
"Kamu aku ajak kesini untuk mengurusku Jelita," protes Ipul kala mendapati istrinya malah sibuk sendiri, memainkan handphone di sofa sambil menaikkan kedua kakinya.
"Mau di urus seperti apa lagi! sejak tadi aku sudah mengurus kamu Mas Sai! aku baru istirahat sebentar saja kamu sudah protes padahal aku baru memegang handphone lima menit," omel Ralen menyentak handphone ke atas meja.
"Setidaknya beri aku perhatian, itu bagian dari tugas istri!" Ipul tak mau kalah.
Hidung Ralen kembang kempis, perhatian apa lagi yang suaminya inginkan? dia ini sejak tadi sudah memberi perhatian tanpa di minta, dari mulai memijit ketika suaminya itu mengeluh pusing lalu mengoleskan minyak angin saat suaminya itu mual-mual.
"Iiiihhhh!" Ralen berteriak gemas seraya mengacak rambut sebahunya.
"Jangan drama Jelita," ejek Ipul memancing kekesalan dari istrinya.
Mata Ipul membuka lebar kala dia mendapati istrinya tengah berjalan mengarah padanya, "jangan ngamuk!" pinta Ipul tegas dengan telunjuk yang dia arahkan kepada istrinya.
"Kamu itu yang banyak drama, di suruh ke dokter nggak mau, diminumin obat malah disembur, kamu ini pria dewasa atau anak usia dua tahun sih?!" seru Ralen menempelkan kedua telapak tangan di wajah suaminya lalu memutar-mutarnya dengan gerakan cepat melampiaskan rasa geram bercampur gemas.
Kepala Ipul pun bergerak mengikuti gerakan tangan istrinya di kedua pipi tak ayal membuat bibirnya kadang maju dengan gerakan memutar yang Ralen lakukan.
"Sayang, kepala ku pusing," adu Ipul setelah Ralen tak kunjung menghentikan perbuatannya.
Seketika Ralen pun menghentikan apa yang dia lakukan lalu menatap pria yang sekarang memijit kepala, "pusing banget? ke dokter aja deh yuk?" kali ini menjadi lebih khawatir dari sebelumnya karena pusing yang diderita oleh suaminya tak kunjung sembuh padahal sudah beberapa hari berlalu.
Namun yang Ralen dapati malah gelengan kepala dari sang suami yang tetap saja masih keras kepala menolak ajakan darinya.
"Apa susahnya sih ke dokter kan nggak di suruh ngapa-ngapain juga, Mas Sai cuma tinggal tiduran aja terus dokter yang periksa abis itu dapat obat langsung kita pulang, cuma gitu doang Mas.." tutur Ralen menggambarkan apa yang akan terjadi kalau suaminya pergi ke dokter.
"Kamu ini bawel sekali." Ipul menarik tangan istrinya hingga jatuh duduk ke atas pangkuannya, "aku nih pengennya manja-manjaan sama kamu, nggak mau ke dokter apalagi minum obat." aku Ipul seraya mendekap tubuh wanita di atas pangkuannya.
"Kamu tetap bisa manja sekalipun ke dokter, memangnya aku bisa menolak keinginan kamu?" Ralen bertanya tak mengerti, suaminya ini kan memang selalu ingin dituruti.
"Pokoknya aku tidak mau ke dokter titik!" kata Ipul tegas tak mau dibantah.
Ralen memutar bola mata kesal dan jengah sejak tadi terus mendengar penolakan dari suaminya, hanya ke dokter tapi banyak sekali drama.
"Dasar keras kepala!" dengus Ralen menunjukkan wajah cemberut.
"Tapi kamu suka," celetuk Ipul entah membicarakan apa.
__ADS_1
"Nggak nyambung, pikirannya nggak tahu ada dimana, tiap orang ngomong tuh selalu aja ke arah nggak jelas," beber Ralen menunjuk kening suaminya, dia terlihat kesal dengan sang suami tapi dia tetap duduk dengan nyaman dipangkuan suaminya itu, memang sulit dimengerti kedua manusia ini.
"Aku mau pulang saja kalau gitu." Ralen mencoba beranjak dari pangkuan suaminya namun kedua tangan sang suami malah membelit erat pinggangnya.
"Kita pulang bersama," larang Ipul seraya tangannya mengelus-elus perut sang istri, "kemarin perut kamu sakit, apa sekarang masih sakit?" tanyanya ingat bahwa kemarin saat dia datang ke kampus istrinya itu mengeluh sakit perut namun dia malah lupa karena diapun sedang kewalahan menghadapi serangan mual serta pusing yang datang.
"Sudah tidak, mungkin karena sebelumnya aku makan baso dengan banyak sambal," aku Ralen menunduk guna melihat tangan suaminya yang bergerak dan entah kenapa membuatnya nyaman.
"Lain kali jangan makan pedas, akan merusak lambung," pinta pria yang meletakkan kepala di bahu sang istri.
keduanya tampak saling menikmati satu sama lain, saling merasakan kenyamanan yang membuat hati mereka terasa damai dengan sentuhan-sentuhan kecil tak berlebihan.
