
Di dalam kamar mulut Daniya terus mengoceh mengumpat memaki serta segala sumpah serapahnya untuk Arda yang baru saja melakukan serangan terhadap dirinya.
"Sumpah demi apapun gue benci banget sama tuh anak!" geram Daniya dengan suara yang di tahan, dia tidak mungkin mengeluarkan suara kencang mengingat rumah kontrakan ini sangat kecil dan tentunya teriakannya bisa terdengar oleh siapapun.
Dia ingin melawan dan membalas tapi tentu tidak akan bisa, dia masih harus mencari simpatik agar terlihat lemah dan baik di depan mata keluarga itu.
"Kenapa Kak?!"
Arda mendadak muncul dengan senyum manis namun mengundang emosi yang harus Daniya pendam dengan baik, simpan sembunyikan dari mata bocah yang menurutnya kurang ajar.
Dia tidak sadar bahkan Arda sudah membaca betapa licik dan jahatnya dirinya, Arda tidak termakan sedikitpun oleh sandiwara murahan yang sedang dia perankan dan tampilkan.
Aktingnya yang sangat jelek, cibir Arda dalam hati.
Daniya sontak memberikan senyum, senyum manis yang sangat tidak pas dengan wajah serta sorot matanya yang siapapun bisa melihat berapa banyak kemarahan yang berusaha dia tahan, tidak bisa membalas perbuatan adiknya itu.
"Tidak ada," Daniya mengedikkan bahu.
Arda mencebikkan bibir lalu hendak berlalu.
"Arda," panggilan Daniya menghentikan gerakan adik yang lebih terlihat seperti musuh.
"Kan di panggil juga, tadi ditanya kenapa padahal," kata Arda terdengar protes akan tetapi dengan cengiran yang lebar.
Itu sindiran yang terus saja dilancarkan olehnya.
"Iya Kakak lupa ada yang mau Kakak tanyakan," tutur Daniya dengan wajah yang dibuat menyesal.
Sudut bibir Arda berkedut, cuping hidungnya kembang-kempis muak dan rasanya ingin muntah.
Wanita jahat itu menyebut dirinya sendiri Kakak? Arda mendengus lalu tertawa, mentertawakan wanita di depannya.
Arda melipat tangannya di depan dada tetap berada di ambang pintu yang hanya di tutup dengan gorden dan ABG itu bersandar pada kayu kusen.
"Duduk dulu sini," Daniya menarik tangan Arda agar masuk ke dalam.
Dapat dilihat betapa Arda begitu enggan, terlihat ogah-ogahan namun tidak berniat untuk menolak.
"Aku ini juga kan Kakakmu, kenapa kamu terlihat sangat kaku sekali," sindir Daniya dengan bibir yang mengerut memperlihatkan kekecewaan yang Arda tahu kekecewaan macam apa yang tengah Daniya tunjukkan.
"Kita kan baru bertemu, Arda juga tidak tahu kalau masih punya satu orang Kakak lagi, selama ini yang Arda tahu Kakak Arda ya cuma Kak Ralen saja, selamanya hanya Kak Ralen.." mata Arda melebar seperti mengingatkan bahwa wanita di depannya ini tidak akan dia anggap sebagai Kakak.
Bahu Daniya meluruh menampilkan wajah lemah dan kecewa mencari perhatian sang adik.
"Ah tidak maksud Arda sebelum Kakak Dani datang selamanya Kakak Arda ya cuma Kak Ralen, tapi setelah Kak Dani datang ya semuanya berubah, bukan begitu?"
Arda sangat pintar sekali berbicara, memainkan perasaan orang nanti di beri kecewa lalu sesaat kemudian di terbangkan sampai setinggi langit melewati awan-awan yang cerah, namun entah kapan dia akan dengan cepat menjatuhkannya melewati Awan yang tadinya cerah berubah menjadi Awan mendung kelabu dengan segala kegelapan yang terlihat oleh semua orang.
Daniya mengangkat wajah lalu mengulas senyum, senyum kepura-puraan yang menyebalkan.
Wanita itu duduk di tempat tidur lalu menarik tangan sang Adik untuk ikut duduk bersamanya, saat ini dia harus sudah mulai melancarkan aksinya untuk menghasut Arda agar berpihak padanya tidak lagi membela Ralen apalagi sampai melindunginya.
