
"Dani!"
Langkah Ipul terhenti sepenuhnya ketika matanya menangkap sosok wanita yang berdiri memunggungi dirinya.
Wanita berambut sebahu dan mengenakan dress membentuk body itu berdiri di depan jendela dengan tirai yang sengaja di buka menandakan kalau wanita itu sedang melihat pemandangan di luar sana dari kamar yang berada di lantai 8 itu.
Sungguh Ipul merasakan jantungnya tidak bekerja dengan baik ketika mendapati wanita yang dia hindari malah berada di dalam kamarnya, apakah dia sedang bermimpi sekarang?
"Dani!" Ipul kembali mengulangi panggilannya kala sang wanita yang tidak bergeming sama sekali.
Wanita itu tidak bergerak membuat Ipul tak sabar sampai akhirnya dialah yang akan bergerak untuk mendekat pada si wanita yang dia datang ke kamarnya tapi hanya diam saja layaknya patung selamat datang.
Baru saja Ipul maju satu langkah, wanita di depannya sudah bergerak berbalik dengan sorot mata yang tajam.
Lalu bibir yang sangat Ipul kenali itu mulai mengeluarkan suaranya, "siapa Dani?"
"Jelita!" sekarang kedua mata Ipul tidak hanya membelalak tapi mungkin bola matanya akan terlempar keluar kalau saja dia tidak mengerjapkan kelopak matanya itu.
"Siapa Dani? kamu belum menjawab!" ulang Ralen menatap penuh tuntutan pada sang suami yang terlihat sangat syok.
"Te teman teman lama, kamu datang kapan sayang?" menjawab gugup tapi kemudian mencoba mengalihkan pembicaraan, bahkan sampai memanggil Ralen sayang.
Tapi sepertinya Ralen bukan orang yang gampang untuk melupakan apa yang sedang dia bicarakan dia tidak mudah untuk terpengaruh, buktinya sekarang dia tetap saja mengajukan pertanyaan tentang satu nama yang tadi di sebut oleh suaminya.
"Wanita atau laki-laki? tapi kalau wanita rasa-rasanya tidak akan mungkin, kamu tidak segila itu untuk memasukkan wanita lain ke dalam kamar hotel mu kan, hm?"
Sekarang Ralen sedang menunjukkan bagaimana galaknya dia ketika hatinya merasa terusik mendengar nama yang di sebut oleh suaminya itu, tadi saat suaminya datang dan memanggilnya dengan nama Dani sontak langsung membuatnya teringat akan mimpi yang selalu datang dalam tidurnya.
Harus bagaimana sekarang? Ipul bingung sendiri di jawab salah tidak di jawab terkena masalah, batinnya sungguh galau dan cemas luar biasa besar.
"Ha ha ha, tentu saja laki-laki, Jelita," Ipul tertawa patah-patah sambil memberikan jawaban pada wanita yang dari raut wajahnya sudah sangat meragukan jawaban yang dia berikan.
"Laki-laki ya?" Ralen mengetuk dagunya sendiri, tentu saja dia bukan wanita bodoh kan?
"Rambut dan pakaianmu mirip dengan Dan.."
"Jadi teman laki-laki mu yang bernama Dani itu memiliki potongan rambut seperti ku? memakai pakaian seperti ku juga?" Ralen menyela omongan tak masuk akal yang hampir Ipul selesaikan.
Dengan bodohnya Ipul mengangguk lalu menggeleng, mengangguk lagi lalu menggeleng lagi, terus begitu berulang kali membuat emosi Ralen makin memuncak.
"Kamu mau kemana?" Ipul kelabakan ketika Ralen mengambil tas yang ada di tempat tidur lalu menarik koper kecil yang tersimpan di dekat meja.
"Mau pulang! suruh temanmu yang bernama Dani itu datang kesini untuk menemanimu! aku bukan wanita bodoh yang akan percaya pada kebohongan mu!" hardik Ralen saat Ipul mencekal tangannya.
"Aku jelaskan, aku bisa jelaskan padamu," kata Ipul berusaha menahan Ralen yang berjalan cepat keluar dari kamar.
