Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Tidak Mungkin Kan?


__ADS_3

Ralen dan ibunya sudah berdiri di depan pintu rumah yang dari penampakkannya saja siapapun sudah bisa mengetahui berapa mahal harga yang di bandrol untuk dua buah pintu berukuran besar yang sekarang masih tertutup rapat bahkan setelah Ralen menekan bel beberapa kali.


"Nggak ada yang buka Bu." Ralen bicara pada sang ibu ketika pintu tak kunjung terbuka, setidaknya pasti rumah sebesar ini akan ada pelayan bukan? karena saat melewati gerbang tinggi di depan saja ada dua orang pria yang berjaga.


"Sabar sebentar Len, kan penjaga juga bilang orangnya ada di dalam, mungkin sedang sibuk," papar wanita yang terlihat tidak kapok untuk membawakan makanan hasil masakannya padahal kerap kali di tolak bahkan di buang tanpa perasaan oleh Daniya.


Ralen pun mengangguk menuruti permintaan sang ibu untuk bersabar menunggu pintu di buka dan dia akan memastikan kalau apa yang dia pikirkan adalah salah, sungguh mendengar nama Daniya membuat jantungnya berdebar tak terkendali bahkan setelah dia berusaha untuk menepis pikiran negatif tentang Kakaknya itu tapi tetap saja dia merasa terganggu dengan nama yang Kakaknya miliki.


Sampai tak lama pintu pun perlahan terbuka dengan memunculkan seraut wajah yang mungkin adalah pelayan di rumah itu karena pakaian yang wanita itu kenakan sangat mencirikan pekerjaannya.


"Oh Bu Arni."


Ralen tertegun mendengar ternyata wanita di depannya itu sudah mengenali ibunya mungkin karena sang ibu yang sudah beberapa kali datang berkunjung ke rumah itu.


Iya berkunjung meskipun salah satu penghuni rumah yang menjadi tujuannya berkunjung sama sekali tak pernah menginginkan kunjungan darinya, tapi yang Ralen dengar dari Arda adalah ibunya memang sangat keras kepala untuk tetap datang membawakan hasil masakannya kepada anak kandungnya yang bahkan tidak menganggapnya serta menghargai hasil jerih payahnya memasak dengan membuang makanan yang diberikan.


Mendengar itu Ralen sebenarnya tidak suka dan marah tapi ibunya malah meminta dirinya untuk maklum dengan alasan kalau Kakaknya itu pasti merasa sangat kecewa karena sudah diberikan kepada orang lain sejak dia masih sangat kecil bahkan kala itu hanyalah seorang bayi merah yang tidak tahu apa-apa tentang betapa susahnya kehidupan orang tuanya sampai harus mengabaikan perasaan tak tega dan sedih mereka sendiri ketika harus merelakan anaknya di asuh oleh orang lain.


"Apa Daniya ada?" tanya sang ibu pada wanita yang sekarang mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam rumah mewah yang sudah tidak lagi menakjubkan karena rumah suaminya juga tidak kalah mewah dengan rumah yang sekarang tengah dia masuki, mungkin kalau dia tidak menikah dengan Ipul rumah yang dia datangi sekarang akan terlihat sangat luar biasa.


"Nona Daniya baru saja keluar," jawab sang pelayan sambil mengarahkan Ralen dan ibunya ke ruang tamu di rumah itu.


"Apa kembalinya akan lama?" tanya ibunya Ralen kembali.


Dia khawatir Daniya baru akan pulang beberapa jam lagi sedangkan Ralen mungkin tidak punya waktu sebanyak itu untuk menunggu untuk bertemu dengan Daniya apalagi sejak bangun tadi pagi handphone Ralen terus saja berbunyi meski tidak melihat siapa yang menelepon anaknya itu tapi dia sudah cukup paham kalau ada seorang suami yang sedang menunggu istrinya pulang.


"Kalau soal itu saya tidak tahu Bu, bisa lama bisa juga sebentar karena Nona Daniya tidak pernah mengatakan apapun saat keluar rumah."


Ralen sejak tadi menyimak dan dari cara pelayan itu memanggil Daniya sungguh dia merasa hidup Daniya selama ini luar biasa senang, hidup di rumah mewah dengan fasilitas yang luar biasa memadai sudah jelas Daniya tidak akan kekurangan apapun termasuk untuk urusan pendidikan, sangat berbeda jauh dirinya yang bahkan harus mengalah merelakan keinginannya untuk kuliah hanya agar Arda bisa tetap melanjutkan sekolah.


Tapi ketika sudah terlihat begitu bahagia dengan segala apapun yang terpenuhi termasuk kasih sayang orang tua, yah meskipun hanya orang tua angkat tapi yang Ralen dengar orang tua angkatnya itu sangat menyayangi Daniya, lalu kenapa malah ketika bertemu dengan orang tua kandungnya menyatakan kecewa dendam dan sangat membenci mereka dengan alasan tidak diinginkan di buang dan kehilangan kasih sayang?


Kalau memang orang tuanya tidak sayang dan memang membuangnya kenapa masih pilih-pilih tempat untuk membuang? kenapa memilih orang kaya dan yang sangat menyayanginya? bukankah kalau yang namanya di buang itu akan di buang pada tempat yang tidak baik? semisal tempat sampah atau kolong jembatan juga pinggir jalan, mungkin?