Dari yang Daniya lihat selama ini Arda itu begitu membela Ralen, tidak dengan fisik tapi dengan segala perkataannya yang selalu meninggikan Ralen di depan siapapun terutama orang tua serta dirinya, dan Daniya tidak suka itu.
Semua orang yang ada di rumah ini harus berada di pihaknya harus dia kendalikan agar k
tujuannya tercapai.
Arda berpasrah, duduk di samping wanita yang sejak kemunculannya seolah merubah segalanya, merubah sifat ibu dan Ayahnya yang biasanya bijak sekarang malah terkesan pilih kasih.
"Suami Ralen itu kan kaya, kenapa kalian masih tinggal di rumah kontrakan apalagi ini sangat kecil, apa kalian tidak merasa risih harus berada di rumah kecil seperti ini." Daniya bicara sambil matanya sengaja melihat setiap sudut kamar yang dia tempati.
Kamar kecil yang tadinya milik Ralen lalu sekarang menjadi miliknya, bukankah itu sebuah kemajuan? salah satu yang menjadi milik Ralen akhirnya menjadi miliknya, bukan tidak mungkin untuk selanjutnya dia akan mendapatkan yang lebih dari ini.
"Masa dia enak tinggal di rumah besar bersama suaminya sedangkan kalian harus berhimpitan di kontrakan ini, tidur saja bingung harus dimana." Daniya terus berceloteh membicarakan Ralen, mengatakan apa saja agar Ralen terlihat sangat buruk di mata Arda.
"Tidur bingung? sepertinya ibu, ayah dan aku tidak kebingungan saat akan tidur, kami terbiasa tidur dimana saja, mungkin Kakak yang keberatan tinggal di rumah kontrakan begini?" raut wajah Arda terlihat tenang.
Daniya meremat tangannya, "bukan begitu maksud Kakak." sambar Daniya cepat.
"Terus apa? kan yang Kakak bicarakan rumah juga tentang bagaimana kami tidur, sudah Arda jawab kalau kami ini sudah biasa di rumah kecil begini, tidak ada yang perlu di pusingkan." tambah Arda lagi yang bergerak memperbaiki duduknya.
"Maksudnya tuh Ralen bisa loh minta suaminya untuk membelikan kalian rumah, lagian Kakak dengar Awan itu juga sangat tanggung jawab pada kalian, semua kebutuhan kalian dipenuhi olehnya jadi bukan tidak mungkin kan Awan akan membelikan kalian rumah tempat tinggal yang lebih layak dari pada kontrakan kecil begini, atau jangan-jangan.." Daniya sengaja menjeda perkataannya membiarkan Arda menunggu dan penasaran tapi sayangnya Arda tidak terpancing, adiknya itu malah terlihat makin cuek tak peduli.
"Sepertinya Ralen yang memang tidak peduli pada kalian, kalau aku yang menikah sudah pasti aku akan meminta suamiku untuk membelikan ibu dan ayah rumah agar kalian bisa hidup senang sama seperti diriku."
Benar saja kan apa yang Arda pikirkan, wanita di depannya ini ingin membuat nama Ralen terlihat buruk hanya karena rumah.
Arda menarik napas lalu membuangnya dengan kasar, "sepertinya Kakak tidak tahu apa-apa." sindir Arda dengan senyuman penuh arti.
Mata Daniya memicing, kali ini malah dia yang terlihat penasaran dia tidak berhasil membuat Arda penasaran eh malah dirinyalah yang jadi penasaran, layaknya hantu bergentayangan.
"Kak Ralen dan suaminya berniat untuk membelikan rumah tapi ibu dan Ayah menolak, kenapa menolak?" Arda mengajukan pertanyaan yang akhirnya dia jawab sendiri, "karena merasa tidak enak, setiap bulan mereka mengirimi uang untuk kebutuhan kami sekeluarga bahkan makanan yang Kakak makan pun uang dari mereka, Kak Ralen selalu rutin bahkan tidak pernah telat mengirim uang." kata Arda penuh penekanan, "Kak Ralen itu benar-benar sangat beruntung menikah dengan Kak Gunawan apalagi Kak Gunawan juga sangat menyayanginya."
Perkataan Arda berakhir dengan sengaja memanasi Daniya.
Ekspresi Daniya tenang namun kekesalan tidak dapat dia sembunyikan dengan sempurna, dia kesal mendengar Arda tidak sedikitpun terpengaruh oleh perkataannya.
