
"Gue males banget ngeliat tuh cowok ngeselin Tik!"
Pagi-pagi buta Ralen malah sudah mengganggu ketenangan serta kenyamanan tidur temannya yang tadi langsung mengomel kala Ralen menggedor-gedor pintunya pada jam 5 lewat.
Antika yang saat ini masih setia bergelung di balik selimut sangat enggan sekali menimpali celotehan serta keluhan dari Ralen, Ralen terus berceloteh tanpa henti sedangkan dia malah kembali memejamkan matanya berusaha untuk kembali pulas meski nyatanya tak mampu sebab telinganya sudah kadung terkontaminasi dengan suara Ralen yang berisik.
"Lo tuh harusnya seneng dan bahagia Len, kapan lagi ada cowok yang mau nikahin elo mana anak orang kaya lagi jelas-jelas hidup Lo bakal terjamin nantinya, kok ya malah berkicau terus udah kayak anak burung!" sungut Antika dengan mata yang enggan terbuka.
"Tapi gue nggak cinta! jangankan cinta ngelihatnya aja gue sebel banget," sahut Ralen.
Antika yang mendengar penuturan Ralen pun dengan cepat menyingkap selimutnya.
"Heh! Lo ini bukan ABG umur 15 tahunan yang masih mikirin cinta-cintaan bucin-bucinan yang cuma di kasih gombalan aja girangnya udah setengah mati, Lo mesti realistis bayangin aja gimana hidup Lo akan langsung berubah drastis begitu nikah sama cowok yang kata Lo songong itu, bukan cuma hidup Lo yang terjamin tapi juga keluarga Lo! emang Lo nggak cape apa banting tulang terus tapi uang yang Lo hasilnya segitu-gitu aja," omel Antika panjang lebar seolah ingin membuat pemikiran Ralen sedikit terbuka.
Seperti yang Antika katakan memangnya bisa makan cinta saja, nikah mementingkan perasaan tidak selamanya akan bahagia, toh banyak orang yang menikah atas dasar suka sama suka tapi pada akhirnya malah menderita lalu menyesal akhirnya.
"Nih ya kalau gue jadi Lo Len, udah langsung gue iyain aja tuh, apalagi Lo bilang orang tuanya malah yang ngusulin buat nikah, terlepas dari kesalahpahaman yang jelas gue akan merasa beruntung atas kesalahpahaman itu!" lanjut Antika, mulutnya menjadi lebih bawel ketika tidurnya terganggu.
Mulut Ralen pun sontak terkunci rapat tidak bisa berkata apa-apa lagi, dirinya hanya melihat temannya yang kini menatap penuh intimidasi kepadanya.
Memang benar apa yang Antika katakan, hidup memang butuh uang tapi bukankah kebahagiaan juga perlu, setidaknya uang dan kebahagiaan seimbang hingga hidup bisa berjalan dengan baik apalagi ini tentang pernikahan, sebuah hubungan sakral yang siapapun hanya ingin menjalaninya satu kali seumur hidup, tidak ada manusia manapun yang menginginkan perpisahan bukan? seperti dirinya yang sejak dulu selalu memimpikan menikah dengan pria yang dia cintai, terlalu naif tapi itulah yang dia harapkan.
"Udah deh sana Lo kerja Len, udah jam berapa ini," usir Antika sambil melirik pada jam di atas meja kecilnya.
"Tapi gue beneran males banget." sepertinya Ralen ini memang tipe wanita keras kepala yang selalu membawa perasaan di setiap waktu.
Itulah kenyataannya, jika tidak lalu kenapa dia harus sibuk menghindari sosok ngeselin yang tadi malam baru saja menemuinya dengan segala omongan-omongan yang membuat pusing.
"Ya udah tinggal tunggu di pecat aja terus Lo balik lagi dah tuh ngojek sampai malam, banting tulang sebanting-bantingnya buat ngecukupin semua kebutuhan keluarga Lo! inget Len Ardan ini masih butuh banyak biaya, kan Lo yang bilang sendiri kalau Lo itu bakal sekolahin Ardan setinggi-tingginya bahkan kalau bisa setinggi langit kali," cerocos Antika makin tidak sabar.
Temannya ini memang susah sekali di hasutnya padahal dia menghasut juga untuk kebaikan temannya itu demi kesejahteraan yang akan sang teman rasakan sepanjang hidup jika menikah dengan anak pengusaha yang sudah pasti akan mewarisi kekayaan orang tuanya.
"Lagian kan seharusnya yang berat buat nikah tuh cowok Len, udah nya dia kaya masih muda dan gue rasa juga wajahnya nggak jelek, yah kalau misalnya jelek kan seenggaknya uangnya banyak, Lo bawa aja ke Korea buat operasi plastik biar kayak Jin BTS, aduh!"
