Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Gue Titip Mama


__ADS_3

Akhirnya setelah berpikir dan yakin harus ke ruangan yang mana Ralen pun segera pergi ke ruangan itu, ruangan di lantai 9 menjadi pilihannya biarkan saja dia tidak mau turun ke lantai 5 toh pria itu masih rapat di ruangan ujung di lantai 9 ini dan nantinya pria itu akan melewati ruangan yang sudah kosong ini.


Ralen memasuki ruangan itu dengan troli yang berisi peralatan kerjanya, memang agak sedikit konyol sebab dia malah membawa alat-alat kerjanya di saat atasan sekaligus suaminya itu memintanya untuk menunggu, bukankah artinya pria itu ingin berbicara dengannya atau hal lainnya yang jelas bukan tentang pekerjaan atau bahkan menyuruhnya melakukan pekerjaan.


Derap langkah terdengar jelas di lorong yang menuju ruangan dimana Ralen berada saat ini, dua orang pria tengah berjalan beriringan setelah menyelesaikan rapat tentang perusahaan.


"Duluan saja, ada yang harus saya urus," terang sang atasan ketika asistennya menatap pria yang bukannya berjalan menuju lift tapi malah mengarah pada ruangan lama yang atasannya dulu tempati sebelum akhirnya menjadi pemimpin tertinggi di perusahaan setelah meninggalnya seorang Irman Rustanto.


Damar mengangguk meski sedikit memunculkan ekspresi ragu karena seharusnya saat ini mereka harus berangkat keluar kota untuk mengecek anak perusahaan yang bermasalah, bahkan dalam rapat tadi perusahaan yang bermasalah itu terus di bahas guna mencari solusi agar permasalahan cepat selesai tanpa adanya PHK masal yang mengorbankan banyak orang yang selama ini menggantungkan hidup dari gaji di anak perusahaan itu.


"Pinta Sarah untuk menyiapkan semuanya," kata Ipul lagi dan langsung berbalik menuju pintu yang tertutup rapat, dirinya tidak memerlukan jawaban apapun dari asistennya itu sebab dia merasa sudah mengatakan dengan jelas dan Damar pasti sudah mengerti.


Ralen menoleh ketika mendengar suara pintu yang terbuka, padahal tadi pikirannya entah berada dimana ketika matanya memandangi sebuah pintu di dalam ruangan kerja itu.


Pintu yang di dalamnya menyimpan cerita tersendiri tentang pertama kalinya dia dan Saipul Gunawan terkunci tanpa sengaja hingga akhirnya harus di minta untuk menikah dan juga..


Ralen tidak mampu mengingat apa yang terjadi di dalam ruangan itu, sesuatu yang intim terbayang jelas meski dia tidak mau mengingatnya memaksa dia untuk menggigit bibir dengan keras sampai sosok wajah kini sudah berdiri tak jauh darinya.


"Ngapain bawa gituan?" tanya Ipul melirik pada troli yang ada di depan Ralen.


"Saya seorang pekerja dan saat ada atasan yang memanggil itu artinya ada yang harus saya kerjakan," sahut Ralen dengan bahasa formal antara atasan dan bawahan.


"Gue nyuruh Lo tunggu gue, bukan nyuruh Lo bersihin ruangan!" tegas Ipul dengan suara yang sedikit meninggi.


Ralen mengunci mulutnya tidak ingin menjawab karena dia tahu saat menjawab hanya akan ada keributan dan dia tidak mau karena saat ini mereka berada di kantor dan keributan hanya akan mengundang perhatian para karyawan yang mungkin tak sengaja mendengar pertengkaran mereka.


Ipul melempar benda ke atas meja yang menimbulkan suara hingga membuat Ralen melihat pada benda yang ternyata sebuah kunci itu, Ralen tidak mengerti apa maksudnya hingga dia hanya melayangkan sorot mata tanpa bertanya.


"Itu kunci motor Lo," kata Ipul singkat membuat Ralen berpikir tentang motornya yang sudah dia berikan pada Ardan lalu menggeleng ketika tahu itu bukan kunci motor miliknya, lagian mana mungkin Ardan menitipkan kunci motor itu pada Ipul walaupun sekarang pria di depannya ini adalah Kakak ipar dari sang Adik tapi mereka belum sedekat itu bukan?


