Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Terjebak Dengan Jelita


__ADS_3

Ralen merasa sangat risih ketika terus menerus diawasi saat sedang membersihkan ruangan, pria bernama Saipul Gunawan itu sejak tadi tetap berdiri di sudut ruangan dengan tangan yang masuk ke dalam saku lalu bersandar di meja kecil dekat toilet, matanya layaknya elang yang senantiasa memantau pergerakan lawan.


"Nih orang nggak ada kerjaan lain apa," sungut Ralen ketika tak sengaja matanya bertabrakan dengan sepasang mata tajam namun tidak terkesan mengintimidasi tengah melihat padanya.


"Ini kan sudah jam pulang bahkan sudah lewat satu setengah jam," jawab Ipul yang memang akan selalu mendengar suara meski itu suara semut sekalipun.


Oh, sepertinya tuhan sangat berlebihan dalam memberikan telinga dengan pendengaran yang tajam, hingga sepertinya dia akan mendengar semua yang makhluk bumi dengungkan.


"Lo aja yang terlalu lama kerjanya, cuma beresin ruangan kecil kayak gini aja hampir dua jam," tudung Ipul sekenanya.


Ah gila, ruangan ini bahkan lebih besar dari ruang tamu kontrakan Ralen, bisa-bisanya Ipul mengatakan ruangan ini kecil.


"Dua jam? hampir dua jam bapak bilang? yang benar saja Pak, bahkan tadi saya mendengar sendiri kalau jam pulang kantor baru terlewat satu setengah jam.."


"Suka-suka gue, Lo nggak usah protes," potong Ipul tak mau mengalah padahal dirinya memang sangat berlebihan saat berkata.


Ralen terdiam, sudahlah saat ini istilah wanita akan selalu benar itu tidak akan ada, sebab pria yang menghirup oksigen di ruangan yang sama dengannya sekarang ini tingkahnya malah melebihi wanita, tak mau mengalah! ngeselin.


"Bapak mendingan keluar aja deh, saya malah nggak konsen kalau di lihatin kayak gini." akhirnya jalan satu-satunya adalah mengusir pria yang mulutnya kadang mengumbar perkataan apa saja sesuka hati.


"Ruangan-ruangan gue, gue mau dimana juga terserah gue," celetuk Ipul tak mengindahkan permintaan sang wanita yang tampak menahan gemas atas dirinya.


Ralen berdecak lalu setelah mencoba konsentrasi untuk segera menyelesaikan pekerjaannya di ruangan yang tadi begitu berantakan kini sudah hampir setengahnya dia rapikan, sedikit lagi selesai dan dia akan segera keluar dari ruangan si anak bos tengil ini yang entah kenapa terasa gerah dan panas padahal ada AC yang menyala.


Selang beberapa menit kemudian terdengar helaan napas lega kala ruangan itu sudah kembali rapi seperti semula.


"Sudah selesai," katanya senang dengan wajah yang tadinya cemberut kini berubah menjadi begitu berbinar, terang saja karena itu artinya hutangnya lunas dan dia tidak memiliki alasan lagi untuk bermain petak umpet dengan cowok songong di depannya.


Tidak perlu kabur-kaburan karena belum punya uang untuk mengganti uang yang dia pakai.


Senyum mengembang dari bibir penuhnya yang terlihat sedikit kering, mungkin karena dia tidak minum sejak berada di ruangan itu.


Ipul mengedikkan bahu, terasa ada sedikit kecewa kala sang wanita menyelesaikan apa yang dia perintahkan.


"Gue ralat perkataan gue deh," kata Ipul akhirnya.


Hah? ralat? maksudnya apa? Ralen menatap bingung dengan kening yang mengerut.

__ADS_1


Apa lagi sekarang yang sedang di rencanakan oleh pria yang sejak pagi membuat jantung ralen terasa mau copot.


"Hutang Lo nggak lunas, tapi gue potong setengahnya sisanya Lo harus tetap bayar," celetuk Ipul dengan sudut bibir terangkat.


"Wah gila! nggak bisa kayak gitu dong, kita udah deal udah sepakat, giliran nih ruangan udah balik tapi seenaknya aja mau di ralat, nggak mau gue!"


Sepertinya Ralen sudah kehilangan kesabaran menghadapi sikap tak masuk akal pria yang sekarang seperti menahan senyum mendengar dia kembali bersikap seperti pertama kali mereka bertemu.


Tidak ada lagi bahasa formal antara atasan dan bawahan, yang ada hanya Ralen yang tersulut emosi akibat tindakan semena-mena yang telah dia dapatkan.


"Siapa yang gila?" tanya Ipul menggoda namun wajahnya di buat seakan marah.


"Elu!" seru Ralen melupakan sikap sopannya menghadapi pria yang bahkan bisa saja langsung memecatnya hari ini juga.


"Gue mau pulang, mulai hari ini hutang gue lunas!" sambung Ralen dengan suara yang melengking.


