Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Tidak Mau Di Tinggal


__ADS_3

"Kenapa sangat mendadak?" Ralen mengikuti suaminya yang masuk ke dalam kamar mandi.


Pria itu baru saja pulang tapi sudah membawa kabar yang menyebalkan untuknya.


Bagaimana tidak menyebalkan kalau mendadak suaminya itu harus berangkat ke luar kota dan kali ini ke daerah Surabaya mengurus kantor yang di sana, sungguh Ralen itu tidak tahu sebenarnya ada berapa banyak perusahaan suaminya.


"Mas ih!" Ralen memukul pintu kamar mandi saat di depan mukanya pintu itu malah di tutup oleh sang suami.


"Oh kamu ikutin aku?" membuka pintu lalu dengan tenangnya bertanya sambil memamerkan wajah tanpa dosa, seperti orang yang tidak melakukan apapun.


Ralen mendengus tak suka, lalu bibir kecilnya dengan cepat mengerut menandakan dia ngambek, marah dan merajuk dalam waktu bersamaan.


"Kenapa mendadak?!" itu yang dia tanyakan sejak tadi namun suaminya belum menjawab.


"Aku ini atasan sekaligus pemilik perusahaan pasti akan selalu ada pekerjaan yang kita tidak tahu datang kapannya, apalagi semua kantor aku yang harus menanganinya langsung tentu jika ada masalah harus aku juga yang turun tangan, semua menjadi tanggung jawabku, sayang!" berseru namun tidak terlihat bahwa pria itu tengah membentak, dia hanya ingin menegaskan saja panggilan sayang yang dia ucapkan agar istrinya tahu bahwa dia itu tengah menunjukkan rasa sayangnya.


"Lalu aku sendiri di rumah?" Ralen menggeleng, "tidak mau! aku mau ikut!" melipat tangan ke dada.


Ipul menghela napas, istrinya lagi hamil dan dia tidak mau istrinya itu jadi kelelahan apalagi kehamilannya masih sangat muda, masih sangat rentan begitu yang Mamanya katakan.


Sudah pasti dia tidak akan mengajaknya bepergian apalagi sampai harus ke luar kota yang memakan waktu banyak untuk sampai ke tujuan.


Akhirnya Ipul keluar dari kamar mandi, mengurungkan niatnya untuk mandi karena sepertinya dia harus membujuk istrinya dulu, meyakinkan wanita hamil itu agar menurut dan mau di tinggal, toh setelah urusan selesai dia akan segera pulang.


"Jelita sayang." menggiring istrinya ke arah tempat tidur lalu menekan kedua bahu sang istri agar duduk di tepi tempat tidur tempat mereka sering berbagi kesenangan, tempat mereka meluapkan rasa cinta yang mendalam serta saling menyelami juga meneliti setiap inti dari bagian tubuh tersembunyi mereka.


"Aku sudah telepon Mama dan besok siang Mama pulang, paling tidak sore sudah sampai rumah," kata Ipul memberitahu.


Tadi, begitu dia diberitahu oleh Om Damar kalau harus ke Surabaya, dia langsung menghubungi sang Mama memintanya untuk segera pulang ada ada yang menemani istrinya di rumah, dia merasa khawatir meninggalkan istrinya tapi dia juga tidak mungkin mengabaikan pekerjaannya dan lebih tidak mungkin lagi mengajak istrinya ikut serta.


Mungkin andai Ralen belum hamil dia akan dengan senang hati mengajak istrinya kemanapun, bahkan dulu juga dia sempat berencana untuk mengajak wanita itu bulan madu akan tetapi wanita tersayangnya itu tidak memberikan jawaban hingga sampai sekarang istrinya hamil mereka belum juga pergi bulan madu menikmati masa-masa pengantin baru.


Ralen masih merengut, masih tidak terima suaminya akan pergi meninggalkan dirinya.


"Kalau aku nanti tiba-tiba ingin bagaimana?"

__ADS_1


Ipul terkekeh lalu mengelus rambut sebahu istrinya, tadi istrinya mempermasalahkan tentang di rumah sendiri tidak ada yang menemani, lalu saat dia memberitahu Mamanya akan pulang besok tetiba sekarang malah membicarakan keinginan bergelutnya yang memang sering kali muncul tanpa kenal waktu.


Hormon testosteron istrinya sungguh sudah melebihi ambang batas, tinggi dan mungkin melebihi dosis membuat dia kewalahan menenangkan wanita yang sukses menguasai jiwa dan raganya.


"Jangan tertawa!" Ralen marah tak suka ditertawakan oleh pria di depannya sedangkan hatinya sedang kesal.


