Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Jelita


__ADS_3

"Sebenarnya kamu ini kemana dan sedang apa? kenapa sejak kemarin pesanku dan telepon dariku tidak ada satupun yang kamu balas! feeling ku sedang sangat buruk sekarang ini!" Ralen berkeluh kesah tentang apa yang dia rasakan pada photo suaminya yang terpajang di meja kamar dan dia photo ulang melalui handphone dan sekarang dia tengah berbicara dengan photo milik suaminya itu.


Sejak kemarin sampai siang ini pria itu tidak kunjung menghubungi balik dirinya, pesan yang dia kirimkan pun belum di baca, feeling-nya sebagai seorang istri dan wanita pun mendadak jadi sangat buruk sekali memikirkan hal-hal tidak masuk akal yang terjadi pada suaminya.


"Seharusnya aku menyimpan nomor Pak Damar, agar bisa bertanya padanya apa saja yang dilakukan oleh suamiku sampai membaca pesan yang aku kirimkan pun tidak sempat," kata Ralen menyesal kenapa dia tidak menyimpan nomor asisten suaminya, kebodohan yang baru dia sadari setelah seperti ini terjadi.


Sampai akhirnya handphone yang tengah Ralen pegang itu berdering kencang memamerkan nama seseorang yang sejak kemarin membuatnya tak nyenyak tidur ralat bukan tidak nyenyak tidur, bahkan Ralen tidak mau tidur karena menantikan telepon dari suaminya.


Ralen mengulas senyum lalu jarinya gegas menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan dari pria yang dari kemarin dia nantikan.


"Wow tanganmu gesit sekali," suara Ipul langsung menyeruak masuk ke dalam indera pendengaran wanita yang begitu cepat menjawab telepon darinya, bahkan baru saja terdengar nada tanda panggilan terhubung namun wanita yang dia hubungi sudah mengangkat telepon darinya.


"Kemana saja sejak kemarin? kamu bahkan bahkan tidak membaca pesan dariku?!" omel Ralen yang langsung tidak lagi berbasa-basi atau berbicara lemah lembut pada pria yang kemarin seperti hilang tanpa jejak, seolah pria itu tidak ingat kalau dia sudah memiliki seorang istri yang sewaktu-waktu pasti mengharapkan kabar darinya.


"Sudah berubah menjadi istri posesif kah?" tanya Ipul dengan nada santai tidak sadarkah dia kalau istrinya itu sangat geram dengan kelakuannya, sepertinya dia tidak sadar diri bahwa dia itu juga suami yang posesif.


"Aku sedang bermain dengan feeling ku seperti yang kamu katakan waktu itu!" desis Ralen beralasan kenapa dia jadi seperti ini.


Mimpi-mimpinya yang datang berturut-turut membuat dia menjadi takut sendiri, biarpun menikah dengan seorang pria bernama Saipul Gunawan dulu tidak ada dalam catatannya tapi tetap saja sebagai seorang wanita dia tidak mau menjadi janda, apalagi janda karena suaminya di rebut oleh wanita lain, sangat menyakitkan!


Ipul mencebikkan bibirnya lalu berguling di atas tempat tidur di kamar hotelnya yang baru, kemarin dia sempat melihat Daniya ada di hotel yang dia tempati hingga akhirnya dia sadar wanita itu datang mencarinya, beruntung Daniya tidak melihatnya sampai akhirnya dia langsung mencari hotel lain untuk menghindari wanita yang jauh-jauh datang menemui dirinya, tapi dia dengan kurang ajarnya malah pergi menghindar.


"Aku akui feeling mu memang sangat bagus Jelita," puji Ipul, tapi jangan harap pujiannya itu akan membuat Ralen melambung tinggi dan senang jangan harapkan itu!


Karena sekarang yang ada di dalam pikiran Ralen adalah kecurigaan yang makin menjadi, "Jadi benar kamu sedang bersama wanita lain? kamu main-main denganku Saipul Gunawan!" sentak Ralen membuat mahasiswa menatap ke arahnya.


Jelas saja suaranya mengundang perhatian mahasiswa sebab sekarang dia sedang berada di kampusnya menunggu pelajaran kedua yang masih setengah jam lagi.

__ADS_1


Ralen mengangguk tak enak seraya meminta maaf pada mahasiswa yang terganggu oleh suaranya.


Ipul menjauhkan benda yang mengeluarkan lengkingan suara itu dari telinganya, sungguh suara Ralen sejak pertama kali bertemu sampai sekarang tetap saja sama, lengkingannya membuat telinga berdenging bahkan dia nyaris tuli dibuatnya.


