Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Mimpi Kan?


__ADS_3

Ralen berharap apa yang ada di depan matanya sekarang ini hanya sekedar mimpi atau halusinasi semata yang hanya muncul sesaat saja, wanita yang sekarang duduk dengan dagu terangkat menampilkan sikap yang sangat arogan itu sungguh Ralen ingin hanya sebuah bayangan dan tidak nyata karena apabila ini adalah kenyataan dia sungguh tidak akan pernah bisa percaya kalau wanita yang sebenarnya Kakak kandungnya adalah wanita yang sama yang menyukai suaminya.


Wanita yang berhadapan dengannya ketika di Batam, wanita yang dengan tenangnya menggandeng lengan suaminya, wanita yang dengan entengnya berkata bahwa suaminya masih sangat menyukai dirinya hanya karena menikah dengan wanita yang mirip dengannya.


Sungguh dalam sekejap tubuh Ralen membeku dan teramat dingin kala saling menatap dengan Kakaknya, Daniya.


Oh tuhan rasanya Ralen tidak sanggup ketika menyadari apa yang ada di depan matanya dan tengah dia hadapi adalah sebuah kenyataan yang entah kenapa sangat meremukkan hatinya ketika teringat kata demi kata yang di lontarkan oleh Ibunya sejak tadi malam.


"Kamu harus baik padanya Len, kasihan Kakakmu selama ini tidak mendapat kasih sayang dari Ayah dan ibu, Ibu ingin menebus semua kesalahan yang sudah ibu perbuat, ibu bahkan rela melakukan apapun untuk Kakakmu itu asalkan dia mau memaafkan Ayah dan Ibu serta mau menerima kita sebagai keluarganya, tentu kamu juga akan senang karena memiliki seorang Kakak." dalam sekejap kepala Ralen terasa sangat berputar pusing menerpa membuat dia memegangi kepalanya sendiri, akibat perkataan dari sang Ibu yang terus mengalun berulang-ulang di telinga dan pikirannya.


Kalau sudah begini apa dia masih harus mengikuti permintaan ibunya? harus baik pada wanita yang jelas-jelas menyukai suaminya dan dari sorot matanya saat ini terlihat jelas bahwa wanita itu tengah menabuh genderang peperangan dengan dirinya, haruskah dia mendengarkannya apa yang ibunya katakan atau justru mengabaikannya saja? bukankah ini menyangkut tentang dirinya? tentang pria yang menjadi suaminya.


Ralen mengerjapkan kedua matanya dan berharap kalau ketakutannya itu tidak akan pernah menjadi nyata serta mimpi-mimpi yang kini bergulir dalam ingatannya.


"Tidak disangka bahwa kita ini saudara," ucap Daniya disertai dengan sunggingan senyum yang terlihat sangat sinis lalu ditambah dengan decihan mengejek seolah kenyataan yang dia ketahui adalah sebuah lelucon yang sangat tidak lucu dan pantas mendapatkan cercaan.


"Kenapa diam saja? bukankah saat kita bertemu dulu kamu sangat galak dan.. sombong?" Daniya mengoceh ketika Ralen tak bersuara.


Sungguh saat ini Ralen masih sangat syok yang tidak percaya akan kenyataan yang sudah di depan mata.


"Kalian sudah pernah bertemu?" tanya sang ibu menatap kedua putrinya bergantian.


Keterkejutan tentunya bukan hanya pada Arni tapi juga pada Dayna yang sekarang duduk disebelah Daniya.


Wanita yang tadi tampak memuji wajah yang Ralen miliki kini juga menatap Daniya dengan sorot bertanya, dia tentu tidak mengerti dan berharap untuk mengerti apa yang baru saja dikatakan oleh anak angkatnya.

__ADS_1


Daniya mencebikkan bibirnya dengan kedua mata yang tak lepas dari Ralen, menatap dengan sangat tajam menunjukkan ketidaksukaan yang teramat mendalam, sungguh diapun sama seperti yang Ralen rasakan rasa tidak percaya dan terkejut bahwa adiknya adalah istri dari pria yang dia sukai, bahkan dia sempat menerima perkataan yang pedas kala di Batam.


Dia yang masih sangat tidak terima makin menjadi-jadi, rasa hatinya ini bergolak ingin membalas semua yang sudah terjadi padanya dia juga berpikiran untuk mengambil apa yang harusnya menjadi miliknya.


"Hei! mana suaramu?" Daniya kembali mempertanyakan hilang kemana suara Ralen, suara Adiknya, "apa kamu tidak mendengar mereka sedang bertanya, kamu tidak ingin menjawab?" Daniya menyeringai mengejek wanita yang mulai saat ini bukan lagi sekedar saingannya tapi juga Adiknya.


