Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Satu Bulan


__ADS_3

"Lo jadi ngelamar kerja?" tanya Antika pada temannya yang sedang memfokuskan diri mengendarai motor di jalanan yang becek sebab 30 menit yang lalu baru saja di guyur hujan dan sekarang masih menyisakan rintiknya yang jarang.


Udara malam pun terasa semakin bertambah dingin saja hingga jaket seolah tidak mampu untuk menghalau dinginnya yang menembus sampai ke tulang.


"Jadi, udah gue bikin juga kok CV nya," sahut Ralen seraya menarik gas motor agar bannya berputar dan tetap hati-hati sebab jalannya yang licin.


Ini sudah hampir jam 11 malam saat dia yang memang harus menjemput Antika pulang bekerja, tentunya tidak cuma-cuma karena Antika akan membayarnya setiap bulan, lumayan dan cukup membantunya memenuhi kebutuhan keluarga di tambah lagi dia pun sekarang masih harus memikirkan bagaimana caranya untuk bisa segera mendapatkan uang agar bisa mengganti uang si pria songong yang selalu membuatnya berdecih kala mengingat betapa belagunya pria yang harus dia hadapi itu.


"Terus udah ada kabar?" tanya Antika lagi mendekatkan wajahnya ke bahu sang teman.


"Munduran apa Tik, geli banget gue!" hardik Ralen kesal dengan kelakuan temannya itu.


Oh ayolah mereka bukan pasangan lesbi dan keduanya pun normal-normal saja bahkan Antika itu menyukai seorang teman kerjanya.


"Yaelah biar anget Len, dingin banget ini."


Antika malah menjawab dengan cengiran yang membuat Ralen menarik gasnya hingga mentok.


Ngebut! motor itu melesat bak angin membuat Antika sigap memeluk pinggang Ralen karena takut.


"Jangan gila Len, gue masih mau hidup!" omel wanita di belakang Ralen mencengkeram pinggang temannya.


Tak ada sahutan dari mulut Ralen, sekarang dia malah dengan konyolnya memikirkan kejadian yang pernah dia alami.


Kejadian dimana dia harus berpegangan pada pria yang tidak dia kenal karena pria itu melajukan motornya dengan sangat kencang, sama seperti yang tengah dia lakukan sekarang dan..


"Aish! ngapain jadi keinget hal menyeramkan begitu!" rutuk Ralen menganggap bahwa apa yang sempat dia alami adalah hal menyeramkan.


Menyeramkan bukan karena di ajak ngebut tapi lebih pada kenapa bisa-bisanya dia ketakutan padahal dia sudah sangat sering membawa motor seperti orang kalap yang lupa akan nyawa sampai harus berpegangan pada pinggang si pria songong.


"Dasar tangan durhaka!" makinya pada dua tangan yang tak tahu apa-apa.


Bukankah semua kendali ada pada dirinya? lalu kenapa tingkahnya ini seakan kedua tangannya itu bergerak sendiri.


"Wah mulai sarap nih anak," ceplos Antika mendengar temannya mengomel sendiri.


Motor tetap melaju menembus gelapnya malam yang dihiasi oleh petir, mungkin sebentar lagi hujan akan kembali turun setelah beristirahat sejenak untuk membiarkan orang-orang yang terjebak dari hujan tadi bisa pulang ke rumah.


"Gue nginep disini ya, boleh nggak?" izin Ralen seraya membuka helmnya.

__ADS_1


"Yaelah Lo kayak sama siapa aja Len, nginep tinggal nginep kenapa mesti izin dulu sih!" omel Antika yang sedang merogoh tas nya untuk mengambil kunci rumah.


"Siapa tahu aja nggak boleh," celetuk Ralen.


"Yeuuh, gue tampol nih!" Antika menunjukkan bogem nya pada sang teman yang malah cengengesan.


Ralen menjatuhkan tubuhnya di atas karpet, bergulingan di tempat itu yang sudah pasti tidak ada empuk-empuknya.


Bagaimana bisa empuk kalau di balik karpet itu saja ada lantai yang keras, tapi wanita itu sudah cukup terbiasa karena dulu sebelum akhirnya tidur di ranjang jadul milik orang tuanya, Ralen kerap kali tidur di lantai beralaskan kasur busa yang sudah sangat tipis.


Ah hidupnya memang sangat luar biasa sebab tuhan benar-benar menjadikannya seorang wanita yang tegar serta kuat dalam menjalani segala kehendaknya.


