
Langkah kaki Ipul yang tadinya begitu tegap dan cepat perlahan melambat ketika di depan sana, di lobby gedung kantornya di meja resepsionis dia melihat seseorang yang sudah sejak empat hari berusaha untuk dia hindari malah tengah berdiri menunggunya dan tatapan wanita itu menjadi sangat dalam ketika bertatap mata dengannya.
"Kita harus kabur kah?" kata Ipul pada sang asisten yang berjalan di sebelahnya.
"Ekhem," Pria di sampingnya berdehem lebih dulu baru kemudian memberikan jawaban, "terlihat sangat tidak gentle dan terlalu pengecut untuk seorang pemilik perusahaan," tutur Damar lugas.
Ipul yang sedari tadi menatap wanita yang tengah mengagumi dirinya setelah sekian lama mereka tidak bertatap muka pun menoleh pada sang asisten dengan wajah penuh pertanyaan, "maksudnya bagaimana?"
Damar menaikkan alisnya, "akan sangat terlihat konyol apabila tuan muda terus menghindar bahkan pura-pura tidak mengenal saat wanita itu pasti akan terus mengikuti Anda, terlihat sangat lucu apabila Anda kabur seperti orang yang telah berbuat salah," papar pria yang selalu bersikap cool saat sedang berbicara.
Sedikit banyak dia sudah mendengar cerita tentang Daniya, dari siapa lagi kalau bukan dari pria yang berdiri di sampingnya ini, beberapa hari lalu pria saat atasannya mendapat telepon dari wanita itu dia langsung menceritakan semuanya tanpa diminta, apalagi saat wanita itu yang tiba-tiba muncul di hotel yang mereka tempati, membuat sebuah kisah akhirnya terungkap dengan lancar kepermukaan, kisah masa muda yang tak sengaja dan malah membuat seseorang menaruh harap.
"Apa tampang ku ini terlihat seperti orang yang akan melakukan hal konyol dengan tiba-tiba kabur di depan semua orang?" tanya Ipul memicingkan sedikit matanya.
"Saya tahu dengan jelas bagaimana kelakukan anda saat masih remaja dulu," Damar seolah mengingatkan kalau dia orang yang cukup lama bekerja dengan mendiang Papa dari si penerus perusahaan.
Ipul melihat sang asisten dengan tatapan mengerti, jelas dia ingat dan sadar benar sudah berapa lama pria bernama Damar itu bekerja untuk keluarga terutama sang Papa, bahkan saat dia masih duduk di bangku SMP? mungkin kalau dia tidak salah ingat.
"Hadapi saja dan bicarakan baik-baik, tanyakan apa maunya dan katakan yang sebenarnya tidak perlu main kucing-kucingan sebab kalian bukan kucing," ucap Damar lalu hendak bergerak menjauh ketika wanita yang sejak beberapa hari lalu dihindari oleh atasannya itu terlihat berjalan mendekat.
"Kenapa dia menjadi sangat mirip dengan Jelita," gumam Ipul saat Daniya makin dekat.
"Jelita siapa?" sempat-sempatnya Damar masih saja bertanya.
"Wanita galak yang aku nikahi!" kata Ipul dengan ketus.
Damar mengedikkan bahunya baru ingat kalau nama lengkap wanita yang dinikahi oleh atasan mudanya itu adalah Ralensi Jelita.
"Kita bicara di ruangan ku saja," kata Ipul ketika Daniya sudah berada di hadapannya dan akan membuka mulut.
Wanita yang kini berambut sebahu itu mengangguk dengan ulasan senyum yang menghiasinya wajahnya, mengikuti pria yang berjalan lebih dulu masuk ke dalam lift dan berdiri di dalam tanpa memandang ke arahnya apalagi mengajaknya bicara.
__ADS_1
Oh ayolah di dalam lift ini ada tiga orang manusia namun tidak ada satupun yang membuka mulut untuk mengusir keheningan di dalam benda kotak yang sedang bergerak naik itu, mulut ketiga manusia itu seolah begitu rapat oleh lem yang merekat sangat kuat dan erat hingga tidak memberikan celah sedikitpun untuk mereka mengeluarkan suara guna mengisi kesunyian dalam ruang kotak yang tengah membawa mereka.
Dan sekarang dua orang manusia dengan berlawan jenis tengah duduk berhadapan di dalam ruang kerja sang pria, menatap dengan segala pikiran yang menerpa otak mereka masing-masing.