"Nih anak bego atau gimana sih! ngeselin banget!" mengumpat dalam hati.
"Lagian kalau soal rumah kenapa tidak Kakak saja yang membelikan untuk Ayah dan ibu."
__ADS_1
"Nanti kalau aku sudah menikah dengan pria yang aku inginkan baru akan membelikan rumah untuk kalian sebagai perayaan." sahut Daniya sedikit sengit.
"Loh, uang Kakak kan pasti sangat banyak kenapa harus tunggu menikah dulu? sedikit aneh, hm?"
Sungguh Arda sangat berhasil dalam membuat Daniya mati kutu, tidak bisa menjawab serangan balik yang dia lakukan tidak pernah terpikirkan olehnya.
Entah siapa yang bodoh sekarang ini.
Daniya gelagapan tak lagi tenang dia jadi gelisah dengan pernyataan Arda.
Memang uangnya banyak dia bahkan bisa membeli dua rumah besar sekaligus tapi dia tidak akan rela menghabiskan uang hanya untuk keluarga yang sama sekali tidak berarti untuknya, dia akan membeli rumah tapi itu hanya untuk dirinya sendiri tidak untuk orang lain apalagi keluarga kandungannya itu.
Daniya tidak akan membuang-buang uang untuk mereka yang telah membuangnya, tidak akan pernah!
"Kakak ini hanya anak angkat, tidak berhak atas apapun dari keluarga yang mengangkat Kakak, uang yang mereka berikan pun sudah Kakak kembalikan," sahut Daniya memberikan alasan yang menurut Arda sangat tidak masuk akal terlalu mengada-ada seolah dia ini bodoh.
Usianya memang masih remaja belum bisa dianggap dewasa namun dalam berpikir dia bisa jauh lebih dari wanita di depannya ini.
"Oh." mulut Arda membulat lalu sedetik kemudian mencebikkan bibirnya.
"Arda mau belajar dulu Kak," kata Arda seraya beranjak bangun dari duduk, dia tidak berminat lagi untuk meladeni Kakak pertamanya yang menyebalkan itu.
Daniya mengangguk sambil memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi, memaksakan senyum meskipun dalam hati dia terus saja merutuk mengatai apa saja pada sang adik yang tidak terpengaruh apapun olehnya.
Arda melenggang keluar dengan senyum puas karena dia yakin saat ini Daniya menjadi lebih jengkel lagi terhadapnya.
****
Damar sudah menunggu sang atasan yang masih juga belum keluar rumah padahal seharusnya sekarang mereka berada di bandara untuk berangkat ke Surabaya.
Pria itu berulang kali melirik pada arloji yang melingkar pada pergelangan tangannya, arloji berwarna perak yang sudah menunjukkan pukul 11 siang lewat hampir mencapai angka 12.
Damar menggelang kepala lalu kakinya bersiap untuk melangkah dia berniat untuk mengecek ke dalam rumah agar bisa tahu apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh atasan mudanya.
Pria itu terlihat sedikit ragu untuk menjejakkan kakinya di teras rumah, dan sekarang dia malah maju mundur tak jelas bimbang sendiri pada apa yang akan dia lakukan.
"Om Damar sudah nunggu di luar Jelita."
"Aku udah terlambat ini," katanya lagi seraya melihat arloji di pergelangan tangan.
Saat ini Ralen dengan sangat posesif mendekat tubuhnya, memeluk dengan sangat erat tidak membiarkan dia pergi satu langkah pun.
"Nggak mau tau!" sentak Ralen mengangkat wajah melihat sang suaminya yang tengah berusaha untuk melepaskan lingkaran tangannya.
Usaha Ipul seperti menjadi sangat sia-sia, dia sudah membujuk sejak semalam dan dia pikir istrinya akan mengerti akan tetapi saat pagi dan dia sudah rapi kejadiannya malah seperti ini, istrinya terus saja mengikuti setiap langkahnya bahkan sekarang pun mendekap erat pinggangnya.
"Aku pulang cepat sayang, urusan selesai aku langsung pulang." mencoba untuk membujuk.
Ralen menggeleng tidak percaya, kehamilan membuatnya jadi seperti ini sangat sulit sekali di tinggal.
"Nanti Mama kan pulang, kamu nggak sendiri di rumah nanti kamu juga boleh jalan-jalan sama Mama." matanya lagi terus meyakinkan.