"Tenang sayang, suamimu ini bukan tipe pria peselingkuh tak tahu diri, aku masih waras untuk tidak mencari wanita lain, kalau satu saja sudah membuat telingaku tuli apa kamu pikir aku ini manusia bodoh yang merelakan nyawaku melayang karena lengkingan suaramu itu?!" ejek pria yang sedang tidak ada kegiatan hari ini bukan tidak ada sebenarnya, hanya dianya saja yang sedang enggan untuk pergi kemana-mana, anggap saja dia sedang bersembunyi dari Daniya yang pasti masih dan sedang mencari-cari dirinya, bahkan wanita itu sudah puluhan kali menghubunginya sejak kemarin tapi tak ada satupun yang dia jawab.


Ralen memberengutkan wajahnya, "jadi kemarin kamu kemana?" Ralen bertanya dengan suara yang kembali normal tidak melengking seperti tadi sebab dia tidak mau mengundang perhatian orang-orang yang ada di kampus itu atau mungkin karena dia tengah berbunga karena Ipul memanggilnya sayang.


Ralen curiga kemungkinan kemarin tidak ada kabar karena kepala pria itu kepentok benda keras hingga tidak sadarkan diri, buktinya sekarang mendadak memanggilnya sayang.


"Kabur dari rentenir yang menyatroni hotel tempatku menginap," jawab Ipul asal.


Ralen menghela napas entah harus bagaimana caranya dia berbicara agar pria di seberang sana bisa menjawab dengan benar pertanyaannya, jawaban di satroni rentenir sungguh jawaban yang teramat konyol dan tak masuk akal demi apapun.


"Aku harus percaya?" tanya Ralen dengan bola mata yang berputar menahan kesal dengan suaminya yang sedang bertingkah tak jelas.


"Terserah kamu mau bagaimana!" Ralen mulai tersulut emosi.


"Marah?" tanya Ipul dengan nada yang menggoda.


"Tidak," jawab Ralen.


"Aku harus percaya?"


"Tidak perlu, tapi kalau kamu orang yang bodoh mungkin kamu akan percaya aku tidak marah," ujar Ralen membalikkan perkataan suaminya.


Ipul tertawa mendengar ucapan Ralen, tidak mengira kalau perkataannya malah berbalik padanya.

__ADS_1


"Aku harus masuk kelas," kata Ralen ketika jam pelajaran kedua akan segera di mulai.


"Hei, Jelita," panggil Ipul ketika Ralen hendak mematikan handphonenya.


"Apa?" tanya Ralen sedikit ketus tapi ada senyum yang perlahan terbentuk di bibirnya.


"Jangan dekat-dekat dengan dosen bernama Angga itu!" Ipul memberikan peringatan.


Mata Ralen membelalak tak percaya mendengar ucapan dari pria yang berada jauh di luar kota, bagaimana bisa pria itu tahu kalau Angga adalah dosennya?


"Kaget bukan? sudah aku katakan aku akan mengawasi setiap tingkah mu, jangan coba-coba berdekatan dengan pria yang terang-terangan mengatakan suka padamu, sadar diri kamu sudah punya suami!" ultimatum Ipul dengan wajah yang benar-benar serius tidak ada gurat santai ketika mengatakan hal barusan.


"Sudah ya, aku harus masuk kelas," tutur Ralen menatap pada sosok pria yang di sebut-sebut oleh suaminya malah sedang berjalan ke arahnya.


"Mataku ada dimana-mana Jelita, jadi sebaiknya cepat masuk kelas sebelum pria itu mendekat!"


Ralen segera berlari menuju kelasnya dan langsung mematikan sambungan telepon, Ralen berlari sampai napasnya terengah.


Angga mengerutkan keningnya melihat Ralen berlarian masuk ke dalam kelas yang juga tempatnya mengajar.


"Capek-capek lari eh orangnya masuk sini juga," batin Ralen melihat pria yang harus dia hindari melenggang masuk ke dalam kelas yang sama dengannya.


"Dia memang layak menjadi mata-mata," gumam Ralen yang ditujukan untuk suaminya ketika dia sudah duduk di bangku kelasnya.


"Haha," Ipul tertawa lebar, pria itu begitu puas membuat istrinya panik karena perbuatannya.


"Awasi terus istri ku," kata Ipul pada seseorang melalui handphone yang sengaja dia beli untuk menghubungi orang yang dia tugaskan untuk mengawasi Ralen.

__ADS_1


*********


__ADS_2