Lengkingan khas yang menjadi sambutan awal mereka bertemu dulu, ah rasanya Ipul tak kuasa menyembunyikan senyumnya lagi hingga bibirnya pun melengkung sumringah.


"Malah nggak waras, senyum-senyum sendiri," sungut Ralen beranjak ke pintu warna hitam yang tertutup.


Wanita itu menggapai pegangan pintu lalu menggerakkannya agar terbuka, tapi sekian kali mencoba benda yang menjadi penghubung antar ruangan itu tetap tak mau bergerak.


"Lo norak banget dah, tekan tuh tombolnya," kata Ipul melihat Ralen yang menggerak-gerakkan gagang pintu.


"Itu kunci otomatisnya di tekan nanti kebuka," tambah Ipul lagi gemas dengan tingkah Ralen.


"Udah Pak, tapi tetap nggak bisa," sahut Ralen.


"Minggir sana, bukan kayak gini aja nggak bisa," usir Ipul meminta Ralen menyingkir.


Dengan gaya bak pahlawan Ipul mendekat pada pintu guna membukanya, sedangkan Ralen menanti dengan sedikit cemas bahkan kedua tangannya malah dia tepuk-tepuk sendiri guna menyalurkan apa yang dia rasakan saat ini.


"Nggak bisa," kata Ipul menoleh pada Ralen.


"Kan tadi saya bilang juga nggak bisa Pak," sahut Ralen kesal.


"Ya udah siniin kunci," pinta Ipul menadahkan tangan.

__ADS_1


"Kunci? kunci apaan?" tanya Ralen malah tak mengerti.


"Ini kunci ada anak kuncinya, Lo pasti punya lah anak kunci buat buka nih pintu," cecar Ipul.


Sangat konyol rasanya terkunci di ruangannya sendiri terlebih lagi bersama dengan seorang wanita yang sejak tadi dia kerjai, oh ataukah ini balasan yang sedang Tuhan kirimkan untuknya karena sudah mempermainkan anak gadis orang.


Ralen menggeleng lambat, kenyataannya memang dia tidak mempunyai anak kunci yang di minta oleh Ipul, ini ruangan baru dan supervisor belum sempat memberikan kunci cadangan agar dia tetap bisa membersihkan ruangan seandainya ruangan itu terkunci dan juga untuk menghindari kejadian yang malah dia alami saat ini.


Ipul makin di buat gemas dengan Ralen, pria itupun berlari menuju meja lalu mengobrak-abrik lacinya, tentu saja untuk mencari kunci cadangan tapi nyatanya nihil tidak ada apapun di dalam sana.


"Bagaimana bisa mereka ceroboh begini!" seru Ipul marah.


"Terus gimana kita keluarnya Pak?"


Ipul melihat Ralen yang bingung lalu tanpa menjawab berlari pada pintu lalu menabrakkan tubuhnya bermaksud mendobrak pintu itu.


Bugh!


Bugh!


Dua kali tubuhnya secara sengaja menghantam pintu yang masih berdiri dengan kokoh itu sampai akhirnya suara wanita di belakangnya menghentikan dia yang sudah memasang ancang-ancang mendobrak pintu.


"Pintunya terbuka ke arah dalam, memangnya kalau di dobrak bisa?" pertanyaan yang langsung membuat Ipul lemas.


Dalam sekejap tubuhnya terasa sakit efek menghantam pintu yang tebalnya bukan main.


"Kenapa nggak bilang dari tadi!" omel Ipul memijit lengan atasnya.


Ipul lalu teringat sesuatu, segera saja dia bergerak mencari-cari ke dalam sakunya namun saat merasakan tidak mendapatkan benda yang dia cari mulutnya pun mengumpat," sialan handphone gue di meja lagi," katanya kesal.


"Handphone Lo siniin," pinta begitu melihat sang wanita yang masih saja berdiri tak bergerak entah memikirkan apa sehingga sejak tadi masih tidak juga berpindah dari tempatnya.


"Handphone di loker Pak, nggak mungkin saya bawa handphone saat kerja," jelas Ralen, kenyataannya handphonenya memang berada di loker bersama dengan tas miliknya.


Ruangan pun menjadi sangat sepi, Ralen yang tadinya berdiri kini duduk di lantai bersandar pada tepian ranjang berukuran besar itu, sedangkan Ipul masih berusaha untuk membuka pintu dengan mencongkel-congkelnya dengan pulpen yang tadi dia temukan di laci meja, pria itu bahkan sekarang membuka jas nya dan menggulung lengan kemejanya hingga siku dengan keringat yang entah kenapa membasahi sebagian kemejanya padahal ruangan itu sudah cukup dingin akibat AC.


"Jangan sampai Mama tahu gue berduaan sama nih cewek bawel, bisa langsung di kawinin gue," gerutunya melirik Ralen yang terlihat menguap.

__ADS_1


******


__ADS_2