__ADS_1
"Dasar buaya! laki-laki gila macam apa yang menjadi temanmu itu, hah? laki-laki tak waras seperti apa yang mau berpenampilan seperti ini?!" oceh Ralen menatap penampilannya sendiri tak kuasa membendung kemarahan.
"Atau kamu memang memiliki kelainan?!" desis Ralen berhenti di depan pintu.
Ipul menyergap Ralen yang sudah menggapai pintu, lalu dengan terpaksa menarik wanita itu kembali masuk ke dalam kamar mengabaikan perlawanan dari sang wanita yang tengah memberontak berusaha terbebas dari sergapannya.
"Aku masih normal, bahkan luar biasa normal! masih doyan wanita apalagi wanita yang sekarang sedang mengamuk karena cemburu!" papar Ipul membawa istrinya yang bagaikan singa betina, terus berusaha menendang dirinya tapi yang wanita itu lakukan terasa sangat sia-sia.
"Aku benci kamu Saipul Gunawan!" teriak Ralen begitu kencangnya ketika tubuhnya dihempaskan ke atas tempat tidur berukuran besar dan empuk itu.
"Benci saja, yang jelas saat kamu sudah datang tidak akan bisa seenaknya pergi begitu saja," cecar Ipul menindih sang istri yang terus memberikan perlawanan.
Ralen sepertinya tidak rela saat dirinya datang untuk memberikan kejutan tapi suaminya malah dengan kejamnya memberinya kejutan, wanita mana yang tidak akan marah dan kecewa dengan laki-lakinya, apalagi nama yang disebut oleh sang lelaki adalah nama yang kerap hadir dalam mimpinya.
"Argggh." Ipul menggeram saat lengannya malah digigit oleh Ralen.
Gigitan kencang yang akhirnya meninggalkan bekas dan sedikit kulit yang tergores.
Ipul terduduk sambil memandangi lengannya yang terasa sakit dan mulai mengeluarkan darah dari luka bekas gigi istrinya yang ternyata sangat tajam bagaikan taring binatang buas.
"Kamu sadis sekali Jelita," keluh Ipul sambil meringis memberikan tatapan yang begitu memelas.
Melas beneran karena teraniaya oleh istrinya atau hanya sedang bersandiwara saja untuk membuat sang istri merasa bersalah?
"Aku tidak sengaja, salah sendiri kenapa menahan ku!" Ralen membela diri tidak mau disalahkan.
"Kamu mau kemana?!" Ipul kembali pada mode galaknya setelah kesedihan yang dia tampilkan tidak membuahkan hasil, "ini sudah malam!" lanjutnya saat melihat Ralen kembali bangkit dan membenarkan baju dress ketatnya yang terangkat sampai memamerkan paha mulusnya.
"Baju sialan!" maki Ralen sangat menyesal dengan pakaian yang dia pakai sekarang ini.
Tadinya dia ingin berpenampilan berbeda untuk menyenangkan suaminya yang sejak kemarin malam membayangkan dirinya, dia bahkan rela mengesampingkan rasa tidak nyamannya ketika harus memakai pakaian yang bahkan bukan seleranya, dia yang biasa memakai celana jeans atau celana sejenis kulot di padu dengan kaos atau kemeja demi seorang Saipul Gunawan dia rela memakai pakaian mini begini yang dipilihkan oleh Mama mertuanya.
"Lebih baik bermalam di jalan daripada harus bermalam dengan laki-laki mata keranjang sepertimu!" balas Ralen masih dengan sangat semangat meluapkan emosi yang bercampur rasa cemburu.
Ipul mengetatkan rahangnya sudah tidak tahan lagi menahan kesal atas setiap jawaban demi jawaban yang Ralen lontarkan untuknya.
Dan sekarang untuk yang kedua kalinya dia berlari mengejar wanita yang sudah kembali berada di dekat pintu, menerjang wanita yang mengamuk itu lalu kembali menghempaskan tubuh sang wanita ke atas ranjang hingga tubuhnya sedikit memantul.
"Aku mau pulang!" seru Ralen tidak terima.