Mendengar kata jalan-jalan tentu membuat Ralen senang, wanita itu mengangkat wajah dan sedikit mengendurkan dekapannya pada pinggang sang suami.
"Aku boleh jalan-jalan?" tanyanya dengan bola mata yang berbinar.
Sebenarnya Ipul ragu tapi setidaknya Ralen mau membiarkan dia pergi ke luar kota tanpa terus merengek melarangnya pergi.
Pria itu mengangguk lambat, ragu tapi tidak bisa berbuat apa-apa pilihannya hanya satu membiarkan istrinya pergi jalan-jalan atau dia yang tetap di rumah dan tidak bisa pergi ke luar kota dan membiarkan pekerjaannya terbengkalai karena dia yang lebih mementingkan istrinya.
"Beneran? boleh kemana aja?" tanya Ralen semangat.
__ADS_1
"Bener Jelita." Ipul mengecup puncak kepala sang istri.
Senyum pun merekah dari bibir Ralen, "boleh naik motor?"
"Nggak boleh naik motor!" langsung menjawab cepat.
Dia tidak akan pernah membiarkan istrinya itu naik motor dalam keadaan hamil, begitu mengkhawatirkan anak yang ada di dalam kandungan sang istri.
"Kamu harus ingat apa yang aku katakan!" Ipul menatap tegas dan penuh peringatan.
"Jangan naik motor apalagi sampai boncengin Mama! aku akan marah sama kamu!" mata Ipul melebar, tajam dan dalam saat memberikan peringatan pada sang istri.
Jelas peringatan itu harus diingat dan tidak boleh dilanggar karena dari raut wajahnya Ralen bisa melihat kalau pria itu sangat serius dan tidak main-main dengan apa yang dia katakan.
Ralen mengatupkan bibirnya lalu mengangguk serta perlahan melepaskan pelukan pada sang suami.
"Ya udah Mas boleh pergi," katanya kemudian seraya mengumbar senyum sumringah.
Di matanya sudah terbayang dia akan keluar jalan-jalan seharian penuh menikmati udara Jakarta yang memang sudah dipenuhi oleh polusi, namun dia tetap saja senang karena dia yang memang sudah terbiasa.
Ipul mengelus puncak kepala istrinya lalu mengacaknya hingga wajah Ralen merengut dibuatnya.
"Rambut aku acak-acakan Mas Sai!" protesnya menyingkirkan tangan sang suami dari rambutnya.
"Acak-acakan sekalipun kamu tetap terlihat cantik dan meng.."
Tiiinnn!
Suara klakson begitu nyaring terdengar tidak memberi kesempatan pada Ipul untuk menyelesaikan apa yang ingin dia katakan.
Ipul mendengus.
"Om Damar ini sangat tidak sabaran, seperti tidak pernah muda saja!" omel Ipul tahu siapa orangnya yang sudah membunyikan klakson dengan sangat kencang membuat telinganya sakit.
Ralen cekikikan melihat suaminya yang sangat jengkel.
"Ya udah sana berangkat nanti terlambat." kata Ralen mendorong suaminya keluar rumah.
Mata Ipul mendelik, "aku sudah terlambat sejak tadi," cakapnya tidak percaya Ralen lupa kalau dia seharusnya sudah berangkat sejak satu jam yang lalu.
Ipul tidak percaya dengan senyum tanpa dosa yang istrinya tunjukkan, wanita itu apa tidak ingat apa yang dia lakukan barusan? merengek tak jelas layaknya anak kecil memintanya untuk tidak pergi.
"Mas bawa minyak angin kan?" tanya Ralen yang takut suaminya mual apalagi akan menempuh perjalanan yang lumayan.
"Sudah," jawab Ipul lalu mengecup kening sang istri.
"Aku berangkat, kalau ingin jalan-jalan harus sama Mama, sebentar lagi Mama sampai kok," kita Ipul seraya masuk ke dalam mobil dia sempat melirik sadis pada Om Damar yang membukakan pintu untuknya masih kesal karena suara klakson yang Om Damar bunyikan.
Ralen mengangguk lalu tetap berada di teras rumah menyaksikan mobil suaminya yang mulai menjauh, melambaikan tangan dengan senyuman yang sangat lebar.
__ADS_1
\*\*\*\*\*