
"Untuk apa kamu kesini?" Angga melihat Daniya yang datang ke kampus tempatnya mengajar.
Rasanya dulu saat masih berhubungan Daniya bahkan tidak pernah mau peduli apalagi mendatangi tempatnya bekerja atau berada, tapi sekarang kenapa mendadak datang?
Daniya mengumbar senyum sinis, "kamu pikir aku senang banget apa datang kesini? kalau bukan karena Mama mana mungkin aku mau bertemu dengan kamu," ketus Daniya yang ketika sampai di kampus itu menghubungi Angga lebih dulu untuk menanyakan dimana ruangannya, tapi ternyata Angga itulah yang datang menghampirinya saat dia akan menuju ruangannya.
"Tante Dayna ada urusan apa?" akhirnya berbicara sedikit lebih baik ketimbang yang tadi, karena biar bagaimanapun dia akan tetap menghormati Tante Dayna, mengingat wanita itu adalah sahabat dari Mamanya dan Tante Dayna juga sudah memperlakukannya dengan baik.
Mengenai sakit hati dan kekecewaannya itu adalah murni karena Daniya, wanita itulah yang harus bertanggung jawab tentang sakit hati yang dia rasakan, sakit hati yang tak terkira bahkan disaat dia sudah akan memulai membuka hati malah kecewa kembali menghampiri.
Daniya mengangkat paper bag berisi kotak makan yang dia bawa, titipan dari sang Mama yang penuh dengan paksaan sebab tadi dia berkeras hati menolak mengantarkan makanan untuk Angga, tapi Mamanya pun ternyata akhirnya berhasil membuatnya luluh dan mau menuruti permintaannya.
Mata Angga memicing tak melihat paper bag yang dia tidak tahu apa isinya.
"Makanan kesukaan kamu, Mama yang masak sendiri," jelas Daniya dengan suara yang tetap ketus.
Jika sudah begini Angga pun tidak bisa menolak apalagi sekarang dia menerima pesan dari Tante Dayna yang memintanya untuk makan masakan yang wanita itu masak berdua dengan Daniya.
Akhirnya diapun mengajak Daniya untuk ke ruangannya saja mengikuti apa yang Tante Dayna, meski Daniya sempat menolak tapi dengan beberapa alasan yang Angga berikan Daniya pun mengiyakan meski dengan wajah yang tidak sangat tidak enak dipandang.
***
Dalam perjalanan menuju kampus istrinya, Ipul menyetir mobil dengan perasaan yang bercampur aduk, kesal dan ingin marah-marah di tambah dengan rasa mual pusing serta pinggangnya yang masih juga terasa pegal tak terkira, semuanya itu seolah diaduk menjadi satu di dalam jiwa dan raganya.
Perutnya yang mual membuatnya kerap kali harus menahan rasa ingin memuntahkan isi yang ada di dalam perutnya, mulutnya itu terasa sangat tidak enak pahit layaknya habis menelan empedu yang pecah di dalam mulut.
Mobilnya sudah berhenti di depan gerbang tinggi sebuah kampus ternama di kisaran Jakarta, memijit kepalanya dulu karena pusing yang sedari tadi menyiksa meski sejak tadi mencoba abai karena darahnya yang sudah naik ke kepala ketika istrinya tak juga menjawab panggilan telepon darinya.
"Nah uang sudah tiba," mata Gerry berbinar ketika melihat mobil pria yang mempekerjakannya sudah terparkir dengan baik di tepi jalan.
Dia itu memang sengaja menunggu agar bisa secara langsung memberi info tentang apa yang tadi sempat dia lihat.
Ipul yang melihat Gerry pun gegas turun dari mobilnya lalu menghampiri pria yang baru berusia 20an tahun itu, pria yang dia bayar untuk mengawasi setiap gerak-gerik istrinya di kampus itu.
Tadinya dia tidak sengaja bertemu dengan Gerry saat mendaftarkan Ralen di kampus itu, mereka berdua berpapasan dan Ipul banyak bertanya tentang kampus sedangkan Gerry memberitahunya dengan sangat baik dan juga detail dan akhirnya berbicara dengan Gerry malah menimbulkan jiwa isengnya pada saat itu.
Jiwa-jiwa iseng yang menggeliat untuk meminta bantuan mahasiswa itu dan tanpa di duga gayung bersambut, Gerry dengan senang hati menerima tawaran darinya.
__ADS_1
"Belum selesai kelas Pak," kata Gerry ketika Ipul menanyakan tentang Ralen.