"Kenapa menghindar?" si wanita yang duduk dengan begitu anggunnya mulai mengajukan pertanyaan, jelas wanita itu sangat anggun dengan pakaiannya yang sangat elegan dan terlihat sangat tepat untuk tempat yang dia datangi sekarang sudah sangat wajar sebab dia adalah wanita terpelajar yang tahu harus berpenampilan serta berperilaku seperti apa agar tidak memalukan dirinya sendiri apalagi dia anak dari orang terpandang meskipun hanya anak angkat, tapi setidaknya dia sudah terdaftar menjadi pewaris dari harta kekayaan orang tua angkatnya.
Ipul menghela napas ringan lalu bersikap luar bisa santai dan tenang mendengar pertanyaan dari sang wanita yang jauh-jauh datang dari negara yang dulu dia tinggali hanya untuk mencari dirinya.
Mencari dirinya? apa dia tidak terlalu percaya diri sekarang? bisa-bisanya dia berpikir kalau wanita di depannya ini mencari dirinya.
"Kamu tidak berniat untuk menjawab pertanyaan ku?" Daniya menatap pria di depannya yang sibuk bernapas di saat dia mengajukan pertanyaan.
"Tidak bisa bertanya kabar dulu? bukankah aturan pertama saat seorang teman lama tidak bertemu akan bertanya tentang kabar?"
Ini Saipul Gunawan tengah bersikap konyol di depan wanita yang jelas-jelas tahu bahwa dia itu menghindar darinya.
"Kalau begitu aku yang akan bertanya, bagaimana kabarmu?" ucap Ipul mengajukan pertanyaan pada sang wanita.
"Buruk dan menjadi sangat buruk ketika pria yang sangat ingin aku temui malah berusaha menghindar dariku, aku mencarinya ke hotel tapi dia malah sudah pindah tepat saat aku datang mencarinya," papar Daniya dengan ekspresi wajah yang entah sedih atau marah terhadap pria di depannya sekarang.
"Tapi kamu meninggalkan aku saat aku menaruh harap dan menanti kepastian darimu," ucap Daniya mengutarakan perasaannya saat pria itu mendadak pergi meninggalkan Inggris bahkan tanpa pamitan kepadanya, pergi begitu saja saat dia tengah menyimpan asa.
Ipul termangu mendengar setiap tutur kata yang dilontarkan oleh Daniya, menaruh harap dan menanti kepastian darinya? benarkah dia sudah memberikan harapan pada wanita itu?
Dia akui dia sempat menaruh rasa tapi itu dulu apakah salah kalau dia menyukai seseorang? toh pada saat itu dia laki-laki bebas, dan yang paling penting dia tidak pernah mengutarakan perasaannya pada wanita itu, tidak pernah dia mengucapkan kata cinta ataupun aku suka kamu dan itu artinya mereka tidak ada hubungan apapun lalu kenapa sekarang si wanita malah datang seperti menuntut dirinya? menuntut kepastian hubungan yang bahkan tidak pernah ada.
"Kita tidak pernah berhubungan lebih dari sebatas teman," Ipul mencoba memberikan penjelasan yang mungkin akan dimengerti oleh Daniya.
__ADS_1
"Tapi kita pernah melakukannya aku harap kamu jangan pernah lupakan itu," lontar Daniya seraya menatap sang pria dengan sangat dalam.
"Melakukan apa? jangan mengatakan hal yang aku sendiri tidak merasa pernah melakukannya!" oceh Ipul tidak terima.
Dia memang pria berengsek tapi ke berengsekannya hanya dia lakukan pada Ralen saja, tidak ada wanita lain sebelum atau sesudah Ralen yang dia sentuh.
Hanya Ralen satu-satunya wanita yang dengan kurang ajarnya dia tiduri saat wanita itu dalam keadaan mabuk bahkan saat wanita itu belum menjadi istrinya.
"Berciuman, kita pernah berciuman di malam tahun baru," terang Daniya mengingatkan apa yang sempat mereka lakukan dulu.
Ipul membuang napas kasar lalu mengurut pangkal hidungnya, "oh ayolah Dani kita tinggal di Inggris dan hal itu sudah sangat biasa, tidak ada yang salah dengan berciuman," ucap Ipul merasa Daniya konyol, menuntut dirinya hanya karena mereka pernah berciuman.
"Untung wanita lain mungkin itu biasa, tapi bagiku itu sangat tidak biasa apalagi aku melakukannya dengan seorang yang aku sukai!" ujar Daniya dengan mata yang mulai berkaca tak terima sebab pria di depannya seolah sangat meremehkan dirinya.
"Lalu sekarang kamu mau apa?" akhirnya Ipul yang tidak tahu harus bagaimana pun mengajukan pertanyaan, meminta wanita itu mengatakan apa yang dia mau.
"Aku ingin kamu."
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*\*