Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Mereka Memang Mirip


__ADS_3

Ralen tidak tahu harus mengatakan apa, pria yang kini berdiri di sampingnya ini terus mengajaknya bicara padahal Ralen merasa mereka tidak cukup dekat bahkan mereka hanya satu kali bertemu saja dan itupun hanya dalam hitungan menit saja tapi rasanya pria bernama Angga ini memperlakukan dia layaknya seorang teman lama.


"Aku kesulitan menghubungimu," kata sang pria setelah puas menceritakan apa kesibukannya saat ini.


Ralen tidak tahu harus menjawab apa sebab nomor pria itu sudah di blokir oleh Ipul, pria yang sekarang mungkin sudah berada di rumah.


Angga menatap wanita yang menampilkan wajah salah tingkah bingung harus memberikan jawaban atas pernyataannya.


Entahlah Angga ini memang tidak tahu atau memang berpura-pura tidak tahu kalau nomornya itu di blokir, tapi untuk pria yang terlihat cerdas itu tentu rasanya sangat tidak mungkin jika dia tidak mengetahuinya.


"Sejak pertama melihatmu aku sudah tertarik dan suka," ucap Angga dengan senyum yang luar biasa menawan, sedangkan wanita yang dia ajak bicara merasa terkejut dengan pengakuannya itu.


Sungguh Ralen tidak menyangka kalau pria bernama Angga dengan penampilan yang terlihat sangat rapi dan menawan itu akan berbicara dengan blak-blakan pada seorang wanita yang bahkan dari penampilannya saja sudah cukup diketahui kalau mereka memiliki banyak sekali perbedaan.


Ralen semakin tak mengerti bagaimana bisa takdir membawanya sampai seperti ini, tidak pernah menyangka dirinya akan bisa mengenal orang-orang berpendidikan yang mungkin juga dengan kesempurnaan hidup yang berbanding jauh dengannya.


Angga mengumbar senyum mendapati raut wajah Ralen yang terbengong mendengar pengakuannya, dia juga tidak tahu kenapa bisa mengatakan hal yang dulu dia anggap sangat tidak mungkin setelah dia yang gagal menikah dengan kekasih hatinya.

__ADS_1


Dulu dia pernah begitu mencinta tapi wanita itu pergi tidak tahu kemana hingga akhirnya seorang Angga Wirasprata menutup diri pada semua wanita yang berusaha mendekat, tidak tergoda meski berulang kali banyaknya godaan, tapi begitu bertemu dengan seorang bernama Ralen sungguh dia berubah dalam sekejap, hati yang dia kunci malah dia buka dengan lebar untuk wanita yang dia kenal di sebuah pesta salah satu anak dari rekan bisnis orang tuanya.


Ya, dia adalah seorang dosen dari sebuah universitas terkenal di Jakarta, usianya yang menginjak 27 tahun memilih untuk menjadi dosen ketimbang harus menggantikan sang Ayah memimpin perusahaan, dia yang tidak tertarik dengan urusan kantor lebih bertekad untuk membagikan ilmunya pada para mahasiswa serta mahasiswi yang terkadang ada saja yang mendekati dirinya dan tak ragu menyatakan rasa cinta, tapi tak ada satupun yang membuatnya membuka hati.


Tapi ketika pertama kali melihat Ralen dengan wajah serta postur tubuhnya dia malah terbayang mantan kekasihnya yang pergi, ah wajah Ralen benar-benar mirip dengan wanita yang sangat dia cintai itu hingga berpikiran kalau mungkin Ralen adalah wanita yang di kirim tuhan sebagai ganti kekasih yang pergi.


Tidak harus bersikap bagaimana hingga akhirnya Ralen memilih untuk mengambil handphone dalam tasnya, dia berpikir ada baiknya berpura-pura tak dengar ataupun sibuk dengan handphone ketimbang harus menghadapi situasi yang sungguh membuatnya salah tingkah.


Dia wanita bersuami tapi malah ada seorang pria yang terang-terangan mengatakan tertarik padanya, wanita manapun akan bingung harus menanggapi seperti apa pengakuan dari pria yang ini adalah kedua kalinya mereka bertemu.


Dan sangat kebetulan handphone yang baru saja Ralen keluarkan berdering seolah itu adalah penyelamat baginya untuk menghindari pembicaraan yang membuat Ralen tidak nyaman.


Baru saja mulut Ralen terbuka untuk menjawab tapi suara penuh ketegasan dan tuntutan sudah memenuhi indera pendengarannya, bahkan tanpa menunggu Ralen memberikan jawaban panggilan itu sudah diakhiri.


Ralen yang terbingung pun memastikan lagi siapa yang barusan meneleponnya, dia mendapati nomor Mama mertuanya lah yang barusan menghubungi tapi suara yang terdengar begitu galak tapi milik suaminya.


"Dia sudah pulang?" kata Ralen lalu baru sadar kalau ada banyak pesan yang mertuanya kirim.

__ADS_1


"Maaf saya harus duluan," kata Ralen pada pria yang sejak tadi melihat gelagat paniknya setelah menerima telepon.


"Mau aku antar? sepertinya kamu buru-buru," tawar Angga berbaik hati ingin mengantar wanita yang mencuri perhatiannya.


"Tidak perlu, terimakasih," tolak Ralen dengan sedikit senyum lalu dengan cepat mengambil langkah untuk keluar dari mall.


Sambil berjalan dia mengirim pesan pada Tika kalau dia akan pulang membatalkan nonton film dengan temannya itu.


"Ceroboh banget sih Len, kenapa punya handphone malah Lo simpan di tas, Lo jadi nggak tahu kalau Mama Riska kirim pesan," mengomeli dirinya sendiri yang entah ada angin apa malah menyimpan handphonenya di dalam tas, padahal biasanya setelah selesai bekerja Ralen akan mengantongi benda itu atau memainkannya, tapi hari ini dia benar-benar tidak ada keinginan untuk memainkan handphone.


Ralen memukuli kepalanya dengan mulut yang tak hentinya mengoceh, mengomel lalu menyalahkan diri sendiri.


"Dan yang lebih parahnya lagi kenapa gue bisa-bisanya lupa kalau hari ini suami galak gue pulang!" sepanjang jalan keluar dari mall Ralen terus saja mengatai dirinya sendiri.


Angga masih tetap memandangi kepergian Ralen yang mulai menjauh, terkadang tersenyum ketika dia melihat Ralen memukuli kepalanya sendiri.


"Mereka memang sangat mirip," tutur Angga tak berkedip melihat kepergian Ralen bahkan sampai tubuh Ralen tak lagi terlihat, menghilang diantara keramaian orang di dalam mall.

__ADS_1


******


__ADS_2