
"Bisa tidak kamu pakai baju Mas?" Ralen berkata tapi tidak berani menatap pada pria yang dia ajak bicara, pria yang sejak bangun tidur bahkan sampai se sore ini masih juga betah tidak memakai pakaian atas hanya celana pendek selutut yang menemaninya bersantai di kamar hotel, kaos atau apapun misalnya untuk menutupi kulit atasnya yang sekarang terdapat banyak sekali jejak yang Ralen buat saat pertempuran mereka semalam.
Ralen risih, lebih tepatnya malu sendiri dengan hasil perbuatannya tadi malam, bayangkan saja dia memberikan tanda merah di tubuh suaminya itu bukan hanya satu atau dua saja tapi sepanjang tubuh dari leher sampai dada bahkan lebih turun lagi banyak sekali tanda merah yang terlihat, dan suaminya itu dengan percaya dirinya tidak pakai baju? dia ini sedang pamer atau memang sengaja agar Ralen sadar betapa dia sangat liar, liar bagaikan seekor singa betina yang kerap kali disebut oleh suaminya.
"Nope!"
Mata Ralen membelalak lalu mengatupkan bibirnya mendengar jawaban yang suaminya berikan.
"Kamu yang berbuat ini padaku Jelita, jadi kamu juga yang harus melihatnya terus-menerus, aku tidak akan memakai pakaian agar kamu bisa sadar bagaimana liarnya kamu saat sedang mabuk, bagaimana tadi malam kamu yang terus bergerak tidak henti di atas tubuhku bahkan kamu juga merengek untuk mengulang kembali permainan meskipun aku katakan kalau kemungkinan stok cairanku sudah terkuras dan perlu beristirahat untuk mengumpulkan cairanku lagi, tapi kamu malah tidak mendengarkan dan terus saja berbuat sesuka hati menyentuh serta mengecup semua anggota tubuhku tidak terkecuali, sekarang apa kamu mau lihat lagi di bagian mana saja tanda merah yang kamu tinggalkan?" Ipul menaikkan alisnya menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana istrinya memperlakukan dia tadi malam, benar-benar liar dan sangat erotis tapi dia suka hanya saja dia tidak dibiarkan beristirahat barang sebentar pun, begitu tenangnya dalam berbicara padahal sedari tadi jantung istrinya berdebar tak karuan mendengar setiap penuturan dari bibir yang semalam pun menjadi sasaran sang istri.
Ralen layaknya singa buas yang tidak rela kehilangan mangsanya dan akan terus memberikan serangan sampai kemauannya terpuaskan.
Ralen menggeleng lambat dengan raut wajah memerah, jelas sekali dia sangat malu dengan semua keterangan suaminya itu, keterangan tentang yang dia lakukan dan dimana saja tanda merah yang dia tinggalkan, dia tahu dengan baik tanda merah yang di maksud suaminya itu berada dimana, sebab tadi pagi pun sang suami dengan pedenya menunjukkan tanda itu selepas dia selesai mandi.
Ipul tersenyum melihat seperti apa istrinya sekarang ini, tersenyum menyadari istrinya tengah malu dengan perbuatannya yang dia lakukan tadi malam, dan tadi malam dia seperti seorang pria yang sedang diperkosa oleh istrinya, tapi jujur dia sangat menyukai itu, menyukai bagaimana istrinya menjadi begitu agresif dan membuat dia tidak berdaya, puas meskipun tubuhnya jadi sangat pegal karena kebanyakan berolah raga malam hingga diapun tidak datang ke kantornya dan meminta Damar untuk mengurus pekerjaannya, untunglah segala urusan tentang perusahaan sudah berjalan dengan baik jadi dia bisa lebih santai sekarang.
"Ingat saat kamu mabuk dulu?" tanya Ipul.
Ralen menatap manik mata pria yang duduk di sebelahnya, mengingat kembali saat dia mabuk dan ketika sadar malah sudah berada di hotel dengan tubuh yang hanya tertutupi oleh selimut.
"Dulu pun kamu seperti ini, hingga membuat kita berakhir di kamar hotel," beritahu Ipul.
"Jadi salah ku kan? hal yang terjadi antara kita sebenarnya adalah salahku, jadi sebenarnya kamu tidak berkewajiban untuk bertanggung jawab," tutur Ralen malah berpikiran hal lain.
Berpikiran bahwa dialah yang salah sehingga kehormatannya hilang, seharusnya dia selektif dalam mengambil minuman toh sebelumnya Ipul sudah memberikan peringatan padanya, tapi entah setan mana yang malah mengarahkan dirinya untuk mengambil minuman beralkohol lalu meminumnya.
Ipul meraih kepala Ralen lalu melabuhkan ke dadanya dan memberikan kecupan pada puncak kepala sang wanita yang mengeluarkan aroma harum sampo yang wanita itu pakai.
__ADS_1
"Salahku, saat itu aku sadar tidak mabuk tapi aku tidak bisa menahan nafsuku sendiri, padahal sebagai seorang lelaki harusnya tenagaku lebih kuat untuk bisa mengendalikan kamu yang terus-terusan memberikan godaan padaku, salahku yang bukan membawamu ke tempat aman tapi malah membawamu ke hotel dan melakukan apa yang kamu inginkan, semuanya salahku," aku Ipul dengan ekspresi yang begitu serius, ada rasa bersalah dan menyesal karena sebagai seorang pria dia sudah sangat bajingan dan benar-benar brengsek.