Baru saja selesai berkata kepala Antika malah sudah di hantam oleh tas milik Ralen, "BTS Mulu!" sentak Ralen.
Temannya itu memang sangat tergila-gila pada boyband yang satu itu terutama yang bernama Jin, pernah sekali Ralen mendengar Antika berbicara pada selembar majalah begitu Ralen intip ternyata di majalah itu ada wajah idolanya.
__ADS_1
Saat itu Ralen hanya mencebikkan bibirnya seraya menggelengkan kepala melihat tingkah aneh temannya itu.
******
Ralen berjalan lesu seakan semangatnya untuk bekerja kandas di di bawa hanyut oleh arus di sungai, wajahnya yang kemarin pucat pun berusaha dia poles dengan bedak tipis serta pelembab bibir agar bibirnya tidak kering dan pecah-pecah akibat panas dalam yang juga menyerang.
"Mbak, kok baru datang?"
Baru saja sampai di pantry lantai 9, suara serta wajah Safiq sudah menyambutnya.
"Kan kemarin gue izin sakit," sahut Ralen.
"Bukan yang kemarin, maksudnya tuh hari ini kok Mbak baru datang padahal ini sudah mau jam 9 loh," terang Safiq menunjuk pada jam yang bergelantung di dinding dengan cat putih.
Ralen melirik malas pada benda yang tengah jarumnya tengah berputar itu seolah mengintimidasi dirinya.
Tanpa banyak bicara apalagi menimpali Safiq, Ralen pun segera menyimpan tas nya ke dalam loker lalu beralih lagi menuju tempat penyimpanan alat-alat kerjanya, semua gerakan Ralen begitu tidak bergairah tidak ada semangat yang membuat Safiq keheranan.
"Mbak," panggil Safiq ketika Ralen melewatinya.
"Apa lagi?" suara Ralen terdengar malas-malasan.
Tadi pagi saat dia tengah membuatkan kopi untuk staf Ipul memang mendatanginya menanyakan Ralen, lalu pergi lagi setelah tidak menemukan wanita itu dan hanya berpesan padanya untuk menyuruh Ralen datang ke ruangannya.
Ralen menghela napas luar biasa berat, harus menemui Saipul Gunawan seperti bertempur di Medan perang, pria itu sungguh membuat Ralen pusing tujuh keliling.
Namun lagi-lagi Ralen tidak bisa melakukan apapun hingga akhirnya memutuskan melangkahkan kedua kakinya dengan berat hati mengarah pada ruangan sang anak pengusaha itu.
Langkah Ralen terhenti kala di depan ruangan itu sudah ada meja kerja dengan seorang wanita yang duduk di baliknya, Ralen langsung bisa menebak kalau itu adalah sekretaris yang baru dua hari bekerja sebab saat sebelum libur dua hari sekretaris itu belum ada.
"Maaf Mbak," kata Ralen sopan pada wanita yang berpakaian wangi yang menyengat serta dandanan yang makin menonjolkan kecantikannya.
__ADS_1
Wanita yang tidak Ralen ketahui namanya itu mengangkat wajah dan menatap meremehkan begitu melihat seragam yang Ralen pakai.
"Kenapa?" tanyanya ketus tanpa senyum membuat Ralen mengerutkan kening.
Bagaimana bisa seorang sekretaris yang seharusnya ramah pada siapapun karena tuntutan pekerjaannya yang memang akan selalu menghadapi orang banyak terlebih lagi para pengusaha tapi malah begitu judes, atau memang keramahannya tergantung pada siapa yang dia temui?
"Tadi Bos suruh saya ke ruangannya," kata Ralen mencoba tenang dengan sikap sang sekretaris.
Sekretaris itu mendengus lalu melihat Ralen dari atas hingga bawah dan kemudian bibir merah merekahnya pun bergerak, "ya udah sana masuk di suruh bersihin lantai," ucapnya seolah tahu kalau Ralen di panggil hanya untuk membersihkan lantai ruangan.
Ralen yang kadung kesal pun segera saja membuka pintu yang ada di depannya.
"Cari sekretaris jutek begitu," sungut Ralen menutup pintu.
"Mana nih orangnya?" katanya mendapati ruangan yang kosong.
"Masuk sini," kata Ipul yang tiba-tiba muncul dari pintu ruangan yang beberapa hari lalu membuat Ralen trauma.
Jantung Ralen berdebar sangat cepat dengan segala pemikiran yang melanglang buana, mau apa lagi Ipul memintanya masuk ke dalam ruangan keramat itu, apa pria itu tidak kapok terkunci berjam-jam di dalam sana.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*