Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Suami Bajingan!


__ADS_3

"Jelita!!!"


Ralen terkesiap dari lamunan yang hampir saja membuatnya mati mengenaskan.


Dia sedang berkendara dengan sangat kencang tapi bisa-bisanya dia malah membayangkan dirinya yang kecelakaan, sampai akhirnya suara teriakan sang suami menyadarkan dia yang akan menabrak mobil di depannya untunglah tangannya refleks menekan rem meski tetap saja dia harus sedikit oleng menabrak pembatas jalan tapi tidak sampai mengambil nyawanya seperti bayangan menyeramkan yang baru saja terlintas dipikirannya.


Bayangan itu bahkan terasa sangat nyata karena setiap kesakitan begitu menyesakkan, dia juga melihat kala suaminya menangis memeluk tubuhnya yang berlumuran darah.


Dia masih mau hidup untuk memberikan pelajaran pada pria bajingan yang menjadi suaminya, kalaupun harus mati dia tidak ingin mati dengan cara yang mengenaskan seperti itu.


Dia tidak akan rela tubuhnya menjadi tontonan banyak orang dengan darah yang banyak keluar dari tiap bagian tubuhnya.


Ipul turun dari mobilnya lalu berlarian menghampiri sang istri membantu membenarkan posisi motornya yang miring.


"Ngapain ngikutin!?" Ralen menyentak tangan sang suami dari motor.


"Apa yang akan terjadi kalau aku tidak mengikuti mu Jelita? cara berkendara mu sangat buruk!" sentak pria yang wajahnya diliputi dengan kecemasan namun mulutnya masih bisa marah.


Tadi dia melihat istrinya membawa motor dengan tatapan yang kosong, tangan yang mengendalikan motor juga tidak benar berulang kali oleng hampir menabrak kendaraan lain membuat dia yang terus mengikuti harus terus menerus berteriak untuk menyadarkan istrinya.


"Paling mati!"


"Sialan Jelita! sebelum mati kamu harus melahirkan anak-anakku dulu!" kata Ipul sarat akan peringatan dan perintah yang jelas tidak akan pernah mau mendengar bantahan.


Ralen mendengus lalu mencibir sinis, "minta saja sama mantan tunangan.."


Perkataan Ralen terhenti saat Ipul dengan kejamnya membekap mulutnya dengan kedua mata yang mendelik menakutkan.


"Dia sudah tahu aku telah menikah, dan kamu juga sudah mengenalnya, dia wanita baik-baik Jelita, dia tidak akan pernah berani menggoda suami orang lain," kata Ipul tegas dan penuh keyakinan, dia sangat mengenal Hanna jauh dari siapapun.


Wanita itu memiliki sifat dan perilaku yang baik bahkan sempat menolak saat dia menawarkan pekerjaan yang jauh lebih baik ketimbang menjadi seorang office girl.

__ADS_1


Mulut Ralen menggumam tak jelas dia ingin bersuara tapi tangan suaminya malah makin membekap dengan kuat.


"Aku akan membiarkanmu bicara asal mulutmu ini tidak bicara yang menyebalkan," berkata tegas.


Ralen jelas mengangguk, iyakan saja asal dia diberi kesempatan bicara.


Dia juga punya hak untuk bicarakan?


Perlahan Ipul menjauhkan tangannya namun dengan mata yang memicing, hatinya sebenarnya tidak terlalu percaya tapi andai Ralen terus mengatakan perkataan yang tidak ingin dia dengar dia sudah mengancam dalam hatinya dia akan langsung menyeret istrinya itu pulang ke rumah dan mengunci di kamar.


"Tapi kamu menemuinya di tempat kerjanya, tidak memberitahu apapun padaku, wahai Mas Saipul Gunawan yang selalu saja semena-mena terhadap istrinya!" ketus Ralen dengan bibirnya yang berubah menjadi sangat tipis layaknya silet.


Ipul menghela napas, "aku lupa, sebulan ini aku terus mencari bukti tentang perbuatan Daniya kepadamu hingga aku melupakan hal sepenting itu."


"Dan kamu pun tahu itu sangat penting tapi kamu masih saja melupakannya? ah yang benar saja, ckckck," cetus Ralen dengan tatapan tak percaya mulutnya setengah terbuka dengan ketakjuban yang luar biasa atas sikap sang suami.


"Ya, ya sudah sekarang maafkan suamimu ini yang terus membuat kesalahan," ucap Ipul dengan wajah yang lelah dan pasrah.


Ralen mendengus mengeluarkan udara panas dari dalam hidungnya.


"Kita pulang ya sayang." Ipul mengajak pulang sang istri menganggap semua mungkin sudah selesai istrinya tidak lagi marah padanya.


Tapi dia salah paham, seorang wanita jika sudah marah jelas tidak akan mudah untuk diajak baikan, harus ekstra sabar memberikan bujukan demi bujukan yang bisa masuk ke dalam otak yang sedang dilanda emosi.


"Pulang sana sendiri!" mendorong dada pria yang sontak mundur dua langkah karena tak siap dengan dorongannya.


"Kamu juga pulang," suara Ipul sungguh sangat lembut saat masuk ke dalam indera pendengaran.


"Aku tidak mau pulang!" sentak Ralen kesal dengan mulut yang mengerucut.


"Kamu berharap aku membiarkanmu membawa motor dengan gila? berharap aku melepas mu yang sedang emosi pergi sendiri?"

__ADS_1


Ralen mendelik.


Melepas? memangnya dia ini binatang peliharaan kah? kurang ajar sekali mulut suaminya ini.


"Aku pulang tapi jangan harap aku akan membiarkanmu masuk ke dalam kamar!" Ralen memasang kembali kunci motor dan bersiap menyalakannya tapi tangan Ipul dengan cepat menahan.


"Apa maksudnya?" Ipul bertanya tak mengerti, lebih tepatnya mungkin dia yang tidak mau mengerti.


"Kamu tidak akan bisa tidur di kamar denganku!" Ralen berkata penuh penekanan di setiap kalimat yang dia lontarkan.


Setelah ini dia akan memberi hukuman yang lebih dari sekedar tidak boleh masuk ke kamar, akan ada hukuman lain yang akan membuat suaminya itu kapok, setidaknya tidak akan pernah mengulangi perbuatannya yang selalu saja menguras emosi.


"Jelita, ayolah.." Ipul frustasi entah sudah berapa kali dia frustasi hari ini.


Ralen memberikan tatapan tajam dan juga sadis penuh peringatan.


"Terus saja protes dan aku akan memberikan hukuman yang lebih dari ini!"


Ipul memejamkan mata lalu membuang napas kasar dan berat yang begitu memuakkan.


"Sana pulang duluan," kata Ralen.


"Aku akan mengikuti dari belakang," ucap Ipul.


Ralen memutar bola matanya lalu tidak mengatakan apapun hanya tangannya yang memutar kunci dan bersiap untuk menarik gas.


Ipul segera masuk ke dalam mobil, "jangan terlalu kencang," katanya mengingatkan.


Entah Ralen mendengar atau tidak karena wanita itu langsung melajukan motornya begitu saja.


Suami Bajingan, sungutnya.

__ADS_1


****


__ADS_2