Saat Gerry sedang berbicara, menjawab apa yang dia tanyakan Ipul malah sedang merasakan perutnya yang mendadak kembali mual, sudah sangat ingin memuntahkan apa yang ada di dalam perutnya meskipun yang tersisa hanyalah berupa cairan saja sebab tadi dia sudah dengan luar biasanya memuntahkan makanannya yang baru masuk beberapa suap saja.
Ipul menutup mulutnya berusaha menahan tapi ketika sudah tak tertahankan lagi dia akhirnya membungkuk di samping mobilnya lalu mulai muntah.
Huek
Huek
"Aiisshh." dahi Gerry mengernyit menyaksikan pria yang selalu tegas saat berbicara dengannya malah terlihat sangat kepayahan.
Lelah membungkuk akhirnya Ipul pun berjongkok dengan sebelah tangannya yang berpegangan pada pintu mobil.
"Muntah Pak?" dengan konyolnya malah bertanya, apa matanya itu tidak lihat?
Ipul tak peduli terus saja berusaha mengeluarkan cairan dari mulutnya berharap rasa mualnya segera enyah tak kembali.
Selang lima menit kemudian akhirnya Gerry tidak lagi mendengarkan suara muntah layaknya ibu yang tengah hamil muda.
"Saya mau ke toilet," kata Ipul seraya berdiri dari posisinya yang tadi.
Sebenarnya Ipul itu merasa risih di panggil Bapak, tapi dia seolah tidak punya daya untuk protes tenaganya itu sudah terkuras oleh rasa mual dan sakit di seluruh bagian tubuhnya, pinggangnya juga terasa encok hingga saat berjalan pun dia memegangi pinggangnya bagaikan seorang pria tua yang tulangnya sudah keropos.
Gerry mengantar pria yang wajahnya terlihat pucat tapi tetap saja ada kesan sangar yang tak bisa disembunyikan, mengantar sampai ke pintu toilet.
"Saya tinggal nggak apa kan pak? soalnya ada kelas abis ini," cetus Gerry pada pria yang berdiri diambang pintu.
"Ya pergi saja, saya bukan anak kecil yang harus di jaga," sahut Ipul lalu masuk ke dalam toilet.
"Dih, bininya juga kan bukan anak kecil, tapi kok ya bisa-bisanya malah nyuruh gue buat jagain," celetuk Gerry ingat akan tugas yang harus dia kerjakan.
Meski begitu dia mendapatkan bayaran yang sangat sesuai sehingga dia akan tetap dan selalu senang hati melakukan pekerjaannya itu, toh bayarannya juga lancar.
"Mual tidak tahu diri!" sungut Ipul kembali melanjutkan acara muntahnya.
\*\*\*
__ADS_1
Ralen yang baru saja menyelesaikan pelajaran pun berlarian ketika membaca pesan dari suaminya.
"Dia ngapain kesini? emangnya dia tadi bilang mau jemput ya?" sepanjang lorong dengan langkah cepat dia terus memikirkan dan bertanya-tanya sendiri tentang suaminya yang tiba-tiba saja berada di kampus.
Napas Ralen begitu terengah ketika menuruni tangga dan melihat suaminya berdiri membelakangi, meski dari belakang tapi dia sudah sangat mengenal dengan postur tubuhnya itu.
"Mas Sai," panggil Ralen pelan takut di dengar oleh teman kampusnya.
Ipul pun menoleh mendengar suara yang memanggil, tentu dia sudah sangat hafal dengan suara istrinya, "Kamu datang ke kampus itu mau kuliah atau mau selingkuh!?"
Baru saja menoleh malah sudah melontarkan pertanyaan yang membuat Ralen mengerutkan kening.
Sadar sedang berada dimana Ralen pun dengan segera memberi kode pada suaminya untuk tidak berkata lagi.
"Banyak yang lihatin," katanya mendekat pada suami yang sepertinya akan mencari masalah dengannya.
"Kamu selingkuh!" menggeram kesal dengan mata yang tajam.
Ralen menggeleng makin tak mengerti, dia ini kuliah tapi kenapa malah suaminya mengatakan dia selingkuh? apa yang terjadi dengan suaminya itu, apa sedang mengigau?
Ipul pun mengeluarkan handphonenya lalu menunjukkannya pada sang istri.
Ralen mendengus lalu matanya menjadi sangat tajam dengan tangan yang langsung menarik suaminya menjauh dari gedung kampus.
__ADS_1
\*\*\*\*