Ralen mengepalkan kedua tangannya, sungguh dia ingin menjawab dan membalas perlakuan Daniya, tapi ketika dia ingin bersuara malah mendapati tatapan mata dari wanita yang duduk di sampingnya, wanita yang pandangannya memelas seperti memintanya untuk berkata tenang dan bersabar tidak boleh membalas setiap lontaran kalimat menyebalkan yang Daniya keluarkan.


"Kamu merasa tidak kalau semua yang harusnya jadi milikku malah kamu ambil dan aku lihat kamu sangat bahagia sedangkan sebenarnya itu harusnya jadi kebahagiaanku," lontar Daniya merasa sekarang yang ada dihidup Ralen adalah miliknya.


Apa ini? Ralen merasa mimpi-mimpinya menjadi nyata, pertemuannya dengan wanita yang mirip dengannya dan segala perkataan wanita dalam mimpi itu seakan terulang kembali dalam versi nyata, apa mimpinya itu sekarang menjadi kenyataan? atau memang mimpi itu sebuah firasat yang seharusnya dia waspadai?


"Apa maksud Kakak?" sebenarnya lidahnya terasa sangat kelu ketika harus memanggil wanita angkuh didepannya itu dengan sebutan Kakak, sangat berat mengakui bahwa wanita sombong itu adalah Kakaknya.


"Ralen adikmu Daniya, sudah sewajarnya dia memanggil kamu Kakak," sela sang ibu mencoba untuk mengingatkan.


Tatapan Daniya pun teralih kepada ibunya, "bahkan kamu saja tidak aku anggap ibu, lalu bagaimana bisa dia aku anggap adik? jangan terlalu memaksakan kehendak saat orang lain tidak menginginkannya," decih Daniya berkata sangat pedas.


Mata Ralen membuka, sungguh ternyata apa yang dikatakan oleh Arda benar semua, betapa angkuh dan kejamnya wanita yang menjadi Kakak mereka dari sorot matanya ada kobaran dendam yang menyala makin besar.


"Apa kami salah kepadamu? apa menurutmu ibu dan ayah melakukan hal yang salah dengan memberikan mu pada orang lain yang bahkan kehidupannya jauh lebih baik di banding dengan kami, dari cara berpakaian dan barang yang kamu miliki saja terlihat jelas hidupmu sangat berkecukupan bahkan mungkin serba berlebih, lalu setelah semua yang kamu dapatkan masih tetap menyalahkan orang tuamu sendiri? rasanya itu tidak adil." tutur Ralen mengeluarkan isi hatinya tidak peduli kalau sekarang Ibunya meminta dia untuk tidak meneruskan perkataan yang ingin dia katakan.


Daniya tertawa miring lalu melirik pada wanita yang duduk di sebelah Ralen, itu adalah ibunya ibu kandung yang sudah melahirkannya.


"Kamu dengar sendiri kan apa yang anakmu itu katakan? menurutmu apa aku harus memaafkan kalian kalian terutama kamu dan suamimu setelah apa yang anakmu ini katakan!" Daniya berbicara pada ibu kandungnya mengabaikan permintaan ibu angkatnya yang sejak tadi memintanya untuk berhenti bicara.

__ADS_1


"Kamu dan Ralen ini bersaudara tidak baik bertengkar begini, bertahun-tahun tidak saling mengenal bukankah seharusnya sekarang kamu ini senang karena ternyata kamu memiliki saudara," Dayna mencoba untuk menenangkan anak angkatnya yang terbawa emosi dan akan selalu seperti itu ketika sudah berhubungan dengan keluarga kandungnya.


Mendengar penuturan ibu angkat yang sangat dia sayangi itu hanya membuatnya mendengus lalu menaikkan sudut bibirnya dan memandang tidak suka kepada Ralen, ketidaksukaannya sepertinya makin menjadi.


"Mama bilang aku harus senang? apa mereka mau memberikan aku kesenangan yang selama ini tidak aku rasakan?" Daniya bertanya pada sang Mama tapi sudut matanya melirik pada ibu kandungnya yang dengan seksama mendengarkan setiap kalimat yang dia lontarkan.



"Apapun yang kamu mau akan kami berikan asalkan kamu mau memaafkan semua kesalahan yang sudah kami lakukan," ucap sang ibu yang membuat Ralen menatap tak mengerti.



Kami? apa maksudnya? bukankah itu artinya bukan hanya ibu dan ayahnya saja yang mau melakukan apapun untuk mendapatkan maaf? itu sama saja mengajak dia dan Arda untuk turut serta memenuhi apa yang Daniya inginkan, terasa sangat tidak adil ketika dia dan Arda tidak tahu-menahu tetapi harus juga ikut membantu agar Daniya mau memaafkan.



Kepalan tangan Ralen makin kuat hingga punggung tangannya memutih, otaknya sudah penuh dan tak bisa berpikir terlebih lagi ketika dia melihat sudut bibir Daniya tertarik, Kakak kandungnya itu tersenyum, senyum yang terlihat sangat menyeramkan.



Oh astaga haruskah Ralen berbaik hati pada wanita jahat di depannya ini?



\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2