__ADS_1


Ah, dari semua cerita yang Ralen dengar dari Arda, dirinya paham dan mengerti kenapa sampai Arda sangat kesal dengan Kakak pertama mereka yang baru saja mereka ketahui keberadaannya, sungguh Ralen sama dengan Arda, tidak pernah menyangka bahwa mereka masih memiliki satu orang Kakak lagi.


"Oh begitu," sahut sang ibu.


Ralen bisa mendengar ada nada kecewa yang terselip dari suara yang keluar dari mulut Ibunya itu, kecewa karena mungkin tidak bisa melihat anaknya hari ini.


"Sebentar saya panggilkan Nyonya dulu," kata si pelayan yang sedikit mengangguk dengan sunggingan senyum lalu beranjak menapaki anak tangga menuju lantai di atas.


"Ibu sebenarnya ingin kalian bertemu hari ini tapi kalau memang Daniya tidak pulang juga sampai satu jam, kita pulang saja," jelas wanita yang memangku dompet kecil yang hanya berisi KTP dan mungkin uang-uang receh saja yang sama sekali tidak bernilai di mata keluarga kaya yang tengah mereka datangi saat ini.


Mata Ralen mengerjap, "iya Bu, Ralen memang mesti pulang soalnya Mas Ipul juga sudah teleponin terus," sahut Ralen menyambut perkataan ibunya yang lantas mengangguk.


Sebenernya Ralen agak keberatan jika harus menunggu satu jam, bukankah satu jam itu adalah waktu yang terlalu lama untuk berkunjung ke rumah seseorang dan menunggu wanita yang ingin mereka temui? menurutnya kalau memang orang yang mereka tuju tidak ada ya sudah sebaiknya pulang dan datang lain hari, tapi dalam kondisi ini Ralen tidak bisa menyuarakan isi hatinya terlebih lagi saat melihat tatapan sendu dari sang ibu yang dia tahu pasti sangat ingin bertemu dengan putri pertamanya sekalipun tidak di anggap.


Ah yang namanya orang tua memang akan selalu seperti itu, akan tetap sayang pada anaknya sekalipun anaknya berkelakuan tidak mengenakkan.


"Arni."


Ralen refleks berdiri ketika melihat ibunya berdiri, menunggu wanita itu sampai di depan mereka dengan langkahnya yang rasanya sangat lambat.


"Nyonya Dayna," balas Arni pada wanita yang selalu bersikap ramah terhadapnya berbeda jauh dengan Daniya.



Ralen memperhatikan ibunya yang berjalan menghampiri wanita yang tadi dia dengar bernama Dayna, interaksi kedua wanita yang tampak begitu akrab, tentu saja karena mereka memang sudah kenal lama kan? hanya saja baru kembali bertemu.



"Itu Ralen?" tanya nyonya Dayna ketika melihat Ralen, sedikit banyak Arni sudah menceritakan tentang Ralen, hingga akhirnya meski baru pertama kali melihat dia sudah yakin kalau yang dia lihat itu adalah Ralen, anak kedua dari Arni mantan pelayan di rumah temannya dulu.



Ralen bisa melihat ibunya mengangguk sambil mengambil alih tugas sang pelayan menggandeng nyonya Dayna mengarah pada sofa yang sejak beberapa menit mereka tempati.

__ADS_1



Ralen tidak mengeluarkan suara hanya mendengar apa yang tengah dibicarakan oleh kedua orang di depannya sekarang.



"Kemari Ralen," panggil Dayna meminta Ralen mendekat padanya.



Ralen pun melihat pada sang ibu seolah meminta pendapat, lalu ketika ibunya menganggukkan kepala Ralen pun beranjak untuk pindah dan kini sudah berada di samping wanita yang langsung memintanya duduk lantas menaikkan telapak tangan mengelus pipi Ralen.



"Kalian tidak kembar tapi wajah kalian sangat mirip, hanya ini saja yang membedakan," Dayna menyentuh tahu lalat kecil yang ada di atas bibir sebelah kiri Ralen sedangkan Ralen hanya diam tidak tahu harus berekspresi apa dengan telinganya yang berkedut mendengar penuturan sang wanita tentang wajahnya yang mirip dengan Daniya.



Mirip? wajah mereka mirip dan itu lantas membuat isi kepala Ralen pun makin tak karuan, nama Daniya lalu wajah yang mirip dengannya bukankah itu juga di miliki oleh wanita yang menyukai suaminya?


Kecurigaan Ralen kenapa makin membesar saat mendengar apa yang di katakan wanita di depannya terlebih lagi wanita itu tak berkedip saat melihat wajahnya seolah sangat tidak percaya dengan apa yang matanya lihat.


Tidak mungkin kan? tidak mungkin wanita yang menyukai suaminya adalah Kakaknya, tidak mungkin Daniya yang sama, otak Ralen mencoba untuk waras tapi kenapa terasa sulit terlebih lagi saat suara langkah kaki yang mendekat ke tempat mereka berada saat ini.



"Kenapa masih saja datang?!"


Ralen menoleh pada orang yang baru saja datang dan jantung Ralen langsung berdebar hebat tak terkendali


Deg!


****

__ADS_1


__ADS_2