Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Ralen Sudah Pulang..


__ADS_3

Hanna berjalan mondar-mandir mengantarkan pesanan dari para pelanggan yang datang ke tempatnya bekerja.


Semenjak bercerai dengan suaminya dia tidak lagi mendapatkan uang hingga akhirnya dia harus mencari pekerjaan untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya yang hanya seorang diri, tanpa saudara, keluarga terlebih lagi anak yang susah payah dia lahirkan malah lebih dulu meninggalkan dirinya, membiarkan dia hidup dalam kesepian dan rasa bersalah.


Rasa bersalah kenapa dia tidak memperjuangkan hak asuh anaknya dari sang suami, hanya karena dia tidak mempunyai uang untuk menyewa pengacara sampai akhirnya kini tinggallah penyesalan yang tidak terkira, terus mengusik menghantui setiap harinya.


Dia sudah berusaha untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik ketimbang menjadi pelayan di tempat hiburan malam.


Namun apa daya zaman semakin sulit dan semua orang membutuhkan pekerjaan hingga dia yang tidak memiliki ijazah memadai hanya bisa mendapatkan pekerjaan seperti ini.


Terpaksa, dia terpaksa menjalani pekerjaan ini untuk bisa bertahan hidup di tengah kerasnya dunia yang seolah tidak henti memberikan cobaan padanya.


Sungguh dulu saat dia masih bersama dengan Ipul hidupnya bahagia, dia mempunyai tempat berlindung bahkan orang tua pria itu dengan begitu baiknya menerima kehadirannya tanpa memandang status dirinya yang hanya wanita biasa tanpa orang tua.


Merasa sangat beruntung hingga dia mencintai dengan sepenuh hati bahkan saat Ipul dan kedua orang tuanya mulai membicarakan tentang pernikahan, sungguh dia adalah wanita paling beruntung pada saat itu.


Jalan hidup memang tidak bisa dia tebak dengan baik, sampai pada satu kejadian yang membuat dirinya kecewa namun tetap saja rasa cintanya tidak luntur apalagi sampai musnah, dia masih tetap mencinta dengan baik dan berusaha menerima, tapi takdir lagi-lagi tidak mau berpihak padanya ketika semua rencana yang sudah dia impikan harus berakhir.


Beberapa menit dia bisa beristirahat sejenak karena masih belum ada lagi pesanan yang harus dia antar, berdiri di depan meja bar lalu menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan, dia sendiri tidak menyangka kalau akhirnya harus bekerja di tempat seperti ini, mau tidak mau dia harus tetap menjalankannya sambil terus berusaha mencari pekerjaan yang jauh lebih baik.


Hanna masih harus kembali bekerja sampa jam 4 pagi baru dia bisa pulang ke tempat kos, dia memilih kos-kosan yang hanya sepetak saja ketimbang rumah kontrakan karena uang bulanannya tentu lebih murah dan sanggup dia bayar, karena dia harus pintar-pintar membagi gajinya yang tidak seberapa untuk cukup membiayai hidupnya selama satu bulan.


"Lo ngapain sih lihatin tuh pelayan Mulu?" Maira terusik dengan sepasang mata Daniya yang terus saja menyorot tajam pada seorang wanita berpakaian pelayan yang berdiri tak jauh dari mereka.


"Lo kenal?" tanya Maira lagi.


Daniya mengedikkan bahu, "nggak kenal tapi nantinya juga gue pasti kenal," sahut Daniya.


Maira mengerutkan kening tak mengerti dengan maksud perkataan dari temannya, "nggak ngerti gue," katanya kemudian.


"Nggak usah ngerti apa-apa, yang penting sekarang Lo itu cukup nemenin gue aja," ujar Daniya kembali menyesap minuman yang hanya tinggal setengah.


****


Langit sudah kembali terang dengan matahari yang begitu menyilaukan.


Ini sudah pukul 11 siang dan Ipul masih berada di jalanan mencari istrinya yang sampai sekarang pun belum juga dia temukan, tadi pun dia sudah mendatangi kampus sang istri menanyakan pada teman kampusnya tapi semua mahasiswa yang dia tanya malah kompak menjawab tidak tahu atau sudah tiga hari tidak melihat Ralen di kampus.


Wajah frustasi dan cemas makin terlihat jelas pada wajah pria yang kini menatap hampa pada jalanan yang tengah dia lalui, istrinya tak kunjung dia temukan makin membuat rasa bersalahnya semakin menggunung, sampai suara dering handphone membuatnya sontak menghentikan laju mobil.


Menginjak rem dengan cepat lalu meraih handphone yang ada di kursi sebelahnya.


"Ya halo Ma, Maaf Ipul belum bisa menemukan Jelita," katanya saat sang Mama lah yang telah menghubungi.


"Ralen sudah pulang!" suara sang Mama terdengar sangat jelas membuat Ipul membelalakkan kedua matanya menatap terkejut namun sesaat kemudian bibirnya mengulas senyum lega yang luar biasa.


"Kamu pulang sekarang," pinta sang Mama.


"Iya iya, Ipul langsung pulang," sahutnya dengan semangat, dengan gerakan cepat dia mematikan handphone lalu kembali menyalakan mesin mobil yang dengan cepatnya melaju menuju rumah.


Dia merasa perasaannya menjadi sangat tenang dan juga bahagia mengetahui Istrinya yang pergi akhirnya kembali.


Begitu sampai di rumah Ipul langsung berlari mencari sang istri namun yang dia cari tidak ada dan dia hanya mendapati Mamanya yang baru saja turun dari lantai atas.