"Ke kamar mandi dulu Ralen!" tegur Antika dengan wajah yang basah dan pakaian yang sudah berganti.


"Nanti aja gue ngaso dulu," jawab Ralen sambil malah berguling tak jelas di atas karpet.


"Kaki Lo kotor, jorok banget sih jadi perempuan!" cecar Antika seraya menunjuk kaki Ralen yang memang tadi terkena cipratan genangan air di pinggir jalan yang di terjang oleh motor.


Mau tak mau Ralen pun menurut, dengan malas dia bangun dari atas karpet yang selalu terasa nyaman untuk tempatnya merebahkan tubuh, ketimbang harus mendapat ocehan dari temannya lebih baik segera ke kamar mandi.


"Gue mau bikin teh, Lo mau nggak?" teriak Antika pada Ralen yang berada di dalam kamar mandi, terdengar suara guyuran air dalam sana hingga dia harus bersuara sedikit kencang agar temannya dengar.


Suara sendok yang beradu dengan gelas terdengar menguasai dapur yang sangat kecil itu.


Benar-benar kecil bahkan sepertinya akan sangat pengap jika tiga orang berada di dalamnya, tapi mau bagaimana lagi yang namanya hidup mengontrak ya seperti ini, jangan harap mendapat dapur yang besar layaknya rumah pribadi kalau hanya membayar murah.


Yah masih untung di zaman seperti ini ada kontrakan yang harganya terjangkau bahkan tidak menguras gaji bulanannya yang dia dapatkan, sebab ini kontrakan yang paling lumayan murah di banding kontrakan-kontrakan lainnya yang sempat dia datangi di kota metropolitan seperti Jakarta ini.


"Belum ada kabar sih dari Mbak Hesti nya," jelas Ralen.


Keduanya sekarang sudah kembali duduk bersantai di ruang tamu depan tempat tadi Ralen menggeloser kan tubuhnya.


Membicarakan tentang lowongan pekerjaan di sebuah kantor yang sering memesan catering di tempat Ralen bekerja.


"Gue pusing deh Tik, perasaan tiap ngelamar kerja mental terus nggak ada satupun yang ke terima," keluh Ralen dengan intonasi rendah.


"Ya berarti belum rezeki Lo Len, sabar aja sambil usaha jangan lupa doa juga," tutur Antika meniup teh panas yang masih mengepul.


Hujan di luar yang mengakibatkan udara menjadi sangat dingin memang sangat cocok dengan minuman-minuman hangat seperti yang ada di tangannya ini, setidaknya membantu menghangatkan tubuhnya.

__ADS_1


Ralen menghela napas panjang mulai mengingat sudah berapa banyak surat lamaran yang dia titipkan ke tempat yang mungkin saja membutuhkan pekerja, namun satu pun tidak ada yang nyangkut.


Bahkan di tempat Antika bekerja pun Ralen sudah memasukkan surat lamarannya untuk yang kedua kali, tapi tetap saja nihil padahal Antika sudah berusaha untuk membantunya.


Heran Ralen juga, bagaimana bisa nasibnya menjadi sangat naas seperti ini.


"Susah banget kayaknya nyari kerja zaman sekarang," kata Ralen getir.



Antika menepuk paha Ralen mencoba untuk membuatnya tenang meski dia tahu bukan itulah yang temannya butuhkan, Ralen hanya butuh pekerjaan yang memberinya penghasilan tetap sebab kebutuhan temannya itu benar-benar sangat banyak.



"Mana gue udah janji bakal balikin uang tuh orang dalam waktu satu bulan," dengus Ralen.


Antika yang sudah mendengar cerita tentang pria yang berurusan dengan Ralen pun menghela panjang.


"Baru Lima jari Ralen, masih banyak waktu buat Lo dapetin uang," tukas Antika.



"25 hari lagi Tik, dan gue belum juga dapet kerja bahkan uang dari ojol juga nggak ada yang bisa gue kumpulin, setiap harinya kepakai buat makan doang mana tarikan lagi sepi Mulu."



Ralen mengusak rambut panjangnya hingga acak-acakan.


"Dah lah gue mau tidur, mikirin gituan malah jadi pusing pala gue!"


"Di kamar!" seru Antika ketika Ralen sudah akan menelungkup di karpet.



Ralen pun menurut, wanita itu berpindah ke kamar tanpa pintu sedangkan Antika menutup lalu mengunci pintu, membiarkan hujan yang sudah kembali deras mengguyur Jakarta dan mungkin kota-kota lainnya.



\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2