Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Tentang Kecewa


__ADS_3

Ini sudah hari Minggu dan Ralen sudah sibuk menenangkan perasaannya, dia sudah mengatakan pada orang tuanya kalau temannya akan datang berkunjung.


Iya Ralen hanya mengatakan begitu, tidak mau mengatakan hal yang sebenarnya karena takut orang tuanya malah repot menyiapkan segala sesuatu yang berlebihan, biarlah mereka menyambut dengan apa adanya asalkan masih pantas.


"Ibu ngapain?" tanya Ralen ketika wanita itu membawa sekantong belanjaan ke dapur.


"Mau masak buat teman kamu nanti," sahut wanita paruh baya itu.


"Nggak usah repot-repot Bu, kan sudah ada kue, biar makan kue aja," kata Ralen.


Memang tadi pagi-pagi sekali dia sudah ke pasar untuk membeli kue, jajanan pasar yang menurutnya mungkin jarang atau tidak pernah di makan oleh Ipul dan orang tuanya, tanpa dia tahu kalau calon ibu mertuanya itu malah seorang yang hobi keluar masuk pasar untuk mendapatkan kue-kue sederhana yang lebih sering ada di pasar.


"Memang nggak apa-apa?" tanya sang ibu mencari kepastian kalau hanya kue saja yang mereka suguhkan, entahlah kenapa dia menjadi repot begini, padahal Ralen sudah mengatakan kalau yang datang hanya teman saja tapi perasaannya sebagai ibu mengatakan kalau dia harus masak.


Apalagi Ralen tidak mengatakan siapa temannya dan sudah jelas kalau yang datang ini pasti bukan Antika, karena jika Antika, Ralen tidak akan repot-repot pergi ke pasar pagi-pagi hanya untuk membeli kue, lagipula Antika juga selalu muncul tiba-tiba tanpa pemberitahuan.


"Ini teman kamu yang mana sih? teman SMP atau SMA, udah lama nggak ketemu?" dan rentetan pertanyaan sang ibu lontarkan guna menjawab kebingungannya.


"Bu."


Panggilan dari sang Ayah membuat sang ibu beralih keluar kamar menghampiri suaminya yang sedang melipat kasur lantai mereka, padahal pria itu sudah sulit membawa tubuhnya sendiri tapi masih mau membuat.


Ralen menghela napas lega lalu terduduk di tepian tempat tidur mengambil handphone lalu melihat jam yang menunjukkan pukul 8 pagi, Ralen tidak tahu Ipul akan datang jam berapa karena pria itu hanya mengatakan akan datang pada hari Minggu, Ralen juga tidak bertanya terlebih lagi bertemu dengan pria itu karena kemarin hari Sabtu dan kantor libur.


Wanita itu hanya sibuk menerka-nerka Ipul datang pagi, siang, sore atau mungkin malah datang saat langit sudah menghitam, Ralen tidak tahu dan tidak mau bertanya pada pria itu sekalipun dia bisa menanyakan lewat pesan tapi tidak dia lakukan.


Tanpa terasa waktu sudah bergulir dari yang tadinya lagi berganti menjadi siang, siang berganti menjadi sore sampai tiba waktunya langit pun berubah menjadi gelap hitam dan pekat dengan semilir angin malam yang berhembus makin kencang dan mengeluarkan aroma tanah sebagai ciri bahwa sebentar lagi akan turun hujan.

__ADS_1


"Teman kamu nggak jadi datang?" tanya sang ibu mengagetkan Ralen yang sedang duduk di teras kontrakan dengan handphone di tangan.


Ralen tidak menjawab hanya tangannya saja yang kini sibuk menggulir layar handphonenya, mencari-cari sesuatu yang dia sendiri tidak tahu.


"Ibu tidur ya Len, Ayah juga sudah ngantuk," katanya lagi.


"Ya udah ibu dan Ayah tidur aja, tutup pintunya aja biar nggak dingin," jawab Ralen dengan suara yang sarat akan rasa kecewa namun berusaha dia sembunyikan.


Bukan kecewa terhadap orang tuanya karena ingin tidur karena Ralen tahu ini sudah hampir jam 10 malam dan kedua orang tuanya terutama sang Ayah biasa tidur di jam 9, Ralen kecewa pada pria yang jelas ingkar pada perkataannya, dia sudah menunggu dari matahari bersinar sampai matahari tenggelam entah berada di belahan dunia mana matahari itu kini berada.