"Jadi jangan mengatakan kalau kamu yang salah, yang kita lakukan murni kesalahanku dan sudah seharusnya aku bertanggung jawab, tapi mulai saat ini jangan lagi berani meminum minuman beralkohol lagi apalagi saat tidak ada aku, aku takut akan ada pria yang memanfaatkan kamu," ucap Ipul memberikan peringatan kepada istrinya yang mengangguk.
Benar, Ralen tidak boleh mabuk di depan orang lain karena itu akan membahayakan dirinya sendiri, di dunia ini banyak sekali lelaki yang berpikiran jahat dan bisa melakukan perbuatan bejat pada wanita yang tidak berdaya, dan Ralen pun pernah menjadi korban kebejatan lelaki yang akhirnya menjadi suaminya, untunglah lelaki yang menidurinya itu mau bertanggung jawab jika tidak mungkin dia akan menjadi sangat hancur saat ini.
****
"Kepala saya masih sangat pusing Pak Damar," kata Amara seolah mengadu pada lelaki yang semalam mengantarnya pulang.
Beruntung saat mabuk semalam Amara tidak bertingkah seperti Ralen, wanita lajang itu hanya tidur lebih tepatnya pingsan, karena wanita itu tidak bergerak sama sekali kala ada suami orang yang tengah menggendong dirinya dengan terpaksa untuk mengantarkannya kembali ke kosan yang dia tempati.
"Kamu itu bukannya menjaga Nona malah ikutan mabuk," kata Damar terdengar menyalahkan wanita di depannya yang langsung mengerucutkan bibirnya.
Keduanya itu sudah sangat akrab bahkan Amara cukup kenal dengan istri dari si asisten itu, jadi dia hanya akan menganggap kalau Omelan Damar itu hal yang biasa dilakukan oleh Kakak terhadap Adiknya.
"Lalu kamu berharap minuman apa yang akan mereka berikan? sedangkan tempat itu adalah club malam, tempat hiburan malam," Damar menjawab kesal mendengar jawaban yang Amara katakan, tidak mengerti kenapa Amara yang dia kenal pintar malah jadi sangat bodoh.
"Mungkin berupa jus atau minuman soda?" Amara mengedikkan bahunya.
Damar menghela napas lalu memutar bola matanya pusing dengan jawaban yang diberikan Amara.
"Lagian ada apa sih dengan pasangan suami istri itu? aneh banget kelakuannya," Amara menerawang memikirkan pertanyaannya sendiri.
"Dua orang konyol menikah hal apa yang akan kamu harapkan?" kata Damar selalu saja memberikan pertanyaan diatas pertanyaan orang lain.
"Tapi kan seharusnya mereka tidak perlu melibatkan kita," papar Amara seraya mengurut kepalanya yang masih terasa pusing tapi dia tetap masuk bekerja, pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan begitu saja apalagi saat ini mereka sedang menjalankan proyek lama yang sudah diperbaiki.
__ADS_1
"Jadi kamu tidak mau terlibat?"
Amara menggeleng sangat cepat, jelas menolak terlibat dia ini bukan manusia yang suka terlibat atau melibatkan diri terhadap urusan orang lain apalagi urusan suami istri yang dia rasa sangatlah konyol.
"Kalau kamu tidak mau terlibat kamu pasti akan di pecat," ujar Damar santai.
Sikap lelaki satu itu memangnya selalu begitu, memperlihatkan ketenangan dan ekspresi yang datar bahkan ketika mulutnya dengan enaknya berucap tentang pecat memecat.
"Kenapa hanya karena tidak mau terlibat malah di pecat, Bos kita itu apa seorang otoriter konyol yang main pecat pekerja karena menolak melakukan pekerjaan yang bukan pekerjaannya," beber Amara merasa tak masuk akal apa yang Damar katakan.
"Bukan tuan muda yang akan memecat kamu, Amara."
"Lalu siapa?" usut Amara tak mengerti, kalau bukan bos-nya yang memecat lalu siapa orangnya? Amara makin tak mengerti.
"Aku," jawab Damar ringan tanpa beban apapun saat menggerakkan bibirnya mengeluarkan pernyataan.
Amara menatap tak percaya, lelaki di depannya ini memang sangat dekat dengan Bosnya, tapi dia baru tahu kalau lelaki itu juga punya kewenangan untuk memecat pegawai, benarkah perkataannya itu?
"Karena kamu menolak membantuku mengendalikan dua orang konyol itu, maka aku tidak akan segan untuk memecat mu Amara!" tegas Damar.
Secara tidak langsung Damar memang tengah meminta bantuan dari Amara untuk membantunya menangani pasangan suami istri yang kerap kali berkelakuan tak jelas, jika tidak ada Amara lalu siapa yang akan membantunya? dia juga bisa pusing dan lelah jika terus-menerus disuguhkan tingkah konyol Ipul dan Ralen.
Amara menghela napas lalu menjatuhkan kepalanya di sandaran sofa yang dia duduki sejak tadi, jika sudah begini dia tidak akan bisa membantah pasrah saja jika terus di bawa dalam pusaran perdebatan antara pasangan suami istri itu.
Sedangkan Damar beranjak pergi meninggalkannya dengan senyum penuh kemenangan, tidak dipungkiri kepalanya juga jadi sering sakit setelah pernikahan Ipul dan Ralen, karena ada saja yang harus dia saksikan dari mereka.
__ADS_1
****