"Kamu tadi bilang ada rapat kan?" Ralen baru ingat kalau saat di mobil suaminya sempat mengatakan ada rapat pada jam 11 dan sekarang sudah hampir setengah 11 lewat tapi suaminya terlihat masih sangat santai.
Ralen bisa merasakan gerakan kepala pria yang memangku nya mengangguk lalu berkata, "sebentar lagi berangkat, tunggu Om Damar dulu," ucapnya dengan mata yang terpejam, terlalu menikmati hangatnya tubuh wanita dalam pelukannya hingga rasanya dia ingin tidur pulas namun apa daya pekerjaan tidak bisa dia abaikan.
"Kalau begitu aku pulang, buat apa aku disini sendirian sedangkan kamu sendiri harus pergi rapat di luar kantor."
"Kan tadi aku bilang kita pulang bersama, itu artinya kamu tunggu aku disini kalau bosan kamu tinggal main game, handphone kamu kan ada gamenya," perintah Ipul menganggap istrinya ini anak kecil yang bisa diiming-imingi dengan bermain game lalu akan diam menunggunya kembali.
"Diam!" tega Ipul memberi ultimatum pada sang istri yang hendak protes.
Ralen menghela napas lalu kepalanya dia sandarkan pada kepala suaminya yang sedang asik bersandar di bahunya, keduanya jadi saling bersandar saling memanfaatkan.
****
Ralen hanya tinggal sendiri saja di ruangan suaminya yang sudah pergi beberapa menit lalu, dan baru beberapa menit ditinggalkan dia sudah merasa sangat bosan, bergerak tak bisa diam kesana-kemari seperti cacing kepanasan dengan mulut yang mengoceh.
"Jam segini Ratu sibuk nggak ya?" sepertinya mulai berpikir untuk menemui temannya.
Ralen melihat jam yang menempel pada dinding, "jam segini biasanya malah lebih sibuk," katanya kemudian ingat saat-saat dia bekerja sebab di jam ini para karyawan akan mulai sibuk meminta dibelikan makanan untuk makan siang meskipun itu tidak ada dalam daftar kerja tapi ketika ada imbalan siapapun tidak akan menolak.
Akhirnya kembali duduk mengurungkan niat yang padahal sudah sangat menggebu karena sejak berhenti bekerja dia memang sudah tidak pernah lagi bertemu dengan temannya sesama petugas kebersihan di kantor itu.
Saat sedang bosan seperti ini dia malah mendapatkan pesan dari nomor yang sama dengan tadi malam, tentu dia sudah tahu siapa pemilik nomor itu hingga membuat raut wajahnya berubah seketika.
"Bahkan dia tahu kantornya Mas Sai!" Ralen terlihat tidak menyangka ketika membaca deretan pesan yang dikirim oleh Daniya.
__ADS_1
Wanita itu atau lebih tepatnya adalah Kakaknya meminta bertemu di cafe seberang kantor Ipul, mengatakan sudah berada di sana sejak setengah jam yang lalu.
"Dasar gila!" omel Ralen tak menyangka, tidak peduli yang dia katai gila adalah Kakak kandungnya sendiri.
Kesal tapi Ralen tetap ingin menemui Daniya, dia berpikir jarak cafe dan kantor tidak jauh jadi dia bisa kembali dengan cepat sebelum suaminya.
Wanita itu mengambil memakai sepatu kets nya dan melangkah menuju lift meninggalkan ruangan suaminya.
Daniya menatap Ralen dari atas kepala sampai ujung kaki menatap dengan tatapan yang meremehkan saat Ralen baru saja tiba di depannya.
"Dandanan mu selalu seperti ini?" tanyanya dengan nada dan tatapan sinis.
Ralen memperhatikan penampilannya, "memangnya kenapa?" bertanya kala merasa tidak ada yang aneh pada apa yang dia pakai di tubuhnya, celana jeans serta kemeja kebesaran milik suaminya yang memang membuatnya nyaman saat memakainya.
Daniya tersenyum mengejek, "aku rasa suamimu sangat malu mempunyai istri yang tidak bisa menyesuaikan penampilan, datang ke kantor dengan berpakaian santai seperti ini aku pikir saat ini kamu sedang jadi bahan gosip karyawan suamimu," lontar Daniya berpendapat dan berkata tanpa otak.
"Aku tidak pernah memikirkan orang lain, toh suamiku juga tidak pernah keberatan bahkan dia sendiri yang mengijinkan aku berpenampilan seperti ini." Ralen sedang pamer betapa suaminya sangat mengerti dirinya.
"Dan kemeja ini juga milik suamiku, dia membiarkan aku memakainya, aku sangat beruntung bukan?" Ralen makin sengaja memanasi wanita di depannya, menyalahkan wanita itu yang mulai memancing.
Daniya mengepalkan tangannya dengan kuat, dia yang mulai membakar tapi dia sendiri yang akhirnya terbakar.
\*\*\*\*
__ADS_1