"Mama suruh gue buat beliin Lo motor, biar Lo nggak turun naik kendaraan umum karena gue jelas nggak bisa berangkat bareng Lo, jam kerja kita beda satu jam lebih dan gue nggak mungkin datang lebih awal," papar Ipul, namun dari penjelasannya ada yang tidak benar karena sejak kapan Mamanya meminta dia untuk memberikan Ralen motor? bukankah itu idenya sendiri? sebenarnya yang Mamanya inginkan adalah dia bisa mengantar Ralen bekerja meski beda Jam kerja tapi setidaknya sebagai seorang suami dia akan mengambil tanggung jawab untuk mengantarkan istrinya.


Ralen menghela napas pendek sebelum akhirnya berucap, "gue nggak minta motor, turun naik kendaraan umum juga gue nggak masalah dan gue juga nggak berharap bisa berangkat kerja bareng sama Lo, karena sejak dulu gue nggak pernah bergantung sama siapapun, jadi simpan aja motornya atau Lo berikan sama orang lain aja," Ralen jelas menolak apa yang diberikan oleh pria yang menatapnya dengan tajam saat ini.


Merasa sudah tidak ada lagi yang harus dia lakukan di ruangan ini Ralen pun berniat untuk pergi guna melanjutkan lagi pekerjaannya membersihkan ruang rapat yang baru saja selesai di gunakan.



"Len."


Panggilan Ipul yang lebih lembut membuat Ralen mengurungkan niatnya untuk melangkah, dia menahan kakinya agar tidak bergerak, wanita ini mematung meyakinkan diri kalau dia tidak salah mendengar.


Ralen tidak lagi mendengar kata-kata dari pria yang berdiri di belakangnya sebab kini telinganya hanya mendengar tarikan napas yang begitu berat dari pria yang tengah berjalan mendekat ke arahnya.



"Gue salah ya sama Lo?"



Ralen menautkan kedua alisnya, jelas pria itu sudah menyakiti hatinya lalu sekarang kenapa malah bertanya? tidak sadarkah apa yang sudah dia perbuat? atau memang pria ini memiliki dua kepribadian?



"Len.."

__ADS_1



Kembali menyerukan nama wanita yang masih tidak mau berbalik untuk melihatnya hingga akhirnya sekarang dia memilih untuk membalikkan tubuh sang wanita hingga berhadapan dengannya.



"Lo nyesel nikah sama gue." Ralen mengulang kembali apa yang sempat Ipul ucapkan, pernyataan yang membuatnya kecewa dan terluka.



"Maaf." hanya satu kata yang Ipul keluarkan dari mulutnya, satu kata yang mewakili perasaan bersalahnya.



"Lo kenapa?" Ralen malah merasa aneh ketika pria yang tadi berpapasan dengannya saja enggan sekali untuk melihatnya tapi kini malah meminta maaf, memangnya apa yang terjadi? bukankah pria itu memang sangat menyesal menikah dengannya?



"Ada masalah di anak perusahaan yang di Batam dan gue harus memikirkan bagaimana caranya agar anak perusahaan itu tidak hancur dan bangkrut, gue bingung Len, Papa meninggal di saat anak perusahaannya bermasalah dan mau tidak mau gue yang harus membenahi semuanya dari awal," papar Ipul dramatis membuat Ralen tak bisa berkata apapun, dia sebagai seorang istri tentu turut merasakan apa yang tengah dirasakan oleh suaminya.



Dia tahu seberat apa beban pikiran yang harus di tanggung oleh pria yang sekarang tampak lebih rapuh dari yang tadi, baru memimpin perusahaan tapi sudah harus menghadapi masalah yang cukup besar, sekalipun dia bukan orang baru di bidang bisnis tapi tetap saja akan membuatnya di penuhi beban yang luar biasa.



Ralen sedikit terkejut ketika pria tinggi di depannya itu menjatuhkan kepalanya di bahunya lalu merayap ke ceruk lehernya sampai nafas hangat sang pria menerpa di kulit lehernya.