Pria yang kemarin malam menidurinya itu tidak juga datang dan mungkin tidak akan pernah datang menghadirkan kecewa yang rasanya ingin membuat dia menangis tapi dia tidak mau melakukannya dia tidak mau orang tuanya tahu apa yang sudah terjadi pada dirinya karena itu hanya akan membuat mereka turut serta merasakan kekecewaan mungkin lebih dari yang dia rasakan saat ini.


Pintu di belakangnya sudah tertutup membuat Ralen berani meneteskan titik-titik air mata di kedua pipinya.


"Jangan menangis, jangan menangis," katanya seraya mengusap wajah dengan kasar, menghilangkan jejak air mata yang sempat membasahi.


Setidaknya jika pria itu memang tidak bisa datang tolong berikan alasan yang bisa dia percaya, tapi nyatanya tidak ada satupun pesan yang pria itu kirim untuknya menghadirkan seluruh tanya dalam benak.


Menghirup udara malam yang terasa makin dingin Ralen pun memberanikan diri untuk menghubungi nomor sang pria.


Tertera tulisan menghubungi, menunggu sesaat tapi tulisan itu tidak juga berubah menjadi berdering membuat tubuh Ralen menjadi lemas, tidak hilang akal diapun menghubungi melalui panggilan biasa tapi kenyataan malah semakin menyakitkan nomor sang pria tidak bisa di hubungi meluruhkan semua tungkai-tungkai di tubuhnya.


Tangannya terjatuh ke samping dan handphone pun terlepas ke lantai, sakit dalam sekejap mendominasi hatinya.


Inikah yang harus dia dapatkan setelah apa yang pria itu lakukan pada tubuhnya?


Titik air mata yang tadi sudah tak ada kini malah kembali merajai, keluar bukan lagi hanya titik-titik tapi deras layaknya air terjun.

__ADS_1


Dia menangis tanpa suara tidak mau membuat orang tuanya yang mungkin belum terlelap mendengar tangisannya, menutup mulutnya dan hatinya benar-benar begitu sesak.


Memuaskan diri sampai akhirnya dia menghapus air mata dan beranjak dari kursi yang sedari tadi dia duduki, masuk ke dalam rumah menuju kamarnya.


"Kamu mau kemana Len?" tanya sang ibu yang terbangun melihat Ralen dengan tas punggung yang ada di tangannya.


"Ralen mau nginep di kontrakan Tika," jawab Ralen seraya mengambil kunci motornya.


"Kan besok kerja Len," ucap ibunya beranjak duduk.


"Iya, Ralen berangkat dari sana aja, ini udah bawa baju kerja juga," katanya menunjukkan tas yang lalu memakainya di punggung.


"Ya udah kalau gitu, hati-hati ini udah malam banget mau hujan lagi, pakai jas hujannya."


Ralen mengangguk lalu mencium tangan ibunya, berpamitan dan segera mengeluarkan motor yang memang selalu berada di teras rumah dengan menguncinya di bagian ban agar tidak ada orang jahil yang mencurinya.


Memangnya mau di taruh dimana lagi? sedangkan ruang tamu dijadikan tempat untuk tidur bagi ibu, Ayah dan juga Ardan yang sejak kemarin menginap di rumah saudara.


Ralen melajukan motornya dengan lambat hingga tetesan hujan mulai terasa menimpa punggung tangannya, tapi wanita ini malah dengan sengaja menghentikan motornya, bukan untuk memakai jas hujan tapi malah menengadahkan wajahnya membiarkan air hujan membasahinya.


Dia ingin berpuas diri menangis dan ini adalah saat yang tepat air hujan akan menyamarkan tangisannya yang sedari tadi dia tahan.


Tentang kecewa..


Ralen dengan jelas dan sungguh tidak lagi bisa dia tahan, tangisnya pun pecah sedemikian rupa dengan tangan memukuli dadanya yang sesak.


Dengan keadaan pakaian basah Ralen kembali menjalankan motornya mendamaikan diri meski rasa sakit tentu tidak akan mudah terobati.

__ADS_1


********


__ADS_2