Wanita itu bahkan berusaha untuk kembali menyerang memberikan perlawanan tapi Ipul dengan sigapnya memegang kedua tangan sang wanita lalu menaikkannya ke atas kepala serta menindih kedua kaki wanita itu langsung mendelik karena tubuhnya dikunci oleh pria yang sekarang tersenyum miring penuh kemenangan kala wanita yang begitu galak itu tidak berdaya.
"Aku benci kamu!" Ralen membuang wajahnya enggan melihat sang suami.
"Katakan saja terus sampai kamu puas, aku akan mendengarkan," ucap Ipul membiarkan Ralen memalingkan wajah darinya.
__ADS_1
"Kamu pengkhianat!" kata Ralen lagi-lagi tanpa melihat pria yang tengah menatapnya.
"Lampiaskan kemarahan mu dan aku akan menjelaskan setelah kemarahan mu mereda," tutur Ipul lalu menurunkan kepalanya dan memberikan kecupan di puncak kepala wanita yang sudah tidak lagi memberikan perlawanan.
Kini hanya ada gerakan dada naik turun dari sang wanita menandakan tarikan napas yang begitu berat, seperti ada rasa sesak yang menghimpit dadanya menghalangi oksigen di dalam paru-paru.
"Aku baru pulang dan sangat gerah, aku akan mandi sebentar jadi kamu tunggu disini," jelas Ipul pada Ralen.
"Aku akan pergi saat kamu mandi!" ancam Ralen, sepertinya bukan sekedar ancaman semata mengingat wanita itu yang sedang marah sudah tentu akan membuktikan apa yang dia katakan.
Ipul menarik napas, "kalau begitu aku akan mengikat dirimu agar saat aku selesai mandi kamu tetap berada di tempat tidur ini," lontar Ipul lalu menjulurkan kakinya mengambil dasi yang tadi dia jatuhkan di dekat kaki tempat tidur.
Mata Ralen membuka lebar dan menatap tak percaya ketika suaminya itu menyatukan kedua tangannya mengikat dengan dasi yang kemudian diikat kembali ke sandaran tempat tidur.
"Kamu sedang menyiksa ku?!" tanya Ralen mencoba melepaskan tangannya dari ikatan.
"Hanya berjaga-jaga agar kamu tidak kabur," dengan tenangnya menjawab sambil mencari-cari dasinya yang lain.
"Ternyata membawa banyak dasi tidak sia-sia," katanya lalu sekarang mengikat kaki sang istri yang tengah menendang tak jelas.
"Selesai," katanya sambil bertepuk tangan sangat puas dengan hasil kerjaannya.
"Berhenti bergerak Jelita!" peringat Ipul kala kaki Ralen terus saja bergerak membuat dress ketat yang dia gunakan makin lama makin naik ke atas dan mempertontonkan bagian sensitifnya.
Ralen tidak peduli, kakinya terus saja bergerak malah makin cepat membuat Ipul gemas lalu dengan wajah yang sangat mesum menghujami paha putih sang istri dengan kecupan yang sangat banyak membuat Ralen sontak terdiam, tidak lagi bergerak hanya matanya saja yang mengerjap merasakan sensasi yang biasa dia rasakan ketika akan melakukan hubungan suami istri.
Melihat Ralen sudah tidak lagi bergerak, Ipul pun menghentikan apa yang dia lakukan, mendekat pada wajah Ralen lalu berbicara dengan suara yang terdengar sangat berat.
"Tunggu sebentar, aku mandi dulu lalu kita bertempur baru setelahnya aku akan menjelaskan siapa Dani itu," mengecup kening Ralen lalu mengelus kepalanya meski Ralen berusaha menghindar.
Ipul beranjak ke kamar mandi lalu Ralen berteriak.
"Langsung saja jelaskan sekarang! kenapa harus melakukan hal yang sedang tidak aku mau!" teriak Ralen yang tidak dipedulikan oleh suaminya.
Suaminya itu hanya tersenyum tipis sambil menutup pintu kamar mandi, menganggap teriakan Ralen layaknya alunan musik yang merdu.
\*\*\*\*\*
__ADS_1