ipul yang takut akan amukan Davi, jelas saja Davi akan senantiasa menghajar dirinya apalagi mengingat dirinya dulu juga pernah memukuli Davi karena menyakiti Zara, dan yang lebih dia takutkan lagi adalah Abangnya itu akan mengatakan pada Mamanya, dia tidak mau itu terjadi di saat sang Papa masih juga belum sadar.


"Gue nggak peduli!" sahut Zara keras dengan mata yang mendelik.


"Please Za," mohon Ipul dengan memelas.


"Kalau Abang tahu Mama juga bakal tahu, gue nggak mau itu terjadi Za, dia masih harus mikirin Papa, gue nggak mau nambah pikiran dia lagi, sekarang aja dia udah susah banget makannya," aku Ipul tentang kenyataan yang sangat membingungkan dirinya.

__ADS_1


Zara terdiam mendengar penuturan Ipul, dia juga tidak mau menambah beban pikiran Tantenya itu.


"Siapa ceweknya?" tanya Zara kemudian.


"Yang rencananya hari Minggu mau gue lamar, Abang juga udah pernah lihat," jeda sejenak, "gue tanggung jawab Za, tanggung jawab tapi saat yang bersamaan Papa malah kayak gini, gue nggak kemana-mana kok saat gue dekat sama satu cewek ya emang cuma satu nggak bakal bercabang ke sana-sini, yang gue nggak nyangka gue kebablasan, harus nya saat itu gue nggak bawa dia ke hotel."


Buk!


Baru juga Ipul selesai berkata Zara lagi-lagi sudah memukulnya dengan tas yang dia bawa, tas yang kemungkinan ada berbagai barang di dalamnya karena Ipul merasa bahunya terasa cukup sakit.


"Lo harus tanggung jawab!" kata Zara kemudian.


"Gue bakal tanggung jawab Za, cuma gue masih harus nunggu Pap sembuh, minimal sadar dulu, nggak mungkin dalam keadaan seperti itu gue maksa Mama buat nikahin gue," ujar Ipul memijit bahunya.


Zara menggeleng lalu mengoceh geram, "bingung gue, kok bisa-bisanya Tante Riska punya anak modelan Lo gini Pul, ckckck," kata Zara lalu menghela napas berat.


"Lo berubah tahu nggak?!" sambung Zara lagi, "harusnya Lo kendaliin nafsu Lo itu, apa susahnya sih! gue bingung sama kalian ini kaum pria kenapa gampang banget tidur sama perempuan padahal bukan istrinya, aneh gue!" dengus Zara seakan kejadian ini membuatnya teringat pada masa lalu yang pernah dilakukan oleh suaminya.


"Pria itu lebih besar nafsu daripada otak Za."


"Nggak usah ngomong Lo!" hardik Zara membuat Ipul membungkam mulutnya.


"Gila Lo!" lagi-lagi berseru kencang memaki temannya yang dalam sekejap seperti menaikkan tensi darahnya sampai terasa memanas di ubun-ubun kepalanya.


"Gue belum sempat nemuin dia, handphone gue juga rusak, sedangkan gue nggak inget nomornya," aku Ipul dengan wajah yang menyesal berkali-kali lipat.


"Gue yakin sekarang dia mikir macam-macam, dia pasti nganggap Lo kabur Pul, kabur!" suara Zara bahkan sangat mendominasi di dalam mobil.


Wanita ini sepertinya memiliki stok lengkingan suara yang sangat banyak, karena sejak tadi berteriak tapi suaranya tetap stabil dan tidak serak.


Ipul menatap wanita di sampingnya seakan tidak mengerti dengan maksud perkataannya.



"Maksudnya?" tanya Ipul.



Zara menggeleng tidak ingin menjelaskan yang dia ingin adalah Saipul segera menemui wanita itu dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, bukan malah membiarkan masalah semakin berlarut hingga akhirnya malah menjadi rumit nantinya.

__ADS_1



"Lo harus temuin dia, minta maaf dan jelasin semuanya," kata Zara tegas, tidak ingin temannya yang selama ini dia kenal baik malah menjadi semakin tidak bermoral meski tanpa sengaja.



"Gue pasti temuin dia Za, tapi nggak sekarang-sekarang ini, jawab Ipul.



"Lo mesti temuin dia secepatnya Saipul! dengerin gue!" sentak Zara menjadi sangat gemas dengan pria yang masih saja menunda padahal ini adalah hal sangat penting bahkan sangat darurat.


Ini mengenai nasib seorang wanita yang kehormatannya sudah direnggut oleh sang teman yang harus segera mendapat pertanggung jawaban.


Ipul menghela napas panjang, "besok gue temuin dia," kata Ipul akhirnya.



"Nggak bisa sekarang?!" tanya Zara dengan mata melotot.



Ipul menggeleng lalu menggaruk tengkuknya, sebenarnya dia juga sedikit takut untuk menemui Ralen, rasa bersalah yang bercokol di dalam hatinya sudah setinggi dan sebesar gunung, takut Ralen tidak mau bicara atau yang lebih parahnya lagi wanita itu malah menghindar darinya, bersembunyi sepertinya pernah wanita itu lakukan.



"Tuh cewek keburu kabur baru tahu rasa!" dengus Zara.



"Gue udah minta Om Damar buat kasih tahu gue kalau tiba-tiba Ralen resign," tutur Ipul.



Zara mengangkat sudut bibirnya mendengar pernyataan Ipul, "beraninya mata-matain, temuin langsung takut," sindir Zara dengan kelakuan temannya.



\*\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2