"Jelitanya Mana Ma?" tanya Ipul dengan napas yang tidak teratur karena dia berlarian dari turun mobil sampai ke dalam rumah.

__ADS_1


Mama Riska menatap penampilan sang anak, wajahnya pucat karena tidak tidur dan juga pakaiannya yang berantakan.


"Di kamar," jawab sang Mama.


"Kalau mau bicara dengan Ralen, sebaiknya mandi dulu segarkan diri dulu agar bisa bicara dengan kepala dingin," kata Mama Riska lagi.


Ipul mengangguk cepat lalu berlari kecil menapaki anak tangga dan berhenti di depan pintu kamar, mengatur napasnya lebih dulu sebelum membuka pintu yang berada di depannya membatasi dirinya dengan wanita yang berada di dalam kamar entah sedang apa.


Tangan pria itu bergerak untuk membuka daun pintu, sangat lambat dan disertai dengan jantung yang berdebar hebat, rasa bersalah mengumpul di dalam jiwanya hingga akhirnya pintu terbuka sedikit dan matanya langsung bisa melihat istrinya yang sedang duduk di ujung tempat tidur dengan kepala yang menunduk.



"Sayang.." memanggil seraya membuka pintu dengan lebar.


Tidak ada tanggapan dari wanita yang baru pulang setelah dua hari pergi tanpa kabar, mengangkat wajah untuk melihat dirinya pun wanita itu tidak melakukannya hingga akhirnya dia melangkah masuk dan berdiri di depan wanita yang perkiraannya mungkin baru saja selesai mandi karena rambutnya yang basah.


"Nanti kita bicara ya," kata Ipul mengelus rambut hitam istrinya yang lagi-lagi tidak merespon, hanya diam dengan bahu yang baik turun menandakan kalau wanita itu masih bernapas.



Cup



Tanpa kata mengecup puncak kepala sang istri, "maaf." sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar mandi.



Ralen mengatupkan kedua bibirnya, menahan tangis yang ingin keluar.




Wanita itu menangis tanpa suara saat mendengar suara air mengalir dari dalam kamar mandi.



Ralen benar-benar tidak bergerak dari tempatnya duduk sejak tadi, berulang kali menghapus air mata namun berulang kali juga air mata itu masih tetap saja turun membasahi kedua pipinya.



Ipul yang baru selesai mandi pun menatap punggung sang istri yang masih pada posisi sama saat dia masuk ke dalam kamar mandi, menghela napas lalu mengambil pakaian dari dalam lemari.



Dia menduga istrinya masih kecewa dan marah padanya hingga diapun memaklumi kalau wanita itu tidak mau menyiapkan pakaian untuknya.



Setelah berpakaian Ipul pun menghampiri Ralen, berlutut di depannya menatap netra wanita yang terlihat menggenang.



Ipul menghela napas lalu mengambil kedua tangan istrinya untuk dia genggam dengan erat, menciumi tangan itu berulang kali.

__ADS_1



"Kamu pergi kemana?" tanyanya dengan suara yang lembut tidak ada nada keras dan kemarahan, hanya ada tatapannya yang tenang dengan genggaman yang terasa dingin disebabkan dia yang baru selesai mandi.



Ralen tidak menjawab mulutnya semakin terkunci rapat.



Ipul menanti jawaban begitu lama sampai akhirnya sepasang mata dia tak sengaja melihat luka yang ada di bawah siku sang istri.



"Tanganmu kenapa?!" kali ini menjadi panik sambil melihat tangan istrinya tampak di tutup oleh perban yang menjadi basah.



Jelas ini luka akibat kecelakaan yang entah karena apa.



Ralen menarik tangannya lalu menyembunyikannya di balik badan.



"Jelita." Ipul memanggil dengan nada yang menuntut jawaban.



"Aku biasa jatuh dari motor dan ini bukan masalah," kata Ralen memalingkan muka ke samping tidak mau melihat wajah pria yang sudah membuat hatinya kecewa.



Sungguh dia masih ingat dengan jelas apa yang pria itu katakan padanya, sakitnya mungkin masih akan dia rasakan beberapa waktu nanti jadi biarkan dia bersikap seperti ini sekarang.


Ipul tidak suka sampai diapun menarik tangan sang istri lalu membuka perban yang menutupi luka, harusnya perban itu tetap kering agar luka bisa cepat sembuh tapi mungkin perban itu tidak sengaja terkena air saat istrinya mandi.


"Kenapa tidak menghubungi aku? tidak memberitahu aku!" Ipul marah melihat luka yang ternyata di jahit karena artinya luka itu cukup dalam.



"Aku tidak mungkin mengganggu kesibukan suamiku dengan mantan tunangannya," terdengar sekali Ralen tengah menyindir suaminya.



Ipul menghela napas lalu berdiri untuk mengambil kotak obat, dia tidak mau meladeni perkataan istrinya karena nantinya malah hanya akan membuat mereka ribut.


Sepertinya Mamanya juga tidak sadar kalau Ralen terluka karena tadi tidak mengatakan apapun, kalau sang Mama tahu mungkin wanita itu akan sangat cemas dan sibuk mengobati luka yang ada di tangan Ralen.


"Luka nya bukan hanya ini saja."


Ipul menatap tak mengerti menunggu Ralen bicara namun wanita itu tidak juga bicara, hanya diam dengan napas yang menjadi berat.


"Maaf." Ipul mengira kalau Ralen sedang membicarakan hatinya, hati wanita itu terluka karena perkataan yang dia katakan saat di telepon.

__ADS_1


Ralen tersenyum samar namun matanya tetap saja mengeluarkan air mata yang meski di tahan pun tetap saja meluncur keluar.


\*\*\*\*


__ADS_2