
Ini adalah pagi yang begitu sibuk dan sangat heboh untuk Ralen, di pagi ini adalah hari pertamanya dia berkuliah dan di hari ini juga suaminya harus berangkat kembali ke luar kota menangani perusahaan yang masih saja belum selesai.
"Ayo berangkat, aku harus langsung ke bandara soalnya." ajak Ipul pada Ralen yang masih mengunyah.
"Kamu nganter aku?" tanya Ralen tidak percaya, semenjak mereka menginap di hotel beberapa waktu lalu dia merasakan ada banyak perubahan yang ditunjukkan oleh suaminya itu.
Dari yang mulai rajin menelepon saat pria itu sedang di kantor sampai mengajaknya banyak bicara, biasanya kan pria itu irit sekali kalau berbicara dengan Ralen, sepertinya malah lebih banyak ngomelnya.
"Mau di antar atau nggak?" Ipul menekankan pertanyaannya, sepertinya dia mulai tak sabar sebab dia selalu melihat ke arah jam tangannya.
"Kamu udah terlambat ya? ya udah jalan duluan aja kalau gitu, aku bisa naik motor," tutur Ralen mengutarakan solusi ketimbang harus membuat suaminya malah jadi terlambat terbang ke Batam karena dirinya.
Ralen tahu pasti saat ini suaminya sudah memiliki jadwal di Batam sana maka dari itu berangkat juga harus pagi seperti ini bahkan ini saja belum menginjak pukul 8 pagi.
"Aku mau antar kamu kenapa ribet banget sih?!" celetuk Ipul kesal.
Ralen mengerucutkan bibirnya, dia pikir suaminya sudah benar-benar berubah tapi nyatanya tetap masih sama, emosian karena mungkin memang darahnya kelebihan jadi bawannya ingin marah-marah terus.
Mama Riska mendengarkan tapi tidak mau ikut campur dia masih ingin menikmati sarapan paginya dengan baik meski telinganya terusik oleh pasangan suami istri muda yang jika salah satu tidak ada yang malah maka perdebatan akan semakin panjang nantinya, tapi untung akhirnya Ralen mau mengalah membuat Riska tersenyum tipis karena menantunya sudah bisa mulai mengerti bahwa seperti itulah pria yang menikahi dirinya.
"Ma, Ralen berangkat ya," pamit Ralen pada sang mertua yang segera meletakkan sendok ke atas piring ketika anak menantunya berpamitan.
"Hati-hati di jalan, pulang kuliah langsung pulang," pesan wanita yang mulai pagi ini harus berduaan lagi dengan Bi Sumi.
Kemarin-kemarin sebelum Ralen masuk kuliah seharian rumah akan terasa ramai dengan celotehan serta tingkahnya yang tak bisa diam, mondar-mandir tak jelas turun naik tangga kadang berlarian seperti anak kecil entah melakukan apa, tapi mulai pagi ini sampai siang atau mungkin sore Riska akan kesepian, ah mungkin dia akan sangat bosan sebab hanya ada Bi Sumi yang hanya bisa menemaninya mengobrol ngalor-ngidul membicarakan tentang masakan atau hal tidak menarik lainnya.
"Ya dia langsung pulang lah, memangnya mau kemana dia," ketus Ipul menatap sang istri sarat akan peringatan bahwa istrinya itu tidak boleh kemanapun selepas kuliah.
"Mungkin aja Ralen mau main sama teman-teman barunya, kan baru masuk harus lebih banyak berkenalan dan mencari teman agar tidak sendirian saja," jelas Mama Riska mencoba mengingatkan kalau di kampus Ralen pasti membutuhkan teman, terlebih lagi yang namanya kuliah pasti harus berinteraksi dengan siapapun yang ada di sana.
"Nggak ada! pokoknya kalau urusan kuliah selesai ya langsung pulang," putus Ipul tak mau tahu.
Aneh dia ini kan dia itu pernah kuliah harusnya tahu dong yang namanya orang kuliah pasti ada saja kegiatannya tapi kenapa dia malah terdengar seperti mengekang istrinya itu? sepertinya ini tanda-tanda orang yang sudah keterlaluan bucinnya.
Ralen menatap suaminya yang sudah melangkah meninggalkan dirinya, "posesif ya, ckckck," bisik Mama Riska kepada sang menantu yang merasa senang dicemburui tapi tidak mau menunjukkan rasa senangnya itu hingga akhirnya memilih untuk segera berlari menyusul suaminya yang sedang berbicara dengan sang supir.
******
__ADS_1
Ipul sudah berada di dalam pesawat bersama dengan Damar sedangkan sekretaris barunya yang seorang wanita tidak dia ajak serta.