Dia sedang hamil dan setiap saat selalu ingin bermanja akan tetapi suaminya malah harus pergi ke luar kota mengurus pekerjaan.


Memang perkejaan penting tapi kan dia juga penting, anak di dalam perutnya juga harus di jaga setiap saat dan kehadiran suaminya itu sangat dibutuhkan karena kadang keinginannya suka tiba-tiba muncul tak tahu waktu.


Sontak Ipul langsung membungkam mulutnya tidak berani melanjutkan tawanya lagi karena tidak mau di amuk oleh singa betina nya, besok dia harus pergi jadi biarkan untuk malam ini dia tidur dengan damai tanpa perlu merasakan tubuhnya sakit dipukuli oleh sang singa kesayangan.


Ipul mendekap tubuh kecil sang istri lalu menghujaminya dengan jutaan kasih sayang.


Setelah puas baru berhenti, "sekarang aku ingin mandi lalu tidur, aku ingin memelukmu dengan erat malam ini," kata Ipul sambil menjawil hidung sang istri.


****


"Makanan macam apa ini?" Daniya menatap tidak percaya pada makanan yang ada di depannya.


Sungguh makanan yang terlihat sangat asing baginya hingga membuat mulutnya terperangah dengan terus mengoceh di dalam hatinya.


Dia tidak pernah menyangka makanan akan mencicip makanan seperti itu, membuat dia bahkan menahan napas ketika mulai mengangkat sendok hendak menyuap nasi dengan oncom di atasnya.


Mulutnya terus mengecap merasakan sensasi tak biasa yang seumur-umur belum pernah dia rasakan, lidahnya tidak bisa menerima dan sangat ingin menolak bahkan merasakan mual ingin memuntahkannya, akan tetapi dia tidak bisa melakukan itu dihadapan ketiga orang yang terlihat sangat menikmati makanan mereka.


Arda diam-diam melihat sikap Daniya, mengamati lalu tersenyum miring menunjukkan kelicikan yang tidak disadari oleh Daniya dan juga orang tuanya.


Tadi dia memang diminta ibunya untuk membeli lauk untuk makan malam karena sang ibu tidak sempat memasak.


Ibunya berpesan untuk membeli ayam bakar atau rendang daging pokoknya makanan yang enak dan mewah untuk siapa lagi kalau bukan untuk Daniya, Kakaknya yang mengesalkan itu ingin diberikan makanan yang enak oleh ibunya dan Arda tidak terima maka dari itu dia dengan sengaja pergi ke warung nasi di depan gang lalu membeli sayur bayam dengan tumis oncom.


Ibunya sempat marah tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena tentu saja seorang Arda akan terus menjawab untuk membela diri.


Arda memamerkan senyuman culas melihat Kakaknya yang tidak berselera untuk makan namun tetap memaksakan diri untuk memakan makanan yang tidak sesuai dengan dirinya.

__ADS_1


"Bu," panggil Arda pada sang ibu yang sedang menyuap nasi.


Bukan hanya ibunya saja yang menoleh tapi juga Ayah dan Kakaknya yang menyebalkan pun turut serta melihat padanya.


"Sepertinya Kakak menyukai makanan yang Arda beli, bagaimana kalau besok ibu masak ini aja." celoteh Arda membuat Daniya kelabakan.


Dia bisa mati sakit perut kalau harus makan-makanan yang sama.


Ibunya tersenyum lalu mengangguk ketika melihat makanan pada piring sang anak tersisa sedikit, padahal tadi Daniya memang hanya mengambil sedikit saja dia makan secuil demi secuil, tapi wanita di sampingnya malah mengira lain, menyangka kalau dia menyukai makanan yang menurut Daniya aneh dan tak jelas itu.



"Besok ibu akan masak ini yang banyak untuk kamu," kata sang ibu mengulas senyum.



"Iya besok masak yang kini aja Bu, Daniya itu anak kita jadi lidahnya pun sama dengan kita," timpal sang Ayah seolah menyadarkan Daniya bahwa dia keturunan dari orang tua miskin yang tidak punya apa-apa.



Daniya mengangguk lemah tak berdaya sedangkan Arda malah tersenyum puas dan penuh kemenangan karena berhasil mengerjai wanita angkuh yang menyebalkan bernama Daniya.



Persetan dan tidak peduli tentang hubungan darah, yang jelas sekali dia tidak suka dan selamanya akan begitu.



Daniya melirik pada sang adik yang tengah tersenyum membuat dia sadar kalau adiknya itu tengah berbuat licik padanya.



"Dasar sialan!" umpatnya dalam hati dengan tatapan yang menghunus tajam tak terima dikerjai oleh ABG yang bahkan belum lulus SMP.


__ADS_1


\*\*\*\*


__ADS_2