"Nanti sore gue berangkat ke Batam, Lo jaga diri dan jaga Mama juga, gue titip Mama karena dia Mama Lo juga," ucap Ipul membuat bibirnya yang bergerak malah menyentuh leher Ralen menimbulkan gelenyar aneh yang membuat jantung Ralen berdegub cepat dan kencang.



"Jantungnya kenceng banget."



Sempat-sempatnya Ipul malah menggoda Ralen membuat wanita itu memejamkan mata dengan wajah yang memerah.



Ipul menegakkan tubuhnya hingga kini dia berdiri menjulang di depan Ralen, menatap sang istri dengan intens lalu tangannya terangkat guna menyentuh wajah yang sedang memerah itu, jarinya bergerak menyentuh setiap kulit di wajah hingga berhenti di belahan bibir berwarna merah Cherry dan menatapnya begitu lama.



Lambat lain Ralen menyadari kalau pria di depannya mulai menunduk kembali dan kini mengincar bibirnya dan benar saja ketika Ralen merasakan sesuatu yang dingin memberikan sentuhan mengundang sensasi tersendiri dalam raganya membuat dia refleks memejamkan mata.



Keduanya larut tak tertahan dengan gelombang adrenalin tak terhingga, sampai akhirnya sang pria menghentikan kegiatan yang sudah tak terkendali itu.


__ADS_1


"Kita perbaiki lagi ya, mulai dari awal," tutur Ipul memegang dagu Ralen yang menatapnya dengan tatapan sendu tanpa perlawanan.



Ralen pun mengangguk setuju, bukankah memberi kesempatan pada orang yang mau berubah dan memperbaiki kesalahan suatu bukan suatu hal yang salah?



Ipul tersenyum lalu mengecup kening wanita yang sempat sakit hati karenanya.



"Nanti malam kamu tidur sendiri," kata Ipul tak jelas apa maksudnya.



Ralen sedikit aneh dengan perubahan panggilan Ipul yang kini berubah menjadi kamu padanya, ah itu artinya pria di depannya ini memang benar-benar ingin memperbaiki semuanya.



"Terus?" Ralen bertanya tak mengerti.



"Mau kasih kamu nafkah dulu sebelum berangkat," cetus Ipul sambil menyunggingkan sedikit senyum malu-malu.



"Nafkah?"



"Aku nggak bakal bisa berangkat tenang sebelum kasih nafkah buat kamu," kata Ipul yang lalu mengangkat Ralen dan membawanya ke dalam ruangan istirahat yang memang selalu di bersihkan oleh Ralen.



"Harus disini lagi?" tanya Ralen ketika sudah berada di dalam ruangan dan dia sudah di atas tempat tidur.



"Kesempatannya selalu disini, pulang ke rumah dulu kan nggak mungkin," jawab Ipul seraya jari-jarinya sudah merayap tak jelas di wajah dan bagian tubuh lainnya milik Ralen.



"Nanti kalau ada yang masuk lagi gimana?" Ralen tentu tidak akan lupa pada kejadian dulu yang mereka hampir saja ketahuan oleh Ratu dan Safiq.



"Udah aku kunci semuanya, jadi kamu tenang aja," terang Ipul lalu tanpa izin langsung melakukan penyerangan tak terkendali yang membuat Ralen bergerak tak menentu dengan suara-suara yang dia keluarkan.



Sungguh ada rasa senang yang Ralen rasakan karena akhirnya suaminya menyadari perbuatannya, tapi disisi lain dia juga masih tidak tenang ketika mengetahui suaminya harus menanggung masalah yang cukup mengkhawatirkan tentang perusahaan.


Pikiran Ralen langsung berpusat pada satu rasa yang sedang di berikan oleh sang suami yang sedang berbuat jahil di bawah sana, ini bukan yang pertama tapi rasanya semakin luar biasa membuat Ralen memejamkan mata dengan tubuh yang tak lagi bisa diam tak kuasa mengimbangi apa yang tengah di lakukan oleh suaminya itu.

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2