Dia cari kemana-mana dan seleksi pun yang dia dapatkan tetap seorang wanita untuk menjadi sekretarisnya, tapi untungnya sekretaris barunya ini lebih tahu diri berpenampilan layaknya sekertaris rapi dengan riasan wajah tapi tidak terlalu menor dan yang sangat pentingnya lagi adalah wanita itu tidak kecentilan seperti Sarah yang sampai sekarang sepertinya masih saja meratapi nasibnya menjadi sekretaris pria tua bernama Pak Raka.
Di pangkuannya sekarang sudah bertumpuk beberapa lembar berkas yang sejak tadi dia periksa, pusing kepalanya dengan pekerjaan masih harus di tambah dengan pusingnya memikirkan Daniya yang beberapa waktu lalu menghubunginya mengatakan kalau wanita itu akan datang ke Indonesia dan meminta bertemu.
Dia tahu dengan jelas dulu Daniya itu sangat tidak mau datang ke Indonesia padahal negara ini adalah tempat kelahirannya, tapi Daniya selalu mengatakan tidak mau menginjakkan kakinya di tanah kelahirannya tanpa mengatakan alasan meskipun Ipul kerap kali bertanya kenapa.
Tapi sekarang wanita itu mengatakan akan datang dalam waktu dekat, terang saja membuat Ipul bertanya-tanya ada tujuan apa wanita itu dan mau apa?
Ipul mencoba berpikir positif tapi ketika semalam Daniya mengirim pesan padanya mengatakan ingin mengejar lelaki yang dia sukai dan juga menyukainya membuat perasaan Ipul malah jadi was-was tak karuan.
Maksudnya apa mengatakan itu padanya? apa dia ada kaitan dengan pria yang wanita itu sukai atau jangan-jangan..
Ipul tidak berani memikirkan apapun lagi sebab sekarang ada wanita yang dengan perlahan sudah benar-benar memenuhi hatinya tanpa dia sadari.
\*\*\*\*\*\*\*\*
Di dalam ruangannya Angga tampak menatap layar handphone yang tengah memperlihatkan sebuah photo empat orang yang sedang tersenyum bahagia ke arah kamera.
Disitu ada dua orang wanita dan dua orang pria yang satu Daniya sedangkan yang tiga orangnya lagi dia tidak kenal mungkin itu adalah teman-teman baru Daniya karena selama berhubungan dengannya dia tidak pernah mengenal orang-orang di photo itu.
Angga hampir melupakan photo itu tapi kemudian dia malah tidak sengaja melihat atau lebih tepatnya bertemu dengan salah satu pria yang ada di photo.
"Aku yakin dia ini pria yang sama yang sama," katanya mengingat dengan jelas wajah pria yang tiba-tiba datang dan membawa Ralen pergi saat dia sedang berbicara dengan wanita itu.
__ADS_1
"Tapi apa hubungannya dengan Daniya dan juga Ralen? sepertinya Ralen juga tidak mengenal Daniya, wajah mereka memang mirip tapi aku yakin Daniya dan Ralen sama sekali tidak ada hubungan darah apapun," tuturnya karena dia tahu dengan jelas siapa keluarga Daniya.
Angga mengurut pangkal hidungnya memikirkan jawaban yang dia sendiri pun tidak tahu, tentang satu orang pria yang mengenal wanita yang dulu sangat dia cintai lalu nyatanya pria itu juga terlihat sangat dekat dengan wanita yang sekarang tengah mencuri kedamaian hatinya.
Ya, hatinya sudah begitu terusik dengan kedatangan Ralen, wanita yang di awal dia katakan begitu mirip dengan Daniya tapi sekarang dia tidak lagi menganggap begitu, dia tidak mau Ralen di samakan dengan Daniya, wanita yang sudah dengan kejam meninggalkan dirinya di saat dia masih sangat mencinta.
Tok!tok!
Suara ketukan di pintu ruangannya mengalihkan pikiran yang sedang berkecamuk membuat dia berseru menyuruh si pengetuk pintu untuk masuk ke dalam ruangan tempatnya berada.
"Permisi Pak."
Angga yang tadi memejamkan mata langsung bisa mengenali suara yang berbicara dengannya matanya sontak membuka dengan cepat guna melihat ketangguhan indera pendengarannya dalam mengenali seseorang.
Dan kedua orang yang langsung sama-sama terkejut ketika melihat wajah masing-masing dan saling mengenali satu sama lain.
Angga yang tadi duduk bersandar langsung menegakkan tubuhnya sedangkan wanita yang baru menjejakkan sebelah kakinya juga tertegun mematung di ambang pintu dengan tangan yang masih nyangkut pada gagang pintu.
Keduanya pun sama-sama terdiam saling menatap bingung mesti bagaimana mengekspresikan keterkejutan mereka dengan hal yang tidak terduga begini.
"Ralen."
__ADS_1
*********